
Dari kemarin ada yang tanya kenapa Gio gak oplas lagi. Aku baca artikel di geogle, oplas dilakukan karena ada cidera, ataupun luka. Masa iya aku harus bikin wajah Gio rusak lagi, kwkwke
Happy reading all
Plaaak
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Bella, membuat semua pengunjung restoran itu terbelalak. Termasuk juga Flora. Mata Flora terbelalak saat melihat seorang perempuan menarik rambut dan penampar wajah Bella.
“Siapa dia?” Flora bertanya dalam hatinya.
*****
“Kamu! Sedang apa kamu di sini?” tanya Bella.
“Untuk memasukkanmu ke dalam rumah sakit jiwa,” jawab perempuan itu.
Restoran itu kini menjadi arena pertarungan antara Bella dan perempuan itu. Perempuan itu seperti sedang melampiaskan kemarahannya pada Bella.
“Roy, Jimmy ... tolong pisahkan mereka,” suruh Flora.
“Baik, Bu,” sahut Jimmy dan Roy bersamaan.
Jantung Flora berdebar begitu kencang saat melihat dua perempuan itu saling menarik rambut satu sama lain.
“Dasar perempuan tidak waras!” maki Bella saat berhasil dipisahkan oleh Jimmy dan juga Roy.
“Kamu yang tidak waras!” balas perempuan itu. “Kamu menjadi tidak waras karena Elang lebih memilihku dan meninggalkan kamu.”
“Kamu begitu terobsesi pada suamiku hingga membuatmu menjadi kehilangan akal,” ucap perempuan yang memiliki nama Vera.
“Diam kamu, Vera!” bentak Bella.
Flora makin bingung dengan kedua perempuan itu. Flora mendekati Vera untuk bertanya pada perempuan itu.
“Tolong, tenanglah!” ucap Flora.
“Kamu Flora?” tanya Vera.
Flora mengangguk. “Iya. Tapi dari mana kamu tahu?”
“Aku yang mengajakmu bertemu di sini. Aku Vera, istrinya Elang,” jawab Vera.
“Hah!”
“Iya, aku istri sahnya Elang. Dan perempuan tidak waras itu adalah mantan kekasih Elang,” ucap Vera. “Elang meninggalkan dia untuk menikah denganku,” jelas Vera.
“Dia begitu terobsesi pada Elang, hingga beberapa kali ingin mencelakaiku, tapi dia tidak pernah berhasil. Hingga pada akhirnya aku dan Elang memutuskan untuk pergi ke luar kota untuk menghindar dari perempuan tidak waras ini,” ucap Vera.
Napas Vera naik turun karena amarah yang ada di dalam dirinya.
“Tapi dalam perjalanan, kami mengalami kecelakaan yang membuat Elang meninggal,” ucap Vera.
Kini mata Vera mulai berkaca-kaca.
“Dia makin tidak terima dengan kematian Elang. Dia ingin melenyapkan aku juga, beruntung dia gagal. Aku melaporkannya ke kantor polisi, tapi polisi tidak bisa menahannya karena wanita itu mengalami depresi.” Air mata Vera sudah menetes dan jatuh ke pipinya.
“Diam kamu, Vera!” bentak Bella.
__ADS_1
“Kamu yang seharusnya diam, Bella!” balas Vera. “Sudah cukup kamu menghancurkan hidupku, Bella. Jangan hancurkan hidup orang lain lagi, karena obsesimu pada Elang.”
“Jangan ikut campur urusanku!” Mata Bella benar-benar sudah memerah karena marah.
Bella berontak dan berhasil lepas dari Roy.
Prank
Bella memecahkan vas bunga yang ada di atas meja restoran itu lalu mengarahkannya pada Flora. Bella mengarahkannya ke wajah Flora.
“Aaaaa!”
Flora berteriak seraya menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya. Sesaat kemudian Flora menyingkirkan tangan dari wajahnya saat dirinya tidak merasakan apapun. Ternyata Gio menahan tangan Bella.
Mata Gio menatap tajam Bella, rahangnya mengeras karena marah, dan tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan Bella, hingga membuat Bella memekik kesakitan.
“Sudah cukup kamu membuat keributan, Bella,” ucap Gio.
“Awww! Elang sakit, lepaskan tanganku,” mohon Bella.
“Sudah aku bilang ... aku Gio, bukan Elang.” Gio menekan kata-katanya.
“Elang ... lepas,” mohon Bella. “Ini sakit.”
“Ini akibat jika kamu ingin melukai istriku,” ucap Gio.
Gio melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Bella mundur beberapa langkah.
“Bella, sampai kapan kamu akan seperti ini terus?” tanya Flora. “Ikhlaskan, Elang.”
“Tidak!” ucap Bella.
Flora menjerit histeris dan langsung mendaratkan tamparan di pipi Bella.
“Jimmy, Roy ... bawa perempuan ini ke rumah sakit jiwa,” perintah Flora dengan suara lantang.
“Baik, Bu.”
Jimmy dan Roy langsung menyeret Bella ke tempat yang diperintahkan oleh Flora.
