
Pesawat yang ditumpangi oleh Flora dan Gio sudah mendarat di bandara kota Jakarta. Flora yang sempat tertidur mulau membuka matanya saat mendengar suara Gio memanggilnya.
“Flora, bangun. Pesawat kita sudah mendarat di Jakarta.” Gio mengusap sisi wajah Flora untuk membangunkan istrinya.
Kepala Flora mulai bergerak dan disusul matanya yang perlahan terbuka. Flora mengedarkan pandangannya ke dalam pesawat dan melihat para penumpang lainnya beranjak dari kursi mereka.
“Kita sudah sampai?” tanya Flora dan Gio menganggukinya.
“Ayo kota turun,” ajak Gio.
Flora mengusap wajahnya sebelum beranjak dari kursinya. Keduanya keluar dari dalam pesawat dengan menyatukan tangan mereka.
Pasangan suami-istri itu keluar dari bandara setelah mengambil koper mereka. Tiba di luar bandara mereka melihat Abi sudah menunggu dengan mobilnya.
“Mas Abi, cepat bawa kami pulang,” suruh Flora.
Flora masuk lebih dulu ke dalam mobil dan disusul oleh Gio. Mobil itu kembali melaju saat Abi sudah masuk ke dalam mobil.
Semakin dekat ke tujuan, jantung Flora semakin berdebar kencang. Ada emosi di dalam dirinya jika mengingat apa yang dikatakan oleh Gio sewaktu di dalam pesawat. Rasanya tangannya sudah gatal ingin menampar wajah Dini.
Amarah dalam diri Flora membuat air matanya menetes. Dan itu terlihat oleh Gio. Gio menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Flora. Dan setelah itu Gio mengusap air mata Flora dengan tangannya yang satu lagi.
“Aku marah Gio. Rasanya tanganku ingin sekali menampar tante Dini,” ucap Flora.
Setelah mengusap air matanya sendiri, Flora memandang ke arah Gio.
“Tolong, kali ini jangan hentikan aku untuk memberi pelajaran pada tante Dini. Meskipun dia itu keluargamu,” mohon Flora.
“Sebelumnya aku sempat membantumu untuk menjebloskan tante Mariana ke penjara, 'kan? Dan kali ini pun aku tidak akan menghentikanmu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada tante Dini, Flora,” ucap Gio.
“Jujur aku malu menyebut dia sebagai tanteku.” Gio mengela napasnya berat.
Dan keinginan Flora pun akan segera terwujud. Mobil yang dikendarai oleh Abi sudah memasuki kompleks perumahan tempat rumahnya berdiri kokoh.
Flora melihat ada dua mobil polisi ada di depan gerbang rumahnya. Flora tidak menunggu waktu lama lagi untuk segera keluar dari mobil.
Saat akan masuk, Flora melihat tante Dini keluar dari pintu samping rumahnya. Dengan segera Flora berlari dan mencegah Dini pergi.
“Mau ke mana, Tante? Kenapa berjalan mengendap-endap seperti maling.” Flora memberikan tatapan tajam pada Dini. “Oh iya aku lupa jika kamu adalah maling. Kamu sudah mencuri proyek di perusahaanku dan menjualnya ke orang lain.”
Dini menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Flora muncul di hadapannya.
“Jangan asal bicara kamu, Flora,” bentak Dini.
“Aku tidak asal bicara. Semua bukti aku sudah melihatnya,” balas Flora.
Tidak sabar menunggu, Flora langsung melayangkan tangannya ke wajah Dini. Dua kali tamparan mendarat pada kedua sisi wajah Dini.
Plaak
“Aku tidak mengira jika kamu sejahat ini!” bentak Dini.
Plak
“Ini untuk rasa sakit saat aku kehilangan ayahku.”
__ADS_1
Dini merasa tidak terima dengan perlakuan Flora hingga membuatnya ingin membalas menampar Flora. Dini melayangkan tangannya dan mengarahkannya ke wajah Flora. Namun, tertahan di tangan Flora sebelum mendarat di pipinya.
“Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu untuk menampar wajahku.” Flora langsung mendorong Dini.
Dini pun jatuh tepat di hadapan kaki Gio. Melihat keponakannya, Dini langsung meminta tolong pada Gio untuk membantunya berdiri.
“Gio, lihat kelakuan istri kamu. Dia berani berbuat kasar dan menuduh tante yang tidak-tidak,” adu Dini.
“Dia bahkan memanggil polisi untuk menangkap tante,” lanjut Dini.
“Bukan Flora yang menyuruh polisi untuk datang kemari Tante, tapi aku,” sela Gio.
Perkataan Gio tentu saja membuat mata Dini melebar. Dini langsung menoleh ke arah Gio saat keponakanya itu mencengkram tangannya.
“Apa-apaan kamu, Gio?” Dini mencoba berontak saat Gio menyerahkannya kepada polisi.
“Bawa perempuan ini, Pak!” Gio menyerahkan Dini ke tangan polisi.
“Gio kamu tega sama tante kamu sendiri?” Dini masih mencoba membujuk Gio agar mau melepaskannya.
“Tante yang tega sama aku,” balas Gio.
“Tante memanfaatkan aku untuk tujuan Tante yaitu uang,” lanjut Gio.
“Dan apa yang sudah Tante lakukan pada papa, itu sudah sangat keterlaluan,” ucap Gio.
“Heh jadi kamu sudah tahu tentang semua itu?” Dini menunjukan senyum sinisnya. “Jadi kamu pun tahu siapa ayah kandung kamu, Gio?”
