Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Senyummu Kebahagianku


__ADS_3

Flora kembali masuk ke dalam rumahnya setelah Gio pulang. Flora mengunci pintu utama rumahnya, lalu mengarahkan matanya untuk melihat ke pintu kamar ibunya masih tertutup. Flora ingin mengetuk pintu kamar ibunya. Namun, Flora kembali mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya sendiri.


Flora memilih duduk di atas tempat tidur dengan memangku bantal. Ia sandarkan tubuh belakangnya ke tembok.


Kenapa ibu egois seperti itu? Aku hanya ingin bertemu dengan ayahku saja.


Air mata Flora masih terus mengalir. Ia merasa sedih bercampur kesal. Namun, mendadak Flora mengingat kembali perkataan Gio. Laki-laki berstatus kekasihnya itu meminta untuk melihat hal itu dari sudut pandang ibunya.


Flora mendongakkan kepalanya, dan memandang langit-langit kamarnya. Sejenak ia membayangkan jika dirinya menjadi ibunya. Membayangkan dirinya begitu mencintai Gio, lalu mereka melakukan hubungan suami-istri tanpa ikatan pernikahan. Dan setelah itu, secara tiba-tiba Gio meninggalkan dirinya dan tidak ada kabar sama sekali dalam keadaan hamil.


Flora menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pemikirannya, karena tidak sanggup lagi untuk membayangkan jika dirinya mengalami hal seperti ibunya. Dengan segera Flora menyingkirkan bayangan yang sangat mengerikan itu. Kini Flora tahu bagaimana perasaan ibunya. Alasan kenapa ibunya tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang membuat dirinya tumbuh di rahim ibunya.


Segera Flora menghapus air matanya dan keluar dari kamarnya untuk menemui ibunya dan meminta maaf pada perempuan yang sudah melahirkannya.


Tok Tok Tok


"Bu ...." Flora mengetuk pintu seraya memanggil ibunya.


Tidak ada sahutan dari ibunya. Namun, tidak lama pintu terbuka dari dalam. Saat pintu terbuka, Flora melihat ada jejak tangisan pada mata ibunya. Flora merasa sangat bersalah melihat ibunya menangis.


"Flora minta maaf, Bu." Flora langsung memeluk ibunya. "Flora minta maaf karena memaksa Ibu agar mau mencari ayah tanpa memikirkan perasaan Ibu," ujar Flora.


"Ibu juga minta maaf, Flora. Sejujurnya hati ibu masih sakit saat laki-laki itu pergi meninggalkan ibu begitu saja. Setelah apa yang pernah kami lakukan, dia bilang akan bertanggung jawab, tetapi nyatanya dia pergi bahkan tanpa memberitahu ibu dulu," jelas Seruni.


"Setelah dia pergi ibu jadi bisa berpikir kalau laki-laki itu tidak menginginkan ibu, karena bahkan sampai saat kamu lahir dia tidak datang, Flora. Jadi ... untuk apa kita mencari orang seperti itu," lanjut Seruni.


"Dan ibu tidak mau jika nanti kamu sudah bertemu dengan ayah kandung kamu, dia akan mengambil kamu dari ibu atau tidak percaya jika kamu adalah anak kandungnya," lanjut Seruni.


"Biarlah kita hidup berdua seperti ini. Yang penting kita hidup tenang," ujar Seruni.


"Iya, Bu. Flora janji mulai saat ini Flora tidak akan memaksa ibu lagi. Flora akan menganggap hanya almarhum ayah adopsi Flora adalah ayah satu-satunya bagi Flora," ujar Flora.


Keduanya sama-sama menarik diri. Ibu dan anak itu saling menyeka air mata satu sama lain lalu berbalas senyum. Setelah itu Seruni membawa Flora untuk duduk di tepi ranjang bersama dirinya.


"Nak, boleh ibu bertanya?" tanya Seruni.


"Boleh, Bu." Flora menganggukan kepalanya.


"Kamu dan Gio benar-benar bersama? Lalu bagaimana dengan hubungan kamu dan Daniel? Dan juga bagaimana tanggapan orang tuanya Gio nanti?" tanya Seruni.


Flora diam karena merasa bingung untuk menjawab pertanyaan beruntun dari ibunya.


"Flora kenapa diam saja? Apa ada yang tidak beres?"


"Bu, tenang saja ... tidak ada apa-apa. Flora hanya bingung mau jawab pertanyaan ibu yang mana dulu," jawab Flora disusul kekehannya.


"Kamu ini bikin ibu khawatir saja." Seruni menarik hidung Flora.

