Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Muara


__ADS_3

Sambil nunggu season 2, aku kasih sedikit cerita tentang Daniel dan Maura.


Daniel Aditya Ferdinand, anak tunggal dari Ardi Ferdinand dan Mariana Ardi Ferdinand. Kisah cintanya dengan Flora berjalan tanpa restu dari kedua orang tuanya, terutama ibunya.


Hubungan keduanya sudah beberapa kali putus nyambung. Sampai akhirnya keduanya sama-sama menyerah.


Bukan hanya karena terhalang restu dari Mariana, ibunya Daniel, tetapi juga karena Flora jatuh hati pada Giovanni yang merupakan kakak sepupu dari Daniel sendiri.


Saat kabar Gio melamar Flora di pulau dewata sampai ke telinga dan matanya, Daniel benar-benar sudah merasa tidak akan ada lagi harapan untuk memiliki Flora. Dari halaman media sosialnya Daniel bisa melihat kebahagiaan sepupu dan juga mantan kekasihnya itu.


Putus dari Flora Daniel seolah menutup pintu hatinya. Sakit memang, tetapi mungkin itulah yang terbaik untuk semuanya. Dalam patah hatinya Daniel memutuskan untuk pergi ke club malam. Mungkin duduk dengan ditemani minuman beralkohol bisa sedikit menenangkan hatinya.


Daniel duduk di depan meja bar dan memesan minuman dengan kadar alkohol rendah.


“Mas, satu ya,” pinta Daniel pada seorang bartender.


Daniel mengetuk-ngetukkan jarinya di meja bar untuk menunggu minuman yang ia pesan.


“Apa kamu sedang patah hati?”


Daniel menolehkan kepalanya. Ada seorang perempuan yang duduk di sampingannya.


“Kamu bicara padaku?” tanya Daniel.


“Apa ada orang lain yang duduk di sini selain kamu?” tanya balik perempuan itu.


“Jadi ... apa kamu sedang patah hati? Aku bisa melihat itu di matamu.” Perempuan itu mengulangi pertanyaan yang sama pada Daniel.


“Sok tahu,” sahut Daniel dengan nada dingin.


“Kamu sendiri ... apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu juga sedang patah hati?” tanya balik Daniel.


“Sok tahu.” Perempuan itu mencoba membalas perkataan Daniel.


Daniel mendengkus, tetapi sudut bibirnya menunjukkan senyum.


“Perempuan yang aku pacari selama 5 tahun, akhirnya akan menjadi istri dari kakak sepupuku." Akhirnya Daniel mengungkapkan isi hatinya pada perempuan yang baru menemaninya berapa detik yang lalu. "Padahal mereka belum lama saling mengenal."


“Kita senasib,” ucap perempuan itu.


“Benarkah?” tanya Daniel.


"Aku juga mencintai sahabat kecilku, tetapi dia justru akan menikahi wanita yang baru saja ia kenal." Perempuan itu pun akhirnya menceritakan masalah yang ia simpan di dalam pikirannya.


“Ini kebetulan sekali,” ucap Daniel.


Entah apa yang Daniel dan wanita itu rasakan. Baru saja saling mengenal dan mereka sudah menceritakan masalah mereka. Mungkin karena merasa nyaman? Atau mereka sama-sama butuh teman untuk mencurahkan isi hati mereka.


Cukup lama mereka mengobrol sampai perempuan itu pamit untuk pergi. Perempuan itu melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan sudah menunjukan pukul 11 malam.


"Ini sudah malam, aku pamit pulang." Wanita itu beranjak dari kursinya. "Sampai jumpa lagi."


"Tunggu!" Daniel mencegah perempuan itu untuk pergi.

__ADS_1


"Ada apa?" Perempuan itu menoleh ke arah Daniel.


"Aku Daniel." Daniel mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu.


Perempuan itu melihat tangan Daniel yang terulur ke arahnya.


"Aku Maura." Akhirnya perempuan itu menyambut uluran tangan Daniel.


"Apa kamu tidak bisa lebih lama di sini. Kita adakan pesta kecil-kecil untuk kita berdua,” ucap Daniel.


"Untuk merayakan patah hati kita?" tanya Maura.


"Ya, dan perkenalan kita," imbuh Daniel.


"Oke, aku terima tawaranmu," ucap Maura.


Daniel dan Maura berpindah tempat ke ruang VIP di club malam itu. Mereka melanjutkan obrolan meraka di sana.


“Jangan terlalu banyak minum,” ucap Daniel. “Itu tidak baik untukmu.”


“Biarkan saja,” jawab Maura. “Hanya ini yang bisa membuat aku melupakan rasa sakit hatiku.”


Maura sudah sangat mabuk berat, tetapi gadis itu masih ingin minum.


Maura menuang minuman dari botol ke gelas kristal berkaki dan kembali menenggak isinya.


