
Setelah drama pemukulan, Gio membopong tubuh Flora dan membawanya ke dalam rumah. Baru sampai pada pintu masuk, Gio meringis merasakan ngilu di lengannya. Dan akhirnya Gio menurunkan Flora detik itu juga.
“Apa yang terjadi?” tanya Flora.
“Apa? Kamu masih perlu bertanya apa yang terjadi?” tanya Gio. “Ini akibat ulahmu.”
“Memang apa yang aku lakukan?” tanya Flora tampan rasa bersalah sedikitpun pada suaminya.
Flora menggulung lengan kemeja Gio sampai ke lengannya dan melihat warna biru di lengan suaminya.
“Padahal aku memukulmu pelan saja. Kenapa sampai biru seperti ini?” ucap Flora seraya menggigit bibir bawahnya.
Gio pun langsung melihat pada lengannya sendiri dan benar saja ada luka lebam di lengannya.
“Lihat! Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” Gio memasang wajah tersiksa. “Dan apa katamu tadi? Kamu memukulku pelan? Lihat saja ini!” Gio menunjukan luka lebam di lengannya.
“Iya, maaf. Aku khilaf tadi. Ayo ke kamar, aku akan mengoleskan salep ke lukamu ini.” Flora melingkarkan tangannya ke lengan Gio dan membawa suaminya ke kamarnya.
“Awwww!”
Flora terjengit saat Gio memekik ketika ia akan mengoleskan luka lebam berwarna biru di lengannya.
“Apa yang kamu lakukan? Aku bahkan belum melakukan apapun,” ucap Flora.
“Aku hanya ingin mengejutkanmu saja,” sahut Gio dan langsung membuat Flora memicik tajam ke arahnya.
“Diam, Gio,” omel Flora seraya mengoleskan salep ke lengan suaminya.
“Ini sakit, Flora,” protes Gio.
“Aku harus mengoleskan salep ke luka lebam di lenganmu ini,” ucap Flora.
“Tapi kamu menekannya terlalu kuat,” ucap Gio.
“Ini salahmu sendiri kenapa mencari masalah denganku.” Flora masih mengoleskan salep ke luka lembam yang ada pada lengan Gio.
“Aku tidak akan melakukan itu lagi.” Gio bergidik ngeri membayangkan keganasan Flora. “Kamu benar-benar mengerikan, Sayangku.”
“Bagus kalau begitu.” Flora terkekeh saat melihat Gio bergidik ngeri.
“Oh ya, di mana Tina?” tanya Flora.
“Aku sudah mengirimnya kembali ke asalnya beberapa hari yang lalu,” jawab Gio.
“Bagus kalau begitu. Jika dia masih berada di dalam rumah ini, aku akan membuat perhitungan karena berani mendekatimu,” ancam Flora.
“Uluh, uluh ... istriku yang galak,” ledek Gio.
__ADS_1
Mendengar ledekan dari suaminya, Flora sengaja menekan luka lebam di lengan Gio yang akhirnya membuat Gio memekik.
“Awwwww!” pekik Gio.
“Rasakan itu.” Flora kembali menekan luka lebam di lengan Gio.
“Kamu ....” Gio menghentikan perkataanya dan langsung mencium bibir perempuan berstatus istrinya.
“Awas saja, aku akan membuat perhitungan denganmu, nanti. Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan,” ancam Gio seraya memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi Flora.
“Awas saja jika kamu berani melakukan itu. Aku akan memberimu pelajaran,” tantang Flora.
“Oke, kita lihat saja,” balas Gio diikuti senyuman nakalnya yang justru membuat wajah Flora memerah.
*****
Sudah 7 hari setelah penangkapan Dini, hubungan Gio dan Flora berjalan normal termasuk juga kondisi pada perusahaan mereka. Meskipun kehilangan proyek besar dan harus membayar ganti rugi dengan jumlah uang yang juga tidak sedikit.
Dan pada hari itu setelah ia resmi menjadi istri Gio, untuk pertama kalinya Flora berkunjung ke kantor tempat ia bekerja dulu. Saat dulu ia datang kantor untuk bekerja, tetapi kedatangannya kali itu adalah untuk menemui suaminya.
“Flora.”
Flora menghentikan langkahnya ketika telinganya mendengar ada yang memanggil namanya. Flora menolah ke sana kemari untuk mencari sumber suara.
“Mutya.”
“Flora ... aku merindukanmu.” Mutya langsung memeluk tubuh sahabatnya.
“Huh mentang-mentang sudah menjadi ibu bos, sudah lupa sama temen sendiri,” keluh Mutya.
“Maaf, ada banyak masalah. Jadi —” Ucapan Flora terpotong oleh Mutya.
