Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kehidupan Baru


__ADS_3

Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan, sudah 3 bulan setelah malam pertama mereka, Flora dan Gio menjalani kehidupan rumah tangga yang normal. Tidak ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Mereka hanya menjalani tugas mereka masing-masing.


Sikap Gio pun masih sama, masih suka jahil pada Flora. Bahkan tak jarang Flora harus berulang kali menarik napas berharap dirinya di beri kesabaran menghadapi sikap tengil suaminya. Meskipun begitu Flora selalu suka setiap kali suaminya menggodanya. Karena itu yang membuat Flora selalu merindukan suaminya, menjadikan hidupnya lebih berwarna.


Perusahaan yang sempat mengalami masalah juga sudah terselesaikan. Bukan hanya itu Flora yang selama ini bermimpi untuk membangun bisnis loundry sendiri pun terwujud. Loundry milik Flora tersebar di berbagai tempat, terhitung ada 10 tempat loundry milik Flora.Yang menjalankan semua itu adalah ibunya dan juga tante kesayangannya.


“Sayang, tolong pakaikan dasi ini.”


“Bayiku memanggilku,” ucap Flora saat mendengar panggilan Gio.


Flora yang sedang menyiapkan sarapan di dapur memilih untuk kembali ke kamar.


“Bi, tolong selesaikan ini ya,” pinta Flora.


“Baik, Bu.”


Flora melangkah meninggalkan dapur dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan juga Gio.


“Sayang, kamu di mana?”


Flora kembali mendengar panggilan suaminya.


“Ya aku datang,” sahut Flora.


Flora menarik gagang pintu untuk membukanya.


“Apa kamu tidak bisa memakai dasi itu sendiri?” tanya Flora.


“Aku sudah terbiasa denganmu, Sayangku,” kilas Gio.


“Manja,” ejek Flora dan Gio hanya terkekeh mendengar ejekan istrinya.


Flora menghampiri Gio dan langsung membantu Gio memakai dasi.


Saat Flora berada di depannya, Gio langsung menarik pinggangnya.


“Gio apa yang kamu lakukan?” Flora merasa kesal dengan ulah suaminya.


“Jangan terlalu jauh. Aku susah untuk menciummu,” bisik Gio.


Gio mencium, bibir, pipi, leher dan pundak Flora, tanpa memperdulikan jika istrinya merasa kesusahan untuk memakaikan dasinya.


“Gio ... hentikan! Aku kesusahan memakaikan dasinya,” ucap Flora.


“Tubuhmu wangi. Rambutmu juga,” bisik Gio.


“Itu karena aku sudah mandi,” balas Flora seraya mengingatkan dasi milik suaminya.


“Mandi basah gak?” Gio kembali mencium pundak Flora diikuti gigitan kecil.


Flora nampak biasa dengan sikap suaminya. Flora tahu memakai dasi hanya alasan Gio untuk melakukan semua itu.


“Tentu saja basah. Aku mandi pakai air bukan seperti kucing yang mandi dengan menggguling-gulingkan tubuhnya di atas pasir,” jawab Flora.


“Benarkah? Tapi setiap malam kamu seperti kucing. Kamu mencakar punggungku bahkan rasa perihnya masih terasa sampai saat ini,” goda Gio.

__ADS_1


“Itu juga karena ulahmu,” ucap Flora. Wajahnya bahkan sudah bersemu merah.


“Tapi kamu suka, 'kan?” goda Gio.


Flora tidak menjawab melainkan menyunggingkan senyumnya.


“Berhetilah menggodaku. Ayo kita sarapan, kamu ada rapat hari ini, 'kan?” ujar Flora.


Gio terus saja mencium leher Flora memberinya gigitan kecil di sana. Tangannya mulai berkeliaran bahkan melepas tali piyama Flora.


Flora yang sandar dengan kelakuan suaminya langsung mengencangkan ikatan dasi suaminya.


“Sayangku apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membunuhku?” menghentikan aksinya saat merasakan sesak di lehernya.


“Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan? Ini sudah siang jangan macam-macam,” omel Flora seakan tahu apa yang suaminya inginkan.


“Ayolah ini masih pagi. Tidak apa-apa 'kan jika aku terlambat sedikit saja,” ucap Gio. “Aku sungguh menginginkannya.”


“Semalam sudah, 'kan?” ucap Flora.


“Kurang,” rengek Gio. “Bukankah kita harus bekerja keras.”


