Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 195


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Kenzo berada di meja kasir rumah sakit untuk mempersiapkan kepulangan Felicia. Kondisi istrinya yang sudah membaik membuatnya diperbolehkan untuk pulang.


Selesai mengurus semua prosedur rumah sakit Kenzo kembali ke ruang perawatan istrinya. Ia buka pintu kamar Felicia, matanya melihat istrinya masih duduk di atas tempat tidur.


"Kenzo, apa semua sudah selesai?" tanya Felicia.


"Sudah," jawab Kenzo.


"Ayo kita pulang. Aku sudah tidak betah berada di sini," seru Felicia.


Felicia buru-buru turun dari tempat tidur. Membuat semua orang terkejut.


"Felicia apa yang kamu lakukan? Tidak bisakah kamu lebih berhati-hati," omel Gio. "Ingat kalau kamu sedang hamil, Nak."


"Maaf, Papah." Felicia tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.


"Ayo kami akan mengantar kalian," ucap Violetta.


*****


Malam hari telah tiba Felicia sedang makan malam, tetapi hanya sendiri. Sejak sore suaminya itu pergi katanya ada urusan pekerjaan, tetapi sampai jam 9 malam Kenzo belum juga pulang.


Benda pipih yang ia letakkan di sampingnya menyala. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Felicia merasa malas untuk membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal itu. Namun, nomor tidak dikenal itu kembali mengiriminya pesan. Merasa penasaran Felicia akhirnya membuka pesan itu.


Aku akan bertemu dengan suamimu. Suamimu sendiri yang ingin bertemu denganku.


Vera.


"Jadi ini nomor Vera," batin Felicia.


"Jadi Kenzo belum pulang sampai saat ini karena ingin menemui mantan kekasihnya. Ini keterlaluan!" ucap Felicia.


Keadaan Felicia yang sedang hamil membuat perubahan pada dirinya. Felicia menjadi lebih sensitif. Padahal ia sudah mencoba untuk percaya, tetapi nomor Kenzo yang mendadak tidak aktif membuat pikiran buruk bersemayam di dalam dirinya.


Sementara itu di tempat lain Kenzo sedang dalam perjalanan menuju tempat yang akan mempertemukan dirinya dengan Vera. Ada sesuatu yang harus ia luruskan dengan mantan kekasihnya itu.


"Pak, kita sudah sampai," ucap Alan.


Kenzo mengarahkan pandangannya ke luar mobil. Di depan sana ada taman. Tempat itu merupakan bagian dari masa lalunya.


"Aku akan turun sendiri. Kamu tunggu di mobil," perintah Kenzo.

__ADS_1


"Baik, Pak," sahut Alan.


Kenzo turun dari mobil dan melangkah dengan penuh rasa keyakinan dalam dirinya. Setelah berputar sekali di taman itu Kenzo melihat Vera di duduk di bangku taman.


"Vera," panggil Kenzo.


Vera mengalihkan pandangannya ke asal suara. Senyumnya merekah saat matanya melihat Kenzo ada di hadapannya.


"Kenzo, aku merindukan dirimu." Vera memeluk tubuh Kenzo. "Dan aku tahu kamu juga merindukanku makanya kamu mengajakku bertemu di sini."


Kenzo langsung menjauhkan tubuh Vera dengan sedikit kasar. Bukan hanya itu saja, Kenzo juga melakukan hal yang sama sekali tidak diduga oleh Vera.


Plak


Tamparan keras mendarat di pipi Vera.


"Aku ke sini bukan untuk bernostalgia denganmu. Tapi aku ke sini untuk memperingati dirimu, Vera." Kenzo menunjuk Vera menggunakan jari telunjuknya. Kemarahan Kenzo bisa dilihat dari tatapan matanya.


"Ada apa Kenzo kenapa kamu menamparku? Apa kesalahanku?" tanya Vera seraya memegangi pipinya yang ditampar oleh Kenzo.


"Jangan berpura-pura, Vera. Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan pada istriku di trotoar jalan itu dan juga waktu di acara reuni," ucap Kenzo.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Kenzo," kilah Vera.


"Terserah jika kamu masih tidak ingin mengakuinya! Tapi ini peringatan untukmu. Jika sekali lagi kamu berani mencelakai istriku dan calon bayi kami, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu." Api kemarahan muncul di dalam setiap perkataan yang Kenzo lontarkan pada Vera.


"Apa ... bayi? Maksud kamu perempuan itu sedang hamil? Itu tidak mungkin!" Vera menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Dengar Vera! Perempuan yang kamu sebut tadi adalah istriku. Wajar saja jika dia hamil anakku." Kenzo tersenyum sinis seolah sedang mengejek Vera.


"Maaf Nyonya Wibowo hanya ini yang ingin saya katakan. Maaf jika saya sudah menggangu waktu Anda." Kenzo sudah tidak ingin berlama-lama di tempat itu bersama mantan kekasihnya.