“Ya, aku tahu. Kamu pasti lagi sibuk untuk menyiapkan resepsi pernikahan kamu dan pak Gio, 'kan? Kami semua karyawan di kantor ini sudah dapat undangannya,” ucap Mutya.
“Resepsi ....” Flora nampak bingung dengan pertanyaan Mutya. Pasalnya Flora sama sekali tidak mengetahui tentang resepsi itu.
“Aku harus tanya ini pada Gio,” batin Flora.
“Mutya bisa kita bicara lagi nanti? Aku harus mengantarkan kotak makan siang ini pada Gio,” ucap Flora.
“Tentu saja. Aku juga harus kembali bekerja,” ucap Mutya. “Sekali lagi selamat ya untuk pernikahan kamu dan pak Gio,” ucap Mutya yang segera diangguki oleh Flora.
Flora kembali melangkah menuju ruangan tempat kerja suaminya. Saat tiba di depan ruangan kerja suaminya, Flora melihat meja kerjanya sudah diisi oleh orang lain. Rasanya tidak rela ada seseorang yang menggantikan posisinya.
“Mbak, Pak Gio ada di ruangannya?” tanya Flora.
“Ada, Bu. Apa Anda sudah buat janji dengan beliau?” tanya wanita itu dengan sopan.
__ADS_1
“Saya istrinya,” ucap Flora.
“Maaf, Bu, saya tidak tahu. Saya masih baru di sini?” ucapnya.
Flora mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. “Saya Flora.”
Wanita itu menyambut uluran tangan Flora. “Saya Susan. Saya baru bekerja 1 minggu di sini.”
“Silahkan masuk, Bu. Bapak Gio ada di dalam,” ucap Susan.
“Terima kasih,” ucap Flora. “Saya masuk dulu. Selamat bekerja dan selamat datang di kantor kami.”
“Terima kasih, Bu,” balas Susan.
Flora melangkah masuk ke dalam ruangan kerja suaminya. Mata Flora melihat suaminya sedang duduk di depan layar komputer. Senyumnya mengembang setiap kali melihat raut wajah suaminya yang sedang serius bekerja. Berbeda sekali dengan sikap tengilnya.
Tok tok tok
Gio langsung mengalihkan pandangannya dari layar komputernya setelah mendengar ketukan pintu dari ruang kerjanya. Senyum di bibir Gio mengembang saat melihat wajah istrinya.
“Apa aku mengganggumu?” tanya Flora.
“Tidak.” Gio beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Flora. Satu kecupan Gio berikan di kening istrinya.
“Kenapa tidak bilang mau ke sini? Aku akan meminta Abi untuk menjemputmu,” tanya Gio.
“Aku hanya ingin membuat kejutan untukmu,” jawab Flora. “Aku bawa makan siang untukmu.”
“Terima kasih. Aku akan selesaikan pekerjaanku dulu lalu kita makan siang bersama,” ucap Gio dan langsung diangguki oleh Flora.
Flora meletakan kotak makan siang di meja yang ada di sudut ruangan fan melangkah menghampiri Gio.
“Gio, boleh aku bertanya?” tanya Flora.
“Apa kamu masih butuh izinku untuk itu, Sayangku?” tanya balik Gio tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
“Tadi aku bertemu dengan Mutya di depan. Katanya seluruh karyawan di sini sudah mendapatkan undangan resepsi pernikahan kita?” ucap Flora. “Kapan kita menyiapakan resepsi pernikahan kita?” tanya Flora.
“Memang bukan kita yang menyiapakan resepsi pernikahan kita.” Gio menarik tangan Flora dan menyuruhnya untuk duduk di atas pangkuannya. “Tapi Ibu, tante Mariana, om Ardi, dan Daniel. Mereka yang menyiapakan semuanya.”
Gio membuka laci meja yang ada di bawah meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah kartu undangan. Gio membuka kartu undangan resepsi pernikahan mereka yang akan berlangsung satu minggu lagi.
“Kamu ingatkan sebelum papa meninggal, beliau sedang mempersiapkan itu semua untuk kita,” ucap Gio yang segera di angguki oleh Flora.
“Lagi pula ....” Gio melingkarkan tangannya ke tubuh Flora. “Aku ingin malam pertama kita spesial nantinya,” bisik Gio di telinga Flora.
Mendengar kata malam pertama, rona merah muncul di kedua sisi wajah Flora.
__ADS_1
“Gio ....” Flora menyembunyikan wajah malunya di dada bidang suaminya.
“Ingat perkataanku beberapa waktu yang lalu, 'kan? Akan aku buat kamu tidak bisa berjalan," lanjut Gio.