Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Perasaan Aneh


__ADS_3

“Gio.”


Debaran jantung yang Flora rasakan mendadak berhenti. Senyum yang awalnya mengembang harus luntur seketika saat melihat seseorang yang ada di hadapannya kini. Seseorang itu ternyata bukan orang yang ada di dalam pikirannya.


“Elang.” Flora berkata tanpa bersuara.


Elang menaikan satu alisnya. Jujur Elang merasa heran kenapa setiap kali bertemu dengan Flora, perempuan yang sedang hamil itu selalu menyebut nama Gio.


“Kamu masih tidak lupa 'kan jika namaku itu Elang bukan Gio,” ucap Elang. “Apa ada alasan khusus kamu selalu mengira aku ini Gio?”


“Maaf, Gio itu nama suami aku. Mungkin karena aku terus memikirkannya membuat aku berpikir Gio selalu ada di dekat aku,” jawab Flora.


“Kamu tidak akan jatuh cinta padaku karena kamu selalu mengira aku ini suamimu, 'kan?” ledek Elang.


“Hah!” Rasa sedih Flora mendadak berubah kesal saat Elang mencoba meledeknya.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Flora dengan nada tergagap.


“Aku yang bertanya lebih dulu padamu. Dan kamu belum menjawabnya,” ucap Elang. “Ini sudah malam. Tidak baik bagi perempuan hamil terkena angin malam terlalu lama.”


“Aku hanya ingin jalan-jalan saja,” jawab Flora.


“Kamu sendiri ... apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang membututi aku?” tuduh Flora.


“Aku sedang mencari sebuah jawaban,” jawab Elang.


Kening Flora mengernyit, mendengar jawaban Elang.


“Boleh aku bertanya?” tanya Elang.


“Apa?” Flora balik bertanya.


“Apa suamimu sudah tiada?” tanya Elang.


Pertanyaan Elang bagai sebuah pukulan keras yang menghantam tepat di jantung Flora.


“Kenapa kamu ingin tahu?” Flora balik bertanya pada Elang.


Mata Flora sudah berkaca-kaca. Bisa dipastikan dalam satu kedipan saja, air mata itu bisa tumpah dari matanya. Namun, dengan sekuat tenaganya, Flora menahan agar air matanya tidak tumpah.


“Maaf jika pertanyaanku menyakitimu. Aku hanya ingin tahu saja. Aku beberapa kali melihatmu melamun, bahkan sampai dua kali mengira aku sebagai Gio,” ucap Elang.

__ADS_1


Flora menundukkan kepalanya. Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah. Flora menyakinkan dirinya untuk menceritakan apa yang telah terjadi pada suaminya kepada Elang.


“Ada orang yang mencelakai dirinya waktu kami berlibur di Amerika. Tidak ada jejak sama sekali, entah dia sudah tiada atau belum. Sudah lebih dari empat bulan kami berpisah. Meskipun banyak orang yang mengatakan jika dia sudah tiada, tapi sebelum aku melihat jasadnya aku tidak percaya,” ucap Flora. “Aku selalu menantinya untuk kembali ke sisiku.”


“Tapi kamu tidak boleh terus-terusan seperti ini,” ucap Elang. “Berharap sesuatu yang menyakitkan itu rasanya sangat sakit.”


“Aku juga sedang berusaha ... berusaha untuk menerima kenyataan ini ...,” balas Flora.


Entah mengapa Flora merasa nyaman berbicara dengan Elang. Hingga akhirnya Flora mencurahkan perasaannya pada Elang.


“Kamu tahu! Di tempat ini dia melamarku,” ucap Flora bersamaan dengan isak tangisnya.


“Kamu sangat mencintainya?” tanya Elang.


“Sangat,” jawab Flora. “Dia bahkan tidak pernah bisa melihat aku menangis.”


“Dan sekarang aku sangat merindukan dia. Merindukan senyumnya, pelukannya, tawanya, dan kekonyolannya dan ....”


Flora sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Flora butuh sandaran untuk meluapkan rasa sedihnya. Itu membuat Flora langsung memeluk Elang dan menangis tersedu-sedu.


Jujur Elang terkejut dengan perlakuan Flora. Namun saat merasakaan tubuh Flora yang bergetar membuat perasaan elang tersentuh.


Bukan hanya itu, Elang merasakan cengkraman tangan Flora di pundaknya. Elang menarik napasnya, merelakan tubuhnya menjadi pelampiasan emosi bagi Flora.


