Aku Ingin Dicintai

Aku Ingin Dicintai
Bab 190


__ADS_3

Jangan ditanya perasaan Felicia bagaimana saat Kenzo membawanya masuk ke dalam kantor dengan cara menggendongnya. Wajah Felicia bersemu merah, apalagi saat matanya melihat ada banyak karyawan di kantor suaminya menggunjingkan dirinya.


"Ck, kami suami istri, bukan pasangan selingkuh." Felicia membatin sendiri.


"Kenzo tolong biarkan aku turun," pinta Felicia.


"Bagaimana dengan luka di lututmu?" tanya Kenzo.


"Ini tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ucap Felicia. "Tolong turunkan aku ... aku malu. Banyak karyawanmu yang melihat ke arah kita."


"Memang kenapa? Kamu itu istriku." Kenzo menolak untuk menurunkan Felicia.


"Aku tahu. Tapi ... ini di tempat umum," ujar Felicia.


"Baiklah, akan aku turunkan." Kenzo memenuhi permintaan Felicia. Ia menurunkan Felicia saat akan masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi di perusahaannya.


"Awww!" Felicia memekik saat kakinya menyentuh lantai.


Felicia mencoba berjalan, tetapi rasa sakit di lututnya justru makin terasa.


"Dasar keras kepala," omel Kenzo.


"Tadi rasanya tidak sesakit ini," cicit Felicia.


"Sekarang mau aku gendong atau jalan sendiri dengan lututmu yang terluka itu?" tanya Kenzo.


Felicia menundukkan wajahnya, ia malu untuk mengatakan secara langsung pada Kenzo. Dengan anggukan kepalanya Felicia mengisyaratkan jika dirinya memilih untuk digendong saja.


Tubuhnya kembali melayang di udara. Kali ini Felicia tidak akan memaksa untuk turun. Masa bodo dengan pandangan karyawan suaminya. Felicia membenamkan wajahnya di perpotongan leher suaminya untuk menyembunyikan wajahnya.


Wangi maskulin parfum milik suaminya masuk ke dalam hidungnya, rasanya sangat menenangkan pikirannya. Wangi dari parfum itu membuat Felicia terasa betah di dalam gendongan suaminya.


Mata Felicia yang sempat terpejam kini terbuka saat ia merasakan tubuhnya mulai jauh dari tubuh suaminya. Ternyata mereka sudah sampai di ruangan kerja Kenzo. Tubuhnya kini berpindah pada sofa panjang yang ada di ruangan suaminya. Felicia berdecak, rasanya ia tidak rela saat tubuhnya jauh dari Kenzo.


Kenzo sendiri tidak fokus pada rasa kesal yang sedang istrinya rasakan. Ia hanya memikirkan luka yang dialami oleh istrinya.


Kenzo duduk dengan menekuk kedua kakinya di hadapan Felicia. Ia perhatikan luka yang ada di kedua lutut kaki istrinya. Di sebelah kiri lukanya tidak serius hanya memar yang terlihat, sedangkan lutut sebelah kanan lukanya cukup serius ada darah segar yang mengalir di sana.


"Alan tolong ambil kotak p3k di laci meja kerjaku," perintah Kenzo.


"Baik, Pak." Alana berjalan ke dekat meja kerja Kenzo dan membuka salah satu laci yang ada di tempat itu. Diambilnya barang yang ada di dalamnya, sebuah kotak p3k.


Alan kembali ke dekat atasannya untuk memberikan barang yang diminta oleh atasannya. "Ini, Pak."


Kenzo menerima kotak p3k yang diberikan oleh asisten pribadinya. Kotak p3k itu mulai dibuka oleh Kenzo, ia ambil kapas dan juga cairan antiseptik.


Sebelum mengoleskan kapas yang sudah diberi cairan antiseptik mata Kenzo memicik ke arah Alan.


"Apa kamu menunggu perintah dariku untuk meninggalkan ruangan ini?" tanya Kenzo.


Alan tahu jelas apa maksud dari perkataan atasannya. Segera Alan melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan pasangan suami-istri itu.

__ADS_1


"Jangan galak-galak sama bawahanmu. Bagaimana jika nantinya dia meninggalkan dirimu," ejek Felicia.


"Tutup mulutmu. Atau aku yang akan menutupnya." Kenzo berucap lirih, tetapi terdengar begitu menyeramkan.


Felicia membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangannya. Tatapan mata suaminya sangat menggoda dan juga mengerikan.


Salah satu sudut bibir Felicia naik ke atas, ia meringis merasakan perih saat cairan antiseptik menempel di kulitnya yang terluka.


"Pelan-pelan ... ini sakit," rengek Felicia.


"Kenapa kamu bisa seperti ini?" Kenzo bertanya seraya meniup luka di lutut istrinya.


