Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Gadisku Yang Galak


__ADS_3

**Maaf jika masih banyak typo.


Happy reading all**


"Astaga … siapa lagi perempuan itu?


Flora merasa gemas pada seorang laki-laki yang sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Gio. Kemarin Flora melihat Gio bermesraan dengan perempuan seksi bernama Bianca dan sekarang Flora melihat Gio berjalan dengan mesra dengan perempuan lain.


Flora masih berdiri di depan toko yang menjual pakaian bayi, pandangannya mengarah pada Gio dan juga perempuan yang sedang dia gandeng. Tatapannya sangat tidak suka bahkan terkesan muak.


"Dasar playboy," gerutu Flora.


Flora melihat perempuan yang bersama Gio memisahkan dirinya dari Gio untuk menerima panggilan di ponselnya. Flora merasa itu kesempatannya untuk mendekat pada Gio.


Dengan rasa tidak suka Flora menarik lengan kekar Gio. "Siapa lagi perempuan itu?" tanya Flora tanpa basa-basi.


Gio yang merasa ada yang menarik tangannya langsung menolehkan pandangannya ke samping. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Flora ada di sampingnya.


"Hei, gadisku yang galak," ucap Gio.


"Diam kamu!" Flora mendorong wajah Gio dengan telapak tangannya membuat Gio terkikik geli di baliknya.


"Siapa lagi perempuan itu?" ulang Flora.


"Dia?" Gio menunjuk perempuan yang sedang menemani malam Minggunya.


"Iya jelas memangnya siapa lagi? Apa kamu membawa perempuan lain juga?" sindir Flora.


Ya ampun menggemaskan sekali saat dia sedang marah. Kalimat itulah yang sekarang ada di benak Gio.


"Kenapa hanya diam, kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Flora dengan nada ketus.


"Dia Rosa, Sayangku," jawab Gio.


"Apa dia pacarmu juga? Berapa banyak pacar yang kamu punya?" tanya Flora dengan nada kesal.


Gio tergelak saat melihat wajah galak Flora, wajah kesukaannya. "Aku tidak tahu karena aku tidak menghitungnya," jawab Gio nyeleneh.


Flora berdecak kesal. "Dasar kamu ini."


Gio tertawa geli jika melihat wajah garang Flora. Baginya wajah galak Flora tidak menakutkan tetapi justru menggemaskan.


"Sayang …."


Mata Flora melihat Rosa sedang melangkah ke arahnya dan Gio. Flora langsung menarik tangannya yang melingkar di lengan Gio.


"Eh, Sayang dia siapa?" tanya Rosa.


Flora bisa melihat ada api di mata Rosa.


Rosa langsung menarik lengan Gio dan menjauhkannya dari Flora. Kini Rosa yang berdiri di antara Gio dan Flora.


"Hei, kamu …." Rosa menunjuk Flora dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah berani mendekati calon suamiku," gertak Rosa.


"Hah calon suami?" Mata Flora memicik tajam ke arah Gio yang ada di balik tubuh Rosa.


Gio segera menggeser tubuh Rosa membuat Gio ada diantara Flora dan juga Rosa.


"Sayang jangan salah paham. Dia Flora, sekretaris papah. Kami tidak sengaja bertemu dan sedikit membicarakan kerjaan. Iya 'kan, Flora?"


"Hmmm." Flora tersenyum manis tetapi bagi Gio senyum Flora sangat mengerikan.

__ADS_1


"Oh." Hanya itu respon dari Rosa. "Ini peringatan buat kamu … jangan coba-coba berani menggoda calon suamiku di kantor ya! Jika kamu berani menggodanya, aku akan membuat perhitungan denganmu," ancam Rosa.


"Aku tidak berminat padanya," balas Flora.


"Bagus kalau begitu." Rosa melingkarkan tangannya ke lengan Gio lalu mengajaknya pergi. "Ayo Sayang kita sebaiknya pergi dari sini," ajak Rosa.


"Sayang bisakah kamu pergi dulu? Aku masih ada sedikit yang urusan dengan sekertaris papaku ini," ucap Gio.


"Baiklah, tapi cepat menyusul ku di toko perhiasan langganan ku!" balas Rosa.


"Baiklah, Honey."


Ugh, Perut Flora rasanya sangat mual mendengar apa yang baru saja Gio ucapkan.


Flora menatap kepergian Rosa dan disaat bayangan Rosa sudah tidak terlihat di matanya, Flora kembali menarik lengan Gio yang langsung otomatis mengikis jarak diantara mereka.


"Berapa banyak calon istri yang kamu punya?" tanya Flora dengan nada ketusnya.


Gio menarik tangannya dari Flora lalu melingkarkan tangannya ke pundak Flora.


"Mereka sendiri yang mengaku seperti itu," jawab Gio.


Flora menyikut tubuh Gio, "Alasan saja. Dasar Playboy."


"Tapi jika kamu mau menjadi pacarku, aku akan membuang mereka semua dan akan ku jadikan kamu ratu di hatiku," rayu Gio.


"Jangan bermimpi." Flora melangkah untuk membuat jarak diantara mereka. "Sudah pergi sana! Jangan membuat calon istrimu itu menunggu."


Tanpa menunggu perkataan Gio selanjutnya, Flora melangkah meninggalkan Gio dan masuk ke dalam salah satu toko di pusat perbelanjaan itu untuk menyusul ibu dan sahabatnya.


