Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Menjelang Persalinan 2


__ADS_3

Gio mengikuti langkah istrinya yang sedang berjalan-jalan di dalam ruang rawat inap istrinya. Setiap kali istrinya berhenti melangkah dan merasakan sakit maka, Gio ikut meringis seolah ikut menikmati rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya.


“Sakit banget ya?” tanya Gio.


“Iya lah! Pake acara nanya segala,” jawab Flora.


Eh kok jadi galak?


“Yah, padahal baru semalam kita enak-enakkan ... kamu sudah mau lahiran. Aku harus puasa 40 hari.” Gio berdecak.


“Kamu tuh ya ... dalam keadaan seperti ini masih bisa mikirin kaya gitu. Pikirin aku kek ... gimana biar gak sakit kaya gini,” omel Flora.


“Ya aku harus gimana dong?” tanya Gio.


“Ya kamu pikirin sendiri! Kenapa malah bertanya balik sama aku. Gak punya perasaan banget sih!” omel Flora.


Ya ampun dia jadi galak banget.


Flora duduk di tepi ranjang, kakinya rasanya sudah lelah berjalan.


“Mana yang sakit?” tanya Gio.


Flora menunjuk pinggangnya.


Gio duduk di samping Flora seraya mengusap pinggang istrinya, sedangkan Flora bersandar pada puncak suaminya seraya memejamkan matanya.


Rasa sakit bercampur panas di pinggangnya sedikit mereda. Pijatan suaminya benar-benar ampuh.


“Mau makan lagi?” tanya Gio. “Tuh pizza-nya masih ada.”


“Gak mau,” tolak Flora. “Aku mau cium di bibir saja.”


“Apa? Cium?” Gio tercengang saat Flora menginginkan ciuman dari dirinya.


“Kamu aneh-aneh saja,” ucap Gio.


Flora langsung merasa kesal setelah mendengar perkataan dari suaminya. Segera Flora menjauhkan kepalanya dari pundak Gio dan pandangnya mengarah ke arah suaminya.


“Bilang saja kamu gak mau cium aku. Kamu sudah gak sayang lagi sama aku.” Flora berucap dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Eh?


Gio garuk-garuk kepalanya sendiri. Dirinya merasa bingung dengan sikap istrinya. Padahal istrinya sedang terlihat sedang kesakitan, tetapi masih bisa memikirkan sebuah ciuman dan juga masih bisa mengomel.


Padahal sendirinya tadi juga masih bisa berpikiran mesum saat melihat istrinya sedang kesakitan.


“Biasanya tanpa aku minta kamu mau cium aku. Sekarang giliran aku minta kamu gak mau cium aku.” Flora sudah menangis entah karena rasa sakit yang sedang ia rasakan atau karena Gio tidak mau menciumnya.


“Iya, iya, aku cium. Jangan nangis dong,” ledek Gio.


“Kamu gak tahu sih rasa sakitnya ini kaya gimana,” omel Flora di sela isak tangisnya.


“Ya gak lah, Sayangku. Yang hamil 'kan kamu,” balas Gio.


Ucapan Gio terdengar biasa saja dan itu memang benar adanya. Akan tetapi bagi Flora itu adalah kata-kata yang sangat menyakitkan.


Flora terisak makin kencang. “Kamu kok gitu, aku lagi sakit begini kamu malah tambah nyakitin hati aku dengan omongan kamu.”


“Kalau memang kamu gak mau cium bilang saja,” ucap Flora.

__ADS_1


“Siapa yang gak mau cium kamu, Sayang. Jangankan nyium kamu ... bikin kamu seraya melayang sekarang juga aku mau,” ucap Gio.


Isakkan Flora makin terdengar makin kencang dan makin membuat Gio bingung.


Flora mendaratkan cubitan di lengan Gio, membuat suaminya memekik.


“Awwww! Ini sakit!” pekik Gio.


“Kamu tuh bener-bener ya!” Flora benar-benar sudah kehabisan kata-kata untuk suaminya. Rasa sakit di pinggangnya juga mendadak naik ke ubun-ubun.


Gio terkekeh melihat wajah galak Flora. Wajah galak yang selalu menjadi kesukaannya.


“Iya, iya ... jangan nangis lagi.” Gio menghapus air mata Flora dengan ibu jarinya. “Sini aku cium.”


Gio berdiri di hadapan Flora lalu menangkup kedua sisi wajahnya. Gio pun mendaratkan kecupan singkat di bibir Flora.


“Kok cuma sebentar?” protes Flora.


“Hah!” Gio kembali tercengang.


“Lamaan dikit,” rengek Flora.


Flora memejamkan matanya saat dirinya kembali mengalami kontraksi. Kali ini kontraksi datang lebih sering. Flora yang duduk di tepi tempat tidur mencengkram pinggiran tempat tidur.


“Cepet!” Flora sedikit berteriak.


“Iya.”


Gio kembali menangkup kedua sisi wajah istrinya dan kembali mencium bibir Flora, menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya. Gio tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan istrinya, kali ini Gio kewalahan menghadapi istrinya.


Flora menarik diri lebih dahulu saat merasakan pasokan oksigen di dalam tubuhnya berkurang. Flora menarik napas lega, ciuman yang suaminya berikan setidaknya bisa mengalihkan rasa sakit yang sedang dirinya rasakan.


