Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 231


__ADS_3

Keadaan Kenzo sebenarnya baik-baik saja setelah kecelakaan, tetapi selama satu Minggu ini Kenzo memilih untuk bekerja dari rumah saja. Kenzo melakukan itu karena merasa khawatir pada Felicia.


Setelah mengetahui obsesi Reza pada Felicia, Kenzo memiliki perasaan khawatir pada Felicia. Untuk meninggalkan Felicia di rumah sendiri, Kenzo masih merasa ragu.


Meksipun begitu ada hal baik yang terjadi, ia jadi memiliki waktu lebih bersama istrinya. Namun, Kenzo tidak bisa selamanya bekerja dari rumah, ia juga harus memikirkan perusahaanya. Setelah satu minggu berlalu, Kenzo memutuskan untuk berangkat ke kantor.


"Kamu sudah mau berangkat ya?" Felicia memeluk Kenzo dari belakang saat suaminya itu sedang bersiap-siap berangkat ke kantor.


Kenzo mengukir senyum di bibirnya melihat tingkah manja Felicia dari cermin yang ada di hadapannya.


"Kenapa tiba-tiba jadi manja kaya gini sih?" Kenzo berbalik dan melingkarkan tangannya ke pinggang Felicia.


"Dari kemarin kamu nemenin aku dari pagi sampai malam. Sekarang kamu sudah pergi ke kantor. Kamu akan lebih banyak waktu di luar nanti dari pada bersamaku," protes Felicia.


"Aku 'kan harus kerja. Kebutuhan kita akan bertambah setelah anak kita lahir," ucap Kenzo.


"Tapi kamu bisa bekerja dari rumah saja," ucap Felicia.


"Itu tidak mungkin, Sayang. Ada banyak pekerjaan dan orang-orang di perusahaan yang harus aku awasi sendiri," ucap Kenzo.


"Iya sih ...." Felicia merasa berat, tetapi mengingat Kenzo juga memegang tanggung jawab pada ratusan karyawannya membuat Felicia mencoba untuk mengerti.


"Kalau kamu kangen sama aku, kamu datang saja ke kantor, oke." Kenzo mengecup kening Felicia, berharap bisa membuat hati Felicia tenang.


"Baiklah." Felicia menganggukan kepalanya dengan bibir yang sengaja ia majukan.


Hal itu membuat jiwa usil Kenzo datang. Kenzo mencuri satu kecupan di bibir Felicia. "Itu bibir bikin gemes."


"Kamu ini sudah mulai mesum ya." Felicia membenarkan letak dasi yang Kenzo pakai.


"Mesum sama istri sendiri tidak masalah, 'kan?" Kenzo mengedipkan satu matanya untuk menggoda Felicia.


"Iya, iya. Terserah padamu saja." Felicia membantu Kenzo memakai jas kerjanya.


"Ayo kita sarapan. Jangan menggodaku terus." Felicia mengambil tas kerja milik suaminya. Lalu keluar dari kamar dengan melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya.


Kenzo dan Felicia sudah ada di meja makan. Kenzo menarik salah satu kursi untuk ia duduki. Felicia mengambil roti tawar dan mengoleskan selai cokelat di atasnya. Tidak lupa juga Felicia menghidangkan teh hangat untuk suaminya.


"Ini makanlah!" ucap Felicia.


"Kamu juga harus makan." Kenzo menarik tangan Felicia, menyuruhnya untuk duduk di kursinya.


Giliran Kenzo yang mengambil roti tawar lalu mengolesnya dengan selai strawberry. "Ini untukmu."

__ADS_1


"Terima kasih." Felicia menerima roti yang Kenzo berikan untuknya.


Felicia dan Kenzo duduk tenang di meja makan. Keduanya mulai menyantap sarapan mereka. Tidak berselang lama, asisten rumah tangga di rumah itu datang menghampiri mereka.


"Permisi, Bapak, Ibu. Di luar ada orang yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap Bibi.


"Siapa, Bi?" tanya Felicia.


"Kalau tidak salah namanya Rizal, Bu. Katanya dia datang disuruh sama bapak," jawab Bibi.


"Oh iya, Bi. Suruh dia masuk saja," suruh Kenzo.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit bibi yang langsung dianggukki oleh Felicia dan Kenzo.


Setelah bibi pergi, pandangan Felicia mengarah pada Kenzo. Felicia bertanya mengenai Rizal.


"Sayang, Rizal itu siapa?" tanya Felicia.


"Dia sopir baru untukmu," jawab Kenzo.


Kening Felicia mengernyit, ada rasa heran saat Kenzo tiba-tiba saja menyiapkan sopir baru.


"Sopir untukku? Aku jarang pergi untuk apa ada sopir lagi?" tanya Felicia.