Flora mengalihkan kembali pandangannya ke arah Gio. Flora menangis saat melihat tangan Gio mengeluarkan banyak darah, apalagi saat melihat Gio meringis seperti sedang menahan sakit.
Manager dan petugas keamanan di restoran itu menghampiri Flora dan Gio.
“Sepertinya lukanya dalam,” ucap manager itu.
“Ada klinik 24 jam di dekat sini. Sebaiknya bawa dia ke sana saja,” ucap Manager restoran itu.
“Iya, baiklah. Ayo, Gio,” ajak Flora.
Flora dan Gio berjalan bersama keluar dari restoran itu. Mereka berjalan kaki ke klinik 24 jam karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.
Luka di tangan Gio lumayan dalam, hingga harus dijahit untuk menutup luka itu. Flora tidak berhenti menangis membuat Gio menjadi tidak tega. Gio pun berniat untuk menggoda Flora berharap bisa menghilangkan kesedihannya.
“Aku yang luka kok kamu yang nangis,” ledek Gio.
“Anggap saja aku mewakili kamu,” balas Flora.
__ADS_1
“Sudah jangan menangis. Lagi pula Dokter yang seksi dan cantik ini sudah menjahit lukaku,” ucap Gio.
Mendengar perkataan Gio, rasa sedih Flora berubah menjadi rasa kesal.
“Yang harusnya dijahit itu mata dan mulutmu. Biar gak jelalatan dan bicara untuk menggoda perempuan lagi,” omel Flora.
“Anda dengar itu, Dok! Saya sedang terluka tapi istri saya malah mengejek.” Gio mengeluh kepada Dokter yang sedang menjahit lukanya.
“Istri Anda memang benar, Pak,” sahut sang Dokter.
“Apa yang Anda katakan, Dokter?” Gio memasang wajah memelas di hadapan sang Dokter.
“Maaf, tapi saya ada di pihak istri Anda,” ucap Dokter diikuti tawa kecilnya.
“Kamu dengar itu, suamiku? Dokter cantik dan seksi ini ada di pihak istrimu ini,” ucap Flora.
“Baiklah, sudah selesai,” ucap sang Dokter. “Jangan terkena air untuk beberapa hari.”
“Terima kasih, Dokter,” ucap Flora.
“Terima kasih, Dok. Ternyata selain Anda cantik dan seksi ... anda juga sangat baik.” Gio sengaja mengedipkan matanya kepada Dokter untuk menggoda Flora.
Mulut Dokter perempuan itu menganga saat Gio berani menggoda perempuan lain saat ada istrinya di sampingnya.
“Kalau aku tahu akan begini ... aku akan meninggalkanmu di restoran tadi,” ucap Flora seraya memicik tajam ke arah Gio yang justru sedang menahan tawa.
“Maaf, saya tidak ingin terlibat dengan pertengkaran kalian,” ucap Dokter itu. “Kalian lanjutkan saja dulu pertengkaran kalian, semetara itu saya akan buatkan resep untuk bapak Gio.”
“Terima kasih untuk kesempatannya, Dok,” ucap Flora.
Setelah memastikan Dokter itu sudah pergi, Flora duduk di sampingnya suaminya dengan senyuman manis tetapi terkesan menakutkan.
“Lihat saja, aku akan menyiksamu nanti setelah kita sampai di rumah,” ancam Flora.
“Menyiksaku dengan kenikmatan,” bisik Gio. “Aku tidak akan keberatan.”
Flora melebarkan matanya dan mulutnya membentuk huruf o. Sungguh Flora sudah kehabisan kata-katanya saat itu juga.
“Kamu ....” Flora memberikan tatapan tajam pada Gio, tetapi Gio justru mengedipkan sebelah matanya seolah sedang menggoda dirinya.
“Bagaimana? Nanti malam mau berapa ronde pun aku sanggup,” ucap Gio seraya menarik turunkan kedua alisnya.
“Mulutmu memang perlu dijahit,” ucap Flora. “Tanganmu sedang terluka tapi masih bisa berpikiran mesum.”
“Yang sakit tanganku saja, Sayang. Bukan kepala atau anu-ku,” ucap Gio asal.
“Dasar ... kamu!”
Secara tidak sengaja Flora memukul tangan Gio yang terluka membuat Gio memekik kesakitan.
“Awwww! Ini masih sakit. Kenapa kamu pukul!” rengek Gio.
“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Flora. Wajahnya begitu panik saat melihat Gio meringis kesakitan.
Flora meniup tangan Gio lalu memberikan kecupan pada tangan yang sudah dibalut perban itu. “Apa masih sakit?”
Gio menggelengkan kepalanya. “Sudah kamu cium maka tidak terasa sakit lagi.”
__ADS_1
Rasa sakit pada lukanya bisa Gio tahan, tetapi Gio tidak akan bisa tahan melihat istrinya menangis.
Keduanya pun mempertemukan pandangan mereka, saling tersenyum sebelum mereka akhirnya menyatukan kening mereka.