
Flora, Seruni, dan Mariana sedang ada di pusat perbelanjaan. Mereka sedang berburu pakaian dan perlengkapan bayi lainnya. Di antara mereka bertiga yang paling antusias adalah Mariana.
“Tante beli baju sebanyak itu untuk siapa saja?” tanya Flora.
“Buat ibu kamu,” jawab Mariana.
Flora dan Seruni saling bertukar pandang, mereka merasa heran dengan jawaban Mariana.
“Ini jelas buat anak kamu, Flora. Masa iya tante beli baju ini buat ibu kamu,” jelas Mariana.
Flora menghela napasnya. “Tapi ini kebanyakan, Tante.”
“Gak mungkin kan kalau anak aku pakai baju sebanyak ini,” ucap Flora.
“Kamu gak suka kalau anak kamu tante beliin baju?” Wajah Mariana mendadak berubah sedih.
“Bukan begitu, Jeng,” sambung Seruni. “Anak bayi biasanya cepat gedenya. Jadi sayang kalau punya banyak baju, nanti gak dipakai karena kekecilan,” jelas Seruni.
“Iya, itu maksud aku, Tante,” sambung Flora.
Mariana diam sejenak untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Seruni dan juga Flora.
“Benar juga. Beli baju sebanyak ini tapi gak dipakai sayang juga ya,” batin Mariana.
“Iya, deh. Tante beliinnya lagi nanti kalau dia sudah lahir dan berat badannya bertambah,” ucap Mariana.
“Ya sudah ayo kita bayar belanjaan ini. Habis itu kita makan. Aku sudah kelaparan,” ucap Flora.
“Perut kamu sudah besar tapi masih doyan makan juga?” tanya Mariana. “Biasanya kalau mendekati hari lahir, perempuan hamil porsi makannya berkurang. Justru kamu yang tante lihat malah porsi makannya nambah.”
“Yang porsi makannya berkurang justru Gio, Tante. Dia yang lebih cemas menanti kelahiran anaknya sampai dia gak napsu makan,” ucap Flora.
“Anak itu ada-ada saja,” ucap Mariana disambut tawa kecil oleh Seruni dan juga Flora.
Ketiganya berjalan bersama menuju kasir. Mereka membayar semua barang belanjaan mereka. Dari pakaian bayi, box bayi, dan perlengkapan lainnya.
“Mba, nanti minta tolong semua barang-barang ini dikirim ke alamat yang sudah saya berikan tadi,” pinta Flora.
“Baik, Mba,” sahut salah seorang pegawai di toko itu.
Semua belanjaannya sudah Flora bayar, Flora pun langsung mengajak ibu dan tantenya untuk makan siang.
Salah satu restoran yang menyajikan makanan khas jepang menjadi pilihan mereka. Apalagi Flora, dirinya merasa sangat antusias untuk menikmati berbagai macam menu masakan jepang.
Ketiganya duduk di meja yang sama. Mereka membuka buku menu yang sudah disediakan di meja itu. Flora mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan di restoran itu.
Flora, Seruni, dan Mariana menyebutkan makanan yang mereka ingin pesan pada pelayan yang ada di hadapan mereka.
“Ada lagi yang ingin kalian pesan?” tanya pelayan itu.
“Tidak, itu saja dulu,” jawab Mariana.
“Baiklah, ditunggu pesanannya,” ucap pelayan itu sebelum pergi meninggalkan meja Flora.
Sambil menunggu pesanannya Flora bermain dengan ponselnya membiarkan Mariana dan Seruni untuk mengobrol berdua.
__ADS_1
Flora mengirim pesan pada suaminya, menanyakan apakah suami tercintanya itu sudah makan atau belum. Tidak lupa juga Flora mengabari pada suaminya jika dirinya sedang makan siang bersama Seruni dan Mariana.
Senyum Flora mengembang saat suaminya mengatakan akan menemuinya sebentar lagi.
“Flora, ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Seruni.
“Gio katanya mau nyusul ke sini, Bu,” jawab Flora.
“Gio mau nyusul ke sini?” tanya Mariana dengan heran.
“Ini hampir jam satu. Anak itu gak kerja apa?” tanya Mariana.
“Gak tahu, Tante. Dia maksa pengin ke sini,” ucap Flora.
Obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Ketiganya makan bersama. Sesekali mereka juga mengobrol dan tertawa di sela obrolan itu.
Mereka nampak sangat akrab, siapa sangka mereka pernah saling membenci.
“Habis ini kita mau ke mana lagi?” tanya Mariana.
“Aku akan pergi berjalan-jalan dengan Gio. Sebentar lagi dia sampai di sini,” jawab Flora.
“Suaminya akan datang kita dilupakan,” ledek Mariana.
“Sebentar lagi kamu akan mendapatkan menantu. Kamu bisa jalan-jalan sama dia sepuasnya,” ucap Seruni.