Gio sendiri masih berdiri sambil memperhatikan bayangan Flora sampai lenyap dari matanya.


Gio berdecak ,"Gadisku yang galak," guman Gio.


Flora masuk ke dalam toko pakaian bayi sambil ngedumel tidak jelas dan itu terlihat oleh Tiara.


"Flora kamu dari mana saja aku mencarimu dari tadi?" tanya Tiara.


Flora diam dan terlihat enggan menjawab pertanyaan dari Tiara.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Tiara.


Tiara menempelkan punggung tangannya ke kening Flora. "Tidak panas."


"Isssh, Mbak … aku baik-baik saja," sahut Flora seraya menyingkirkan tangan Tiara dari wajahnya.


"Aku khawatir karena aku tadi melihat kamu bicara sendiri," ucap Tiara. "Aku pikir kamu-"


"Tidak waras," sela Flora.


Tiara mengangguk dan tertawa geli.


Flora menghela nafas dengan kasar, "Tadi aku ketemu sama Gio, dia jalan sama perempuan yang ngaku calon istrinya," sahut Flora.


"Bagus dong berati dia sudah sadar," ucap Tiara.


Tiara dan Flora mengobrol sambil memilih beberapa pakaian bayi.


"Sadar dari mana? Kemarin ada perempuan datang ke kantor dan mengaku sebagai calon istrinya juga." Nada bicara Flora sudah mulai kesal.


"Memangnya kenapa jika Gio punya banyak calon istri. Kamu keberatan?" ledek Tiara.

__ADS_1


"Tidak, siapa yang keberatan? Dia mau jalan sama siapa saja mau nikah berapa kali pun aku tidak peduli," sahut Flora.


"Terus kenapa kamu kelihatan kesal? Cemburu?" ledek Tiara.


"Amit-amit deh Mbak."


Tiara tertawa, "Masa?" ledek Tiara.


"Mbak …." Flora bertolak pinggang serta memberi tatapan mematikan pada Tiara.


Tiara tidak takut melihat tatapan mengerikan Flora. Tiara justru tergelak melihat itu.


"Sudahlah Flora kita temui ibumu lalu setelah itu kita malam malam. Mas Adit sedang jalan ke sini, kita tunggu di food court saja," ajak Tiara yang langsung diangguki oleh Flora.


Flora bersama Tiara membayar tagihan belanja baju untuk calon bayi Tiara. Setelah membayar, Flora dan Tiara menghampiri Seruni yang sedang duduk di kursi tunggu yang sudah disediakan di toko itu.


"Ibu nunggu lama ya?" tanya Tiara. "Maaf ya, Bu."


"Tidak apa-apa Tiara, ibu jadi bisa sekalian lihat-lihat," balas Seruni.


"Ya sudah kita langsung saja ke food court yuk!" ajak Flora.


Ketiganya keluar dari toko pakaian bayi itu lalu melangkah secara beriringan menuju food court yang ada di lantai atas. Namun tiba-tiba Seruni melihat sosok yang sangat ia kenali meskipun sudah 25 tahun tidak bertemu sedang berjalan di sebrang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Ferdi …," gumam Seruni.


Seruni berdiri mematung matanya terus melihat ke sosok laki-laki yang ia yakini sebagai ayah dari Flora.


Seruni ingin berlari namun kakinya serasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Ingin berteriak memanggil laki-laki itu, tetapi suaranya seperti tertahan di kerongkongannya. Hal yang bisa dilakukan Seruni saat ini hanyalah memandang laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Flora yang sedang melangkah sambil mengobrol dengan Tiara tidak sadar jika ibunya masih tertinggal. Ketika mata Flora tidak menemukan keberadaan ibunya seketika Flora menjadi panik.


"Ibu …? Mana ibu, Mbak." Flora melihat ke sana kemari untuk mencari sosok ibunya.


"Tadi ibu di sebelah kamu, 'kan?" ucap Tiara.


"Iya, Mbak, tetapi aku tidak tahu lagi," sahut Flora panik.


"Jangan panik, kita balik ke toko tadi saja!" ajak Tiara yang langsung diangguki oleh Flora.


Flora dan Tiara berbalik ke arah toko pakaian bayi yang baru saja mereka kunjungi. Keduanya panik ketika mata mereka belum juga menemukan sosok Seruni.


"Itu ibu, Flo." Jari telunjuk Tiara menunjuk ke arah Seruni yang masih berdiri tidak jauh dari toko pakaian bayi yang baru mereka kunjungi.


Flora menarik nafas lega lalu berjalan mendahului Tiara untuk menghampiri ibunya.


"Ya ampun, Bu. Apa yang sedang ibu lakukan di sini? Aku kaget pas gak liat ibu," ucap Flora.


Tidak ada sahutan dari ibunya.


Flora mengikuti arah pandang ibunya, dirinya tidak tahu apa yang sedang ibunya lihat.


"Bu …." Flora menepuk pundak ibunya, membuat ibunya terkejut.


"Flora … kamu?" Seruni. menoleh ke arah anaknya kemudiaan kembali menoleh ke laki-laki yang ia yakini sebagai ayah dari anaknya.


"Ibu lagi lihat apa sih?" tanya Flora.


"Itu, ayah kamu …," ucap Seruni dengan bibir yang bergetar. Tangannya menunjuk seorang laki-laki yang sedang berjalan di seberang lantai itu.


Ayah?

__ADS_1


Jantung Flora bergetar begitu hebat saat ibunya mengatakan sosok ayah.


__ADS_2