
Cinta yang berlebihan pada seseorang akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa pula. Sama halnya dengan Bella, cintanya pada laki-laki bernama Elang membuatnya kehilangan akal.
Dari ketidaksengajaan dirinya yang menemukan Gio dalam keadaan wajah yang rusak dan kehilangan ingatannya, Bella mencoba membangkitkan Elang yang sebenarnya sudah tiada melalui Gio.
Bella berpikir jika ingatan Gio tidak akan kembali dengan cepat dan mungkin akan kembali setelah mereka menikah. Namun, prediksi Bella salah, ingatan Gio kembali bahkan sebelum mereka menikah.
Kini Bella harus kembali merasakan yang namanya sakit hati. Dengan banyak cara Bella mengganggu rumah tangga Gio dan juga Flora. Bella tidak rela jika melihat Gio dan Flora bahagia.
*****
Flora menjerit ketakutan saat menerima paket berisi boneka bayi tanpa kepala dengan warna merah seperti darah di bagian lehernya. Flora tidak akan mencari tahu siapa yang mengirim paket itu, karena Flora sudah tahu siapa yang mengirimnya.
“Ini pasti kerjaan Bella,” ucap Flora.
Flora menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam rasa terkejutnya.
“Pak Imam,” panggil Flora.
Penjaga di rumah itu langsung menghampiri majikannya yaitu Flora. “Ya, Bu.”
“Pak Imam ... lain kali kalau ada paket yang tidak ada namanya jangan diterima,” perintah Flora.
“Baik, Bu,” sahut pak Imam.
“Ini tolong dibuang ya, Pak.” Flora menunjuk boneka tanpa kepala yang ada tergeletak di lantai.
“Baik, Bu.”
Flora melangkah meninggalkan ruang tengah. Flora ingin kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat telepon rumahnya berdering.
Flora mendekati meja telepon untuk menerima panggilan itu. Flora mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ke dekat telinganya.
“Hallo,” ucap Flora.
“...”
“Baiklah aku dan suamiku akan datang menemuimu,” ucap Flora.
Setelah mengatakan itu, Flora mengakhiri panggilannya dan menarik kembali gagang telepon itu ke tempatnya.
Flora kembali mengangkat gagang telepon itu untuk mengubungi Gio. Panggilan itu langsung diterima oleh Gio.
“Halo, Sayang ... salah satu dari keluarganya Elang ingin bertemu dengan kita,” ucap Flora.
“ ... ”
“Baiklah, nanti aku sharlock,” ucap Flora sebelum mengakhiri panggilan itu.
Flora melangkah cepat secepat yang ia bisa. Perutnya yang semakin membesar membuat Flora sedikit sulit untuk melakukan aktifitasnya.
__ADS_1
Selesai bersiap Flora keluar dari kamarnya dan meminta pak Roni untuk mengantarnya ke restoran, tempat ia akan menemui dengan salah seorang anggota keluarga dari Elang.
Seharusnya mereka bertemu satu minggu sebelumnya, tetapi karena mereka ada di luar kota membuat mereka menunda pertemuan.
Flora sangat penasaran pada masa lalu Elang dan Bella. Apalagi saat orang dari keluarga Elang mengatakan jika Bella adalah orang yang sangat berbahaya.
“Apa yang seberangnya terjadi pada Bella dan juga Elang?” batin Flora.
Sebenarnya Flora tidak peduli dengan masa lalu Bella dan juga Elang, tetapi jika karena itu keluarganya ikut terusik maka Flora tidak bisa tinggal diam.
Sudah hampir satu jam Flora di dalam perjalanan. Restoran itu memang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Beruntung jalanan tidak dalam keadaan macet. Membuat Flora tidak harus menghabiskan waktu di dalam mobil.
“Bu Flora, sudah sampai,” ucap Pak Roni.
“Iya, Pak,” sahut Flora.
Flora turun dari mobil setelah pak Roni membuka pintu mobil untuknya. Saat Flora keluar dari dalam mobil, ada dua orang laki-laki bertubuh kekar menghampiri Flora.
“Selamat siang, Ibu Flora?” Salah satu dari dua orang laki-laki itu menyapa Flora serta membungkukkan tubuhnya seolah sedang memberikan hormat padanya.
“Maaf ... kalian siapa?” tanya Flora.
“Saya orang yang disuruh oleh bapak Gio untuk menjaga Anda,” jawabnya. “Saya Roy dan ini Jimmy.”
“Lalu di mana suami saya?” tanya Flora.
“Bapak Gio masih ada meeting jadi mungkin akan datang terlambat. Jadi bapak Gio meminta kami untuk datang ke sini lebih dulu," jawab Roy.