“Sudah?” tanya Gio.


Gio menarik napasnya, ia merasa menyesal bertanya pada istrinya. Bukan tidak mau mencium istrinya, tetapi Gio takut jika ada orang yang tiba-tiba datang ke kamar itu.


“Kamu gak iklhas ya cium aku,” tuduh Flora.


“Iklhas, Sayangku,” jawab Gio.


“Kalau iklhas kenapa ekspresi kamu kaya gitu?” gerundel Flora.


“Memang aku kaya gimana sih?” tanya Gio penuh kesabaran lebih tepatnya mencoba untuk bersabar.


“Kamu gak peka banget sih!” Rasa kesal pada suaminya makin bertambah. “Kamu kenapa kaya gitu banget sama aku?” tanya Flora.


“Kaya gitu gimana, Sayangku?” Gio bertanya balik pada istrinya.


Gio makin merasa serba salah. Niatnya untuk menghibur Flora, tetapi justru malah membuat istrinya itu kesal.


Perut Flora kembali mengalami kontraksi dan kali ini kontraksinya begitu kuat hingga membuat Flora menangis dan menjerit.


“Aku mau lahirin anak kamu, tapi kamu kaya gini sama aku.” Flora menangis dan itu makin membuat Gio frustrasi.


Gio bingung sendiri untuk menghadapi sikap istrinya yang tidak jelas itu.


“Iya, iya, aku cium lagi,” ucap Gio.


“Ya sudah, cepet!” ucap Flora diikuti rasa kesalnya.

__ADS_1


Baru saja Gio ingin mencium Flora, pintu kamar itu terbuka. Muncul Seruni dan Mariana dari balik pintu.


“Gio ...,” panggil Mariana.


Gio dan Flora terkejut mendengar teriakan Mariana. Mereka berdua langsung menoleh ke asal suara.


“Istri kamu lagi kesakitan ... kamu malah cari kesempatan,” omel Mariana.


Mariana berjalan mendekati Flora dan Gio. Tidak segan-segan Mariana menarik telinga Gio.


“Awwww! Sakit, Tante,” pekik Gio.


“Kamu ini keterlaluan ya,” omel Mariana.


“Bukan aku, Tante. Flora yang minta dicium,” ucap Gio.


“Tante gak percaya!” ucap Mariana. “Flora gak mungkin kaya gitu.”


Perasaan Flora makin tidak karuan setelah mendengar perdebatan Gio dan Mariana.


“Ibu ... sakit,” rintih Flora.


“Iya, sabar ya, Nak,” ucap Seruni.


“Tuh kamu lihat, 'kan? Istri kamu lagi kesakitan ... kamu malah nyuri-nyuri kesempatan,” omel Mariana.


“Sumpah, Tante ... Flora yang merengek minta dicium,” ucap Gio.


“Jangan bohong,” ucap Mariana.


“Aduuh ... bisa gak sih kalian tidak bertengkar. Kepalaku malah jadi pusing,” ucap Flora. “Lagian memang aku kok Tante yang minta supaya Gio cium aku,” bela Flora.


Hah!


“Tuh, kan! Tante sih gak percaya,” imbuh Gio.


Perdebatan Mariana dan Gio berakhir sampai detik itu juga. Mereka lebih memilih fokus pada Flora.


Flora yang sudah berjalan-jalan di ruangan itu kini sudah tidak bisa lagi berjalan. Rasanya sangat sakit di area intinya hingga menjalar ke pinggangnya.


“Sakit, Bu ...,” rintih Flora.


“Iya, ibu tahu, Nak. Tapi kamu harus sabar,” ucap Seruni.


Waktu terus berputar hingga waktu sudah menunjukan pukul enam pagi. Tiga jam yang lalu Dokter memeriksa Flora dan Flora sudah masuk pembukaan enam. Terbilang cepat, mungkin bayi dalam kandungan Flora juga sudah tidak sabar untuk lahir ke dunia.


Flora makin merintih dan terlihat makin kesakitan. Gio benar-benar tidak tega melihat istrinya seperti itu. Perasaan Gio saat itu serasa kaya permen nano-nano, manis, asem, asin bercampur jadi satu.


Isi kepala Gio serasa berhenti bekerja melihat kesakitan yang dialami istrinya. Gio bingung apa yang harus ia lakukan agar Flora tidak merasakan sakit.


Tidak lama ada seorang Dokter masuk ke ruang rawat Flora, ternyata Dokter Marissa. Dokter Marissa kembali memeriksa Flora.


“Ibu Flora sudah masuk pembukaan delapan. Kami harus memindahkannya ke ruangan bersalin,” ucap Dokter.


“Istri saya sudah mau melahirkan?” tanya Gio.


“Sebentar lagi,” jawab Dokter Marissa.


Dag dig dug

__ADS_1


Bukan Flora yang merasa tegang dan khawatir saat mendengar dirinya akan segera melahirkan, tetapi justru Gio.


Tubuh Gio seketika membeku, jantung Gio berdegup begitu kencang, dan wajahnya tegang bahkan terlihat pucat saat mendengar Flora akan segera melahirkan.


__ADS_2