“Ya, aku sudah tahu. Ayah kandungku adalah suamimu sendiri,” ungkap Gio.
“Bagus kalau kamu sudah tahu.” Dini menunjukkan senyum sinisnya. “Satu hal lagi yang harus kamu tahu Gio ... kamu adalah orang yang telah menyebabkan ibumu meninggal,” lanjut Dini.
“Pak, tolong bawa perempuan tidak waras ini pergi dari sini,” pinta Flora pada polisi itu.
“Aku sangat membenci ibumu dan juga ayahmu, Gio. Mereka sudah mengkhianati aku.” Teriak Dini sebelum ia dibawa pergi oleh polisi dan dimasukkan ke dalam mobil polisi.
Tidak menunggu waktu lagi, dua polisi itu langsung membawa Dini pergi dari rumah besar itu.
“Gio, ayo kita masuk,” ajak Flora.
Setelah kepergian para polisi itu, Flora membawa Gio masuk ke dalam rumah diikuti oleh keluarganya. Kakinya melangkah memasuki rumahnya, tetapi matanya sesekali melihat ke arah Gio. Flora sangat mencemaskan Gio setelah suaminya tahu kebenaran tentang kematian ibunya.
Semua orang menjatuhkan tubuhnya mereka ke sofa di ruang tengah rumah itu. Terlihat juga semua orang menarik napas lega.
“Akhirnya wanita ular itu pergi juga dari rumah ini,” ucap Mariana. “Untung kamu cepat mengetahui ini semua dengan cepat, Gio.”
“Aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Karena aku ... perusahaan kita bermasalah,” ucap Gio.
Semua orang menolehkan pandangan mereka ke arah Gio. Mereka melihat wajah Gio yang tertunduk, terlihat sekali penyesalan di wajahnya.
“Jangan dipikirkan lagi. Yang terjadi biarlah terjadi, kita akan pikirkan masalah perusahaan bersama-sama,” ucap Ardi seraya menepuk pundak Gio.
Gio mengangguki ucapan Ardi dengan wajah yang masih tertunduk.
“Ya sudah ....” Pandangan Ardi mengarah pada Flora. “Flora sebaiknya bawa suamimu untuk beristirahat.”
__ADS_1
“Baik, Om,” sahut Flora.
“Ayo, Gio aku akan mengantarmu ke ke kamar,” ajak Flora.
Gio dan Flora beranjak dari ruang tengah dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Gio.
Sampai di dalam kamar, Gio langsung mendudukan bokongnya ke atas tempat tidur diikuti tarikan napasnya yang berat. Flora yang melihat itu langsung bergabung dengan Gio dan duduk di sebelah suaminya.
“Jangan pikirkan apa kata tante Dini,” pinta Flora seraya memeluk tubuh samping Gio.
“Ibumu sudah menceritakan ini padaku, Flora,” ucap Gio. “Aku sudah tahu akulah penyebab mamaku meninggal dan kini karena aku juga papa juga meninggal,” lanjut Gio.
“Itu tidak benar, itu —” Ucapan Flora terhenti karena Gio menyelanya.
“Itu apa, Flora? Itu kenyataan,” ucap Gio.
“Apa katamu?” tanya Flora
Gio melihat sekilas ke arah Flora sebelum beranjak dari sisi istrinya itu.
“Kamu berhak untuk mendapatkan laki-laki yang lebih layak untukmu,” ucap Gio.
Flora seakan tidak terima dengan perkataan Gio lalu ia pun menghampiri Gio.
Tanpa Gio duga, Flora memukul lengan Gio menggunakan pemukul baseball.
“Awww! Flora ini sakit,” rintih Gio.
“Sakit? Apa kamu tidak tahu sesakit apa hatiku saat kamu bilang akan menceraikan aku?”
Flora kembali melayangkan pemukul baseball ke lengan Gio dan tepat mengenai lengan Gio yang satunya lagi.
Gio kembali merintih kesakitan saat kembali terkena pukulan oleh Flora.
“Flora, hentikan!” Gio langsung berlari ke luar kamar itu untuk menghindar pukulan Flora.
Gio berlari di anak tangga dan itu berhasil mengejutkan semua orang yang ada di lantai bawah. Semua orang lebih terkejut lagi saat melihat Flora mengejar Gio dengan membawa pemukul baseball.
“Jangan lari kamu, Gio,” teriak Flora.
Seruni dan Daniel langsung menghadang Flora dan bertanya apa yang terjadi.
“Flora ada apa? Kenapa kamu mau mukul suami kamu?” tanya Seruni.
“Apakah Ibu tahu apa yang dikatakan oleh menantu Ibu itu?” tanya Flora dan Seruni pun tentu saja menggelengkan kepalanya.
“Dia bilang ingin menceraikan aku. Dia menyuruhku untuk mencari suami baru,” ucap Flora.
“Apa?” pekik Daniel, Mariana, Ardi, dan juga Seruni.
“Dia bicara seperti itu, Flora?” tanya Mariana yang langsung diangguki oleh Flora.
“Ya sudah kalau begitu kamu pukul saja kepalanya. Tante ingin lihat apa isi kepala si-bodoh ini,” perintah Mariana. “Kalau perlu patahkan kaki dan tangannya. Buat dia tidak bisa bergerak,” lanjut Mariana.
“Kamu dengar 'kan itu, Gio,” ucap Flora seraya menunjukkan tatapan tajamnya ke arah suaminya.
__ADS_1