
Felicia menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur lalu kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ia mengigit ujung kukunya untuk mengurangi kegugupannya. Felicia masih memikirkan tentang malam pertamanya dengan Kenzo nantinya.
Dia 'kan tidak suka padaku mana mungkin dia akan melakukan itu malam ini ... iya tidak mungkin?
Felicia mencoba memberikan sebuah keyakinan kepada dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian Felicia menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali untuk membuang rasa khawatirannya.
Felicia kembali duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya membungkuk untuk memijat kakinya yang terasa pegal. Seharian dirinya berdiri di atas high heels-nya membuat kakinya terasa kaku.
"Ke mana laki-laki dingin itu? Apa dia memesan kamar lain? Baguslah kalau begitu," ucap Felicia.
Felicia memutuskan untuk lebih dulu mandi untuk menyegarkan tubuhnya sudah terasa lengket. Felicia kembali berdiri untuk melepas gaun putih panjangnya yang terasa berat itu dan juga aksesoris yang terpasang di beberapa bagian tertentu tubuhnya.
Tangan Felicia bergerak untuk meraih resleting gaun yang ada di belakang tubuhnya. Beruntung tangannya bisa mencapai itu. Resleting gaun itu mulai bergerak turun, membuat gaun itu merosot dan lolos dari tubuhnya. Felicia menarik napas lega saat gaun dan semua aksesoris sudah lepas dari tubuhnya.
Felicia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia geser pintu kayu di hadapannya untuk membuka pintu kamar mandi. Mata Felicia berbinar saat melihat buthtub sudah diberi taburan bunga mawar merah.
"Ini pasti ulah Kenzo dan juga Gavin," guman Felicia.
Senyum Felicia mengembang saat melihat hasil karya kedua adiknya. Melihat pemandangan itu membuat Felicia ingin berendam. Dengan berendam berharap bisa meredakan rasa lelah di tubuhnya.
Rasa lelah di tubuh dan pikirannya lenyap seketika saat tubuhnya sudah terendam di bathtub. Matanya terpejam untuk menikmati kesegaran yang mengalir ke sekujur tubuhnya.
Rasanya baru sebentar Felicia menikmati ketenangannya, sudah ada seseorang yang mengusik ketenangannya. Mata Felicia terbuka, telinganya mendengar gedoran di depan pintu kamar mandi. Mendengar dari suaranya saja ia bisa menebak jika orang yang mengganggu ketenangannya adalah Kenzo.
Mau apa sih dia?
"Apa kamu tidur dalam sana?"
Felicia memutar bola matanya karena merasa jengah dengan teriakan suaminya. Sebelum pintu kamar mandi itu hancur Felicia memilih untuk menyudahi berendamnya.
Felicia keluar dari dalam buthtub. Ia berjalan ke tempat mandi untuk membilas tubuhnya. Busa yang ada di sekujur tubuhnya mengalir bersama dengan air yang mengguyur tubuhnya. Selesai dengan itu Felicia menarik handuk kimono yang ada di dekatnya lalu memakainya ke tubuhnya.
Felicia melangkah dengan hati-hati, karena kakinya yang basah. Sampai di depan pintu Felicia membuka pintu dengan cara menggesernya. Saat pintu terbuka pandangannya langsung bertemu secara langsung dengan Kenzo.
__ADS_1
"Apa kamu pikir ini kamar mandi pribadimu, hah? Hingga kamu menggunakannya seenakmu sendiri?" Kenzo bertanya dengan nada kesal.
"Kalau kamu tidak sabar pesan saja kamar lain untuk dirimu sendiri!" balas Felicia.
"Jika aku bisa melakukan itu sudah aku lakukan dari tadi," ucap Kenzo. "Sekarang menyingkir!"
Felicia mengerucutkan bibirnya lalu memilih untuk menyingkir. Ia memberi jalan pada Kenzo untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Dasar! Suami sama istri tidak ada manis-manisnya," gerutu Felicia.
Felicia melangkah menjauh dari kamar mandi. Ia membuka koper untuk mengambil pakaiannya. Awalnya Felicia merasa tidak sabar untuk mengambil pakaiannya. Namun, saat koper sudah terbuka Felicia merasa sangat terkejut, matanya terbelalak, mulutnya menganga saat melihat barang-barang yang ada di dalam koper miliknya.
"Apa ini?" Felicia mengambil salah satu barang yang ada di dalam koper miliknya, sebuah pakaian seksi berwarna merah yang tembus pandang.
