Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ngidam 2


__ADS_3

“Sudahlah, ayo kita pulang saja. Aku tidak sakit kenapa masih harus dirawat,” ucap Gio.


“Kamu yakin?” tanya Flora.


“Seratus persen,” jawab Gio.


“Tapi kamu kelihatan masih lemas,” ucap Flora.


“Nanti juga gak. Aku bisa mati bosan jika di sini terus,” ucap Gio.


“Baiklah, aku akan meminta Abi untuk mengurus administrasi rumah sakit,” ucap Flora.


“Suruh dia untuk cepat,” pinta Gio.


“Iya. Kenapa sih kamu jadi bawel sekarang,” ledek Flora.


Flora meraih tasnya untuk mengambil ponselnya. Flora mencari nomor ponsel Abi lalu mengirimkan pesan padanya.


Sudah 3 hari Gio dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah membaik meski masih merasa mual pada pagi dan saat mencium bau yang menyengat.


Tepat pukul 11 siang, Abi datang ke ruangan rawat atasannya. Abi memberitahukan jika Gio sudah diperbolehkan pulang, semua administrasi rumah sakit juga sudah diselesaikan.


“Kenapa kamu bekerja lambat sekali,” omel Gio.


“Berhentilah marah-marah. Aku tidak ingin anak kita menjadi pemarah.” Flora balik mengomel.


“Biasa, Bu ... lagi ngidam,” ledek Abi.


Flora dan Abi langsung tergelak, sedangkan Gio langsung memicik tajam ke arah Flora dan Abi, membuat istri dan asisten pribadinya melipat bibir untuk menahan tawa mereka.


“Jangan marah-marah terus. Ayo kita pulang.” Flora menggandeng lengan Gio dan keluar dari kamar rawat inap itu.


Flora dan Gio menunggu Abi di lobi rumah sakit. Tidak lama Abi datang dengan mengendari mobil ke arah mereka.


Setelah semua masuk ke dalam mobil Abi kembali melajukan mobilnya menuju kediaman atasannya.


Jalanan mulai padat karena sudah masuk jam makan siang. Laju mobil yang dikendarai oleh Abi sedikit tersedat.


Gio yang merasa bosan duduk diam di mobil bertanya pada Abi mengenai keadaan di perusahaannya.


“Apa ada masalah di kantor, Abi?” tanya Gio.


“Sejauh ini tidak ada, Mas Gio,” jawab Abi.


“Lalu ... bagaimana dengan investor dari Amerika itu? Tidak ada masalah karena kita menunda pertemuan, 'kan?” lanjut Gio.


“Tidak, Mas. Mereka masih menunggu untuk bertemu langsung dengan Mas Gio,” jawab Abi.


“Baiklah, minta Susan untuk mengatur ulang jadwalku,” suruh Gio. “Besok aku akan kembali bekerja.”


“Baik, Mas Gio,” balas Abi.


Flora yang mendengar percakapan Gio dan Abi ikut angkat bicara.


“Kamu yakin sudah bisa bekerja?” tanya Flora pada suaminya.


Gio mengangguk, ”Jangan khawatir aku baik-baik saja. Aku akan merasa bosan jika berdiam diri di rumah.”


Flora hanya mampu mengangguk meskipun hatinya masih merasa kekhawatiran dengan kondisi suaminya.


Tidak lama mobil yang dikendarai Abi masuk ke dalam halaman rumah Gio. Setelah memberhentikan laju mobilnya Abi turun dari mobil lebih dulu. Abi membukakan pintu mobil untuk Gio.


“Mas Abi, tolong turunkan barang-barangnya. Nanti minta sama bibi untuk memasukannya ke kamar aku,” pinta Flora.


“Baik, Mba,” sahut Abi.

__ADS_1


“Ayo, Sayangku ... cepatlah!” ucap Gio.


“Ya, baiklah. Kamu benar-benar tidak sabaran sekali.” Flora melangkah dengan berlari kecil untuk menghampiri suaminya.


Gio melebarkan matanya saat melihat istrinya berlari.


“Apa yang kamu lakukan? Kenapa berlari?” omel Gio.


“Maaf aku lupa,” ucap Flora.


Gio langsung melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Flora dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Malam hari tiba tepatnya pukul 12 malam , Flora sedang memasak nasi goreng di dapur untuk suaminya. Karena Gio tiba-tiba ingin makan nasi goreng dan itupun harus Flora sendiri yang membuatnya.


“Sayang, kenapa lama sekali?”


Flora mendengar teriakan suaminya. “Iya, sebentar lagi.”


Flora tidak akan marah saat Gio menyusahkannya tengah malam seperti itu. Flora justru merasa senang akhirnya Gio mau makan nasi.


Sejak mual napsu makan Gio berkurang dan bahkan jarang makan nasi ataupun makanan berat lainnya. Setiap kali makan pasti akan keluar lagi dan itu membuat Gio malas untuk makan.


Flora sebelumnya sudah berkonsultasi kepada dokter Marisa dan menyarankan untuk memberikan Gio makanan yang ringan, seperti roti, biskuit, buah-buahan dan juga es cream. Ternyata itu berhasil, Gio makan dan tidak merasa mual. Setidaknya itu memberikan Gio sedikit tenaga.


“Sudah jadi.” Flora datang dari arah dapur dengan membawa dua piring nasi goreng.


“Kok dua piring?” tanya Gio.


“Anak kamu juga ingin makan.” Flora mengusap perutnya yang masih rata.


Gio mengecup perut Flora lalu mengusapnya. “Anak papa juga lapar.”