Flora memutar bola matanya merasa jengah dengan alasan yang dibuat oleh suaminya. “Alasan saja.”


Flora melangkah meninggalkan Gio dan memilih untuk keluar dari kamar mereka. Gio menyusul Flora dengan berjalan di belakang istrinya.


“Ayolah, Sayang. Hanya sebentar saja,” bujuk Gio.


“Nanti malam saja,” tolak Flora.


“Dosa loh nolak suami.” Gio tetap mencoba membujuk Flora.


“Sama saja,” cibir Gio.


Flora berhenti melangkah dan berbalik ke arah Gio. Flora memperlihatkan wajah galaknya pada laki-laki berstatus suaminya.


“Jangan tunjukkan wajah galakmu itu padaku.” Gio menoleh ke arah lain untuk menghindari tatapan tajam dari mata istrinya.


“Nanti malam atau tidak sama sekali,” ancam Flora.


Gio melangkah menghampiri Flora lalu merangkul pundaknya.


“Iya, iya ... istriku yang galak. Tapi ... nanti malam boleh nambah ya.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda Flora.


“Hmmmm,” gumam Flora.


“Yes.” Gio berseru sebelum mendaratkan kecupan di ujung kepala Flora.


Flora hanya tersenyum melihat sikap suaminya yang seperti anak kecil itu.


Flora dan Gio melangkah menuruni anak tangga bersama-sama. Senyum tidak luntur dari bibir keduanya bahkan sampai ke meja makan.


“Bibi seneng lihatnya kalau kalian akur begini,” ucap bibi.


Gio dan Flora menanggapi perkataan bibi dengan senyuman mereka.

__ADS_1


“Silahkan sarapannya sudah siap,” ucap bibi seraya meletakan nasi goreng di atas meja makan.


“Terimakasih banyak, Bi,” ucap Gio dan Flora bersamaan.


“Bibi tinggal dulu ya,” pamit bibi.


Flora dan Gio menarik kursi untuk tempat mereka duduk. Flora mengambil piring Gio dan mengisinya dengan nasi goreng.


“Ini makanlah,” suruh Flora.


“Terima kasih,” ucap Gio.


Setelah mengambil makanan untuk suaminya, Flora tinggal mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


“Siang ini aku ingin ke tempat loundry,” ucap Flora. “Boleh kan?”


“Jam berapa? Aku akan mengantarmu ke sana,” tanya Gio.


Flora tersenyum lalu meraih tangan Gio dan menggenggamnya. “Tidak usah. Aku akan ke sana sendiri.”


“Aku tidak ingin merepotkan kamu,” lanjut Flora.


Gio meletakan sendok setelah sarapannya habis. “Itu tidak, Sayang. Itu tidak merepotkan aku.”


Flora menggelengkan kepalanya dan tetap menolak Gio.


“Tidak perlu, lagi pula aku hanya sebentar di sana. Setelah dari tempat ibu, aku akan mampir ke kantor,” ucap Flora.


“Baiklah terserah kamu saja. Tapi ... kamu harus menjaga dirimu baik-baik,” pesan Gio.


“Baiklah, Suamiku,” ucap Flora.


Tin tin tin


“Abi sudah datang. Aku berangkat dulu,” pamit Gio.


Setelah menghabiskan satu gelas air putih, Gio beranjak dari kursinya disusul oleh Flora.


“Aku akan mengantarmu ke depan,” ucap Flora.


Gio langsung merangkul pinggang istrinya dengan begitu mesra.


“Kamu hati-hati di jalan. Jangan telat makan juga,” pesan Flora.


“Iya, Sayangku.” Gio menarik hidung Flora merasa gemas dengan istrinya.


“Aku berangkat.” Gio mengecup kening Flora dengan jeda sedikit lama.


“Ya, hati-hati,” balas Flora.


Gio melangkah masuk ke dalam mobil setelah Abi membukakan pintu mobil untuknya.


“Mas Abi hati-hati nyetirnya,” pesan Flora.


“Baik, Bu bos,” balas Abi dan membuat Gio dan Flora terkekeh.

__ADS_1


Gio menurunkan kaca mobil di sampingnya dan melambaikan tangannya ke arah Flora. Flora pun membalas lambaian tangan suaminya mengiringi kepergian suaminya.


Flora kembali masuk ke dalam rumah setelah Gio pergi. Langkah Flora menuju ke kamarnya untuk bersiap ke salah satu tempat loundry miliknya.


__ADS_2