
Aku mencintaimu.
Dua kata yang Gio ucapkan saat itu berhasil membuat jantung Flora berdebar. Padahal itu bukan pertama kalinya Gio mengatakannya. Sudah berulangkali Gio mengatakan kata itu, tetapi saat itu Flora menganggap hanya sebagai rayuan belaka. Namun kali ini lain, ada keseriusan pada wajah dan mata Gio.
"Kamu masih berpikir jika aku sedang bercanda, Flora?"
Flora menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang ada di hadapannya.
"Aku sudah berulang kali mengatakan padamu jika aku mencintaimu kenapa kamu tidak mempercayainya. Sekarang kamu kembali pada adikku. Apa kamu tahu hal itu sangat menyakitiku?" Gio menempelkan keningnya pada kening Violetta.
Flora makin menahan debaran jantungnya saat jarak mereka sangat dekat dan hanya di batasi oleh kain yang menempel pada tubuh mereka. Dalam jarak yang sedekat itu Flora bisa merasakan hembusan napas Gio yang makin membuat debaran jantung Flora makin tidak karuan. Flora memilih untuk memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat tatapan dari Gio.
"Maaf Gio jika aku sudah menyakiti hatimu, tapi tolong ... jangan berubah," ucap Flora.
"Kenapa? Ini caraku untuk melupakan rasa cintaku padamu," ucap Gio.
Mata Flora kembali terbuka.
"Karena aku merindukan 'Gio ku' yang yang dulu," sahut Flora.
Gio ku? Apa tidak terlalu egois menyebutnya 'Gio ku' karena pada kenyataannya Gio bukanlah miliknya.
"Gio mu? Apa arti diriku bagimu, Flora."
"Aku tidak bisa mengartikannya. Hanya saja saat ini aku merindukan Gio yang suka menggangguku, melindungiku, dan aku sangat merindukan panggilan 'sayang' yang sering kamu ucapkan kepadaku." Flora tidak tahu kenapa perkataan itu keluar dari mulutnya dengan begitu saja.
"Apa kamu pikir aku tidak merindukan semua itu. Aku rindu untuk mengganggumu, aku merindukan mu dan yang paling aku rindukan adalah wajah galakmu." Tawa kecil menghiasi bibir keduanya.
"Bisakah kita menjadi teman seperti dulu?" pinya Flora.
"Bagaimana jika aku minta lebih?" ledek Gio.
"Gio ... berhentilah untuk menggodaku." Flora mendorong bahu Gio, untuk membuat jarak diantara mereka.
"Bukankah kamu bilang rindu saat aku menggodamu?" ledek Gio diikuti tawa kecilnya.
"Kamu ...."
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu menghentikan perkataan Flora. Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu. Gio kemudian membuang napas kasar, dan mengumpat dalam hati, siapa yang berani mengganggunya.
"Aku akan membuka pintu," ucap Flora yang langsung diangguki oleh Gio.
Flora melangkah untuk membuka pintu, sedangkan Gio melangkah menuju sofa yang yang ada di sudut ruangannya. Tangan Flora bergerak untuk membuka pintu saat pintu terbuka ada Abi yang berdiri di hadapannya.
"Mas Abi, silahkan masuk," ucap Flora.
"Flora ... kamu ada di sini?" tanya Abi.
"Ya, ada sesuatu yang aku bicarakan dengan Gio," sahut Flora.
"Kalian baik-baik saja, 'kan?" Ada nada khawatir pada diri Abi.
"Ya aku baik-baik saja. Silahkan masuk aku mau pergi makan siang dulu," pamit Flora
Flora kembali ke meja kerjanya untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi Mutya. Namun, saat akan menekan nomor ponsel Mutya, ada lebih dulu panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Nomer tidak dikenal?
Karena merasa penasaran akhirnya Flora memutuskan untuk menerima panggilan itu. Flora menekan tombol hijau lalu menemplekan benda pipih itu ke dekat telinganya. Wajah Flora berubah pucat saat Flora mendengar suara seseorang dari seberang sana.
"Baik, saya akan datang," ucap Flora sebelum mengakhiri panggilan itu.
