Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Babymoon


__ADS_3

Pesta tahun baru telah usai. Pagi hari di tahun baru pun sudah tiba. Matahari sudah menerangi kota itu. Namum, kegelapan masih terlihat di kamar yang ditempati oleh Flora dan Gio.


Flora dan Gio masih terlelap, karena rasa lelah setelah menghabiskan malam yang panjang. Tubuh polos keduanya masih berada di dalam selimut. Tarikan napas yang terlihat beraturan menandakan keduanya masih tidur dengan begitu nyenyaknya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Flora mulai menggeliat dalam tidurnya. Mata yang sebelumnya terpejam kini mulai terbuka.


Yang pertama kali Flora lihat adalah dada telanjang suaminya. Flora mendongakkan wajah, matanya melihat mata suaminya masih terpejam.


Flora menyingkirkan tangan Gio yang melingkar di pinggangnya. Flora menggeser tubuhnya dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan suaminya.


“Sayang, kamu mau ke mana?”


Suara suaminya menghentikan gerakannya. Flora menolehkan kepalanya dan melihat mata suaminya mulai terbuka.


“Kamu sudah bangun rupanya,” ucap Flora.


“Bagaimana aku tidak bangun, jika tidak ada kamu di sisiku,” balas Gio.


Gio mengucek matanya sebelum bangun dan mengambil posisi duduk. Hal yang selanjutnya Gio lakukan adalah mengecup pundak polos istrinya.


“Aku mencintaimu.” Gio berucap di dekat telinga Flora.


“Manis sekali,” goda Flora.


Flora menangkup kedua sisi wajah suaminya lalu memberikan kecupan di bibir laki-laki berstatus suaminya.


“Aku juga mencintaimu,” ucap Flora.


“Ayo mandi dan ajak aku berjalan-jalan. Ini hari terakhir kita di sini,” ajak Flora.


“Baiklah, Sayangku,” ucap Gio. “Tapi ... mandi bersama ya.” Gio mengedipkan satu matanya untuk menggoda istrinya.


“Tapi hanya mandi ya, tidak melakukan hal lain,” ucap Flora. “Sama Dokter gak boleh sering-sering loh,” lanjut Flora.


“Iya, Sayangku ... hanya mandi.” Gio mengulangi perkataan Flora.


Gio menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Gio beranjak dari atas tempat tidur lalu memungut celana pendek miliknya yang terletak lantai, sebelum memakainya kembali.


“Ayo bangun.” Gio mengulurkan tangannya ke arah Flora. Alis Gio terangkat sebelah saat Flora tidak membalas uluran tangannya.


“Ada apa?” tanya Gio.


“Bisa minta tolong ambilkan handuk? Aku tidak pakai apapun sekarang,” ucap Flora dengan diikuti rona merah yang muncul pada kedua sisi wajahnya.


Gio tertawa kecil. “Ya ampun, Sayangku. Kamu masih malu juga.”


“Aku bahkan sudah sangat sering melihatmu telanjang,” ucap Gio.


“Tapi aku tetap malu,” ucap Flora.


“Semalam minta gak malu, kok,” ledek Gio.


“Gio ....” Flora melebarkan matanya mendengar perkataan yang Gio lontarkan.


“Sudah jangan malu.” Tanpa menunggu persetujuan dari Flora, Gio langsung mengangkat tubuh polos Flora dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Mereka sengaja mandi bersama untuk menyingkat waktu. Gio sudah berjanji pada Flora seharian ia akan mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kota New York, sebelum esok harinya mereka akan kembali ke Indonesia.


Flora keluar dari kamar mandi lebih dulu. Langkahnya langsung menuju lemari pakaian. Flora mengambil pakaiannya dan juga pakaian yang akan dipakai oleh suaminya.


Flora langsung memakai pakaiannya. Senyuman Flora mengembang saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi.


“Aku sudah menyiapkan pakainmu,” ucap Flora.


“Hmmmm.” Gio bergumam.


