
Hari terus berganti, tetapi Flora masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Gio. Sikapnya sungguh berubah pada dirinya dan juga semua orang. Tidak ada lagi kehangatan, kekonyolan, dan kelembutan yang biasanya Gio tunjukan. Flora sudah bertanya pada Abi, tetapi asisten pribadi Gio itu hanya menjawab tidak tahu. Bohong jika Abi tidak tahu alasan di balik perubahan Gio karena Abi adalah orang yang paling dekat dengan Gio. Awalnya Flora mengira jika Gio hanya sedang merasa terkekang dengan pekerjaannya. Akan tetapi, semakin lama Flora merasa ada yang tidak beres dengan Gio.
Flora sedang berjalan ke pantry masih dengan memikirkan hal itu. Secara tidak sengaja, Flora berpapasan dengan Abi dan Flora langsung mencegat langkah Abi untuk menanyakan sesuatu.
"Apa kamu benar-benar tidak tahu kenapa sikap Gio berubah, Mas Abi?" Lagi-lagi Flora bertanya pada Abi tentang Gio.
"Aku tidak tahu, Flora" jawab Abi seraya menarik napasnya.
Wajah Flora tertunduk dengan tarikan napas yang sangat berat.
Abi tidak tega melihat itu. Abi mengulurkan salah tangannya untuk menyentuh pundak Flora. "Coba kamu bicara pada Gio, apa yang sedang mengganggu pikirannya. Mungkin dia mau bicara."
"Aku sudah sering mencobanya, tapi dia tetap saja bersikap dingin pada ku dan tidak memberiku kesempatan untuk bicara," ucap Flora.
Tentu saja Abi tahu kenapa Gio melakukan hal itu.
"Berikan dia waktu untuk mencoba melupakan ...." Segera Abi menghentikan ucapnya.
"Melupakan apa?" tanya Flora.
"Bukan apa-apa. Maaf Flora aku harus pergi, aku harus mengantarkan berkas ini pada Mas Abi," ucap Abi.
"Tunggu!" Flora mengambil berkas dari tangan Abi. "Biar aku yang mengantarnya."
"Tapi ...." Ucapan Abi tertahan saat Flora lebih dulu melangkah pergi.
"Tidak apa-apa." Flora berbalik sekilas sebelum melangkah kembali.
Menurut Flora ini adalah salah satu kesempatan untuk bisa bicara dengan Gio. Tiba di depan ruangan Gio, Flora lebih dulu menarik napasnya sebelum mengetuk pintu itu. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Flora mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan Gio.
Ketika ingin bicara Flora tertegun melihat Gio yang sedang serius bekerja. Meski bukan untuk pertama kalinya melihat itu, tetapi Flora selalu saja mengangumi wajah serius Gio ketika sedang bekerja.
"Apa kamu datang ke ruangan ku hanya untuk berdiri dan melamun saja?" tanya Gio dengan nada dinginnya.
Nada dingin Gio berhasil mengejutkan Flora.
"Maaf, Pak." Flora melangkah mendekat ke meja kerja Gio. "Ini berkas yang tadi Bapak minta dari mas Abi," lanjut Flora.
__ADS_1
"Letakan saja di meja," suruh Gio tanpa mau melihat ke arah Flora.
"Baik." Flora meletakan berkas itu di meja sesuai perintah Gio.
"Silahkan kamu pergi," usir Gio.
"Pak boleh saya ...." Flora menghentikan ucapannya ada seseorang yang masuk secara tiba-tiba ke ruangan itu.
"Sayang."
Flora dan Gio menoleh ke asal suara, ternyata salah satu perempuan yang mengaku sebagai calon istri Gio datang, dia adalah Rosa. Gio beranjak dari kursinya untuk segera menghampiri Rossa.
"Hai, Sayang kamu sudah datang?" Gio langsung saja meraup bibir Rossa di depan Flora.
Flora yang melihat itu segera memalingkan wajahnya. Sungguh Flora merasa malu sendiri melihat apa yang sedang Gio dan Rossa lakukan. Tidak tahan dengan itu, Flora memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
"Maaf, saya permisi dulu."
Flora melangkahkan pergi dari ruangan itu dengan rasa kesal bahkan Flora melampiaskan kekesalannya pada pintu ruangan itu.