"Kita hanya memiliki satu sopir. Jika dia sedang sakit, maka kita masih memiliki satu sopir lagi, 'kan?" jelas Kenzo.


"Sudahlah, Sayang jangan dipikirkan," sela Kenzo.


"Baiklah, terserah padamu saja." Felicia menganggukkan kepalanya.


Tidak ada pembicaraan lagi, keduanya fokus pada sarapan mereka.


"Aku sudah selesai sarapan." Kenzo menghabiskan teh yang disediakan oleh Felicia. Setelah itu ia mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan di mulutnya.


"Aku berangkat dulu." Kenzo memberikan kecupan di pipi Felicia.


"Tunggu! Aku akan mengantarmu ke teras." Felicia menghabiskan susu dengan cepat.


"Minumnya jangan terburu-buru, kamu bisa tersedak nanti. Aku akan menunggumu di sini," ucap Kenzo.


Felicia menganggukkan kepalanya masih dengan gelas menempel di bibirnya. Kenzo mengambil tisu dan mengusap sisa susu yang tertinggal di bibir Felicia.


"Jika ini di dalam kamar, aku akan mengusapnya dengan bibirku," goda Kenzo.

__ADS_1


"Jangan menggodaku terus. Atau aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku justru akan menyeretmu ke kemar," ucap Felicia.


"Baiklah, aku tidak akan menggodamu sekarang. Tapi nanti setelah aku pulang, aku akan menggodamu sepuasnya." Kenzo meletakan tisu bekas ke atas piring kotorannya.


"Jika kamu ingin pergi suruh Rizal untuk mengantarmu," pesan Kenzo.


"Baiklah, Sayangku." Felicia beranjak dari kursinya.


"Biar aku yang bawa tasnya." Felicia mengambil tas kerja milik Kenzo yang ada di sebelahnya, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Kenzo. Keduanya melangkah bersama ke teras rumah.


Felicia mengantar Kenzo sampai ke teras rumah sekaligus ia ingin bertemu dengan Rizal, ia merasa sangat penasaran dengan Rizal. Sampai di teras Kenzo memangil Rizal dan memperkenalkan pada Felicia.


"Sayang, ini Rizal," ucap Kenzo.


"Dan Rizal, ini istri saya. Untuk tugas kamu sudah di jelaskan sebelumnya oleh Alan, bukan?" ucap Kenzo.


"Iya, Pak." Rizal membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada Kenzo.


Saat pertama kali melihat Rizal Felicia merasa pria itu tidak layak untuk dijadikan seorang sopir. Badannya yang atletis dan terlihat tegas. Meskipun tertutup kacamata hitam, Felicia bisa melihat jika Rizal memiliki wajah yang tampan. Menurutnya, Rizal lebih cocok dijadikan sebagai bodyguard.


"Sayang, kamu tidak salah memilihkan aku seorang sopir?" bisik Felicia


"Tidak, memang kenapa?" tanya Kenzo.


"Aku bisa jatuh cinta melihat wajahnya yang tampan itu," goda Felicia.


Mata Kenzo memicik tajam. Menatap Felicia dengan tatapan mengintimidasi. "Jangan berani macam-macam atau aku akan menghabisimu setiap malam."


"Ya ampun, Suamiku manis sekali jika sedang merasa cemburu," ledek Felicia.


"Dia bukan hanya sopir, tapi dia juga body guard yang aku siapkan untuk menjagamu," jelas Kenzo. "Aku tidak mau kamu sampai melarikan diri dariku dan pergi bersama pria lain."


"Aku sedang hamil anakmu. Bagaimana aku bisa lari dengan pria lain," balas Felicia.


"Bagus. Jadilah anak yang penurut," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Felicia.


"Sudahlah, aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik," ucap Kenzo.


"Kamu juga hati-hati di jalan." Felicia memberikan tas kerja kepada Kenzo dan mencium punggung tangannya.


Felicia menatap Kenzo sampai suaminya masuk ke mobil. Setelah itu Felicia melambaikan tangannya saat Kenzo pergi dengan mobilnya.


Felicia masih berdiri di teras rumah, memandang mobil yang mengantar suaminya ke kantor. Saat mobil itu menjauh dan lenyap dari pandangannya, Felicia kembali masuk ke rumah.

__ADS_1


Ada hal yang masih membebani hati Felicia, kenapa suaminya melarangnya untuk dekat dengan Reza. Dan mengenai sopir pribadi yang Kenzo sewa. Dari sikap Kenzo, Felicia merasa ada yang hal disembunyikan.


Kenzo memang sengaja meminta Alan untuk mencarikan bodyguard untuk Felicia. Setelah mengetahui obsesi Reza pada Felicia, Kenzo memiliki perasaan khawatir pada Felicia. Kenzo takut jika Reza akan berbuat nekat pada istrinya.


__ADS_2