
Puas berjalan-jalan di tepi pantai, Flora dan Gio memutuskan untuk kembali ke resort. Rasa lapar yang melanda membuat mereka tidak lagi melanjutkan jalan pagi mereka.
Masih dengan tangan yang mereka satukan, keduanya berjalan masuk ke sebuah restoran untuk sarapan pagi. Di tempat itu sudah banyak dari para karyawan F.G group yang juga sedang sarapan.
Berbagai menu sarapan sudah tersaji di sana. Mereka hanya tinggal mengambilnya saja.
"Kamu mau ikut sarapan di sini? Atau mau di tempat lain?" tanya Flora.
"Aku ikut saja. Pasti seru makan bersama-sama," jawab Gio.
Hal yang paling Flora sukai dari Gio adalah kesederhanaannya. Laki-laki itu tidak pernah memandang orang dari status sosial.
"Baiklah, kamu mau sarapan apa?" tanya Flora.
Gio mengedarkan pandangannya melihat ke berbagai menu makanan yang ada di hadapannya.
"Roti bakar sama secangkir kopi saja," ucap Gio.
"Baiklah aku bawakan, kamu duduklah," ucap Flora.
"Tidak, aku yang akan bawakan sarapanmu. Kamu mau sarapan apa?" tanya Gio.
"Samain saja sama punya kamu, tapi aku mau teh saja," ucap Flora.
Flora dan Gio saling membawakan sarapan satu sama lain. Mereka membawanya ke meja yang kosong di dekat jendela.
Banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka. Ada banyak orang yang merasa senang dan ada juga yang iri melihat kedekatan mereka.
Gio lebih dulu meletakan makanan yang dibawanya ke atas meja, kemudian membantu Flora. Setelah itu Gio menarik kursi untuk tempat duduk bagi Flora.
"Silahkan duduk."
Flora merasa tersanjung dengan sikap manis Gio pada dirinya.
"Terimakasih." Flora pun duduk pada kursi yang Gio berikan untuknya.
Keduanya mulai sarapan dengan menu yang sudah mereka pilih.
"Flora ternyata kamu sudah ada di sini? Aku mencarimu dari tadi," ucap Mutya.
Flora dan Gio mengalihkan pandangan mereka ke arah Mutya.
"Aku sudah membangunkan mu berulangkali, tapi kamu gak mau bangun juga," balas Flora.
"Alasan! Bilang saja kamu mau berduaan saja sama pak bos," ledek Mutya.
"Sudah jangan bicara lagi. Duduklah!" Flora menepuk kursi kosong di sampingnya.
Mutya melirik Gio. Ia ingin meminta pendapat dari atasannya. "Boleh kah, Pak Bos?"
"Boleh, tapi ada satu syarat," ucap Gio.
"Syarat ... apa, Pak?" tanya Mutya.
"Jika aku butuh bantuan darimu, kamu harus membantuku," jawab Gio.
"Kalau itu, bereslah." Mutya mengacungkan ibu jarinya pada Gio. "Sudah boleh duduk nih, Pak?"
"Hmmm, duduklah. Sebentar lagi juga Abi datang," ucap Gio
Mutya memutar bola matanya karena merasa jengah.
Abi lagi, Abi lagi.
Benar kata Gio, tidak lama Abi pun datang dan bergabung dengan mereka. Keempatnya sarapan bersama pada satu tempat yang sama.
Selesai sarapan mereka melanjutkan ke obrolan kecil.
"Pak Bos, kapan Anda melamar Flora?" tanya Mutya tiba-tiba.
Flora yang sedang meminum teh langsung tersedak. Gio segera menepuk pelan punggung Flora dan memberinya minum.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gio.
Flora menggelengkan kepalanya.
"Apa yang katakan barusan, Mutya?" tanya Flora setelah napasnya kembali normal.
"Aku hanya bertanya," jawab Mutya sok polos.
Gio melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
"Ini sudah siang. Aku harus pergi," pamit Gio.
"Kamu mau ke mana?" tanya Flora.
"Ada urusan sebentar." Gio dan Abi beranjak dari kursi mereka.
"Sampai jumpa." Gio mengusap sisi wajah Flora seraya tersenyum pada kekasihnya itu.
Flora mengangguk, "Hati-hati."
Setelah Gio dan Abi meninggalkan restoran itu, Flora dan Mutya bergabung dengan teman-teman mereka yang lain. Mereka merencanakan perjalanan ke beberapa tempat wisata yang ada di pulau Dewata.
Dan rencananya selesai sarapan mereka akan berangkat ke tempat yang ingin mereka tuju.
*****
Hari sudah mulai senja, tepatnya pukul 6 sore, rombongan karyawan F.G group baru saja kembali ke hotel. Mereka memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing, termasuk Flora dan juga Mutya.
"Capek." Mutya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Ternyata liburan capek juga ya."
Flora hanya tersenyum mendengar keluhan Mutya.
"Aku mandi dulu ya," ucap Flora.
Flora menaikan satu alisnya saat Mutya tidak merespon perkataannya. Tenyata Mutya sudah tertidur.
"Dasar, cepat banget tidurnya." Flora menggelengkan kepalanya karena merasa heran.