“Ya, itu benar. Flora juga sebentar lagi sibuk dengan bayinya,” ucap Mariana.
“Baiklah ayo Seruni kita kembali ke tempat Loundry saja,” ajak Mariana.
“Tidak apa-apa, Bu. Ayo kita ke luar bersama. Aku akan menunggu di pintu masuk saja,” ucap Flora.
“Baiklah,” sahut Seruni dan Mariana bersamaan.
Setelah Flora membayar tagihan makanan yang mereka pesan sebelumnya, ketiganya pergi dari restauran itu. Mereka berjalan sambil menenteng belanjaan mereka.
Ketiganya akan memasuki lift. Namun, Flora mengurungkan niatnya saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.
“Ibu, Tante, kalian pergi saja dulu. Gio sudah datang.” Flora menunjuk Gio dengan tangannya.
Pandangan Seruni dan Mariana mengikuti arah tunjuk Flora. Mereka melihat Gio sedang berjalan ke arah mereka.
“Selamat siang, Ibu, Tante.” Gio menyapa Mariana dan juga Seruni.
“Siang, Nak,” balas Seruni.
“Kamu gak kerja, Gio? Jam makan siang sudah lewat loh,” tanya Mariana.
“Aku kosongin jadwalku satu jam, Tante ... buat istri,” jawab Gio. “Lagian aku bosnya siapa yang berani melarang aku pergi.”
“Tante kok jadi gemes ya sama kamu. Pengin gitu nelen kamu hidup-hidup,” ucap Mariana disambut tawa oleh Flora, Gio, dan juga Seruni.
“Ayo, Jeng. Kalau kita tetap di sini bisa-bisa darah tinggi saya semakin naik,” ucap Mariana.
“Ya sudah, kami pergi dulu. Ibu nitip Flora dan jangan pulang malam-malam,” pesan Seruni.
__ADS_1
“Iya, Bu,” sahut Gio.
Flora dan Gio pergi dari depan lift setelah Seruni dan Mariana masuk ke dalam lift. Keduanya melangkah dengan tangan yang mereka satukan, mengisi setiap ruang pada jari-jari mereka.
“Kamu yakin gak lagi sibuk?” tanya Flora.
“Gak kok, Sayang. Jadwalku memang kosong sampai nanti jam tiga,” jawab Gio.
Flora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada waktu sat setengah jam.
“Kamu sudah makan?” tanya Flora.
“Sudah,” jawab Gio. “Kita makan es cream yuk! Habis itu kita pergi nonton,” ajak Gio.
“Anggap saja kita kencan bertiga dengan anak kita ini,” ucap Gio seraya mengusap perut buncit istrinya.
“Tuh, 'kan anak kita saja setuju,” ucap Gio saat merasakan pergerakan bayi dalam perut istrinya.
“Iya, ayo kita jalan sekarang,” seru Flora.
Tentu saja Flora menyambut ajakan suaminya dengan senang hati. Mereka pun pergi ke cafe langganan mereka yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu.
Gio menuntun Flora ke arah eskalator yang akan membawa mereka ke lantai paling atas di pusat perbelanjaan itu.
“Mata dikondisikan dong, Suamiku," ucap Flora saat melihat suaminya melihat ke arah perempuan berpakaian minim bahan.
“Cuma lihat doang, Sayang,” ucap Gio.
“Lihat kok mata sampai mau keluar gitu,” ucap Flora. “Pengen?”
“Gaklah, gak minat,” jawab Gio.
“Bohong! Aku tahu kalau aku sudah tidak langsing kaya dulu. Badanku sudah melar dan lebar makanya kamu sudah gak minat sama aku,” tuduh Flora.
“Kata siapa jangan suka berprasangka buruk sama suami ?” ucap Gio. “Aku gak ada pikiran kaya gitu sama kamu, kok.”
“Bohong,” tuduh Flora.
“Trust me, Honey,” pinta Gio.
Gio mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Flora, lalu berbisik di sana.
“Kamu kaya gini makin seksi kok. Apalagi kalau lagi telanjang ... makin keliatan seksinya,” bisik Gio.
Mata Flora terbelalak, segera Flora menoleh ke sekiranya berharap tidak ada yang mendengar apa yang bari saja Gio katakan.
“Kamu bisa gak sih gak bicara kaya gitu di depan umum? Nanti kalau ada yang denger bagaimana,” protes Flora.
Flora sudah bisa menebak jika rona merah pasti sudah muncul di wajahnya.
“Kamu makin gemes deh kalau wajah kamu merah,” ledek Gio.
“Au ah ....” Flora bersidakep dan berjalan lebih dulu ke cafe yang akan mereka tuju.
“Dasar otak mesum,” gerutu Flora.
__ADS_1