
Beberapa hari ini aku terus mengikuti kegiatan Ray. Aku tau Ray selalu berangkat dari rumahnya jam 07.00. Mamanya akan selalu mengantarnya hingga depan pintu.
Saat Siang Ray kadang diam di kantor saja saat makan siang kadang juga makan siang bersama beberapa kliennya. Sore dia pulang dan mamanya akan menyambutnya lagi di pintu.
Tampaknya Ray hanya tinggal berdua dengan mamanya di rumah itu. Rumah itu jarang menerima tamu. Entah karena pemiliknya yang tak menerima atau memang tak pernah mengundang tamu.
Sebenarnya tidak ada hal yang aneh dengan kegiatan Ray. Dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja.
Sore ini aku sudah berada di depan kantor Ray. Sebenarnya aku mulai malas mengikutinya. Tapi aku masih saja penasaran dan ingin membuktikan bahwa Ray adalah Rere.
Aku mulai menghidupkan mobilku saat ku lihat mobil Ray sudah keluar dari kantornya. Aku sudah menduga dia pasti akan mengambil rute seperti biasa yang menuju rumahnya.
Namun ternyata aku salah. Ray tak langsung pulang sore inj. Dia mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah toko perhiasan. Aku melihat dia sudah mulai masuk dan mulai memilih milih.
Aku tak bisa memastikan apa yang dibelinya dari kejauhan. Untuk itu aku putuskan untuk masuk saja ke dalam sana dan membeli sesuatu juga agar terlihat pertemuan kami natural.
Ku rapikan penampilanku. Ku kenakan kacamata hitamku. Ku lihat di spion mobil ternyata aku masih saja tampan. Aku heran saja jika Chaira bisa memilih pria lusuh itu. Walaupun nanti benar dugaanku bahwa Ray adalah Rere aku tetap merasa diriku lebih tampan darinya.
Aku segera memasuki toko itu. Pelayan toko dengan ramah mulai membantuku. Aku sengaja mulai memilih barang yang berdekatan dengan Ray.
Ray yang ternyata sibuk memilih cincin itu masih tak menyadari kehadiranku disitu. Aku mulai mencuri dengar percakapannya dengan pelayan toko yang melayaninya.
"Sebenarnya saya tak terlalu yakin dengan ukuran jarinya. Apa ada cincin dengan model seperti ini namun adjustable?" tanya Ray pada pelayan.
"Maaf tuan,, kami tidak punya koleksi adjustable. Tapi sebenarnya anda bisa melakukan penukaran jika anda mau. Jika ukuran yang anda beli ternyata tidak pas anda bisa kembali kesini untuk menukarnya dengan ukuran yang sesuai" jelas pelayan toko.
"Oh,,, itu bagus. Tapi cincin ini saya beli untuk melamar kekasih saya jadi saya rasa sangat tidak cocok kalau harus ditukar." Ray tampak bingung dan tak yakin akan membeli yang mana.
Ray yang hampir tak pernah menyentuh langsung jemari Chaira merasa tak yakin dengan ukuran jari manis Chaira. Dirinya dulu memang pernah sekali memegang tangannya namun Chaira yang waktu itu selalu memakai sarung tangan membuatku tak bisa mengingat dengan pasti seberapa ukuran jarinya.
" Bisa lihat jari anda nona? Siapa tau mirip dengan ukuran jari kekasih saya" pinta Ray.
Pelayan toko tanpa keberatan mengulurkan jemarinya untuk dipegang Ray.
"Terima kasih" tukas Ray yang masih merasa tidak yakin.
"Tolong ambilkan cincin berlian di ujung belakang itu nona" Aku memberanikan diri dengan sengaja meminta pelayan yang melayani Ray mengambilkanku cincin yang ku tunjuk.
Ray yang merasa terganggu menoleh. Aku pura pura saja belum sadar bahwa itu dirinya. Pelayan memberikan cincin yang ku minta.
Aku memperhatikan cincin itu. Aku tau persis ini pas untuk jari manis Chaira. Dulu aku sering membelikannya hadiah cincin jadi aku tau persis berapa ukurannya.
"Hai Ray,,, sedang apa kau disini? Aku pura pura terkejut ketika mata kami bertemu.
" Apa kau membeli cincin juga?"tanyaku lagi.
__ADS_1
"Ya,,, apa kabarmu Dare?" tanya Ray datar.
"Aku baik,,, hanya sedang ingin membeli hadiah kecil saja" jawabku.
Ray hanya mengangguk.
"Apa kau sudah dapat apa yang kau cari?" tanyaku
"yahh,,, sebenarnya belum. Aku tak yakin dengan ukuran yang akan ku beli" sahut Ray
"Kalau aku boleh tau untuk siapa cincinnya? Mungkin aku bisa bantu pilihkan untukmu. Aku biasa beli cincin untuk hadiah ajdi setidaknya aku punya bayangan" tawarku padanya
Ray tertegun sejenak. Dia berpikir apakah harus dia beritahukan padaku untuk siapa cincin itu sebenarnya. Namun jika aku bisa membantunya itu akan mempercepat dia untuk segera dapat cincin yang tepat.
"Eehhmmm,,, aku membelikannya untuk calon istriku" jawab Ray
"Wahhh selamat Ray,, akhirnya seorang pebisnis muda sepertimu siap melepas masa lajangmu!!!" aku menepuk bahunya.
Ray tersenyum kecut.
"Jadi siapa wanita yang begitu hebat telah menaklukkan hatimu?" pancingku
Ray tak menjawab karena ponselnya berdering. Seseorang menelponnya dan memintanya untuk segera datang.
