Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Perubahan Gio


__ADS_3

"Ibu jadi tidak sabar ingin punya cucu," ucap Seruni.


Setelah kedua orang tua Tiara datang ke rumah sakit, Flora dan Seruni memutuskan untuk pulang. Kini ibu dan anak itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Mendengar keinginan ibunya, membuat Flora ingin segera mengatakan status hubungan dengan dengan Daniel kepada ibunya.


"Bu, ada yang ingin Flora katakan pada Ibu," ucap Flora sambil mengemudikan mobilnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Seruni.


"Nanti saja setelah kita sampai di rumah," sahut Flora.


"Baiklah, Nak." Seruni mengusap lengan Flora seraya menunjukkan senyumnya.


Flora membalas senyum yang diberikan oleh ibunya dan setelah itu ia kembali berkonsentrasi mengemudi. Sejujurnya rasa ragu dan cemas masih bersarang di dalam hati Flora. Ia takut ibunya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Daniel.


Mobil Flora sudah berhenti di halaman depan rumah kontrakan yang mereka tinggali. Flora mematikan mesin mobil lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi yang ia duduki.


Flora menarik napas sebelum membuka kunci mobilnya agar mereka bisa keluar dari dalam mobil.


"Ayo, Nak kita turun," ajak Seruni yang langsung dianggukki oleh Flora. Keduanya turun bersamaan dari dalam mobil. Ketika mereka berada di luar, Seruni merangkul pundak Flora lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kamu langsung istirahat ya, Nak," ucap Seruni.


Flora mengangguk lalu melangkah ke kamarnya sendiri. Flora kembali ke luar dari kamarnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama Flora keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya. Setelah memakai pakaiannya, Flora duduk di tempat tidur lalu berdiri dan kemudian berjalan-jalan mondar-mandir. Pikirannya masih mencoba menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan kepada ibunya.


Aku harus segera mengatakan hal ini pada ibu.


Flora menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali sebelum keluar dari kamarnya. Flora mengedarkan pandangannya di ruang mencari keberadaan ibunya. Namun Flora tidak menemukan keberadaan ibunya di sana.


"Mungkin ibu ada di dalam kamarnya," gumam Flora.


Flora melangkahkan kakinya ke dalam kamar ibunya. Ia ketuk pintu kamar ibunya serta memanggil ibunya beberapa kali. Setelah mendengar sahutan dari ibunya, Flora masuk ke dalam kamar ibunya.


"Ibu sudah mau tidur?" tanya Flora.


"Belum, ada apa, Nak?" tanya balik Seruni.


"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan ibu," sahut Flora.


Flora mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur ibunya. Flora meraih salah satu tangan ibunya lalu menggenggamnya.

__ADS_1


"Bu, Flora mau meminta restu sama ibu."


Seruni menaikan alianya. "Restu? Restu untuk apa, Nak?"


Flora menelan air liurnya sendiri. "Aku dan Daniel kembali bersama. Kami masih saling mencintai, Bu."


Flora bisa melihat keterkejutan pada wajah ibunya. Meskipun ibunya itu berusaha untuk menyembunyikannya. Namun Flora bisa melihat akan hal itu.


"Maafin Flora karena sudah membuat ibu kecewa, dengan menjalin hubungan kembali dengan Daniel. Bukan maksud Flora tidak mendengarkan ucapan ibu, tapi Flora masih sangat mencintai Daniel, Bu."


"Nak, ibu tidak akan marah untuk ini. Hanya saja kamu tahu 'kan resikonya dengan mengambil keputusan ini," ucap Seruni.


"Flora tahu, Bu. Tapi ayahnya Daniel sudah memberi kami restu. Makanya Flora memutuskan untuk kembali pada Daniel."


"Lalu bagaimana dengan ibunya?"


Flora menundukkan kepalanya. "Kami akan berusaha untuk membujuknya."


Seruni meraih dagu Flora untuk mengangkat wajahnya. "Nak ... ibu hanya mau kamu bahagia. Jika kebahagiaan kamu ada pada Daniel maka ibu akan merestui kalian. Ibu hanya khawatir dengan ibunya Daniel. Ibu takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada mu, Nak."


"Ibu tenang saja. Nyonya Mariana tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi pada ku."