“Kita makan siang dulu di sini. Kita ajak Susan dan Abi sekalian,” usul Flora dan Gio langsung mengangguk setuju.


Setelah mendapatkan persetujuan dari suaminya, Flora meraih gagang telepon di kamar hotel itu untuk menghubungi bagian room service. Setelah selesai berbicara pada bagian room service Flora kembali menaruh gagang telepon ke tempatnya semula.


“Kamu sudah menghubungi Abi dan Susan?” tanya Flora.

__ADS_1


“Sudah,” jawab Gio.


Gio menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur. Gio langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya.


Flora tidak melewatkan kesempatan itu untuk mengusap kening suaminya. Terkadang Flora masih mengingat masa lalunya, masa di mana ia sangat membenci Gio. Namun, rasa benci itu kini berubah menjadi rasa begitu mencinta.


Gio menarik tangan Flora yang sedang mengusap keningnya. Gio kecup punggung tangan Flora dalam jeda waktu yang cukup lama. Setelah itu Gio berbalik untuk mengecup perut rata istrinya, tempat calon anak mereka berada.


“Aku tidak sabar melihat anak kita lahir ke dunia. Kira-kira nantinya dia akan mirip siapa ya?” tebak Gio seraya mengusap perut istrinya.


“Tentu saja mirip aku dong,” jawab Flora cepat. “Aku yang mengandung dia selama sembilan bulan nanti.”


“Kalau dia mirip aku ... bagaimana?” ledek Gio.


“Ya, tidak apa-apa. Tapi harus banyak mirip aku,” ucap Flora.


“Ya, ya, ya, tapi galaknya jangan ngikutin kamu,” ucap Gio.


“Dan mesumnya juga jangan kaya kamu,” balas Flora diikuti kekehanya.


Keduanya tertawa dalam kebahagiaan kecil yang mereka ciptakan sendiri.


Tawa mereka terhenti saat ada bunyi ketukan pintu dari depan kamar mereka.


“Mungkin itu Mas Abi dan Susan atau juga pesanan makan siang kita,” ucap Flora.


“Aku akan membukanya, kamu tetap duduk di sini,” ucap Gio.


Gio mengangkat kepalanya dari atas pangkuan istrinya, kemudian melangkah ke arah pintu. Salah satu tangan Gio menarik handel di pintu untuk membukanya.


Pintu terbuka dan menampakan wajah kedua bawahannya.


“Selamat siang, Pak,” sapa Susan.


“Selamat siang, Mas Gio,” sapa Abi.


“Selamat juga. Ayo masuk!” ajak Gio.


Pesanan makan siang yang di pesan oleh Flora sebelumnya sudah tertata di atas meja. Petugas room service itu pergi dari kamar itu setelah selesai melakukan tugasnya.


“Ayo kita makan bersama,” ajak Flora.


Keempatnya makan siang bersama, bercanda, dan tertawa bersama. Kini mereka sudah melewati masa-masa cemas setelah mereka mendapatkan investasi dari Samuel.


Rencananya mereka akan membangun pusat perbelanjaan di Jakarta dan pembangunan itu akan dilakukan satu bulan setelah mereka pulang dari negara itu.


“Baiklah, Abi, Susan ...,” panggil Gio.


“Saya mau menghabiskan waktu bersama istri saya. Kalian bebas mau ke mana pun,” ucap Gio.


“Ke KUA juga boleh,” imbuh Flora.


Mata Abi melebar, sedangkan Susan dibuat tersedak oleh perkataan yang dilontarkan oleh istri atasannya. Wajah merah Susan bak kepiting rebus membuat Flora dan Gio tertawa.


“Sudah jangan malu, kalian berdua ada hubungan, 'kan?” tebak Flora.


“Gak ada kok, Bu,” sangkal Susan.


“Iya, Mba ... kami cuma berteman,” sambung Abi.


“Masa sih?” Flora melirik ke arah Abi. “Tapi aku lihat kalian mesra banget,” ucap Flora.


“Itu —” Ucapan Abi terpotong oleh Flora.