"Aku sedang jalan di trotoar waktu aku mau ke sini. Tapi aku merasakan ada yang ada yang menabrakku. Dan jadilah aku seperti ini," jelas Felicia.


"Menabrakmu, siapa?" tanya Kenzo.


"Mana aku tahu," jawab Felicia.


"Tempat itu sangat ramai. Tapi ... apa kamu tahu? Aku merasa sangat kesal pada saat itu, aku jatuh dan tidak ada yang mau menolongku," jelas Felicia.


"Sudahlah, jangan dipikirkan." Kenzo menempelkan plester ke lutut Felicia yang terluka.


"Apa masih sakit?" tanya Kenzo.


"Sudah mendingan," jawab Felicia.


Tanpa Felicia duga Kenzo mencium lututnya yang terluka. Felicia tidak bisa bicara apapun saat itu dirinya berada di antara rasa terkejut dan juga bahagia.


"Ada apa?" tanya Kenzo.


"Duduklah di sini." Felicia menepuk sofa sebelah kanannya.


Kenzo berdiri lalu berpindah duduk di samping Felicia. Pandangannya mengarah ke istrinya. Ia melihat Felicia diam seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tahan.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan," suruh Kenzo.


"Emmm, sepertinya nanti malam aku tidak bisa ikut ke acara reuni kamu," ucap Felicia.


"Kenapa?" tanya Kenzo.


"Kakiku rasanya masih sakit," terang Felicia.


"Ya sudah kalau begitu aku juga tidak akan datang," imbuh Kenzo.


"Kenapa kamu tidak datang. Itu kan acara reuni sekolah kamu dulu," tanya Felicia.


"Kamu tidak ikut jadi untuk apa aku datang. Apa yang bisa aku lakukan di sana tanpamu?" jawab Kenzo.


"Di sana ada banyak temanmu. Kamu bisa mengobrol dengan mereka," ucap Felicia.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Lagipula itu acara yang tidak penting," ucap Kenzo.

__ADS_1


"Apa karena ada Vera jadi kamu tidak ingin datang?" tanya Felicia.


"Kenapa kamu memiliki pikiran seperti itu?" Kenzo balik bertanya kepada Felicia.


"Hanya menebak saja," jawab Felicia.


"Oh iya kabar Vera bagaimana ya? Waktu itu Vera tidak ingin kembali ke rumah suaminya? Apa dia baik-baik saja. Kira-kira kamu tahu tidak?" Felicia sengaja bertanya mengenai Vera untuk melihat reaksi Kenzo.


Jika benar Kenzo bertemu Vera di belakangnya pasti akan terlihat kegugupan di diri Kenzo.


"Mana aku tahu. Semenjak saat itu aku tidak pernah lagi menemuinya. Kalau kamu ingin tahu bagaimana keadaannya datang saja ke rumahnya, kenapa malah jadi bertanya padaku," ucap Kenzo.


"Karena aku pikir kamu pernah bertemu dengannya," aku Felicia.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya setelah malam itu," ucap Kenzo.


"Iya aku percaya." Bagaimana tidak percaya jika Kenzo mengatakannya dengan penuh keyakinan dan Felicia bisa melihat itu.


Jika Vera berani membohongiku ... aku akan membuat perhitungan dengannya.


"Jangan bahas orang lain lagi. Itu bisa menghancurkan suasana di sini," suruh Kenzo yang langsung diangguki oleh Felicia.


"Kamu sudah makan?" tanya Kenzo.


"Belum," jawab Felicia dengan menggelengkan kepalanya.


"Mau makan siang bersama?" tanya Kenzo dibalas anggukan kepala oleh Felicia dengan cepat.


"Kita makan di sini saja ya. Kakiku masih terasa sakit jika digunakan untuk berjalan," ucap Felicia.


"Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Kenzo.


"Rujak," jawab Felicia.


Melihat raut wajah suaminya Felicia tahu jika suaminya tidak menyetujui keinginannya. Sudah saatnya Felicia mengeluarkan jurus rayuannya.


"Please ...." Felicia memohon dengan memasang wajah imut, dengan tangannya yang menyatu.


"Cuaca di luar sangat panas. Makan rujak terasa sangat enak," rayu Felicia.


Melihat binar di wajah istrinya tidak mungkin bagi Kenzo untuk menolaknya.


"Baiklah, aku akan meminta Alan untuk membelikannya," ucap Kenzo.


"Terima kasih, Suamiku." Felicia memeluk dan mencium pipi Kenzo.


Namun, tanpa Felicia duga Kenzo menahan tengkuknya. Pandangan mereka bertemu pada satu garis lurus.


Ibu jari Kenzo bergerak di bibir Felicia. "Bukan begitu caranya untuk berterima kasih pada suamimu."


"La-lu harus ba-gai-ma-na?" Felicia bicara gagap karena merasa gugup.

__ADS_1


"Begini." Kenzo menarik tengkuk dan meraup bibir Felicia.


__ADS_2