Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Pacar Gio


__ADS_3

Setelah jam makan siang selesai Flora dan Mutya dan kembali ke kantor mereka melangkah menuju meja kerja mereka masing-masing, namun ada yang berbeda di perusahaan F.G. Seorang perempuan menarik perhatian para karyawan di perusahaan properti itu.


Perempuan berbadan tinggi semampai, bergaun kuning ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan panjang sampai batas lutut yang menampakan pundak polosnya serta kaki jenjangnya. Perempuan itu berjalan dengan langkah anggun di atas high heels nya yang berwarna sedana dengan gaunnya.


Pandangan para karyawan di kantor itu tertuju pada perempuan itu. Mereka saling berbisik, bertanya siapa perempuan cantik itu? Pasalanya mereka baru pertama kali melihatnya.


Langkah anggun perempuan itu terhenti saat melihat Flora melintas di hadapannya.


"Hei, kamu!"


Flora menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya ke arah perempuan itu.


"Ibu manggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Flora dengan sopan.


Ibu?


Perempuan itu langsung membuka kaca mata di wajahnya saat mendengar Flora memanggilnya dengan sebutan 'ibu'.


"What? Kamu manggil saya 'ibu'?" Flora pun mengangguk kecil. Flora tidak mengerti apa yang salah dengan perkataannya, ia hanya mencoba bersikap sopan.


"Saya masih muda, cantik, dan seksi … kamu manggil saya dengan sebutan itu?" Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Flora mundur satu langkah.


Bersamaan dengan itu terdengar suara gelak tawa para karyawan yang ada di lantai itu.


"Diam kalian!" bentak perempuan itu.


Setelah mendengar teriakan nyaring perempuan itu para karyawan di ruangan besar langsung membungkam mulut mereka.


"Kalian berani menertawakan aku? Kalian tidak tahu siapa aku?" Pandangan perempuan itu menatap satu persatu karyawan di depannya.


"Baiklah aku akan memberitahukan pada kalian siapa aku ini. Aku adalah Bianca Wijaya pacar dari anak pemilik perusahaan ini yaitu Rivaldo Giovanni Ferdinand."


Mata Flora langsung terbuka lebar saat mendengar pernyataan perempuan yang sedang berdiri di hadapannya itu. Flora langsung memandang perempuan yang bernama Bianca itu dari atas hingga bawah.


"Hah Anda pacarnya Gio - eh maksud saya bapak Gio?" tanya Flora dengan nada tidak percaya.


"Betul sekali." Perempuan itu menjawab seraya memakai kembali kaca matanya." Di mana ruangan Gio aku ingin menemuinya?" tanya Bianca.


"Maaf mbak Bianca, bapak Gio sedang tidak ada di tempat, dia sedang ada di luar kantor, tapi kayaknya dia akan balik ke kantor sebelum jam pulang kerja," jawab Flora. "Anda bisa menunggunya di ruangan tunggu," lanjut Flora.


"Tidak! Aku ingin menunggu di ruangannya saja," ucap Bianca.


"Tapi-"


"Sttt …." Bianca menaruh jari telunjuknya di depan bibir Flora, "Jangan cerewet antarkan saja aku ke sana, sekarang!."


Flora hanya bisa mengembuskan nafas pasrah percuma juga melarang Bianca karena perempuan itu juga tidak mau mendengar. Perempuan pemaksa ini cocok sekali dengan Gio yang juga laki-laki pemaksa.


Flora tidak punya pilihan lain selain mengantar bianca ke ruangan Gio meski ia ragu.

__ADS_1


"Baiklah, mari ikut saya!" suruh Flora.


Bianca melangkah mengekori Flora menuju ruangan kerja Gio. Bianca tidak tahu jika Flora yang melangkah di depannya sedang menggerutu.


"Jadi perempuan ini pacar laki-laki menyebalkan itu, seleranya seperti ini? Wanita bar-bar," ucap Flora dalam hatinya. "Masa bodo bukan urusan ku," ucapnya dengan suara yang sangat kecil agar Bianca tidak mendengarnya.


Flora terus melangkah tanpa memperdulikan ocehan Bianka. Perempuan yang mengaku pacarnya Gio itu terus saja mengoceh memuji dirinya sendiri dan juga Gio.


"Peduli apa aku?" batin Flora.


Flora menghentikan langkahnya secara mendakak membuat Bianca menubruk tubuh belakanganya.


"Aduuuh … kenapa tidak bilang kalau mau berhenti?" omelnya.


"Anda yang jalan tidak lihat-lihat," ucap Flora.


"Apa? Kamu ngomong apa?"


"Ini ruangan bapak Gio. Silahkan kalau Anda ingin menunggunya di dalam sana," ucap Flora. Flora berharap Bianca tidak mendengar perkataannya tadi.


Bianca nampak tidak suka pada Flora, ia yakin mendengar Flora mengatakan sesuatu tetapi tidak begitu jelas. Bianca langsung menggerakkan tangannya untuk mencengkram kedua sisi wajah Flora.


"Dengar … aku tidak tuli aku tahu kamu mengatakan sesuatu sebelum ini?" Bianca memberi tatapan tajam pada Flora.