"Oh Dare maaf aku sudah sangat terlambat. Sepertinya aku sudah terlalu lama berada disini. Aku harus segera memilih salah satu cincin terbaik" kata Ray yang langsung kembali fokus menatap deretan cincin yang berkilauan itu.
Ray menoleh.
"Bukankah itu cincin yang akan kau beli untuk seseorang?" tanyaku.
Aku menarik napas dalam dalam.
"Tadinya aku berpikir akan memberikan cincin ini untuk Chaira,,, Cincin ini sangat pas dengan jarinya. Aku pun tau dia suka bentul cincin seperti ini,,,, " Suaraku terdengar berat.
Aku memandangi cincin itu. Mataku mulai memanas karena airmata sepertinya mulai menggenang disana. Aku segera mengedip ngedipkan mataku agar airmata itu tak jatuh.
"Tapi seperti kau tau,,, aku belum bisa menemukannya. Jadi aku akan sangat terhormat jika cincin ini bisa dipakai oleh wanitamu" Ujarku lagi padanya.
"Ambil ini Ray,,, dia pasti akan sangat menyukainya" titahku.
Wajah Ray berubah. Diterimanya cincin itu dan dia tampak berpikir keras. Aku merasa umpanku mulai mengenai sasarannya. Aku merasa Ray memang menyembunyikan sesuatu.
"Baiklah Ray,,, aku duluan ya. Segera temui dia dan bawa cincin ini" aku segera pura pura pamit agar dia tak curiga jika nanti aku mengikutinya lagi.
Aku tau dia segera menemui wanitanya. Aku rasa aku tak boleh melewatkan hal ini. Aku harus mengikutinya.
__ADS_1
Aku tak menunggu jawaban Ray saat berpamitan padanya yang masih termenung memegang cincin itu. Aku segera saja keluar dan sengaja berjalan ke arah lain yang bukan menuju mobilku. Aku tak ingin Ray melihatku masuk ke mobilku dan tau nantinya bahwa mobil yang mengikutinya adalah milikku.
Ray yang masih termenung disadarkan oleh pelayan toko yang menanyakan apakah dia jadi akan membeli cincin yang dipegangnya.
Ray tampak berpikir lagi sebelum menjawabnya.
"Darren memang pernah menjadi suami Chaira,,, dia tentunya memang lebih tau selera Chaira dan ukurannya. Aku tak tau harus senang atau sedih saat dia membantuku memilih cincin ini." Batin Ray.
"Aku senang karena akhirnya aku mendapatkan cincin yang pas dan bagus ini,,, namun rasanya hatiku cemburu karena Darren yang memilihnya. Dia lebih memahami Chaira dibanding aku" pikirnya lagi.
"Bagaimana tuan?" tanya pelayan toko lagi.
Ray tergagap karena dia masih belum juga memutuskan. Ponselnya kembali berdering.
"Ray kamu itu dimana sih,,, Mama sudah gak sabar nih ingin ketemu Chaira. Kenapa kamu lama sekali?? Cepat jemput mama!!!" titah mama.
"Baiklah ma Ray segera datang." jawab Ray.
"Saya mau yang ini ya" kata Ray pada pelayan sambil menyerahkan cincin yang ku pilihkan tadi.
Ray tak peduli lagi tentang siapa yang memilihkannya. Dia hanya peduli pada waktu yang terus membuatnya terlambat menjemput mamanya.
Malam ini dia janji pada Chaira akan datang bersama mama menemuinya dirumahnya. Dia ingin melamar Chaira di depan mamanya. Untuk itulah dia membeli cincin itu lebih dulu.
Ray segera membayar dan kemudian keluar dari toko perhiasan itu. Ray sama sekali tak curiga jika ada aku yang masih memantaunya. Segera saja dia masuk ke mobil dan mulai bergerak.
Aku menjaga jarakku agar tak terlalu dekat. Aku mengenali jalanan ini. Ini jalan menuju rumahnya. Aku sedikit kecewa karena lagi lagi Ray memasuki halaman rumahnya. Biasanya dia tak akan keluar lagi jika sudah pulang begini.
Namun melihat mamanya yang menyambutnya dengan gaun yang tak biasa aku mulai kembali tertarik. Mamanya yang biasa hanya memakai baju rumahan tampak sudah rapi dengan gaun formalnya.
Dia tampak tak sabar menyambut Ray yang juga dengan tergopoh gopoh masuk. Mamanya tampak memarahinya. Saat Ray sudah masuk mamanya yang biasanya ikut masuk sore uni tetap menunggu diluar sambil berkali kali melirik jam tangannya.
Aku tetap sabar menunggu disana. Aku yakin mereka akan menuju ke suatu tempat penting.
Aku semakin yakin saat melihat Ray yang keluar sekitar setengah jam kemudian dengan pakaian rapinya. Dia menggandeng mamanya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Aku bersiap dengan mobilku saat mobil Ray sudah keluar. Aku tetap menjaga jarakku saat mengikutinya. Mobil Ray masuk ke perumahan yang tak terbilang elit namun cukup bagus. Dia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang dipenuhi tanaman bunga.
Tiba tiba aku ingat rumahku yang dulu juga dipenuhi bunga bunga seperti itu. Bunga kesukaan Chaira. Chaira yang suka berkebun membuat rumahku terasa rindang dan asri.
Lamunanku terhenti saat Aku melihat Ray yang turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk mamanya. Dia kemudian terlihat memencet bel rumah itu.
Hatiku berdebar menunggu melihat siapa yang akan membukakan pintu pagar untuk mereka. Aku mulai mempersiapkan hatiku melihat pemandangan yang akan tergelar di depan mataku.
Deeeeggggg,,,,
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