Flora masuk ke dalam cafe yang diberitahukan oleh Mariana. Saat tiba di dalam cafe, Flora mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang sedang ia cari. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Flora menemukan Mariana. Segera Flora melangkah untuk menghampiri Mariana.
"Siang, Nyonya," sapa Flora.
"Duduk!" suruh Mariana.
"Baik, Nyonya," ucap Mariana.
Flora menarik kursi tepat di harapan Mariana untuk tempat ia duduk. Ada rasa gugup bercampur cemas tumbuh dalam diri Flora.
"Apa yang anda ingin bicarakan dengan saya," ucap Flora.
"Saya juga tidak ingin berbasa-basi lagi dengan kamu. Jadi saya akan langsung pada intinya," ucap Mariana.
"Tinggalkan anak saya!" suruh Mariana.
__ADS_1
Flora tidak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Mariana. Ia sudah bisa menembak jika Mariana.
"Meskipun suami saya sudah merestui kalian, tapi sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubungan kalian," lanjut Mariana.
Flora menundukkan wajahnya seraya mencengkram kuat tas yang ada di atas pangkuannya.
"Daniel butuh pendamping yang jauh lebih baik dari kamu dan saya sudah memilihnya. Jika kamu memang menginginkan Daniel untuk bahagia ... tinggalkan Daniel sekarang juga!" ucap Mariana.
Jantung Flora seperti ditusuk belati secara berulang-ulang setelah mendengar perkataan dari Mariana. Cairan bening langsung menetes dari mata Flora.
"Kenapa anda sangat membenci saya, Nyonya?" tanya Flora. "Apa kesalahan yang lakukan yang membuat anda sangat membenci saya?"
"Saya membenci kamu karena kamu berhubungan dengan Daniel. Saya tidak suka itu dan kamu itu tidak pantas untuk anak saya," ucap Mariana.
"Tapi kami saling mencintai," kekeh Flora.
Mariana menggeleng seraya tersenyum megejek. "Daniel adalah anak saya satu-satunya, jadi saya ingin yang terbaik untuk anak saya itu ... jadi lepaskan anak saya, tinggalkan dia demi kebahagiannya," ucap Mariana.
"Jika kamu bersikeras untuk mempertahankan hubungan kalian ... maka saya pun akan bersikeras untuk memisahkan kalian," ucap Mariana.
Mariana beranjak dari kursi. "Hanya ini yang ingin saya bicarakan. Saya berharap kamu bisa mempertimbangkan apa yang saya katakan."
Mariana pergi dari cafe meninggalkan Flora dalam kesedihannya. Tiga kali, Flora sudah mendapatkan penolakan dari Mariana. Bodoh! Sebutan itu rasanya pantas diberikan pada Flora.
Apa salahnya sebenarnya? Flora hanya merasa sangat mencintai Daniel. Saat Ardi mengatakan akan merestui hubungannya dengan Daniel, Flora merasa ada lampu hijau untuk hubungannya dengan Daniel. Namun siapa sangka Mariana masih bersikeras tidak akan merestui hubungan mereka.
Rasanya Flora ingin menyerah saja dengan hubungannya dengan Daniel. Sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi untuk dirinya dan Daniel. Flora menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan rasa sesak yang ada pada dadanya. Setelah itu Flora mengusap air matanya dan segera kembali ke tempat ia bekerja.
"Flora kamu dari mana saja? Aku nungguin kamu di kantin, katanya mau nyusul," tanya Mutya.
"Maaf, tadi aku buru-buru mau bertemu dengan seseorang jadi aku gak sempet kasih kabar ke kamu," sahut Flora.
"Siapa? Daniel ya," ledek Mutya.
"Aku duluan ya," ucap Flora tanpa mau menjawab pertanyaan dari Mutya.
Flora masuk ke dalam lift lebih dulu untuk menuju tempat kerjanya. Flora keluar dari dalam lift setelah sampai di lantai yang ia tuju dengan wajah murung. Dan wajah murung itu tidak sengaja terlihat oleh Gio.
"Wajah murung itu tidak cocok dengan wajah galak mu itu, Sayangku."
__ADS_1
Flora mendongak saat mendengar suara Gio. Tanpa ingin membalas ejekan Gio, Flora langsung memeluk tubuh Gio.
"Bantu aku untuk berpaling dari Daniel."