Kalau sudah dengar kenapa bertanya?


Flora merasakan sakit di kedua sisi wajahnya. Flora berusaha melepaskan cengkraman tangan Bianca yang begitu kuat.


Setelah melepas cengraman tangan di kedua sisi wajah Flora, Bianca langsung masuk ke dalam ruangan kerja Gio. Sementara Flora masih berdiri mematung di depan ruangan kerja Gio, ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan Bianca. Flora menarik nafasnya dalam-dalam untuk menetralkan rasa keterkejutanya.


"Dasar cewek bar-bar, lihat saja nanti Gio, aku akan membuat perhitungan ini denganmu," guman Flora. Apa salah Gio dalam hal ini.


Flora langsung memilih untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke meja kerjanya sebelum bicara menyuruh hal lain lagi.


Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore dan benar saja Gio kembali ke kantor itu setelah melihat perkembangan pembangunan apartemen baru.


"Flora apa papaku di dalam?" tanya Gio.


"Ada! Silahkan masuk!" ucap Flora dengan nada ketusnya.


Gio menaikan sebelah alisnya kenapa nada bicara Flora seperti itu, apa lagi salahnya kali ini. Gio ingin bertanya tetapi dirinya masih ada urusan lebih penting dari itu, akhirnya Gio memutuskan untuk menemui papahnya terlebih dahulu.


"Siang, Pah," sapa Gio.


"Siang Gio," balas Farhan. "Bagaimana pekerjaanmu, apa semuanya lancar?"


"Lancar dong Pah," jawab Gio.


Farhan beranjak dari kursi kebesarannya lalu menyusul anaknya yang sedang duduk di sofa di ruangannya.

__ADS_1


"Bagus itu berarti kamu sudah siap untuk menggantikan posisi papah," ucap Farhan.


"Apa tidak terlalu cepat, Pah? tanya Gio.


Farhan menepuk pundak anaknya mencoba memberikan semangat, "Papah sudah semakin tua dan lelah. Papah sudah ingin beristirahat."


"Tapi pah---"


Ucapan Gio terputus saat medadak pintu ruangan itu terbuka.


"Kejutan!"


"Maaf, Bapak Farhan saya sudah menahannya tetapi mbak bianca masuk," ucap Flora.


Pandangan Farhan dan Gio beralih pada pintu masuk ruangan itu. Mata Gio langsung terbuka lebar saat melihat Bianca ada di kantor itu.


"Bianca! Ngapain dia di sini," batin Gio.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa kembali ke meja kamu" suruh Farhan yang langsung diangguki oleh Flora.


Tanpa diduga Bianca langsung menghampiri Farhan memberi pelukan serta ciuman di pipi kanan kiri Farhan. Bianca menganggap itu adalah salam perkenalannya dengan calon mertuanya.


Farhan langsung mengalihkan pandangannya ke anak laki-lakinya seolah meminta penjelasan pada anaknya tentang Bianca.


Pelukan dan ciuman Bianca beralih pada Gio namun dengan cepat Gio menjauhkan tubuh Bianca saat melihat tatapan tajam Farhan.


"Bianca apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Bianca.


"Aku merindukanmu, Sayang … jadi aku ke sini," jawab Bianca sambil bergelayut manja di lengan Gio.


Gio menatap ke arah ayahnya yang sedang menatap dirinya tidak suka. "Bianca ayo kita bicara di ruangan ku saja," ajak Gio. "Pah, aku permisi dulu."


"Dah Om, sampai ketemu lagi," pamit Bianca. Farhan hanya merespon ucapan Bianca dengan anggukan kecil.


Setelah berpamitan pada Farhan, Gio dan Bianca melangkah bersama keluar dari ruangan Farhan. Saat tiba di luar ruangan itu, mata Gio menatap Flora dan terlintas di pikiran Gio untuk menggoda Flora.


"Bi kamu ke ruangan ku dulu … nanti aku nyusul," ucap Gio.


"Oke Sayang."


Setelah memastikan Bianca sudah menjauh, Gio duduk di depan meja kerja Flora. Gio tidak langsung bicara ia justru sibuk memperhatikan wajah serius Flora saat bekerja.


Flora tahu jika Gio sedang memperhatikan dirinya, namun Flora memilih untuk fokus bekerja.


"Ayolah Sayang tidak bisakah kamu sebentar saja melihat keberadaan ku di sini?" tanya Gio dengan wajah di buat semelas mungkin.


"Jangan menggangguku! Pergilah pacar mu sudah menunggu," ucap Flora tanpa menoleh ke arah Gio.


"Oke baiklah tapi bagaimana menurutmu Bianca … dia sangat cantik bukan?" ucap Gio dengan senyum nakalnya. "Dan bodynya itu sangat seksi bak gitar spanyol." Gio sengaja mengigit bibir bawahnya mencoba untuk menggoda Flora.

__ADS_1


Flora melirik ke arah Gio dengan tatapan kesal, "Matamu!"


Flora mendorong wajah Gio dengan telapak tangannya membuat Gio tertawa lepas di baliknya karena berhasil menggoda Flora.


__ADS_2