Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 229


__ADS_3

Kenzo masih berada di taman belakang rumah. Dengan berkacak pinggang, Kenzo berjalan mondar-mandir. Napasnya naik turun dan tidak beraturan, terlihat sekali jika Kenzo dalam keadaan emosi.


Apa yang baru saja didengarnya membuat Kenzo tidak habis pikir. Reza adalah dalang di balik kecelakaannya. Motifnya sendiri belum Kenzo ketahui.


"Kenapa dia melakukan ini? Apa motifnya?" tanya Kenzo pada dirinya sendiri.


"Sayang."


Kenzo mendengar suara Felicia, segera ia meredam amarahnya. Kenzo tidak mau sampai istrinya melihat kemarahannya.


"Ya." Kenzo berbalik, menatap Felicia.


"Makan siang sudah siap. Ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar," ajak Felicia yang langsung diangguki setuju oleh Kenzo.


Kenzo merangkul pinggang Felicia, membawanya kembali ke dalam rumah. Kenzo menarik kursi untuk duduk Felicia. Setelah itu Kenzo menarik kursi untuk duduk ia sendiri. Keduanya duduk bersebelahan di meja makan.


Felicia mengambil piring Kenzo, mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk.


"Ini makanlah!" Felicia memberikan piring yang sudah ia isi ke Kenzo.


"Terima kasih." Kenzo menerima piring yang Felicia berikan.


Saat makan pun Kenzo masih tidak fokus, ia masih memikirkan Reza. Dulu saat pertama kali melihat Reza, Kenzo tidak menyukainya karena kedekatannya dengan Felicia, tetapi lama-kelamaan rasa tidak suka itu perlahan berubah. Ia menilai Reza adalah pria yang baik dan Kenzo juga tidak keberatan jika istrinya dekat dengan pria itu. Dan kini Kenzo merasa sudah salah menilai Reza.


Felicia makan dengan lahap.Tidak sengaja ia melihat suaminya melamun, keningnya berkerut melihat Kenzo hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Sayang, kenapa makanannya tidak dimakan? Apa makanannya tidak enak?" tanya Felicia.


"Tidak, makanannya enak. Ini lihat, aku makan." Kenzo menyendok makanannya dan memasukannya ke dalam mulutnya.


"Hmmm, ini enak," puji Kenzo.


Meskipun Kenzo sudah makan, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Felicia. Semenjak pulang dari rumah sakit, sikap suaminya sangat aneh.


"Jujur padaku, ada apa sebenarnya? Sikap kamu dari kemarin sangat aneh," ucap Felicia.


"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja." Kenzo menggenggam tangan Felicia.


"Hanya itu? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" tanya Felicia disambut gelengan kepala oleh Kenzo.


Kenzo mengucapakan kata maaf pada Felicia di dalam hati. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya kepada Felicia, tetapi Kenzo ingin mencari waktu yang tepat dan juga ia ingin tahu motif Reza melakukan itu.


"Sudah, lanjutkan makannya. Kamu harus banyak makan agar anak kita sehat terus," suruh Kenzo.


"Baiklah." Felicia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh iya, kapan kita bisa tahu jenis kelamin anak kita?" tanya Kenzo untuk mengalihkan rasa curiga Felicia.


"Mungkin jika kandunganku sudah masuk bulan keenam," jawab Felicia.


"Aku sangat tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anak kita," seru Kenzo.


"Aku juga," imbuh Felicia.


Tidak ada pembicaraan lagi mereka fokus pada makanan mereka. Untuk sejenak Kenzo mencoba melupakan masalah yang sedang dihadapinya, ia tidak ingin Felicia banyak berpikir.


Tin tin tin


Kenzo dan Felicia berhenti makan saat mendengar suara klakson mobil. Kenzo tidak tahu siapa pemilik dari mobil itu.


"Siapa yang datang?" tanya Kenzo.


"Itu pasti Reza," ucap Felicia.


"Apa? Reza? Untuk apa dia datang kemari?" Kenzo sangat terkejut dan tidak menyukai kedatangan Reza.


"Aku yang memanggilnya untuk memeriksa keadaanmu. Hari ini kamu harusnya cek-up, tapi kamu tidak mau pergi ke rumah sakit. Jadi aku memanggil Reza datang ke sini," jelas Felicia.


"Tapi kenapa harus dia? Kita memiliki Dokter pribadi lain?" tanya Reza.


