BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Bidadari


__ADS_3

Ceklek,,,


Aku mengunci pintu kamar pengantin kami. Chaira nampak canggung dan masih berdiri di dekat pintu.


" beristirahatlah dulu. Aku ingin mandi sebentar" ucapku padanya dan segera beranjak begitu mendapatkan anggukan darinya


Begitu menutup pintu kamar mandi aku langsung berkali kali menarik dan menghembuskan napasku. Aku benar benar merasa kikuk berdua saja dalam kamar seperti ini bersamanya. Rupanya apa yang dibayangkan kedua sahabatku kemarin menjadi kenyataan. Aku tertawa sendiri ingat kata kata mereka.


Hampir setengah jam membersihkan diri aku keluar hanya mengenakan handuk piyama. Ku beranikan diri mendekati Chaira yang tengah berdiri di dekat jendela memandang ke pemandangan malam kota ini. Ku redakan debaran jantungku sendiri. Ku tarik napas dalam dalam. Baru dengan perlahan ku beranikan diri memeluk pinggangnya.


Chaira tersentak ingin melepaskan diri namun sesaat kemudian diam tak menolak. Sepertinya dia sudah ingat bahwa kami sudah sah menjadi suami istri jadi tidak ada lagi yang melarang aku menyentuhnya. Kurasakan jemarinya mulai diletakkan di tanganku yang masih melingkar di pinggangnya.


"assalamualaikum istriku" bisikku lembut


Chaira mengusap lembut tanganku.


"waalaikumsalam suamiku" suara lembutnya sungguh menggodaku.


Chaira melepaskan tanganku kemudian mengambil sebuah buku kecil dari dalam tasnya. Dia memberikannya padaku.


"aku nohon ijin mandi dulu. selama aku mandi mulailah membaca dan menghafal doa yang sudah ku tulis disitu" dia meninggalkanku yang masih tak mengerti dan masuk ke kamar mandi. Kudengar dia sudah memulai mandinya.


Aku duduk dan membuka buku itu.


"Doa sebelum menggauli istri" aku mengangkat alisku sebelah


"apa ada doanya juga?" batinku yang berusaha mengingat ingat pelajaran agama


Sejurus kemudian aku memandang pintu kamar mandi dan tersenyum. Aku mulai membaca doa itu dan berusaha menghafalnya. Aku juga mencari tau lewat internet apa saja yang disunahkan saat akan menggauli istri. Sibuk menghafal doa ku dengar pintu kamar mandi dibuka. Chaira keluar masih tetap mengenakan busana lengkapnya. Aku sedikit heran melihatnya. Sebelumnya aku membayangkan dirinya keluar sudah dengan piyama sepertiku tadi. Ada segelintir rasa kecewa menyerangku. Aku sungguh tak mengerti dengan sikap Chaira. Bukankah seharusnya dia menggodaku di malam pertama kami ini?

__ADS_1


Chaira duduk di tepi ranjang yang penuh bertaburan bunga. Dia menatapku yang masih membeku di sofa. Dia menepuk tepi ranjang dan memberiku kode mendekat padanya. Aku merasa sedikit malas karena aku terlanjur kecewa. Tapi ku dudukkan saja diriku tepat di sebelahnya


"Sayang" dia memanggilku lembut sembari memegang kedua belah telapak tanganku yang langsung dibimbingnya untuk menyentuh kedua pipinya


Aku menoleh padanya dengan pandangan semakin tak mengerti.


"Dari kecil Chaira terbiasa mengenakan hijab,,, hingga detik ini. Chaira berusaha menjaga agar tak sembarang pria melihat apa yang Chaira miliki dibalik hijab ini. Hari ini kamu resmi menikahi aku. maka sudah menjadi hakmu untuk melihat apa yang ingin kamu lihat. Aku bahagia dan bangga bisa menyimpannya hanya untukmu imamku." Chaira menyelesaikan kata demi kata yang terdengar sangat menyejukkan hatiku dan mampu mengusir rasa kecewa ku tadi.


Aku seolah mengerti apa yang Chaira mau saat tanganku dibimbingnya menyentuh tali pengikat cadar itu. Dia memejamkan matanya seolah bersiap mempertontonkan semua miliknya hanya padaku. Saat ini yang ku rasakan hanyalah debaran jantungku yang kian menjadi jadi. Rasa bangga seolah olah menjadi pria istimewa yang diperbolehkan pertama kali melihat miliknya membuat tanganku gemetaran saat menarik lepas cadar itu. Perlahan lahan ku buka dan ku lepaskan.


