Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Tiba Di Amerika 2


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Daren berhenti di lobi salah satu hotel di kota New York. Rencananya Gio dan Flora akan menginap selama dua minggu di tempat itu bersama Susan serta Abi.


“Semuanya ... kita sudah sampai,” ucap Daren.


Flora yang mendengar suara Daren mengalihkan pandangannya dari kaca mobil. Secara tidak sengaja pandangannya bertemu dengan Daren. Keduanya sama-sama menunjukan senyum canggungnya.


Flora lebih dulu memutus panggilan itu dan segera membangunkan suaminya.


“Gio, kita sudah sampai.” Flora menepuk pundak Gio.


Gio mulai terbangun disusul oleh Abi serta Susan. Gio memijit keningnya untuk meredakan rasa peningnya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Flora.


“Iya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah,” jawab Gio.


“Ayo, kita turun agar kita bisa beristirahat,” ucap Flora.


Gio mengangguk untuk merespon perkataan istrinya. Pasangan suami-istri itu keluar menyusul yang lain.


“Daren, terima kasih sudah mengantar kami,” ucap Gio.


“Jangan sungkan Gio. Kita keluarga, 'kan?” balas Daren.


“Mas Gio, semuanya barang-barang kita sudah dikeluarkan,” ucap Abi.


“Baiklah, aku pamit pulang dulu. Selamat beristirahat,” ucap Daren.


“Sampai jumpa,” ucap Daren sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya.


“Sampai jumpa.” Gio dan Flora membalas sapaan Daren secara bersamaan.


Keempatnya melangkah masuk ke dalam hotel. Abi dan Gio ke meja resepsionis untuk check-in, sedangkan Flora dan Susan menunggu di tempat tunggu.


“Kalian sudah selesai?” tanya Flora Abi menghampiri mereka.


Flora mengerutkan keningnya saat tidak melihat suaminya. “Suamiku mana, Mas Abi?”


“Mas Gio masih ada di meja resepsionis, Mba," jawab Abi. “Susan ... ini kunci kamarmu.” Abi memberikan kunci kamar kepada Susan.


“Terima kasih,” ucap Susan.


Tidak lama Gio pun datang menghampiri mereka.


“Ayo, Sayang kita ke kamar,” ajak Gio.


“Kamu kenapa lama sekali?” tanya Flora.


“Aku tadi bertanya pada resepsionis ... apa ada Dokter di sini,” jawab Gio.


“Dokter? Kamu sakit.” Nada bicara Flora terdengar cemas.


Flora beranjak dari sofa dan langsung memeriksa suhu tubuh suaminya dengan punggung tangannya.


“Gak, Sayang. Aku mau periksa kondisi kamu?” jawab Gio.


“Tapi aku baik-baik saja,” ucap Flora.


“Aku akan merasa lega jika itu Dokter yang mengatakannya,” ucap Gio.


“Tapi —” Ucapan Flora terpotong oleh Gio.

__ADS_1


“Tidak ada tapi-tapian!” Gio meletakan jari telunjuknya di bibir Flora. “Ayo kita ke kamar,” ajak Gio.


Gio tidak ingin mendengar lagi protes dari istrinya, dengan segera Gio menggenggam tangan Flora dan membawanya ke kamar mereka.


“Kalian juga cepat ke kamar kalian masing-masing dan istirahat. Besok adalah hari yang penting untuk kita,” perintah Gio.


“Baik, Pak,” sahut Abi dan Susan secara bersamaan.


Gio dan Flora melangkah bersama menuju kamar mereka. Sepanjang perjalanan Flora merengek pada Gio, meminta suaminya agar mau berjalan-jalan mengelilingi kota New York malam itu juga.


“Apa kamu tidak lelah?” tanya Gio.


“Tidak,” jawab Flora.


“Tapi ini sudah malam, Sayangku,” ucap Gio.


“Tidak apa-apa,” balas Flora.


Gio menghentikan langkahnya disusul oleh Flora ketika sampai di depan kamar mereka. Pintu kamar terbuka, dan Gio langsung membawa masuk Flora ke dalam kamar.


“Ayolah, Suamiku ... ini keinginan anak kita,” bujuk Flora.


“Keinginan anak kita atau keinginan kamu?” goda Gio.


Flora berdecak saat Gio tidak memenuhi keinginannya. Melihat istrinya merasa kesal, Gio langsung memeluk istrinya dari belakang.


“Sayang, ini sudah malam dan aku sangat lelah. Lagi pula besok aku harus segera bertemu dengan investor di perusahaan kita,” ucap Gio seraya mengusap perut istrinya.


“Baiklah,” ucap Flora.


Flora menjauh dari Gio dan duduk di tepi tempat tidur dengan ditemani wajah murungnya.


