Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Cinta Tulus Gio


__ADS_3

Gio masih memeluk tubuh Flora yang bergetar. Tangisannya benar-benar terasa sangat pilu. Gio berusaha menenangkan Flora dengan mengusap punggung gadis yang diam-diam sudah mencuri hatinya.


"Menangis lah jika itu bisa membuat perasaanmu lebih baik," ucap Gio.


Flora sendiri masih merasa sangat syok dengan apa yang sudah menimpanya hari itu. Bayangan buruk itu bahkan belum bisa Flora singkirkan atau mungkin tidak bisa ia singkirkan.


Keduanya sama-sama menarik diri dari pelukan itu. Gio langsung mengusap jejak air mata yang ada di pipi Flora yang sudah hampir mengering. Gio mendaratkan kecupan di kening Flora dalam jeda waktu yang cukup lama. Gio berharap kecupan itu bisa memberikan Flora sebuah ketenangan.


"Semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padamu," ucap Gio.


"Kenapa kamu begitu baik padaku?"


"Karena kamu mencintaimu …."


Perkataan yang baru saja Gio lontarkan sukses membuat Flora membeku. "Ap-a yang baru saja kamu katakan?"


"Aku mencintaimu," sahut Gio.


Andai saja yang ada di hadapannya bukan Gio yang terkenal playboy dan suka asal bicara, mungkin Flora akan terpengaruh dengan ucapan itu.


Ekspresi wajah sedih Flora berubah menjadi garang. Ia tatap wajah Gio dengan tatapan mengerikan dengan tangan yang Flora lipat di depan dadanya.


"Berapa banyak perempuan yang kamu cintai?" tanya Flora garang.


Gio yang mendapat tatapan begitu mengerikan dari Flora hanya malu tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


Gio pura-pura berpikir sebelum ia mulai bicara. "Aku tidak tahu." Tapi yang jelas hanya kamu yang aku cintai dengan segenap jiwaku, Flora lanjut Gio di dalam hatinya.


"Dasar kamu ini …."


Lagi-lagi Gio hanya bisa tersenyum. Gio tidak bohong akan perasaanya pada Flora dan bisa saja ia mengatakannya secara langsung pada Flora. Hanya saja, gadis itu sudah terlanjur menganggap dirinya tidak pernah serius dengan suatu hubungan. Maka dari itu Gio akan mencoba membuat Flora merasa nyaman dengan dirinya sampai Flora sendiri yang akan merasa jatuh cinta pada dirinya. Mungkin itu akan sedikit sulit, namun Gio percaya akan ketulusannya pada Flora dan apa sih yang tidak mungkin bagi Gio.


"Kamu mandilah. Aku akan pesankan pakaian dan makanan untuk mu," ucap Gio.


"Tidak, tidak usah," tolak Flora cepat.


"Kenapa, apa kamu nyaman memakai kemejaku yang terlihat kebesaran itu?" goda Gio.


"Bukan itu. Aku yang akan memesan pakaianku sendiri dan kamu yang pesan makanannya," ucap Flora.


Tidak mungkin kan jika Flora membiarkan Gio untuk membelikan pakaian dalamnya juga.


"Oke, terserah kamu saja," pasrah Gio.


Gio keluar lagi dari kamar itu dan berjalan menuruni anak tangga. Saat ia akan memesan makan malam untuk dirinya dan Flora, bel apartemen berbunyi.


Gio berdecak karena orang itu sepetinya bernapsu sekali saat menekan bel.


"Apa kamu mau menghancurkan apartemen ku dengan menekan bel seperti itu?" maki Gio saat pintu sudah terbuka lebar.


"Flora … bagaimana keadaan Flora, Gio?" tanya Daniel.


Nafas Daniel nampak memburu diantara marah dan lelah karena berlarian hanya untuk melihat keadaan Flora.

__ADS_1


"Dia sudah lebih baik," jawab Gio.


Gio menyuruh Daniel duduk di sofa ruang tamu, sedangkan dirinya pergi ke ruang makan untuk mengambilkan Daniel minum.


"Nih minum dulu!" Gio menyerahkan gelas berisi air putih kepada Daniel.


"Thanks," ucap Daniel.


Daniel menenggak setengah air di dalam gelas lalu meletakkannya ke atas meja yang ada di hadapannya.


"Kamu serius mama yang nyuruh ketiga laki-laki itu untuk melecehkan Flora?" tanya Daniel.


"Menurut pengakuan mereka, iya," sahut Gio.


Rahang Daniel nampak mengeras dan tangannya mengepal. Daniel mengusap wajah dan rambutnya secara kasar, ia sungguh tidak habis pikir mamanya sanggup melakukan hal itu pada Flora.


"Kata Flora tante Mariana pernah nyuruh dia buat membujuk kamu supaya mau berebut kursi kepemimpinan di perusahaan denganku, tapi Flora menolak," ucap Gio.


"Apa sebenci itu mama sama Flora?" Daniel menerawang ke langit-langit ruang tamu itu. "Aku harus ngomong ini sama mama. Sebenarnya mau mama apa."