Degggg,,,,


Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.. apa aku mimpi???


Ku beranikan diri membuka bross didagunya agar bisa melepas kerudunga lebarnya. Aku masih harus bersabar saat dibalik kerudung itu masih ada lagi kain penutupnya. Ku buka pelan dan aku kembali terbelalak melihat apa yang ku lihat saat ini.


Rambut hitam itu terurai panjang hingga menyentuh ranjang kami,,, alis tebal melengkung,,, hidung mancung,,, pipi yang tirus,,, bibir mungil berwarna pink,,, dan sepasang mata masih terpejam itu,,,


Aaahhh Chaira,,, kamu begitu ayu.


Aku mengangkat dagu itu pelan.


"buka matamu sayang" pintaku lirih


Chaira perlahan membuka matanya. Dan sekali lagi mata itu begitu membuatku terpukau. Wajah ayu didepanku itu kini benar benar terlihat sempurna nyaris tak ada cacatnya.


"Terima kasih tuhan untuk menciptakan bidadari ini untukku" batinku


Ku pegang kepala istriku itu dan aku mulai membaca doa yang sedari tadi ku hafal. Chaira kembali memejamkan matanya saat aku menyelesaikan doaku. Dibukanya lagi nata indahnya itu kemudian dia berdiri tepat didepanku dan tersenyum. Aku mengerti.

__ADS_1


Aku pun berdiri dan tanganku kembali gemetar saat mulai membuka kancing gamis di tengkuknya. Untung saja hanya ada satu kancing disitu. Kutarik gamis itu naik perlahan hingga melewati lututnya yang masih terbalut kaus kaki panjang. Semakin naik kali ini aku bisa melihat kulit pahanya yang putih mulus.


Aku tersentak melihat pemandangan itu hingga gamis itu terlepas dari tanganku dan jatuh kembali. Chaira meraih tanganku dan mengarahkannya lagi ke tubuhnya.


"Lakukan saja sayang. Aku sudah sah menjadi milikmu" ujarnya lembut


Perkataannya itu seperti kekuatan bagiku yang sejak tadi gemetaran ini. Kali ini aku sudah tak bisa bersabar lagi. Ku tarik cepat kain itu hingga keatas. Chaira membantuku melepaskan baju penutupnya hingga akhirnya tubuhnya setengah terbuka. Hanya ada bra dan cd serta kaos kakinya saja. Chaira melepaskan sendiri semua yang tersisa itu untukku yang hanya berdiri mematung terlalu tidak percaya dengan apa yang ku lihat ini.


Semua ini terlalu indah terlebih lagi saat tubuh mulusnya itu sudah tidak terbalut apa pun. Chaira malu ku pandangi seperti itu. Dia menuju ranjang kami lalu merebahkan tubuhnya disana. Aku segera tersadar bahwa aku harus memulainya.


Aku mulai mencium bibirnya lembut. Lalu setiap inchi bagian tubuhnya pun tak ada yang ku lewati. Aku sangat terpesona padanya. Pemandangan indah ini tak akan pernah ku lupakan.


Chaira milikku seorang.


Chaira yang malam itu dengan ikhlas menyerahkan jiwa raganya padaku.


Chairaku,, Bidadariku,,,


Aku berusaha sebaik mungkin memberikan nafkah batin pertama untuknya malam itu. Dengan segala keterbatasan yang ku punya karena kami sama sama baru pertama kali melakukannya .


Malam itu tak hanya sekali kami mereguk kenikmatan duniawi sebagai suami istri. Kami menyatukan tak hanya jiwa namun raga kami malam itu bagaikan tak ada puasnya.


Aku tersenyum menatap bidadariku yang terbaring tanpa sehelai benang pun itu. Matanya sayu menatapku. Aku tau dia sudah kelelahan melayaniku. Aku memutuskan mengakhiri malam itu dengan kecupan mesra di dahi istriku itu. Aku tutup tubuh indahnya kali ini dengan selimut dan kemudian aku pun menyusul masuk kedalamnya. Kubawa dia kedalam dekapanku.


Tuhan,, berikanlah kami keturunan segera,,


Jangan lupa vote, komen dan likenya ya


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2