Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Ekstra Part Daniel dan Maura


__ADS_3

Mungkin ada yang gak ngeh sama cerita ini, karena mungkin pada fokus sama Gio dan Flora. Aku kasih tahu sedikit ya. Ini kisah Daniel mantan pacarnya Flora dan calon istrinya, Maura.


Kepala Maura terasa sakit saat bangun dari tidurnya. Maura memegangi kepalanya saat ingin mengambil posisi duduk.


“Aaww!” pekik Maura.


Beberapa kali Maura mengedipkan matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Saat matanya sudah terbuka sempurna, Maura merasa bingung dengan keberadaanya.


“Di mana aku?” batin Maura.


Kebingungan Maura bertambah saat melihat pakaiannya sudah tidak sama lagi.


“Apa yang terjadi semalam?” Maura mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam, tetapi sayangnya Maura tidak mengingat apapun kecuali minum bersama laki-laki bernama Daniel.


“Aaa!” Maura berteriak saat melihat seorang laki-laki tidur di sampingnya.


Tidur Daniel terusik saat mendengar suara teriakkan. Daniel langsung bangun dan mengambil posisi duduk.


“Ada apa?” tanya Daniel.


Daniel terkejut saat Maura menangis dan langsung memukulnya menggunakan bantal.


“Kamu jahat! Kenapa kamu melakukan ini padaku,” jerit Maura.


Daniel merasa bingung kenapa Maura menangis, memukulnya, dan juga memakinya.


“Kamu jahat!” Maura tidak berhenti memaki Daniel.


“Hei, hentikan!” pinta Maura.


“Aku akan terus memukulmu sampai aku puas,” ucap Muara.


“Apa?” Daniel memekik saat Maura terus saja memukulnya.


Tidak tahan dengan pukulan itu Daniel merebut bantal yang Maura gunakan untuk memukulnya.


“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” teriak Daniel.


“Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?” tanya Maura dalam amarahnya.


“Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?” Daniel yang tidak tahu apa salahnya bertanya balik pada Maura.


“Kamu sudah menodaiku. Kamu sudah merenggut mahkotaku,” ucap Maura di sela isak tangisnya.


“Apa? Apa yang kamu katakan? Jangan mengada-ngada!” ucap Daniel.


“Jangan bohong!” tuduh Maura.


“Jangan bermimpi! Aku tidak akan melakukan hal seperti itu denganmu,” ucap Daniel.


“Aku gak percaya padamu,” ucap Maura. “Kamu pasti memanfaatkan aku yang sedang mabuk untuk memuaskan hasratmu.”


Tidak tahan dengan tuduhan yang Maura berikan, Daniel mendorong tubuh Muara lalu menindihnya.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” Nada bicara Maura terdengar gagap.


“Aku bukan laki-laki seperti yang kamu tuduhkan. Bahkan aku masih perjaka sampai saat ini,” aku Daniel.


“Apa kamu pikir aku percaya,” ucap Maura.

__ADS_1


“Terserah apa katamu,” ucap Daniel.


“Menyingkir dariku!” perintah Maura.


“Katakan padaku ... apa sebelumnya kamu sudah pernah melakukan hubungan itu?” tanya Daniel.


“Apa kamu sedang menghinaku?” Maura balik bertanya.


“Jangan banyak bicara! Kamu hanya perlu menjawabnya,” ucap Daniel.


“Apa kamu pikir, karena aku suka minum di club malam jadi aku suka mengobral tubuhku. Aku hanya akan melakukan hubungan itu hanya dengan suamiku nantinya,” tegas Maura.


“Kalau kamu sangat yakin jika aku sudah menodaimu ... pasti di tempat tidur ini ada darah perawanmu,” ucap Daniel.


Maura langsung mendorong tubuh Daniel dari atas tubuhnya. Segera ia bangun dari tempat tidur dan melihat apakah ada darah perawan di atas tempat tidur itu atau tidak.


“Ada?” tanya Daniel.


Maura menggeleng diikuti tawa kecilnya. “Tidak ada.”


“Makanya jangan sembarang menuduh orang,” ucap Daniel.


“Seenaknya saja menuduhku.” Daniel menggerutu, tetapi Maura masih bisa mendengarnya.


“Lalu bagaimana pakaianku bisa berubah?” tanya Maura.


Daniel berdiam diri, sebenarnya ia sangat malas untuk mengingat kejadian semalam. Saat keduanya tengah asik berbalas kecupan, tiba-tiba Maura merasakan mual pada perutnya.


Mungkin karena tidak tahan dengan rasa mual itu, Maura mengeluarkan isi perutnya di kamar itu. Tumpahan isi perut Maura bukan hanya mengenai tubuh Maura, tetapi juga Daniel.


“Ayo jawab!” desak Maura.


“Maksudmu?” Maura benar-benar tidak mengingat apapun tentang kejadian semalam.


“Kamu memuntahkan isi perutmu di kamar ini. Bukan hanya mengotori kamarku, pakaianku, tetapi pakaianmu juga,” jawab Daniel.


“Lalu siapa yang menggantikan pakaianku?” tanya Maura.


“Tentu saja aku. Tidak ada orang lain lagi di tempat ini,” jawab Daniel.


“Jadi kamu sudah melihat semua nya?” Maura bertanya dengan wajah tertunduk karena malu.