Daniel beranjak dari sofa, ia ingin pulang dan bertanya pada perempuan yang sudah melahirkannya itu kenapa bisa berbuat kelewat batas itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Gio.


"Pulang! Aku ingin bertanya pada mama apa maunya dia sebenarnya," sabut Daniel.


"Kamu tidak ingin menemui Flora terlebih dahulu?" tanya Gio.


Daniel langsung menggeleng. "Aku sangat malu untuk bertemu dengannya karena perbuatan mama."


"Oke hati-hati di jalan," ucap Gio.


"Gio aku minta sama kamu jaga Flora dengan baik. Lebih baik aku benar-benar menjauh dari kehidupannya atau dia akan selalu mengalami kejadian buruk seperti ini?" Setelah mengatakan kalimat itu Daniel keluar dari apartemen Gio.


Gio menutup pintu apartemennya setelah Daniel meninggalkan tempat itu. Gio duduk kembali di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan dengan ponselnya hingga dia terkikik geli sendiri.


Bunyi bel kembali mengalihkan perhatian Gio, segera Gio membuka pintu apartemen itu kembali, di hadapannya berdiri kurir yang mengantar pakaian yang di pesan oleh Flora dan setelah itu datang satu kurir lagi datang membawa makanan yang ia pesan. Gio membayar tagihan pakaian dan makanan yang mereka pesan sebelum ia masuk kembali ke dalam apartemennya.


Gio melangkah menuju kamar dimana Flora berada ia ketuk pintu itu namun tidak ada sahutan.


"Flora," panggil Gio.


Belum ada sahutan.


Dengan sedikit keraguan Gio menekan gagang pintu, ia menyumbulkan kepalanya dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Flora.


"Tidak ada." Gio masuk ke dalam kamar itu dan telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Gio mengetuk pintu kamar mandi, "Flora kamu di dalam?"


"Ya."


"Pakaianmu aku letakan di atas tempat tidur," teriak Gio.

__ADS_1


"Ya."


"Cepat keluar aku tunggu di bawah." Setelah mengatakan kalimat itu, Gio kembali keluar dari kamar itu.


Gio berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan. Gio menata semua makanan yang sudah ia pesan.


Matanya tidak sengaja melihat Flora yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Gio tahu Flora masih belum bisa melupakan apa yang dia alami tetapi Gio akan berusaha untuk membuat Flora melupakan itu semua.


"Ayo cepat makan," suruh Gio.


Flora yang sedang berjalan sambil melamun tersentak saat mendengar suara Gio. Perlahan Flora melangkah ke meja makan. Matanya melihat ada banyak makanan yang sudah tertata rapi di meja makan.


"Kamu yang menata ini semua?" tanya Gio.


"Memangnya siapa lagi?" tanya balik Gio.


"Sudah, jangan hanya melihat saja, ayo kita makan," ucap Gio.


Flora mengangguk lalu menarik salah satu kursi di meja makan itu.


"Berikan piringmu." Gio meminta piring Flora lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk lalu kembali memberikannya pada Flora. "Makanlah!"


Flora tersenyum seraya mengangguk. "Terima kasih."


Kedua sama-sama memakan makanan yang ada di meja makan.


"Gio …," panggil Flora.


"Hmm, ada apa?" tanya Gio.


"Apa kamu sering membawa pacar-pacarmu ke sini?" tanya Flora.


"Hmmm, tentu. Kami sering menghabiskan waktu di sini," sahut Gio tanpa berhenti makan.


"Menghabiskan waktu?" Gio mengangguk. "Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Flora ragu-ragu.


Gio menghentikan makannya. "Coba tebak! Apa yang dilakukan dua orang dewasa berlainan jenis di dalam kamar dan hanya berdua saja."


Tentu saja Flora tahu apa yang dilakukan Gio bersama pacar-pacarnya. Kini Flora merasa ketakutan, ia takut jika Gio akan memaksanya seperti ketiga laki-laki itu.


"Jangan berpikir yang macam-macam." Melihat tangan Flora gemetar, Gio tahu apa yang ada di pikiran Flora. Pasti perempuan yang ada di sampingnya itu mengira dirinya akan berbuat yang tidak-tidak pada dirinya.


"Aku dan para wanita-wanita itu melakukan itu karena kami saling menginginkan, tidak ada paksaan." Gio meletakan sendoknya dan menggenggam tangan Flora yang gemetar dan langsung membuat Flora tersentak.


"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Flora. Meski aku liar tetapi aku tidak akan memaksa seseorang untuk tidur denganku."


"Lagi pula aku tidak akan tertarik dengan tubuh kurus mu itu, sama sekali tidak seksi," ucap Gio.


"Hah, kenapa kamu selalu menghinaku." Flora kesal dan memukul lengan Gio membuat laki-laki itu memekik. "Rasakan itu."


"Kenapa kamu senang sekali memukulku?"


"Karena kamu pantas mendapatkannya."

__ADS_1


Diam-diam Gio tersenyum melihat wajah sedih Flora berubah menjadi wajah galak. Wajah galak yang selalu menjadi kesukaannya.


__ADS_2