Gio berdecak, Kenapa setelah hamil Flora menjadi makin keras kepala?


Meskipun Flora tidak merengek lagi, tetapi Gio masih melihat wajah murung istrinya. Gio pun kembali membujuk istrinya agar wajah istrinya mau mengerti.


Gio mengambil langkah dan duduk di samping istrinya. Tangan Gio bergerak untuk mengusap kepala istrinya.


“Ayolah, jangan seperti ini,” bujuk Gio. “Baiklah, aku akan tunjukkan seluruh kota New York padamu, sekarang,” lanjut Gio.


“Benarkah? Baiklah ayo kita berangkat sekarang,” seru Flora dengan wajah riangnya.


Flora beranjak dari tempat tidur lalu menarik tangan Gio. Namun, Gio menahan langkahnya.


“Flora, kamu mau ke mana?” tanya Gio.


“Tentu saja kita akan pergi. Bukankah kamu bilang akan menunjukkan seluruh kota ini padaku,” ucap Flora.


“Tapi kita tidak perlu pergi dari kamar ini,” ucap Gio.


“Lalu?” Flora tidak mengerti maksud dari perkataan Gio.


Gio menarik tangan Flora membawanya ke arah jendela yang tertutup oleh Gorden.


“Buka gorden ini!” perintah Gio.


Flora memandang Gio seraya menaikkan satu alisnya.


“Ayo buka!” Perintah Gio sekali lagi.


Meskipun tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh suaminya, Flora tetap menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Kedua tangan Flora bergerak untuk membuka gorden kamar itu.

__ADS_1


Mata Flora berbinar saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dari tempatnya berdiri, Flora bisa melihat kota New York. Lampu-lampu yang menyala seperti bintang yang bertaburan.


Sangat indah!


“Wow,” seru Flora.


“Sangat indah, bukan?” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


“Kamu sering melihat ini saat dulu kamu tinggal di sini?” tanya Flora.


“Hampir setiap hari,” jawab Gio.


“Kamu sangat beruntung, Suamiku,” ucap Flora.


Gio mengangguk, “Tapi sekarang aku lebih beruntung lagi karena mendapatkan dirimu, Flora.”


Flora menolehkan kepalanya, menatap wajah suaminya. Kini Flora berdiri di depan Gio dalam jarak yang begitu dekat. Flora mengalungkan tangannya ke leher Gio.


“Terima kasih kamu selalu menjadikan aku perempuan paling bahagia, Gio,” ucap Flora seraya menempelkan keningnya ke kening suaminya.


Sesaat mereka saling memandang dengan sejuta rasa bahagia. Saat keduanya ingin menyatukan bibir mereka, terdengar ketukan pintu di depan kamar mereka.


Tok tok tok


“Ck, menganggu saja,” gerutu Flora.


“Kamu jadi makin galak ya.” Gio menarik hidung Flora karena merasa gemas.


“Mungkin Dokter yang aku minta untuk memeriksa kamu,” ucap Gio. “Aku akan membuka pintunya.”


Gio melangkah menjauh dari Flora untuk membuka pintu kamar mereka. Gio menarik handel pintu untuk membukanya. Pintu terbuka dan menampakan dua orang perempuan. Satu sepertinya seorang staf di hotel itu dan satu lagi sepertinya Dokter, itu terlihat dari pakaian yang ia kenakan.


“Selamat malam, Tuan ... ini Dokter yang tadi Anda minta,” ucap staf di hotel itu.


“Silahkan masuk,” ucap Gio.


Sang Dokter masuk dan langsung memeriksa kondisi Flora.


“Bagaimana kondisi istri saya?” tanya Gio.


“Tidak ada yang perlu di khawatirkan, semuanya baik-baik saja,” ucap Dokter.


“Kamu sudah puas, Suamiku? Sudah aku katakan aku baik-baik saja,” ucap Flora.


“Apa vitamin Anda masih ada, Nyonya?” tanya Dokter.


“Masih, Dok,” jawab Flora.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Ini kartu nama saya.” Dokter memberikan kartu namanya pada Gio. “Jangan sungkan untuk menghubungi saya jika kalian membutuhkan saya.”


“Terimakasih banyak, Dok,” ucap Gio seraya menerima kartu nama yang diberikan oleh Dokter itu.


“Sama-sama,” balas Dokter.


“Mari saya antar keluar,” ucap Gio.


Gio melangkah ke arah pintu bersama Dokter. Pintu kembali Gio tutup setelah Dokter yang memeriksa istrinya pergi dari kamarnya.


“Cepat cuci muka dan segera istirahat,” suruh Flora.


“Baik, Sayangku.” Gio mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Flora dan Gio bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mereka membersihkan diri, keduanya langsung berbanding di atas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


__ADS_2