“Aku tidak menyangka ada orang yang sejahat itu. Tega memisahkan istri dari suaminya dan memisahkan anak kami yang masih belum lahir dari ayahnya.” Flora berucap dengan suara serak.


Elang menggerakkan tangannya penuh keraguan untuk membalas pelukan Flora. Namun, saat merasakan tubuh Flora yang bergetar membuat Elang menghilangkan keraguan itu.


“Flora, tolong kendalikan dirimu. Jangan seperti ini ... ini tidak baik untuk kandunganmu.” Elang mengusap ujung kepala sampai tubuh belakang Flora.


“Melihat matamu ... aku seperti aku sedang melihat dia. Dan saat aku mendengar suaramu tadi ... aku pun mengira jika kamu adalah dia.” Nada bicara Flora semakin tidak jelas karena tangisan Flora yang bahkan sudah sesegukkan.


Mendengar dan merasakan tangis Flora membuat air mata Elang berkumpul di matanya. Hingga saat ia memejamkan matanya, air mata itu ikut jatuh ke pipinya.


Flora sendiri juga memejamkan matanya. Entah mengapa Flora merasa nyaman bersama laki-laki yang baru dikenalnya itu. Usapan lembut yang Elang berikan seolah mengalirkan rasa nyaman dan kehangatan ke seluruh tubuhnya, hingga tanpa sadar Flora tertidur.


Hening mengambil aliah suasana di antara mereka. Hanya isak tangis Flora yang terdengar, hanya tubuh bergetar Flora yang terasa di tubuh Elang. Hanya angin malam yang seolah menemani mereka.


Elang masih memeluk tubuh Flora, mencoba memberikan ketenangan pada wanita hamil itu. Melupakan statusnya yang merupakan calon suami dari seorang wanita.


Elang membuka matanya saat tidak mendengar lagi tangis Flora. Elang sedikit memiringkan kepalanya, matanya melihat jika mata Flora yang terpejam.

__ADS_1


“Dia sudah tertidur rupanya,” guman Elang.


Elang mengedarkan pandangannya di sekitar tempat itu. Ada kursi panjang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Dengan hati-hati Elang membawa tubuh Flora yang tertidur ke arah kursi.


Elang ingin membangunkan Flora, tetapi nampaknya Flora kelelahan karena menangis. Membuat tidurnya sangat pulas.


“Bu Flora!”


“Mbak Flora!”


Elang mengalihkan pandangannya ke asal suara, ternyata Abi dan Susan berdiri tidak jauh dari tempatnya.


“Ibu Flora kenapa?” Nada bicara Susan terdengar sangat cemas.


“Sssst ....” Elang menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Memberi isyarat agar Susan jangan berisik.


“Dia sedang tidur.” Elang bicara pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Abi dan juga Susan.


“Tapi kita tidak bisa membiarkan dia tidur di sini,” ucap Abi.


“Bu Flora ... bangun.” Susan mencoba membangunkan Flora.


Nampaknya Flora merasa nyaman tidur di pelukan Elang. Membuatnya tidak bergeming sedikitpun.


Elang menarik napasnya, “Saya akan menggendongnya sampai ke kamarnya.”


“Apa tidak akan merepotkan Anda? Biar saya saja yang menggendongnya,” ucap Abi.


“Aku tidak mau menanggung resiko jika nantinya dia jatuh. Lihat! Tubuhmu saja lebih kecil dari wanita hamil ini,” ledek Elang.


Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga yang dikatakan oleh Elang, tubuhnya lebih kurus dari pada Flora. Jika dirinya menggendong tubuh Flora, kira-kira bisa sampai ke kamarnya atau tidak.


“Baiklah jika itu tidak merepotkan Anda,” ucap Abi.


Elang mengangkat tubuh Flora dengan hati-hati agar tidak menekan perut Flora. Senyum Elang mengembang, merasa lucu melihat perempuan yang ada di dalam gendongannya.


Tidur wanita hamil itu bahkan tidak merasa terganggu sedikitpun. Mendadak ada perasaan aneh pada diri Elang, saat merasakan sesuatu yang bergerak dalam perut Flora yang menempel di tubuhnya.


“Apa bayi di dalam perutnya sedang bergerak?” batin Elang.


Jantungnya berdegup kencang, senyumnya mengembang saat Elang kembali merasakan pergerakan itu.

__ADS_1


Perasaan apa ini?


__ADS_2