Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Kebersamaan Gio dan Flora


__ADS_3

Matahari sudah bersinar. Cahayanya memantul pada air kolam berenang yang ada di samping kamar yang Gio tempati.


Tidur Flora terusik saat mendengar suara gemericik air yang berasal dari pancuran buatan. Tubuh Flora menggeliat. Saat akan bangun, Flora merasakan berat pada tubuhnya.


Flora membuka matanya dan melihat Gio tidur di sebelahnya dan tangannya melingkar pada perutnya.


"Aaaaaaa!" Teriakan Flora berhasil membangunkan Gio.


Flora segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ada Flora? Kenapa kamu berteriak?" tanya Gio.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidur di sini?" tanya balik Flora.


Mendengar kalimat itu, Gio kembali merebahkan tubuhnya.


"Badanku sakit tidur di sofa. Jadi semalam aku pindah ke sini," jawab Gio dengan mata terpejam.


Gio kembali membuka matanya, melirik ke arah Flora yang sedang duduk mematung. Senyum tipis terlukis di bibir Gio saat melihat Flora menutupi tubuhnya.


Tampa permisi, Gio menarik tubuh Flora. Merebahkan kembali tubuh Flora. Gio langsung memeluk tubuh Flora, merebahkan kepala kekasihnya di dadanya


"Gio apa yang kamu lakukan?" Flora mencoba bangun, tetapi Gio menahannya.


"Aku masih mengantuk," jawab Gio.


"Kamu tidurlah, aku akan kembali ke kamarku," ucap Flora.


"Tidak, kamu tetap di sini," cegah Gio.


Flora mengembuskan napasnya, ia akhirnya mengalah dan membiarkan Gio memeluknya seperti itu. Pandangan Flora mengarah pada jari manisnya. Tempat melingkar nya cincin yang diberikan oleh Gio. Senyum Flora mengembang sempurna, mengingat saat Gio melemparnya.


"Kamu tidak berniat menjual cincin itu 'kan, Sayangku?"


Flora mendongakkan kepalanya setelah mendengar perkataan Gio.


"Sepertinya itu ide yang bagus. Lagi pula ini sepertinya cincin yang sangat mahal. Aku bisa mendapatkan banyak uang dari ini," gurau Flora.


Gio berdecak seraya menarik pipi Flora karena merasa gemas.


Keduanya bangun untuk mengambil posisi duduk. Mereka sama-sama merebahkan kepalanya pada kepala ranjang.


Gio meraih tangan Flora. Sekejap ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Flora. Senyumnya mengembang sebelum Gio mengecup punggung tangan Flora.


Flora merasakan kecupan pada punggung tangannya, ada sebuah rasa yang mengalir ke seluruh tubuhnya.


Pandangan Flora dan Gio bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya berbalas senyuman. Sebenarnya ada rasa canggung dalam senyuman itu, apalagi saat mereka mengingat kejadian semalam.


"Kau benar-benar menyiksaku Flora," ucap Gio.


Flora tidak mengerti apa yang maksud dari ucapan Gio.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan sehingga membuatmu merasa tersiksa?' tanya Flora.


Gio mengusap wajahnya, ia tahu jika Flora adalah perempuan dewasa yang polos.


"Kenapa tidak menjawab? Memang apa yang aku lakukan padamu?" tanya Flora.


"Hah sudahlah, jangan dibahas lagi. Kamu tidak akan tahu rasa sakit yang sedang aku rasakan," gerutu Gio.


Flora makin dibuat bingung mendengar kalimat yang baru saja kekasihnya itu katakan.


Flora melihat jam yang tergantung pada dinding kamar itu. Sudah pukul 8 pagi.


"Sebaiknya aku kembali ke kamarku. Ini sudah siang," ucap Flora.


Pandangan Flora beralih kepada Gio yang sedang cemberut.


"Ayolah jangan cemberut!" Flora mengusap sisi wajah Gio. "Ayo kita habiskan waktu bersama hari ini. Sebelum besok kamu berubah menjadi bosku lagi," pinta Flora.


Gio tidak bergeming.


Kini Flora yang cemberut. Flora memutar otak untuk merayu kekasihnya agar mau menerima ajakannya.


"Ayolah, Sayangku. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, please," mohon Flora.