Daniel langsung merebut gelas dari tangan Maura. Dan meletakan kembali di meja.


“Hentikan ini! Kamu sudah mabuk berat,” ucap Daniel.


“Dia ke sini naik taksi atau mobil?” batin Daniel.


Daniel memutuskan untuk bertanya kepadamu Maura.


“Kamu ke sini naik mobil atau naik taksi?” tanya Daniel.


“Kamu bertanya padaku?” Maura bertanya balik pada Daniel.


“Iya, kalau bukan padamu, aku bertanya pada siapa lagi?” Daniel mulai merasa kesal. “Kamu ke sini naik apa?”


“Aku ke sini dengan .... terbang,” jawab Maura.


“Terbang?” Daniel nampak bingung.


“Iya,” sahut Maura.


“Dasar bodoh,” maki Daniel.


Sebenarnya Daniel sendirilah yang bodoh. Karena sudah bertanya pada orang yang sedang mabuk.


Daniel merasa kesal sendiri. Ada penyesalan dalam diri Daniel mengajak perempuan itu minum.


“Sekarang ke mana aku harus pengantar wanita ini pulang?” Daniel bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Daniel merangkul pinggang Maura, menuntunnya ke tempat mobilnya terparkir. Sepanjang perjalanan Daniel tidak berhenti menggerutu, sedangkan Maura juga tidak berhenti meracau.


Telinga Daniel bisa mendengar Maura menyebutkan satu nama yaitu Evano.


“Evano? Sepetinya nama ini tidak asing?” batin Daniel.


Daniel sampai di tempat mobilnya terparkir. Satu tangan Daniel merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya. Satu tangannya masih memegangi Maura. Dengan sudah payah Daniel akhirnya bisa membuka kunci mobilnya.


“Aku tidak ingin pulang, aku masih ingin minum,” racau Maura.


“Diam, dan cepatlah masuk.” Daniel memaksa Maura masuk ke dalam mobilnya.


“Merepotkan sekali!” gerutu Daniel.


Daniel menutup pintu mobilnya dan berjalan ke sisi lainnya. Daniel masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


Setelah mesin mobilnya menyala, Daniel melajukan mobilnya meninggalkan area club malam itu. Dalam perjalanan Daniel membuka tas Maura. Ia menemukan kartu identitasnya.


“Percuma juga aku antar dia ke rumahnya. Jika orang tuanya tahu aku yang membuatnya mabuk aku akan mendapatkan masalah nantinya,” guman Daniel.


“Ya, sudahlah aku bawa dia ke apartemen aku saja,” batin Daniel.


Mobil yang Daniel kendarai masuk ke dalam gedung apartemen. Daniel menghentikan laju mobilnya ketika sampai di parkiran bawah tanah.


Daniel lebih dulu keluar dari dalam mobil. Lalu berjalan ke sisi yang lain untuk mengeluarkan Maura dari dalam mobil.


“Dasar perempuan yang sangat merepotkan. Aku merasa sial bertemu denganmu,” gerutu Daniel.


Setelah mengunci mobilnya, Daniel menuntun Maura, membawa ke unit apartemennya. Sampai di depan pintu apartemen yang ditempatinya, Daniel menekan tombol passcode untuk membuka pintu.


Pintu sudah terbuka, Daniel langsung membawa Maura ke kamar. Sampai di dalam kamar Daniel merebahkan tubuh Maura ke atas tempat tidur.


“Tidurlah di sini dan berhenti meracau tidak jelas seperti itu,” omel Daniel.


Saat Daniel ingin menjauh dari tempat tidur, tangannya ditarik oleh Maura. Daniel yang kehilangan keseimbangan tubuhnya jatuh di atas tubuh Maura.


“Kamu mau ke mana Evano?” tanya Maura.


“Aku bukan Evano! Dan jauhkan tanganmu dariku!” ucap Daniel.


“Apa kamu tidak bisa melihat cinta padamu sehingga kamu lebih memilih wanita yang baru kamu kenal itu,” racau Maura.


“Dasar gila,” maki Daniel.


Daniel berusaha melepaskan tangan Maura yang melingkar di lehernya. Namum, tenaga Maura sangat kuat.


“Dia kuat sekali,” keluh Daniel.


Daniel terkejut saat tiba-tiba Maura mencium bibirnya. Daniel yang tidak menduganya tidak bisa menghindari ciuman itu.


Daniel kewalahan menghadapi Maura. Ia tidak menduga jika perempuan yang sedang mabuk itu memiliki tenaga yang sebesar itu.


“Jangan salahkan aku jika aku kehilangan kendali karena tindakanmu ini,” ucap Daniel.

__ADS_1


Entah karena pengaruh dari minuman yang sebelumnya ia minum atau karena terbawa suasana, Daniel akhirnya membalas ciuman Maura.


__ADS_2