Kenzo berbalik untuk melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Vera menahannya dengan cara memeluknya dari belakang.


"Kenzo tolong jangan tinggalkan aku. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Vera di sela isak tangisnya.


Kenzo diam dan tidak bergeming sama sekali. Tangannya mengepal mencoba menahan gejolak dalam dirinya.


"Aku akui jika aku memang yang mendorong istrimu di trotoar jalan. Semua itu aku lakukan agar dia tidak bisa pergi ke acara reuni," aku Vera.


"Tapi rencanaku gagal," ucap Vera.

__ADS_1


"Saat aku melihat kemesraan kalian di acara reuni aku menjadi gelap mata. Aku meminta Jeni untuk membuatnya jatuh ke dalam kolam berenang. Tapi sungguh Kenzo, aku tidak berniat mencelakai istrimu. Aku hanya ingin membuatnya merasa malu saja, aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu," jelas Vera.


"Aku melakukan semua itu karena aku merasa cemburu. Aku masih sangat mencintaimu, Kenzo," aku Vera.


Kenzo sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia lepas pelukan Vera dan berbalik menghadap Vera.


"Kamu sadar, Vera?" Kenzo memegang keduanya lengan Vera lalu mengguncangkan tubuh Vera. "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, hah?"


"Aku sadar Kenzo. Aku sadar se-sadar-sadarnya," jawab Vera.


"Kamu sudah kehilangan akal Vera," maki Kenzo. "Bahkan dalam kondisimu yang sedang hamil anak dari suamimu kamu masih bisa mengatakan cinta pada laki-laki lain."


Kenzo menggusar rambut dan wajahnya secara kasar. Ia benar-benar tidak percaya jika perempuan yang ada di hadapannya adalah Vera yang pernah ia cintai.


"Ya! Aku memang sudah kehilangan akal. Aku melakukan semua ini untuk mendapatkan cintamu kembali. Aku hanya ingin dicintai olehmu seperti dulu lagi," aku Vera.


"Aku masih memiliki kepercayaan jika kamu juga masih mencintaiku, makanya aku mencoba melakukan segala cara untuk mendapatkan kembali," ucap Vera.


"Tidak, Vera." Kenzo menarik napas dalam-dalam mencoba untuk mengontrol emosinya. "Rasa cinta yang pernah aku miliki untukmu sudah aku kubur setelah aku tahu kamu menikah dengan laki-laki tua itu, Vera! Jadi jangan pernah berharap jika aku akan bisa mencintaimu seperti dulu lagi."


"Kamu bohong Kenzo! Aku tahu kamu masih mencintaiku. Untuk apa kamu menyembunyikannya dari istrimu." Vera meraung-raung karena tidak terima dengan kenyataan yang coba Kenzo jelaskan kepadanya.


"Ya Tuhan ... Vera! Bagaimana lagi aku harus menjelaskan semua padamu. Hubungan aku dan kamu sudah berakhir. Aku sudah memiliki kehidupan baru bersama Felicia jadi jangan pernah mencoba untuk mengganggu kehidupan kami lagi," ucap Kenzo.


"Dan bukankah kamu juga sudah bahagia bersama suami kamu. Bahkan sekarang kamu sedang hamil anaknya," ucap Kenzo.


"Aku tidak pernah menginginkan anak ini Kenzo. Tidak pernah!" Vera yang gelap mata memukul perutnya yang membesar. Entah apa yang dipikirkan oleh Vera hingga dirinya ingin menggugurkan kandungannya sendiri.


"Vera hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Kenzo menghentikan gerakan tangan Vera yang sedang memukuli perutnya.


Tubuh Vera merosot dan terduduk di lantai taman dengan tangisan yang amat pilu. "Aku menikah dengan Wibowo untuk membayar hutang orang tuaku. Dan kini semua hutang mereka sudah lunas. Aku ingin bebas darinya, tali kenyataannya aku hamil."


Perasaan cinta pada Vera memang sudah musnah dalam diri Kenzo, tetapi melihat keadaan Vera yang kacau membuat Kenzo merasa sangat iba.


"Dengar Vera! Apapun yang terjadi pada dirimu anak dalam kandungmu sama sekali tidak bersalah. Jangan pernah sakiti anak kamu sendiri," ucap Kenzo.


"Aku harus pulang, istriku sudah menungguku," ucap Kenzo.


"Dan sebaiknya kamu juga pulang. Suamimu pasti juga sudah menunggumu," imbuh Kenzo.


Tidak ada kata-kata lagi yang Kenzo ucapkan. Ia melangkah meninggalkan Vera yang masih menangis. Kenzo terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tidak ada waktu untuk melihat ke masa lalu karena ada masa depan yang sedang menantinya.

__ADS_1


__ADS_2