"Apa masalahnya? Apa kamu ada masalah dengan Reza atau kamu masih cemburu pada hubunganku dengan dia?" ledek Felicia.


"Pria seperti apa?" Felicia mengerutkan keningnya. Ia merasa penasaran dengan kalimat yang akan Kenzo ucapkan selanjutnya.


"Bukan apa-apa. Aku hanya tidak suka dengan cara dia melihatmu," kilah Kenzo.


"Itu berarti kamu cemburu, Sayangku," ucap Felicia diikuti tawanya.


"Sudahlah, jangan berpikiran seperti itu. Aku tidak akan berpaling darimu, karena selamanya aku hanya akan mencintaimu," ucap Felicia.


Felicia beranjak dari meja makan ia berjalan untuk menyambut kedatangan Reza. Felicia terus berjalan dan tidak menghiraukan panggilan dari Kenzo.


"Feli, tunggu!" Kenzo berdecak saat Felicia tidak mendengarkan panggilan darinya.


Kenzo memerhatikan Felicia yang sedang berjalan ke pintu utama. Tangan Kenzo menggenggam erat sendok yang ia gunakan untuk makan. Hampir saja sendok itu patah karena kemarahannya.


"Hai, Kenzo. Apa kabarmu?"


Kenzo tersenyum sinis saat mendengar suara Reza. Amarah Kenzo masih sangat besar pada Reza. Ia masih duduk membelakangi Reza dan sama sekali tidak ada niatan Kenzo untuk sekadar menoleh dan membalas sapaan Reza.


"Sayang."

__ADS_1


Amarah Kenzo mereda saat merasakan usapan di punggungnya. "Kamu sudah selesai makan?"


"Sudah." Kenzo menjawab dengan singkat.


"Ayo, Reza akan memeriksa kondisimu," ajak Felicia.


"Kondisiku baik-baik saja, tidak perlu diperiksa," tolak Kenzo.


"Aku akan percaya itu jika Reza yang mengatakannya," ucap Felicia.


Sebegitu percaya kamu pada pria jahat ini? Padahal pria ini yang sudah mencelakaiku.


"Baiklah, ayo." Kenzo beranjak dari meja makan.


Kenzo akhirnya mau diperiksa oleh Reza. Bukan karena tubuhnya terasa sakit, tetapi ia ingin menjaga perasaan istrinya dan juga Kenzo ingin menyelediki Reza. Mungkin dari situ Kenzo akan tahu apa motif Reza mencelakainya.


Kenzo duduk di sofa panjang yang ada di ruang tengah, di hadapannya ada Reza. Kenzo membiarkan tubuhnya diperiksa oleh Reza, dengan memasang kewaspadaan.


"Keadaannya baik-baik saja," ucap Reza.


"Sudah aku bilang dari tadi, aku baik-baik saja. Tidak perlu diperiksa," ucap Kenzo.


"Kamu sangat beruntung bisa selamat dari kecelakaan itu," ucap Reza.


"Tentu saja. Itu karena Tuhan masih baik padaku." Kenzo berucap dengan terus menatap Reza.


"Baiklah, kalian mengobrol dulu. Aku akan membuatkan minum untuk kalian," ucap Felicia.


"Tidak usah repot-repot. Aku harus pergi. Aku masih ada pekerja lain," tolak Reza.


"Hei, itu kenapa kamu terburu-buru? Kamu sudah mau repot-repot datang hanya untuk memeriksa kondisiku. Jadi ... kami harus membalasnya," ucap Kenzo.


"Lagi pula ini hanya minuman. Tidak akan merepotkan, iya, 'kan, Sayang." Kenzo menoleh ke Felicia.


"Ya, itu benar. Tetap di sini. Kenzo tolong temani Reza sebentar," suruh Felicia.


"Tentu," sahut Kenzo.


Kenzo memerhatikan Felicia sampai bayangannya lenyap dari matanya. Setelah memastikan Felicia sudah masuk ke dapur, Kenzo kembali menatap Reza.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Kenzo sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, ia mencengkram kerah kemeja Reza.


Reza sama sekali tidak terkejut, justru ia memperlihatkan senyum tipisnya. Sepertinya Reza sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Kenzo.


"Katakan!" ucap Kenzo penuh penekanan.

__ADS_1


"Karena Felicia," jawab Reza.


"Aku mencintainya dan aku harus memilikinya," lanjut Reza.


__ADS_2