Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Gio Sakit


__ADS_3

“Kami pulang dulu, Bu,” pamit Flora dan Gio pada Seruni.


Setelah mengantar Seruni ke rumahnya, Flora dan Gio berniat untuk pulang ke rumah mereka sendiri.


Namun, baru saja mereka pamit Gio mendadak merasakan gejolak di dalam perutnya. Gio pun masuk kembali ke dalam rumah ibu mertuanya, menuju ke kamar mandi.


Flora dan Seruni yang melihat itu langsung menyusul Gio. Flora melihat suaminya sedang menunduk dan sedang mencoba mengeluarkan isi perutnya.


“Gio, kamu kenapa?” tanya Flora.


Flora langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memijit tengkuk suaminya.


Beberapa saat kemudian Gio sudah berhenti merasa mual. Gio menempelkan tubuhnya ke dinding kamar mandi. Terlihat sekali jika Gio sangat lemas.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Flora.


“Aku tidak tahu. Mendadak perutku serasa diaduk-aduk,” jawab Gio lemas. “Aku merasa mual, tapi yang keluar hanyalah air dan rasanya sangat pahit di tenggorokan.”


“Ini pasti karena kamu kebanyakan minum jus jeruk,” tebak Flora.


“Ya mungkin saja,” ucap Gio dengan suara lirihnya.


“Ya sudah, ayo kita keluar.” Flora menuntun Gio keluar dari dalam kamar mandi.


“Kamu tidak apa-apa, Gio?” tanya Seruni.


Gio hanya mampu menggeleng untuk merespon pertanyaan dari ibu mertuanya.


“Sebaiknya kalian menginap saja di sini, ibu khawatir sama keadaan Gio,” suruh Seruni.


“Iya, Bu,” ucap Flora.


“Bawa suami kamu ke kamar kamu. Ibu bikinin teh hangat untuk suami kamu dulu,” suruh Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora.


Flora menuntun Gio dan membawanya ke kamar yang dulu ditempati olehnya. Sampai di dalam kamar Flora langsung merebahkan tubuh Gio di atas tempat tidur.


“Tidurlah di sini,” ucap Flora.


Flora menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Melihat wajah pucat suaminya, Flora merasa sangat cemas. Tidak lama Seruni datang ke kamar itu dengan membawa secangkir teh hangat lalu memberikannya kepada Flora.


“Berikan ini pada suami kamu,” suruh Seruni.


“Ayo minum ini dulu.” Flora membantu Gio bangun dan juga membantunya untuk meminum teh hangat.


“Sudah merasa lebih baik?” tanya Flora seraya mengusap kening suaminya.

__ADS_1


Gio menganggukan kepalanya untuk merespon pertanyaan sang istri.


“Baiklah kalau begitu. Kalian istirahat saja di rumah ibu. Besok baru pulang ke rumah kalian sendiri. Dan jika keadaan Gio sudah baik-baik saja,” suruh Seruni.


“Baiklah, Bu. Terima kasih ya,” ucap Flora.


“Kalau begitu ibu tinggal dulu. Jaga suami kamu baik-baik, Flora.” Seruni pun keluar dari kamar itu meninggalkan Flora dan Gio.


Flora beranjak dari atas tempat tidur untuk mengantar ibunya keluar. Setelah itu Flora menutup pintu kamarnya dan melangkah kembali ke suaminya.


“Aku sudah mengatakan untuk jangan terlalu banyak meminum jus jeruk itu. Kenapa kamu tidak mendengarkan aku? Lihat sekarang akibatnya!” omel Flora.


“Ayolah jangan memarahiku sekarang. Apa kamu tidak merasa kasihan padaku? Suamimu ini sedang sakit.” Gio memasang wajah memelasnya.


“Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan peduli jika kamu sakit perut,” ucap Flora.


“Oh ya, ampun bagaimana aku bisa memiliki istri sejahat dirimu,” cibir Gio.


Mendengar perkataan Gio, Flora pun hanya bisa menahan tawanya. Sejujurnya Flora merasa kesal sekaligus kasihan melihat keadaan suaminya yang lemas dan juga terlihat pucat.


“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Sekarang tidurlah!” suruh Flora.