“Iya, Papa,” jawab Flora dengan menirukan suara anak kecil.


“Ayo makan. Kamu mau aku suapin?” tanya Flora.


*****


Keesokan harinya.


Tidur Flora terusik saat mendengar suara gemericik air. Tangan Flora bergerak untuk mencari keberadaan Gio. Flora membuka matanya saat tangannya tidak mendapati keberadaan suaminya.


“Gio,” panggil Flora.


Flora menoleh ke arah kamar mandi saat mendengar suara gemericik air. Flora menyibakkan selimutnya dan menurunkan kakinya ke lantai.


Tok tok tok


“Gio kamu di dalam?” tanya Flora.


“Ya.” Flora merasa lega saat mendengar Gio menyahut.


Pintu kamar mandi terbuka dan langsung menampakkan dada telanjang Gio.


“Kamu habis mandi.” Floral tergagap saat melihat dada telanjang Gio.


“Ya, aku sedang mandi,” jawab Gio.


“Kamu, tidak mualkan?” tanya Flora sedikit khawatir.


“Tadi sempat mual, tapi sekarang tidak lagi. Jangan khawatir,” ucap Gio.


“Baiklah, aku akan membuatkan sarapan untukmu. Kamu mau sarapan apa?” tanya Flora.


Gio mendekat wajahnya ke sisi wajah Flora dan berbisik di sana.

__ADS_1


“Sarapan kamu ... boleh gak?” bisik Gio.


“Ini masih pagi ....” Flora menjadi salah tingkah mendengar bisikan Gio.


“Memamg kenapa kalau masih pagi.” Gio menarik pinggang Flora mengikis jarak di antara mereka. “Aku sudah libur selama tiga hari.”


“Tapi —”


“Ayolah, Flora ... hanya sebentar saja,” ucap Gio.


“Ck, baiklah.” Flora pun mengangguk.


Gio membopong tubuh Flora lalu merebahkannya ke atas tempat tidur. Pagi itu menjadi pagi panas untuk keduanya.


Selesai melepas hasrat mereka, Gio dan Flora mandi bersama untuk mempersingkat waktu pagi itu. Flora keluar dari kamar mandi dan menyiapkan pakaian kerja suaminya. Tidak lama Gio keluar dan langsung memakai pakaian kerjanya.


“Kamu mau sarapan apa?” tanya Flora.


“Aku mau apel saja,” jawab Gio.


“Baiklah akan aku ambilkan.” Flora keluar dari kamarnya.


Flora berjalan menuruni anak tangga, langkahnya menuju ke arah dapur. Flora membuka lemari pendingin untuk mengambil 2 buah apel di dalamnya lalu kembali ke kamarnya.


Sampai di dalam kamar Flora tidak mendapati Gio di dalamnya. Justru Flora mendengar suara gerumuh dari kamar mandi. Segera Flora meletakan piring berisi dua buah apel dan melangkah ke kamar mandi. Ternyata Gio kembali mual.


Flora membantu memijit tengkuk Gio berharap bisa membuat suaminya merasa nyaman. Beberapa saat kemudian Gio berhenti muntah lalu membasuh bibirnya dengan air.


“Sudah merasa lebih baik?” tanya Flora.


Gio pun langsung menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, ayo kita keluar,” ajak Flora.


Flora membawa Gio dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.


“Kalau masih mual, jangan berangkat kerja ya,” pinta Flora.


“Aku harus pergi. Ada pekerjaan penting,” tolak Gio.


“Aku gak tega melihat kamu seperti ini terus. Bagaimana kalau kamu mual seperti kemarin.” Raut wajah Flora berubah sedih bahkan air matanya sudah menetes.


“Tidak, Sayangku ... aku baik-baik saja. Ini karena aku tadi menyemprotkan parfum dan baunya menusuk hidungku dan membuatku mual,” ucap Gio seraya mengusap air mata di pipi Flora.


“Kamu yakin?” tanya Flora.


“Iya, Sayangku.” Gio menelusupkan wajahnya ke perpotongan leher Flora mencium bau tubuh Flora seperti biasanya dan memberikan kecupan di leher istrinya. “Aku lebih suka wangi sabun yang selalu kamu pakai ini.”


“Hei, sudah jangan menggodaku terus.” Flora menjauhkan tubuh Gio.


“Aku sudah bawakan apel. Aku akan mengupasnya untukmu,” ucap Flora.


Flora mengupas serta memotong apel untuk suaminya, tidak lupa juga menyuapkan apel itu kepada Gio.


“Kamu mau makan apelnya lagi?” tanya Flora setelah Gio menghabiskan satu buah apel.


“Tidak aku sudah kenyang,” jawab Gio. “Aku harus segera berangkat ke kantor.”


“Kamu yakin akan baik-baik saja?” Flora benar-benar merasa cemas. “Harusnya aku saja yang merasakan mual itu.”


“Aku justru gak akan rela jika kamu mengalami ini, Sayangku.” Gio memberikan kecupan di kening Flora.


“Aku baik-baik saja, tubuhku juga baik-baik saja. Bukankah kata Dokter ini hanya sementara. Aku akan menahannya,” ucap Gio.


Flora menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku sudah pernah berkata bukan ... aku bisa tahan dengan rasa mual ini, tapi aku tidak tahan jika tidak menyentuhmu.” Gio sengaja menggoda Flora agar istrinya tidak merasa cemas lagi.


“Huh, dasar mesum.” Flora memasang wajah galaknya, wajah galak kesukaan Gio.


__ADS_2