“Kami akan mengantar Ibu,” ucap Roy yang langsung diangguki oleh Flora.
“Pak Roni tunggu di sini ya,” suruh Flora.
“Baik, Bu,” sahut oak Roni.
Flora masuk dengan dikawal oleh Roy dan Jimmy. Sejujurnya Flora merasa risih diikuti oleh dua bodyguard. Namun, mau bagaimana lagi, suaminya yang memaksa. Suaminya mengatakan jika dirinya takut terjadi sesuatu pada dirinya.
Kini Flora sudah ada di dalam restoran. Flora sudah menghubungi orang yang ingin ia temui. Orang itu mengatakan jika dirinya akan datang terlambat datang karena terjebak macet.
Saat sedang menunggu, Flora dikejutkan dengan kedatangan Bella.
“Ini dia perempuan perebut calon suami orang!” ucap Bella dengan lantang.
Ucapan Bella berhasil membuat semua pengunjung restoran menoleh ke arah mereka.
Braaak
Flora terkejut saat Bella menggebrak meja di hadapannya.
“Hei, jangan bersikap kurang ajar.” Roy mencengkram kuat tangan Bella membuat Bella meringis kesakitan.
__ADS_1
“Roy, lepaskan dia,” suruh Flora.
“Tapi, Bu —”
“Jangan kasar sama perempuan,” ucap Flora.
“Baik, Bu saya akan lepaskan. Tapi jika nanti perempuan ini bersikap kasar sama Ibu lagi ... jangan hentikan kami. Sekarang Ibu tanggung jawab kami,” pinta Roy.
“Baiklah,” ucap Flora.
Pandangan Flora beralih pada Bella. “Sepertinya kamu yang salah bicara, Bella.”
“Aku tidak pernah merebut siapapun! Laki-laki yang kamu bilang calon suami kamu ... dia adalah suami aku dan ayah dari anak yang sedang aku kandung ini,” tegas Flora.
“Bukan! Dia adalah calon suami aku, bukan suami kamu atau ayah dari anak yang sedang kamu kandung!” teriak Bella.
“Bella ... tolong sadarlah! Ikhlaskan Elang ... dia sudah tiada,” ucap Flora dengan nada bicara yang lembut.
“Diam!” bentak Bella. “Dengar! Dia itu adalah milikku. Aku yang berhak atas dirinya.”
“Bella, aku berterima kasih padamu karena sudah menolong suamiku, tapi tolong jangan ganggu rumah tangga kami,” pinta Flora. “Lagi pula kamu tidak bisa memaksakan kehendak kamu pada laki-laki yang tidak mencintai dirimu.”
“Kamu yang harus pergi. Jika saja kamu tidak datang di antara kami ... maka dia tidak akan pernah pergi dariku,” ucap Bella.
Para pengunjung restoran itu menatap Bella dan Flora secara bergantian. Mereka hanya diam karena tidak tahu mana yang tersangka dan mana yang korban.
“Bella, sekali lagi aku minta tolong ... jangan buat keributan di sini. Jangan membuat malu dirimu sendiri,” ucap Flora
“Kenapa? Kamu takut kebusukanmu terbongkar? Hah!” tuduh Bella.
“Aku tidak merasa takut karena aku di posisi yang benar,” ucap Flora.
Bella ingin menampar Flora, tetapi bisa dihalau oleh Flora sendiri.
“Sebelumnya aku diam karena aku merasa memiliki hutang budi padamu, Bella. Tapi sepertinya kamu memang tidak bisa dikasih hati,” ucap Flora.
“Ingat ini lagi, Bella ... Elang sudah meninggal dan calon suami yang kamu bilang itu adalah suami aku,” ucap Flora penuh penekanan.
Bella tidak terima dengan setiap kenyataan yang Flora ucapkan. Dengan kasarnya Bella mendorong Flora. Beruntung Roy menahan tubuh Flora.
Bella ingin kembali menyerang Flora. Namun, Jimmy menahannya.
“Lepas! ”bentak Bella.
“Diam!” balas Jimmy.
Flora menarik napasnya untuk meredakan jantungnya yang berdegup begitu kencang. Namun, belum hilang rasa terkejutnya, Flora kembali dikejutkan dengan datangnya seseorang yang langsung menyerang Bella.
“Aaaaaa!” Mendadak Bella memekik saat ada yang menarik rambutnya.
__ADS_1
“Apa kabar, Bella? Lama kita gak ketemu,” ucap seorang perempuan yang sedang menjambak rambut Bella.