“Aku tidak akan bisa tidur jika aku tidak memelukmu,” rengek Gio.


“Ck, kamu ini ... sedang sakit masih saja mencoba merayu,” ledek Flora diikuti tawa kecilnya.


“Kalau besok kamu masih saja seperti ini, lebih baik kita periksakan kondisi kamu ke rumah sakit saja ya,” pinta Flora dan Gio hanya mengangguk saja. “Dan juga kita harus menunda perjalanan kita ke Amerika.”


“Terserah kamu saja, Sayangku. Aku merasa sangat lemas saat ini,” ucap Gio dengan suara lirihnya.


Flora terus mengusap-usap kening Gio. Tidak butuh waktu lama mata Gio sudah terpejam. Rasa lelah yang Flora rasakan pun membuat Flora ikut terlelap.


*****


Keesokan harinya.


Flora terbangun saat mendengar derap langkah seseorang di dalam kamarnya. Flora yang terkejut langsung membuka matanya dan melihat Gio berlari keluar kamar.


“Gio, kamu kenapa?” Flora menyibakkan selimutnya dan menyusul Gio keluar kamar.


Ternyata Gio kembali merasakan mual. Pagi itu Gio kembali berkutat dengan rasa mualnya. Flora menggedor pintu kamar mandi karena merasa cemas dengan keadaan suaminya.


“Flora, apa suami kamu mual lagi?” tanya Seruni.


“Sepertinya begitu, Bu,” sahut Flora.

__ADS_1


Flora kembali mengetuk pintu kamar mandi berharap Gio akan membukanya. Flora makin merasa cemas saat Gio tidak kunjung membuka pintu kamar mandi.


“Gio, kamu kenapa? Buka pintunya!” Nada bicara Flora terdengar begitu cemas.


Bersyukur Gio membuka pintu kamar mandi membuat Flora merasa lega.


“Gio ....”


Gio keluar dari kamar mandi dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Keadaanya benar-benar memprihatinkan.


“Aku merasa tubuhku lemas sekali.” Gio menjatuhkan kepalanya di pundak Flora.


Flora memeluk Gio, ia gerakan tangannya untuk mengusap punggung suaminya.


“Kita ke Dokter saja ya,” ajak Flora.


“Ibu cari taksi dulu,” ucap Seruni.


Bersyukur saat itu Abi datang dengan mobilnya dan mereka langsung membawa Gio ke rumah sakit.


Flora tidak berhenti mengusap kepala Gio yang ada di atas pangkuannya. Rasa cemas masih hinggap di hati Flora melihat keadaan Gio.


“Mas Abi, tolong tunda perjalanan kita ke Amerika,” suruh Flora.


“Baik, Bu,” sahut Abi seraya berkonsentrasi mengemudi.


Jam berangkat kerja membuat jalanan padat, bahkan kini mobil yang dikendarai oleh Abi terjebak kemacetan.


“Apa masih lama, Mas Abi?” tanya Flora.


“Kita terjebak macet, Bu.” Abi menekan klakson mobil berharap mobil di depan melaju.


“Flora, aku merasa lemas sekali.” Gio berucap dengan suara lirihnya.


“Sabar ya,” ucap Flora.


Mobil mulai bergerak bahkan jalanan mulai lancar dan itu membuat Flora menarik napas lega. Tidak lama mereka sampai di rumah sakit. Abi keluar lebih dulu dan meminta seorang perawat untuk membantunya.


Gio segera dibawa ke ruang UGD, dan langsung diperiksa oleh Dokter. Dokter memprediksi jika Gio mengalami masalah pencernaan, tetapi untuk memastikan Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium.


“Lakukan apa saja, Dok. Yang terpenting suami saya sehat seperti sediakala,” ucap Flora.


“Baiklah, Bu. Kami akan upayakan sebaik mungkin,” ucap Dokter itu.


Seorang perawat datang untuk mengambil sampel darah Gio dan membawanya ke laboratorium.

__ADS_1


“Hasilnya akan keluar nanti ya, Bu,” ucap perawat itu.


Setelah perawat itu pergi, Abi datang dan mengatakan jika kamar rawat untuk Gio sudah siap. Segera mereka membawa Gio ke ruang rawat VVIP yang dipilih oleh mereka.


__ADS_2