“Tentu saja sudah. Terkecuali dua bagian yang masih tertutupi itu,” ucap Daniel.


“Hah! Apa?” pekik Maura seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Maura tahu bagian mana yang belum terlihat oleh Daniel, karena dua pakaian dalamnya masih menempel di tubuhnya.


“Tapi semalam benar tidak terjadi sesuatu, 'kan?” tanya Maura.


“Tentu saja tidak,” jawab Daniel. “Atau kamu bermimpi agar terjadi sesuatu dengan kita semalam?”


Maura terbelalak mendengar tuduhan yang tidak beralasan dari Daniel. Dengan emosi Maura melempar bantal ke arah Daniel.


“Dasar laki-laki menyebalkan,” maki Maura.


“Kamu benar tidak mengingat apapun semalam?” tanya Daniel disambut gelengan kepala oleh Maura.


Daniel menghela napas lega. Beruntung Maura tidak mengingat apapun tentang ciuman mereka. Jika saja Maura tidak mengeluarkan isi perutnya bisa dipastikan dirinya akan kehilangan kendali akan tubuhnya.

__ADS_1


Daniel merasa bingung pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah merasa hampir kehilangan kendali tubuhnya saat bersama Flora.


“Kenapa jadi diam?”


Pertanyaan dari Maura membuyarkan lamunan Daniel. Daniel kembali memandang wajah Maura. Sejenak ia memandang wajah Maura, sepetinya sangat tidak asing. Daniel merasa pernah melihat Maura di suatu tempat, tetapi Daniel tidak ingat di mana pernah melihat Maura.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Maura.


“Aku hanya merasa heran, perempuan secantik kamu bisa patah hati karena satu orang. Harusnya kamu bisa dengan mudah mendapatkan pengganti dari laki-laki bernama Evano itu,” tanya Daniel.


“Kamu tahu dari mana laki-laki itu bernama Evano?” Maura balik bertanya pada Daniel.


Daniel beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela kamarnya dengan membawa segelas air di tangannya.


“Semalam kamu tidak berhenti menyebut namanya,” jawab Daniel. “Tapi sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.”


Maura masih berdiri ditempatnya, pandangannya masih terus mengarah pada Daniel.


“Apa kamu tidak mengenal nama itu. Padahal hampir di seluruh kota ini mengenalnya,” ucap Maura. “Dia adalah Evano Abrisam Pramuja.”


Daniel menjauhkan gelas dari mulutnya sebelum melihat kembali ke arah Maura.


“Maksudmu Evano ... anak pertama dari Egi Pramuja?” tanya Daniel.


“Iya.” Maura menganggukkan kepalanya.


“Sayang sekali kamu tidak bisa mendapatkannya. Padahal dia adalah pewaris dari kerajaan bisnis ayahnya,” ucap Daniel.


“Apa kamu sedang mengejekku?” Maura tersenyum sinis. Kalimat yang Daniel ucapkan terkesan bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah sindiran.


“Terserah jika pendapatmu seperti itu. Aku hanya sedang bertanya padamu,” jawab Daniel.


Maura berjalan ke tempat Daniel berdiri. Maura berdiri tepat di hadapan Daniel, menatap laki-laki itu penuh rasa ketidaksukaan.


“Aku mencintainya bukan karena dia anak dari keluarga kaya raya. Aku tumbuh dewasa bersamanya, aku terbiasa dengannya,” jelas Maura. “Apa salahku jika aku mencintainya?”


“Aku juga berasal dari keluarga yang berada, aku memiliki segalanya termasuk uang. Jadi aku tidak butuh uang dari keluarga Evano. Aku hanya merasa mencintai dirinya saja,” ucap Maura.


Napas Maura naik turun, jelas sekali jika Maura merasa kesal pada saat itu. Ia tidak suka dengan tuduhan Daniel jika dirinya menyukai Evano karena harta yang dimiliki oleh kedua orangtua Evano.


Daniel sendiri hanya bisa diam saat melihat api kemarahan di mata Maura. Ia tidak menduga jika Maura akan semarah itu dengan pertanyaannya.


“Sensitif sekali perasaannya,” batin Daniel.


“Untuk apa aku menjelaskan ini semua padamu ... kamu tidak akan pernah mengerti,” ucap Maura.


Maura menjauh dari Daniel. Ia mengambil tas miliknya dan berniat pergi dari kamar itu.


“Mau ke mana?” tanya Daniel.


“Aku mau pulang. Terima kasih sudah membawaku ke mari,” ucap Maura.


Maura terus berjalan tanpa mau mendengarkan panggilan Daniel.


“Kalau kamu ingin pulang ... setidaknya kembalikan kemejaku yang kamu pakai itu,” ucap Daniel dengan keras.


Kalimat yang Daniel ucapkan berhasil membuat Maura menghentikan langkahnya. Karena marah Maura tidak sadar jika dirinya hanya memakai kemeja milik Daniel yang nampak kebesaran itu.


Maura menghentakkan kakinya karena merasa kesal. Terpaksa ia menunda kepergiannya dari tempat itu sampai ada orang yang datang dengan membawakan pakaian ganti untuk dirinya.

__ADS_1


Daniel memperhatikan Maura tidak jauh dari tempat Maura. Bibir Daniel tertarik ke atas membetuk sebuah senyuman saat melihat tingkah Maura yang menurutnya sangat lucu.


__ADS_2