Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Pregnant


__ADS_3

Flora sangat khawatir saat Gio tidak henti-hentinya mual seharian itu. Gio bahkan tidak bisa memakan apapun selama satu hari.


Flora bahkan merasa bingung setelah mendengar hasil tes laboratorium Gio. Dari hasil tes menunjukkan bahwa Gio sehat dan tidak mengalami masalah pencernaan.


Bukan hanya Flora yang merasa bingung, tetapi semua orang yang ada di keluarga mereka juga dibuat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Gio?


Sudah seharian itu Gio mual parah sekali dan yang keluar hanya cairan bening kekuning-kuningan. Gio mengeluh jika rasanya sangat pahit.


Jam 8 malam semua orang sedang berkumpul di ruang rawat inap Gio. Mereka merasa iba melihat keadaan Gio.


“Aku tidak menyangka jika penyakit bisa menghampirimu, Gio,” ledek Daniel.


“Diam kamu ....” Jika saja Gio tidak merasa lemas, bisa dipastikan Gio akan membungkam mulut sepupunya.


“Jangan meledeknya, Daniel.” Mariana menarik telinga Daniel.


“Rasakan itu.” Gio menujulurkan lidahnya kepada Daniel.


“Ini semua gara-gara tante. Jika saja tante tidak memberikan Gio banyak jus jeruk itu, pasti dia gak akan kaya gini.” Mariana merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa keponakannya.


“Tante, jangan menyalahkan diri sendiri. Lagi pula Dokter juga sudah bilang jika Gio tidak mengalami masalah pencernaan,” ucap Flora.


Seruni yang sedari tadi diam, kini ikut angkat bicara.


“Apa mungkin kamu hamil, Flora?” tebak Seruni.


Tentu saja semua orang yang mendengar itu terkejut terutama Gio.


“Hamil, Bu?” Flora merasa sangat bingung.


“Jadi maksud kamu Gio sedang nyidam?” tanya Mariana pada Seruni.


“Mungkin saja,” ucap Seruni.


“Bagaimana bisa Flora hamil aku yang nyidam,” ucap Gio.


“Begini saja ... bagaimana kalau kita panggil Dokter saja untuk memeriksa Flora,” usul Seruni.


“Itu ide yang bagus,” imbuh Mariana.


Mariana memerintahkan pada Daniel untuk memanggil Dokter. Tidak lama Daniel datang bersama seorang Dokter laki-laki.


“Dokter silahkan periksa kakak perempuan saya. Periksa apakah dia benar-benar hamil atau tidak,” pinta Daniel.


“Daniel siapa dia?” tanya Gio.


“Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Dia Dokter yang akan memeriksa istrimu,” jawab Daniel.


Gio langsung membelalakkan matanya setelah mendengar perkataan Daniel. Pandangan Gio beralih pada Dokter yang akan memeriksa Flora.


“Hai, Dokter apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gio.


“Saya akan memeriksa istri Anda,” jawab Dokter itu.


“Awas saja jika Dokter berani menyentuh istriku. Aku akan patahkan tangan Dokter,” ancam Gio.


“Diam kamu, anak nakal.” Mariana menoyor kepala Gio. “Dia hanya ingin memeriksa istri kamu.”

__ADS_1


“Aku tidak rela jika ada laki-laki lain yang menyentuh istriku,” ucap Gio.


“Tapi Dokter itu hanya ingin memeriksa istrimu, Gio,” imbuh Daniel.


“Harusnya kamu pintar sedikit. Kamu kan bisa memanggil Dokter perempuan! Lalu kenapa kamu justru membawa Dokter laki-laki ini,” balas Gio.


“Dasar posesif!” ejek Daniel.


“Bodo amat,” balas Gio.


Flora, Seruni, Mariana, Dokter, dan seorang perawat yang ada di dalam ruangan itu terbengong. Mereka menatap Gio dan Daniel secara bergantian seraya menggelengkan kepalanya mereka.


Mereka diam berharap jika kedua laki-laki yang bukan anak kecil lagi itu berhenti bertengkar. Namun, sepertinya dua laki-laki itu tidak berniat untuk menghentikan perdebatan mereka.


“Cukup!” seru semua orang.


Gio dan Daniel langsung menghentikan perdebatan mereka. Keduanya menatap ke arah semua orang.


“Hentikan!” suruh Mariana.


“Daniel, Gio ... apa kalian tidak malu berdebat seperti ini?” tanya Mariana.


“Daniel dulu yang memulainya,” adu Gio.


“Jangan menuduhku!” balas Daniel.


“Kalian berdua sama saja,” ucap Flora.


Pandangan Flora beralih pada Dokter yang akan memeriksanya.


“Tidak masalah, Nyonya —” Ucapan Dokter langsung dipotong oleh Gio.


“Sayangku, untuk apa kamu meminta maaf padanya?” ucap Gio. “Aku hanya memperingati Dokter itu untuk tidak menyentuhmu!”