__ADS_1


"Do'ain kami ya, Bu. Semoga bapak Farhan mau merestui kami. Dan untuk Daniel ... sebelum aku dan Gio memutuskan untuk bersama, kami sudah lebih dulu ikhlas mengakhiri hubungan kami. Kami sudah lelah harus selalu berdebat dengan nyonya Mariana," ujar Flora.


"Ya sudah kalau begitu. Bagi ibu kebahagiaan kamu adalah yang terpenting. Ibu hanya ingin kamu bahagia bersama dengan laki-laki yang sangat mencintai kamu, Nak," ujar Seruni.


Flora memganggukan kepalanya dan kembali memeluk ibunya.


"Ini sudah malam, kamu istirahat sana," suruh Seruni.


"Iya, Bu." Flora menarik diri dari pelukan ibunya. "Ibu juga istirahatlah."


"Iya, Nak." Seruni mengusap kepala anaknya.


"Flora ke kamar dulu. Selamat malam, Bu," sapa Flora.


"Selamat malam, Nak," balas Seruni.


Flora keluar dari kamar ibunya dan kembali ke kamarnya sendiri. Di dalam kamar Flora menarik napas lega, hatinya merasa senang dan lega setelah berbicara pada ibunya.


"Mungkin ini yang terbaik untuk aku dan juga ibu," gumam Flora.


Sudah beberapa kali Flora menguap, rasanya mengantuk sekali. Ingin rasanya ia tidur, tetapi Flora teringat jika dirinya belum mandi. Flora mengambil handuk dan keluar dari kamarnya. Flora melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Flora keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Segera Flora kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Flora merebahkan dirinya ke atas tempat tidur lalu menarik selimut untuk menutup sebagian tubuhnya.


Saat akan memejamkan matanya, ponselnya berdering membuat mata Flora kembali terjaga. Tangannya bergerak untuk meraih ponselnya yang berada di dekatnya. Senyumnya mengembang saat melihat nama 'Gio' pada layar ponselnya. Flora menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Halo, Sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Gio.


"Ya, aku baik-baik saja dan itu berkat dirimu," sahut Flora.


"Bagaimana dengan ibu kamu?" tanya Gio.


"Ibu juga baik-baik saja. Aku sudah bicara dengan ibu. Dan juga aku dan ibu sudah sepakat untuk tidak mencari ayah," ujar Flora.


"Kamu yakin, Sayangku?"


"Ya, Gio. Aku tidak ingin ibu sedih karena terus mengingat masa lalunya."


"Bagus kalau begitu."


Hening mengambil alih obrolan mereka di sambungan telepon. Sampai pada akhirnya Gio kembali bersuara.


"Flora, lupakan orang yang membuatmu memiliki alasan untuk menangis dan bersedih."


"Ya, Gio."


"Jika kamu butuh sandaran ... aku siap meminjamkan pundakku untukmu."

__ADS_1


"Kenapa kamu manis sekali?"


"Tapi itu tidak gratis, Sayangku."


Flora memutar bola matanya. Harusnya ia bisa menebak jika Gio akan meminta imbalan.


"Baiklah, apa imbalannya?"


"Jadilah istriku."


Flora tergelak setelah mendengar permintaan kekasihnya.


"Apa yang kamu tertawakan?"


"Apa saat ini kamu sedang melamarku?"


"Anggap saja begitu?"


"Apa kamu tidak punya cara yang lebih romantis untuk melamarku?" ledek Flora.


"Berhentilah tertawa dan cepat tidur! Awas saja kalau besok kamu terlambat datang ke kantor."


"Baiklah, Bosku." Flora melihat bibirnya untuk menahan tawa. "Ini sudah malam, kamu cepatlah istirahat."


"Baiklah, Sayangku. Aku tutup teleponnya," ujar Gio.


"Gio, tunggu sebentar!" cegah Flora.


"Apalagi, Sayangku? Apa kamu tidak ingin berpisah dari ku? Baiklah kalau begitu aku akan datang ke rumahmu sekarang juga bersama papah untuk langsung menikahkan kita," gurau Gio.


"Gio ... berhentilah bercanda."


Flora mendengar kekehan Gio dari seberang panggilan.


"Oke, ada apa lagi, Honey?"


"Terimakasih, untuk semuanya. Kamu selalu tahu cara untuk membuat aku tertawa."


"Karena senyummu adalah kebahagiaan untukku, Flora. Jadi tersenyumlah selalu untukku."


"Baiklah, aku tutup teleponnya. Sampai jumpa ...," sapa Flora.


"Sampai jumpa," sapa baik Gio. "Flora ... aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Gio."


Flora mengakhiri panggilan teleponnya dengan Gio dan kembali menaruh ponselnya ke meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Secara perlahan Flora mulai memejamkan matanya berharap mimpi indah akan singgah dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2