Gio menoleh ke arah Flora dengan menahan tawanya. Baru kali ini Flora merayu dirinya.


"Mau ya," mohon Flora.


Gio ingin sekali tertawa melihat wajah galak Flora berubah memelas. Sebenarnya meski tanpa Flora memohon padanya, Gio tetap akan menghabiskan waktu bersama Flora.


"Yeee," seru Flora.


"Aku kembali ke kamarku dulu, sampai jumpa di tempat makan." Flora memberi kecupan pada salah satu pipi Gio sebelum ia keluar dari kamar itu.


"Sampai jumpa," balas Gio.


-


-


Selesai sarapan Flora dan teman-temannya serta Gio menuju wahana banana boat. Setelah memakai jaket pelampung mereka duduk di atas perahu karet berbentuk pisang secara bergantian.


Flora, Gio, Mutya, dan Abi lebih dulu mencoba wahana itu. Mereka bersorak saat mereka ditarik ke laut. Setelah mencoba wahana banana boat, Flora menaiki speed boat motor bersama Gio.


Flora duduk di belakang Gio dengan tangan melingkar di perut Gio. Flora bersorak saat Gio melajukan speed boat motor itu.


Flora benar-benar merasa bahagia ketika menghabiskan waktu bersama Gio. Laki-laki itu tidak pernah memberinya kesempatan untuk menangis, kecuali tangis kebahagiaan.


Flora dan Gio kembali ke tepi pantai saat mereka merasakan lelah. Keduanya melepaskan jaket pelampung mereka dan berjalan menjauh dari pantai.


Gio melingkarkan tangannya ke pundak Flora ketika melangkah ke pinggir.

__ADS_1


"Kamu senang?" tanya Gio.


"Senang sekali," seru Flora.


"Baiklah kamu mau ke mana lagi?" tanya Gio.


"Aku ingin belanja. Aku ingin membelikan oleh-oleh untuk ibu, mba Tiara, dan ...."


"Dan siapa?"


"Dan papa kamu."


"Baiklah, ayo bersiaplah."


Flora bersorak dengan sangat antusiasnya. Segera keduanya menuju kamar masing-masing untuk bersiap.


Jam menunjukkan hampir tengah hari. Flora, Gio, Mutya, dan Abi sedang dalam perjalanan menuju pasar tradisional. Mereka benar-benar menikmati liburan mereka dan melupakan rutinitas pekerjaan mereka.


Setelah melewati satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai pada tempat yang mereka tuju. Keempatnya turun dari mobil dan melangkah bersama untuk mengelilingi pasar itu.


Sepanjang perjalanan Gio sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Flora. Seperti tidak mau jika Flora hilang di tempat itu.


Flora mampir di tempat toko pakaian dan aksesoris. Ia membeli beberapa kain khas Bali, tas, dan beberapa pakaian untuk ibunya.


Selesai berbelanja, mereka mencari tempat makan untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Gio menghentikan langkahnya saat melihat sebuah toko perhiasan.


"Eh, Gio ... kita mau ke mana?" Flora terkejut saat Gio menariknya.


"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Flora saat berada di dalam toko perhiasan itu.


"Aku ingin membeli cincin cadangan. Agar jika kamu menjual cincin di jarimu itu, aku masih memiliki satu," gurau Gio.


Flora tertawa seraya memukul lengan Gio.


"Awwww! Kenapa kamu suka sekali memukulku?"


"Karena aku suka."


Ucapan Flora berhasil membangkitkan tawa orang yang mendengarnya.


"Lihatlah mereka menertawakan diriku," keluh Gio.


"Iya maaf, maaf." Flora mengusap lengan Gio yang sudah ia pukul.


Bukannya berhenti tertawa, tetapi orang-orang yang yang melihat mereka semakin tergelak.


Gio tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya dan langsung melingkarkan tangannya ke pundak Flora.


"Mbak aku mau yang itu."


Gio menunjuk sebuah kalung dengan gelang. Gelang yang hanya bisa dibuka dengan liontin berbentuk kunci yang tergantung di kalung tersebut.

__ADS_1



Gio menerima dua buah benda itu. Setelah ia memakai gelang ke pergelangan tangannya, Gio memakaikan kalung itu ke leher Flora.


__ADS_2