“Huuf ....” Flora menarik napas panjang berharap dirinya diberikan kesabaran untuk mengahadapi sikap Gio yang kekanak-kanakan.


“Dokter biasakan Anda memberikan suamiku obat tidur? Supaya dia tidak banyak bicara lagi?” ledek Flora.


Semua orang yang mendengar perkataan Flora tidak bisa lagi menahan tawa mereka.


“Astaga, suamimu sedang sakit seperti ini tapi kamu malah bersikap kejam padaku,” ucap Gio.


“Aku merasa heran padamu, Suamiku. Kamu terlihat sangat lemah tapi kamu masih kuat untuk marah-marah,” ledek Flora.


Gio langsung mendengkus setelah mendengar ejekan istrinya.


“Baiklah, saya akan memanggilkan Dokter wanita untuk memeriksa Anda, Nyonya,” ucap Dokter itu.


“Baiklah, Dokter. Sekali lagi saya mohon maaf untuk perkataan suami saya,” ucap Flora.


“Tidak masalah, Nyonya. Saya memaklumi,” ucap Dokter itu.


Dokter laki-laki itu keluar dari ruang rawat inap Gio diikuti oleh seorang perawat di belakangnya.


Tidak lama, pintu ruang rawat Gio kembali diketuk dan masuk seorang Dokter perempuan.


“Permisi, saya Dokter Marisa,” ucapnya.

__ADS_1


“Silahkan masuk, Dokter,” ucap Flora.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Marisa.


“Saya Flora, Dok. Saya ingin memeriksakan diri saya,” ucap Flora. “Maksud saya ... saya ingin memastikan apakah saya hamil atau tidak.” Nada bicara Flora terdengar ragu.


“Apakah Anda sudah telat datang bulan?” tanya lagi Dokter Marisa.


Flora mengingat-ingat kapan terakhir dirinya datang bulan. “Iya, Dok. Terakhir saya datang bulan ... sepertinya bulan lalu, Dok.”


“Sudah pernah melakukan tes kehamilan sendiri di rumah?” tanya Dokter dan langsung mendapat gelengan kepala dari Flora.


“Baiklah kalau begitu.” Pandangan Dokter Marisa beralih pada seorang perawat yang datang bersamanya. “Sus, bawa alat tes kehamilan?”


“Bawa, Dok,” jawab perawat itu.


“Berikan pada ibu Flora?” suruh Dokter Marisa.


Perawat itu mengambil benda yang diminta oleh Dokter Marisa dari dalam saku seragamnya dan memberikannya pada Flora.


“Ibu Flora, silahkan Anda melakukan tes dengan alat ini. Petunjuk penggunaannya ada di balik bungkusnya,” suruh Dokter Marisa.


“Baik, Dok,” ucap Flora.


Flora menatap semua orang sebelum pergi ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Flora lebih dulu membaca petunjuk penggunaan alat itu. Setelah paham, Flora membuka bungkus itu dan mencoba melakukan apa yang ia baca sebelumnya.


Dengan perasaan cemas, Flora menanti hasilnya. Jantung Flora mulai berdegup kencang saat satu garis merah muncul di atas alat tes kehamilan itu. Tetesan air mata tidak dapat Flora bendung saat dua garis merah muncul di atas alat tes kehamilan itu.


“Aku hamil,” gumam Flora.


Setelah mengusap air matanya Flora keluar dari kamar mandi. Dirinya sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik itu pada semua orang.


“Flora, apa hasilnya?” tanya Seruni.


Flora memasang wajah sedih di hadapan semua orang, lalu menundukkan wajahnya. Melihat wajah sedih Flora, semua orang diam dan tidak bersuara lagi.


Seruni langsung memeluk Flora, “Sabar, Nak. Mungkin ini belum rezeki kalian.”


“Flora hamil, Bu,” bisik Flora di telinga ibunya.


Seruni yang mendengar itu, langsung melepas pelukannya.


“Kamu beneran hamil?” Seruni memasang wajah bahagia.


Flora langsung menunjukkan pada semua orang hasil tes yang ia lakukan beberapa saat yang lalu. Hasil tes yang menunjukkan dua garis merah.


Semua orang bersorak dan memeluk serta memberikan selamat pada Flora dan juga Gio.


“Tidak apa-apa Daniel dan Maura belum menikah. Yang terpenting aku akan punya cucu,” seru Mariana. “Selamat, Flora.”


Mariana langsung memeluk dan mencium kedua pipi Flora. Terlihat sekali jika Mariana nampak sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Flora.


Flora merasa sangat bahagia, wanita yang dulu amat membencinya kini justru amat sangat menyayanginya.


Mata Flora bertemu dengan mata Gio. Mereka saling memandang dengan aura kebahagiaan. Keduanya saling mengedipkan mata serta saling berbalas senyuman.

__ADS_1


__ADS_2