"Ini pasti ulah Kenzi dan juga Gavin!" tebak Felicia.
"Kenzi, Gavin ... apa kalian ingin membuatku masuk angin dengan memberikan pakaian terbuka seperti ini?" gerutu Felicia.
Pakaian berwarna merah yang tembus pandang Felicia letakkan di atas tempat tidur. Ia kembali mengobrak-abrik isi kopernya, berharap menemukan pakaian yang bisa ia kenakan. Akan tetapi hasilnya sama saja. Hanya ada lingerie di dalam koper miliknya.
Pandangan Felicia beralih ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Kapan saja pintu kamar mandi itu bisa terbuka dan memunculkan suaminya dari dalamnya. Hal itu membuat Felicia merasa sangat cemas. Tidak ada pilihan lain untuk Felicia, dengan terpaksa Felicia memakai pakain seksi itu.
Bertepatan dengan Felicia yang selesai memakai pakaiannya, Kenzo juga keluar dari kamar mandi. Alis laki-laki itu terlihat terangkat sebelah saat melihat istrinya masih memakai handuk kimononya.
"Kenapa kamu tidak berganti pakaian?" tanya Kenzo. "Apa kamu pikir dengan tetap memakai handuk itu kamu bisa menggodaku?"
Felicia terdiam, ia bingung harus membalas perkataan suaminya dengan cara apa.
"Kenapa diam? Biasanya kamu memiliki segudang kata-kata untuk mengejekku," ucap Kenzo.
Tidak sengaja mata Kenzo melihat koper milik Felicia yang terbuka. Kenzo juga sama terkejutnya saat melihat pakaian dalam yang tercecer di dekat koper itu.
Kenzo langsung memeriksa koper miliknya. Apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar terbukti. Di dalam kopernya juga hanya ada pakaian dalam.
__ADS_1
"Ini gila," guman Kenzo.
Kenzo menekuk kedua tangannya dan menaruhnya di sisi pinggangnya. Laki-laki itu mendesah seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Ini pasti ulah Kenzo dan Gavin," tebak Kenzo. "Awas saja! Aku akan membuat perhitungan dengan kalian."
Kini keduanya terpaksa semalaman harus memakai handuk kimono yang sudah melekat di tubuh mereka masing-masing.
Tubuh mereka sudah sangat lelah dan mengharuskan mereka untuk segera tidur. Felicia melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur. Tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
"Mau ngapain kamu?" tanya Kenzo.
"Tidurlah," jawab Felicia.
Kenzo melemparkan bantal ke arah Felicia. "Tidur di sofa sana!"
"Apa?" Felicia menjerit. "Kamu menyuruhku tidur di sofa? Kenapa bukan kamu saja yang tidur di sofa." Felicia kembali melempar bantal di tangannya kepada Kenzo.
Tidak ada yang mau mengalah hingga membuat mereka membuat kesepakatan. Mereka akan tidur di tempat tidur yang sama dengan dibatasi oleh bantal guling.
Felicia merebahkan tubuhnya setelah kesepakatan selesai dan tentunya dengan menaruh bantal guling di antara mereka.
Kenzo juga melakukan hal yang sama dengan istrinya. Sebelum tidur Kenzo lebih dulu meminum air mineral yang ada di meja nakas di sampingnya.
Awalnya Kenzo tidak merasa curiga saat segel air mineral yang diminumnya sudah terbuka. Sampai ada rasa aneh yang Kenzo rasakan beberapa saat setelah meminum air mineral itu. Tubuhnya terasa panas.
Kenzo menambah suhu pendingin di ruangan itu. Namun, tidak berpengaruh sama sekali pada hawa panas di dalam tubuhnya. Panas di dalam tubuhnya masih terasa dan belum menghilang.
Ada gejolak dalam dirinya yang membuat Kenzo menginginkan sesuatu. Kenzo baru menyadari jika air yang ia minum pasti sudah dicampur dengan obat perangsang.
"Kenzi ... aku akan benar-benar melenyapkanmu nanti," batin Kenzo.
Pandangan Kenzo beralih ke arah Felicia. Ia menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa mengering. Tidak ada pilihan lain bagi Kenzo selain menyentuh Felicia.
__ADS_1
Kenzo menyingkirkan bantal guling yang menghalangi dirinya dan Felicia. Dengan gerakan cepat Kenzo langsung menindih tubuh Felicia.
"Maaf Felicia ... aku harus melakukan ini."