
Bertemu dengan suaminya setelah berpisah beberapa bulan, dalam keadaan yang penuh ketidakpastian membuat Flora tidak ingin memejamkan matanya. Flora takut jika saat ia memejamkan mata dan kembali membukanya, suaminya akan kembali hilang.
Sama halnya dengan Flora, Gio pun merasa sangat senang bisa bertemu kembali dengan istri yang sangat ia cintai. Gio sempat berpikir tidak akan pernah bertemu dengan istrinya lagi. Masih teringat jelas saat Daren ingin mengirimnya bertemu dengan mamanya dan juga papanya.
Flora dan Gio merebahkan tubuh mereka di atas satu ranjang rumah sakit yang berukuran kecil. Membuat tidak ada jarak di antara mereka.
Ruangan yang cukup besar itu terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara dentingan jarum jam yang bergerak. Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, tetapi keduanya masih terjaga.
“Kenapa belum tidur?” tanya Gio saat melihat mata istrinya masih terjaga.
“Kamu juga belum tidur,” balas Flora.
“Aku kan lagi nungguin kamu, takut kamu butuh sesuatu,” ucap Gio.
“Kalau sudah ada kamu di sisiku
... aku tidak butuh apapun lagi,” ucap Flora.
Gio terkekeh mendengar perkataan Flora. Gio mengubah posisi tidurnya, memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Flora.
“Sudah pinter gombal ya.” Gio menarik hidung Flora karena merasa gemas.
Flora menarik tangan Gio lalu mengecup punggung tangannya. Perasaan rindu, cinta seolah ia utarakan dari kecupan itu.
“Apa selama ini kamu baik-baik saja?” tanya Gio.
“Apa aku bisa baik-baik saja tanpa dirimu. Aku bertahan demi anak kita ini?” ucap Flora.
“Jujur ... aku pun merasa takut saat itu. Aku takut tidak akan bisa bertemu lagi denganmu. Tapi Tuhan maha baik, Dia masih memberikan aku kesempatan hidup dan untuk bertemu lagi denganmu,” ucap Gio.
“Tuhan belum bisa menerimamu, karena kamu masih punya hutang janji yang banyak sama aku,” ledek Flora diikuti tawa kecilnya.
“Terus saja ngeledekin suami kamu,” ucap Gio diikuti tawa Flora.
“Tapi ... bagaimana dengan rencana pernikahanmu dengan Bella?” tanya Flora.
“Itu jelas tidak akan pernah terjadi. Aku akan bicara pada om Mahendra setelah kamu pulang dari rumah sakit,” ucap Gio.
“Aku ikut.” Flora berucap dengan sangat cepat.
“Gak boleh. Kamu harus banyak istirahat di rumah,” larang Gio.
“Aku tetap akan ikut. Kalau aku gak ikut kamu gak boleh pergi,” ucap Flora.
Eh?
Gio menaikan satu alisnya, apa yang terjadi dengan istrinya?
“Kalau aku gak ikut, kamu nanti punya kesempatan untuk deket-deket sama Bella,” tuduh Flora.
__ADS_1
Oke! Kini Gio mengerti, istrinya sedang merasa cemburu.
“Baiklah, kamu boleh ikut,” ucap Gio seraya menghela napasnya.
Lebih dari empat bulan tidak bertemu dengan istrinya, ternyata kecemburuan istrinya masih tetap sama.
Obrolan tentang Bella mereka hentikan. Mereka mengganti topik pembicaraan. Kini mereka membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mengenang masa lalu indah mereka.
Tidak jarang keduanya tertawa di sela obrolan mereka. Sampai rasa kantuk datang ke diri Flora, membuat perempuan hamil itu tertidur begitu saja.
Gio tidak lagi mendengar tawa Flora, saat menoleh ternyata istrinya sudah tertidur. Gio mengusap sisi wajah istrinya sebelum mengecup pipinya.
Tangan Gio lalu bergerak turun menuju ke perut Flora. Diusapnya perut buncit istrinya dan tidak lama Gio merasakan pergerakan dalam perutnya.
“Anak papa belum tidur?” ucap Gio seolah anaknya bisa merespon ucapannya.
Mata Gio masih terjaga, masih betah melihat pemandangan indah di hadapannya yaitu wajah cantik isterinya. Gio terus mengusap-usap perut istrinya sampai akhirnya Gio tertidur di samping istrinya.
*****
Keesokan harinya.