"Dasar orang-orang tidak tahu malu!" Setelah membanting pintu ruangan Gio, Flora kembali duduk ke meja kerjanya dan mencoba kembali berkonsentrasi bekerja.
"Yuk aku sudah sangat lapar," ajak Mutya dan segera dianggukki oleh Flora.
Flora dan Mutya ingin melangkah pergi. Namun langkah mereka terhenti saat melihat pintu ruangan atasan mereka mulai membuka. Mata Flora dan Mutya langsung melihat kemesraan Gio dan Rosa.
"Flora kosongkan jadwalku untuk hari ini," suruh Gio.
"Tapi Pak, setelah makan siang bapak ada rapat dengan perusahaan G.R Group," ucap Flora.
"Kamu bisa mengatakan pada mereka jika rapatnya dibatalkan atau kamu bisa meminta Abi untuk menggantikannya," ucap Gio dengan nada yang mulai meninggi.
"Tidak bisa, Pak. Pihak G.R Group sudah mengatakan ingin bertemu dengan Anda langsung," ucap Flora.
Gio merasa tidak senang dengan perkataan Flora. Dengan penuh amarah Gio mencengkram kedua sisi wajah Flora. Menatapnya dengan penuh amarah.
"Apa kamu ingin melanggar perintah dari ku." Tatapan Gio benar-benar mengerikan.
__ADS_1
"Tidak, Pak." Flora menjawab dengan memejamkan matanya karena merasa takut untuk melihat Gio.
"Bagus, lakukan sekarang!" Gio melepaskan cengkraman tangan dari wajah Flora secara kasar.
"Ayo Rosa kita pergi dari sini." Gio langsung menarik tangan Rosa membawanya pergi dari kantor itu.
Flora menatap kepergian Gio dengan mata basahnya. Cairan bening menetes dari matanya. Flora merasakan rasa sakit yang luar biasa, bukan sakit pada pipinya yang telah dicengkram oleh Gio, melainkan sakit pada hatinya karena perlakuan kasar yang ia terima dari Gio.
"Sudah Flora, jangan menangis." Mutya mengusap pundak Flora.
Sejujurnya Mutya sangat terkejut melihat Gio berlaku kasar pada Flora karena yang Mutya tahu selama ini Gio amatlah baik pada Flora.
"Mutya kamu pergi makan siang sendiri saja. Aku tidak lapar," ucap Flora.
"Tapi Flora ...."
"Mutya ...."
"Baiklah, kita makan di sini saja. Aku akan pesankan makanan untukmu juga," ucap Mutya.
"Terserah kamu saja," ucap Flora.
Setelah Mutya meninggalkannya, Flora kembali duduk pada kursi di balik meja kerjanya. Ingatannya kembali mengingat mata Gio yang menatapnya dipenuhi oleh amarah. Itu adalah pertama kalinya ia melihat wajah itu. Cairan bening yang tadinya hanya menetes kini mengalir deras. Flora tidak tahu apa yang membuat sahabat baiknya itu berubah.
Pekerjaan Flora selesai bertepatan dengan jam pulang kerja. Flora membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Ponselnya berdering ketika ia akan beranjak dari kursi. Ada nama Daniel tertera pada layar ponselnya. Senyum Flora mengembang sebelum menerima panggilan dari kekasihnya.
"Hallo," ucap Flora.
"Aku ada di bawah."
"Baiklah aku segera turun." Setelah mengatakan itu Flora mengakhiri panggilan itu. Flora melangkahkan cepat menuju lift untuk segera menghampiri kekasihnya.
Sementara di tempat lain dan di waktu yang sama.
Setelah melampiaskan kemarahannya pada Rosa, Gio berjalan menuju arah balkon apartemennya. Gio meninggalkan Rosa yang sedang tertidur pulas dengan tubuh polosnya. Gio menghisap batang bernikotin yang terselip di sela-sela harinya. Ingatan Gio kembali pada saat ia berbuat kasar pada Flora. Sungguh dirinya tidak bermaksud berbuat seperti itu, hanya saja rasa sakit dalam hatinya mendorong dirinya untuk melakukan hal itu pada Flora.
Gio merasa kesal ketika mendengar Flora kembali bersama Daniel. Dirinya sudah mencoba untuk menerima akan hal itu, tetapi hatinya tidak bisa menerima hal itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Flora."