“Aku gak mau tahu. Pokoknya kalian harus pacaran, kalau bisa cepat nikahnya. Ini perintah! Kalau kalian tidak mau, gaji kalian akan aku potong,” ancam Flora.


Abi dan Susan sama-sama melebarkan mata mereka. Keduanya merasa terkejut. Apa hubungannya semua itu dengan gaji mereka.


“Tidak ada protes,” ucap Flora.


Abi dan Susan sama-sama menarik napas berat, sedangkan Gio tergelak melihat ekspresi wajah dua bawahannya. Gio tidak akan terkejut dengan perbuatan istrinya, memang semenjak hamil Flora suka seenaknya sendiri dan terkesan jahil.

__ADS_1


“Kalian dengar 'kan apa yang dikatakan oleh istri saya,” ucap Gio. “Pilih pacaran atau potong gaji.”


“Tapi, Pak —”


“Susan, apa susahnya sih pacaran sama mas Abi. Kalian sama-sama jomblo juga.” Flora menyela perkataan Susan.


“Sudahlah, ayo Suamiku kita jalan-jalan sekarang. Kita tinggalkan saja mereka berdua,” ucap Flora.


Flora dan Gio beranjak dari tempat duduk mereka. Keduanya keluar dari kamar itu meninggalkan Abi dan Susan dengan tawa mereka.


Flora dan Gio pergi dari hotel itu, tempat tujuan mereka adalah pusat perbelanjaan.


-


-


Pada malam harinya, Gio membawa Flora ke suatu tempat. Gio sengaja menutup kedua mata Flora dengan kain karena ingin memberikan kejutan.


“Sayang kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Flora.


“Sebentar lagi juga kamu tahu,” jawab Gio.


Gio menuntun langkah istrinya agar langkah istrinya tetap seimbang, hingga mereka sampai di suatu tempat.


Flora tidak tahu dirinya ada di mana, tetapi Flora merasakan tempat yang ia pijak bergerak.


“Sayang, kita ada di mana sih sebenarnya?” tanya Flora.


“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Gio.


“Sudah siap, Sayangku. Ini adalah kejutan untukmu,” ucap Gio yang langsung dianggukki oleh Flora.


“Jangan buka matamu sampai hitungan ketiga,” perintah Gio.


“Iya,” sahut Flora.


Gio mulai membuka kain penutup mata Flora seraya menghitung sampai tiga.


“Satu ... dua ... tiga! Buka matamu,” ucap Flora.


Flora membuka matanya dan terkejut saat melihat tempat dirinya dan sang suami berdiri.


“Jadi kita di atas kapal pesiar!” seru Flora.


“Kamu suka?” tanya Gio.


“Tentu saja,” sahut Flora.


“Ayo duduk.” Gio menuntun Flora menuju meja bundar yang sudah ia siapkan untuk makan malam. Gio merencanakan dinner romantis untuk Flora.


“Kamu yang menyiapkan semua ini?” tanya Flora.


“Ya jelas bukan! Seharian aku sama kamu terus,” jawab Gio diikuti tawanya.


“Ck, Gio ....” Flora menggelengkan kepalanya setiap kali suami menunjukan sikap konyolnya.


“Ini untukmu.” Gio memberikan rangkaian bunga mawar merah kepada Flora.


“Dan satu lagi ....” Gio berjalan ke belakang Flora lalu melingkarkan ratai emas ke leher sang istri.


Sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk hati.


“Suamiku, ini sangat cantik.” Flora terharu dengan apa yang dilakukan oleh Gio.


“Terima kasih, Suamiku,” ucap Flora.


Gio membungkukkan tubuhnya, menaruh dagunya ke pundak Flora.


“Anything for you, Honey,” balas Gio.


Flora menoleh ke belakang untuk menatap wajah suaminya. “Kami mencintaimu, Suamiku.”

__ADS_1


“Aku pun sangat mencintai kalian,” balas Gio seraya mengusap perut istrinya.


__ADS_2