Flora membuka matanya dengan cepat saat tangannya tidak merasakan keberadaan suaminya. Saat matanya terbuka, Flora justru hanya mendapati keberadaan ibunya.
“Bu ...,” panggil Flora.
“Gio mana, Bu?” tanya Flora penuh keraguan.
Flora kembali berpikir jika kejadian semalam hanyalah mimpi.
“Suamimu sedang ke kantin bersama Daniel,” jawab Seruni.
“Hufff.” Flora menarik napas lega ternyata semalam itu kenyataan bukan hanya khayalannya saja.
“Dia gak akan kemana-mana lagi, Flora,” ledek Seruni.
“Ibu ....” Flora tersenyum malu.
Pintu ruangan itu terbuka, muncul Mariana dan Ardi dari balik pintu itu.
“Flora, mana Gio?” tanya Mariana dengan wajah cerianya.
“Lagi di kantin sama Daniel, Jeng,” jawab Seruni.
“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan keponakanku itu,” ucap Ardi. “Syukurlah dia selamat.”
“Ayo silahkan duduk,” ucap Seruni.
Ardi mengangguk dan duduk di sofa, sedangkan Mariana menghampiri Flora.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi kamu?” tanya Mariana.
“Baik, Tante,” jawab Flora.
“Kamu harus jaga kondisi kamu juga kehamilan kamu,” pesan Mariana yang langsung diangguki oleh Flora.
Bersamaan dengan itu, Daniel dan Gio masuk ke dalam ruangan itu.
“Mah, Pah, kalian sudah sampai,” ucap Daniel.
Ardi dan Mariana tidak menjawab pertanyaan Daniel, tetapi justru mereka fokus pada Gio.
Suasana di ruangan rawat Flora sedang sedikit mencekam. Mariana sedang menatap wajah Gio penuh curiga.
“Kamu beneran Gio?” tanya Mariana.
Gio lagi-lagi menghela napasnya. Sudah sekian kalinya Mariana bertanya seperti itu dan Gio pun sudah berulang kali menjawabnya dengan kata 'iya'.
Sudah berulangkali juga Mariana memberikan pertanyaan pada Gio dan juga sudah dijawab oleh Gio dengan benar, tetapi sepertinya wanita itu belum puas.
“Tante ... aku ini Gio,” jawab Gio lagi. “Tapi aku belum tahu kenapa dan bagaimana wajahku bisa berubah.”
“Tapi Tante lebih suka wajah kamu yang sekarang,” ucap Mariana. “Lebih ganteng. Jadi gak kelihatan tengil kaya dulu.”
Gio mendengkus kesal, ucapan Mariana lebih tepat disebut ejekan bukan pujian.
Pandangan Mariana beralih pada Daniel yang sedang duduk di sofa. “Daniel dulu kamu kalah ganteng sama Gio. Dan sekarang kamu makin ketinggalan jauh gantengnya dari Gio.”
Daniel yang mendengar perkataan Mariana hanya bisa mendengkus. Menurut Daniel, mamanya itu selalu saja membandingkan kadar ketampanannya dengan Gio dan dirinya selalu saja diletakan ditempat yang kalah.
“Ya sudah besok aku ikut oplas saja deh, Mah.” Daniel berucap sebagai bentuk protes dari dirinya.
“Enak saja! Awas saja jika kamu berani melakukan itu. Wajah kamu ini mengingatkan mama sama papa kamu waktu masih muda tahu,” protes Mariana dan dibalas cibiran oleh Daniel.
“Jadi awas kalau sampai kamu berani meng-oplasnya.” Mariana menoyor kepala Daniel, membuat semua orang tertawa.
“Apapun itu yang terpenting dia adalah Gio,” ucap Seruni.
“Ya itu benar,” sambung Mariana yang diangguki setuju oleh Semua orang.
“Lalu bagiamana dengan Daren?” tanya Ardi.
“Abi dan om Adam sudah membawanya kembali ke Amerika. Dia akan mendapatkan hukuman di sana,” jawab Gio.
“Tuntut dia dengan hukuman yang berat. Ibu dan anak sama saja jahatnya,” maki Mariana.
“Itu pasti, Tante,” ucap Gio. “Aku tidak bisa memberinya ampun kali ini,” lanjut Gio.
Nasib Bella bagaimana ya dan Kenapa Gio bisa oplas, tunggu di bab selanjutnya.
__ADS_1