"Ya sudah kamu cepat istirahat. Jika itu sudah menjadi keputusan kalian, ibu restui kalian. Hanya saja ibu berpesan, kejadian dulu jangan sampai terulang kembali." Flora langsung menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Ibu." Flora memeluk tubuh ibunya dengan penuh kebahagiaan.


"Ibu do'akan semuanya akan baik-baik saja dan kalian bisa cepat menikah agar ibu bisa cepat punya cucu," lanjut Seruni.


"Ibu ...." Flora tersipu malu setelah mendengar perkataan ibunya.


"Sudah sana istirahat," suruh Seruni.


"Iya, Bu." Flora melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar ibunya untuk kembali ke kamarnya.


Satu Minggu kemudian.


Flora merasa sangat bahagia sudah bicara pada ibunya dan mendapatkan restu dari beliau. Kini hanya tinggal menyakinkan ibunya Daniel, Mariana. Namun, Flora tidak tahu jika kembalinya ia bersama Daniel membuat seseorang terluka dan orang itu adalah Gio.


Sudah terhitung satu Minggu Flora menjabat sebagai sekertaris Gio. Flora berpikir Gio akan sangat menyusahkan dirinya, tetapi ternyata tidak. Sikap Gio sangat berbeda ketika bekerja.

__ADS_1


Kini Flora tengah berada di meja kerjanya. Flora datang lebih awal karena harus menyiapkan meeting untuk clien baru di perusahaan itu. Ketika sedang menyiapkan beberapa berkas, matanya melihat kedatangan Gio. Segera Flora berdiri untuk menyambut Gio.


"Selamat pagi, Bapak Gio." Flora membungkukkan sedikit badannya memberi hormat pada Gio.


"Flora kamu sudah menyiapkan semuanya untuk meeting hari ini?"


Flora terkejut ketika Gio tidak membalas salamnya. Justru laki-laki itu bertanya hal lain bahkan dengan nada yang terkesan dingin. Ada apa dengan bos nya itu?


"Flora aku bertanya padamu?"


"Maaf, Pak. Iya ... sebentar lagi selesai?" jawab Flora gagap.


"Belum selesai?" Gio melihat Setengah jam lagi meeting kita Flora. Ck ... apa begini cara kerjamu?"


"Saya akan selesai .... sekarang."


Tanpa ingin mendengar perkataan Flora, Gio masuk ke dalam ruangnya dan menutupnya kembali dengan keras. Flora menaikkan satu alisnya, merasa heran dengan sikap Gio pagi itu.


Flora mengubah arah pandangnya pada Abi yang kini menjadi asisten pribadi Gio. "Dia kenapa?"


Abi mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Sejak 2 hari ini dia bersikap seperti ini."


"Benarkah? Atau aku yang baru menyadarinya," ucap Flora.


"Mungkin dia sedang ada masalah," ucap Abi.


"Ya mungkin benar seperti itu. Sudahlah aku selesaikan pekerjaan ku dulu sebelum dia keluar dan marah-marah lagi," ucap Flora.


Abi mengusap lengan Flora. "Kamu yang sabar ya."


Flora mengangguk. "Terima kasih, Mas Abi."


Flora dan Abi mengakhiri obrolan mereka dan kembali ke tempat kerja mereka masing-masing, sebelum Gio datang dan marah-marah lagi.


Waktu untuk meeting sudah hampir tiba, Gio keluar dari ruangannya diikuti oleh Abi. Flora menyerahkan beberapa berkas pada Abi. Flora mengerakkan bola matanya untuk bisa mencuri pandang pada Gio. Setelah diperhatikan ternyata benar, ada yang berbeda dari Gio. Wajah, ceria, ramah, tengil sudah berubah menjadi wajah yang dingin dan angkuh.


"Ayo, Abi," ajak Gio.


Flora tidak berhenti memandangi Gio yang berjalan menuju ruangan meeting. Kepala Flora dipenuhi oleh banyak pertanyaan mengenai perubahan Gio. Flora merasa heran pada Gio, selama dirinya mengenal Gio, laki-laki itu tidak pernah sekalipun menunjukkan wajah angkuh dan dingin seperti itu. Dan jika ada masalah Gio akan akan tetap bersikap tenang.

__ADS_1


__ADS_2