Flora menyiapkan air di bak mandi dan tidak lupa menambahkan sabun ber-aroma terapi di dalamnya. Mata Flora berbinar melihat banyak busa di dalam bak mandi. Tidak menunggu waktu lama, Flora pun menceburkan diri ke bak mandi. Rasa lelah seakan luntur dari tubuh Flora setelah berendam.
Cukup lama Flora berada dalam bak mandi, bahkan Flora sampai tertidur. Jika saja telinganya tidak mendengar ketukan pintu dari luar, mungkin Flora bisa tertidur sepanjang malam di dalam kamar mandi.
"Flora, kamu mandi apa tidur?" tanya Mutya di luar kamar mandi.
Flora yang baru tersadar dari tidurnya belum bisa merespon panggilan Mutya.
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar lagi.
"Flora," panggil Mutya.
Dan kali ini Flora merespon panggilan dari sahabatnya.
"Ya, sebentar," sahut Flora.
Flora keluar dari bak mandi dan menuju tempat mandi. Flora berdiri di bawah shower untuk membilas tubuhnya. Setelah selesai, Flora menarik handuk kimono dan memakaikannya ke tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan di dalam? Kenapa mandinya lama sekali?" tanya Mutya dengan nada sedikit kesal.
Flora tersenyum bodoh dengan menunjukkan deretan giginya. "Aku ketiduran di bak mandi."
Mutya pun menepuk keningnya sendiri.
"Kamu tidur dengan tenangnya di dalam kamar mandi dan kamu tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh kekasihmu di luar sana."
"Apa mak-sudmu? Memang apa yang dilakukan oleh Gio?" Flora mengerutkan keningnya, merasa penasaran.
Mutya menunjukan sebuah foto dalam galeri ponselnya. "Lihat ini!"
Flora melihat Gio ada di foto itu, tetapi tidak sendiri. Terlihat Gio sedang berdiri dengan melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan.
__ADS_1
"Siapa wanita itu?" tanya Flora.
"Mana aku tahu?" sahut Mutya. "Lihatlah kekasihmu bermesraan dengan perempuan lain. Jangan biarkan itu."
"Tapi mungkin saja dia itu rekan bisnisnya." Flora mencoba berpikir positif.
"Kamu terlalu naif, Flora."
"Apa kamu tidak cemburu melihat kemesraan kekasihmu dengan perempuan itu?"
Flora menundukkan wajahnya. Sejujurnya dirinya sangat cemburu.
"Cepat susul dia!" suruh Mutya.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi- tapian," sela Mutya.
Mutya mengambil sesuatu dari dalam paper bag.
"Kamu pakai ini." Mutya menunjukan sebuah gaun malam pada Flora.
"Ini baju siapa?" tanya Flora.
"Eemmm, ini baju aku. Aku tadi beli di butik," jawab Mutya.
"Kapan kamu membeli gaun ini?" tanya lagi Flora.
"Ck, kamu banyak bertanya sih. Sudah cepat pakai dan temui kekasihmu! Jangan sampai dia diambil perempuan lain."
Jangan harap!
Saat Flora selesai memakai pakaian itu, seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Biar aku yang buka." Mutya berjalan untuk membuka pintu.
Beberapa saat kemudian Mutya datang bersama seseorang.
"Siapa perempuan ini?" tanya Flora.
"Dia yang akan mendandani dirimu. Kamu harus terlihat cantik, jangan sampai kalah dengan perempuan yang bersama Gio di dalam foto itu," ujar Mutya.
Mutya langsung membawa Flora ke hadapan meja rias yang ada di dalam kamar itu dan meminta make up artist itu mendandani Flora secantik mungkin.
Sekitar 1 jam, Flora pun sudah siap dengan penampilannya. Flora terlihat sangat berbeda malam itu.
Sangat cantik!
Flora mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna hitam yang manampakan lekuk tubuhnya, ada belahan di bawahnya sampai batas lutut. Ditambah riasan pada wajahnya, menambah kesempurnaan dalam dirinya.
"Apa ini tidak berlebihan, Mutya?" tanya Flora.
"Tidak, ini sempurna. Kamu sangat cantik, Flora. Lihat saja Gio pasti tidak akan bisa berpaling dari mu," ujar Mutya.
"Tapi aku ragu ...." Flora kembali di depan meja rias.
"Apa lagi yang kamu ragukan?" Mutya menarik Flora keluar dari kamar inap mereka.
"Cepat temui kekasihmu di pinggir pantai." Mutya langsung menutup pintu agar Flora tidak bisa masuk lagi.
Sedangkan di luar kamar, Flora berdiri mematung, terkejut dengan kelakuan sahabatnya.
"Apa-apaan ini?" Flora berdecak kesal.
Flora berpikir sejenak sebelum akhirnya pergi untuk menemui Gio di tepi pantai.
Sepanjang perjalanan, Flora menggerutu kesal. Siapa sebenarnya perempuan itu? Meski sudah mencoba berpikir positif, tetapi Flora tidak bisa mencegah rasa cemburu dalam dirinya.
Sampai di tepi pantai, Flora mengedarkan pandangannya mencari sosok Gio. Namun, Flora dikejutkan dengan apa yang matanya lihat.
Sebuah lampu yang disusun menjadi sebuah tulisan.
__ADS_1
"Will You marry me, Flora?"