BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 90


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


Dengan langkah mantapnya Rayya meninggalkan keluarganya. Kali ini juga disertai senyum mengembang di setiap langkah kecilnya menuju ke kehidupannya yang lebih baik lagi.


Rayya meninggalkan keluarganya demi cita citanya sedari kecil untuk menjadi seorang chef. Selama ini dukungan penuh dari Darren membuatnya makin ingin cita citanya itu menjadi kenyataan dan bisa membuat orang tuanya bangga terutama ayahnya.


Dreett dreettt,,,


Ponsel Rayya bergetar. Sebuah pesan masuk dan dengan mata berbinar dibukanya pesan itu.


"Abang akan tetap menunggumu,,," tulisan di pesan itu membuat senyumnya makin melebar.


Digenggamnya erat ponsel itu dan ditempelkannya di dadanya yang tengah bergemuruh. Rayya tak membalas pesan itu karena yakin pengirimnya tak perlu jawaban apa pun darinya.


Rayya terus melangkah memasuki pesawatnya dan mencari tempat duduk sesuai dengan tiket yang sudah dibelikan oleh Darren.


"Ah ayah,,," gumamnya begitu menemukan kursi VIP yang begitu nyaman yang sudah dipesan Darren untuknya.


Lagi lagi Darren menyediakan fasilitas terbaik bagi dirinya. Rayya sebenarnya tak masalah walaupun dibelikan tiket di kelas di bawah VIP.


Didudukinya kursi nyaman itu dan memposisikan tubuhnya di posisi ternyaman. Rayya memejamkan matanya mengingat satu persatu wajah keluarga yang ditinggalkannya.


Terbayang wajah Darren yang begitu teduh dan penuh cinta kasih padanya. Wajah yang selalu menjadi wajah pertama yang dilihatnya tiap pagi. Wajah yang selalu tersenyum padanya tak peduli apa pun yang diperbuatnya.


"Maafkan Rayya ya ayah kalau selama ini Rayya masih belum bisa jadi putri terbaik untuk ayah. Rayya janji akan berusaha sebaik mungkin menjadi kebanggaan ayah." lirihnya dengan airmata menetes di sudut sudut matanya.

__ADS_1


Lalu terbayang wajah Levi di benaknya.


"Ah kak,,, Kamu juga yang terbaik. Semoga kak Ara bisa membahagiakanmu dan menemanimu hingga akhir hayat." lirihnya lalu memukul pelan kepalanya sendiri saat mengingat kejadian bodoh saat dirinya malah terobsesi pada pikirannya sendiri.


Saat dirinya yang masih labil mengira rasa cinta dalam dirinya untuk kakaknya itu bukanlah sekedar cinta adik pada kakaknya.


Lalu samar samar terbayang wajah samar Ray dan Chaira. Meski punya foto mereka yang terpajang di kamarnya namun tetap saja bagi Rayya kenangan keduanya adalah samar dalam ingatannya. Rayya kecil yang ditinggalkan mereka dulunya tak mampu menyimpan banyak memori tentang keduanya.


"Assalamualaikum bunda,,, Semoga bunda tenang di sana. Maafkan Rayya kalau Rayya sempat membuat bunda mungkin terusik di sana dengan tindakan bodoh Rayya pada kak Levi. Tapi sekarang Rayya sudah paham bunda bahwa itu adalah kesalahan besar. Ayah sudah dengan begitu baik membimbing Rayya,,, Bunda bisa lihat kan sebesar apa cinta ayah pada bunda?? Rayya bersyukur karena sekarang cinta ayah pada bunda itu diwujudkan pada Rayya,,,Ayah benar benar mencintai Rayya bunda." ucapnya lirih dan lagi lagi tetesan bening di matanya bermunculan.


"Assalamualaikum abi,,," ucapnya kemudian saat bayangan samar abinya muncul.


"Rayya rindu masak bareng sama abi,,, Rayya rindu digendong abi,,, Rayya rindu dibacakan cerita tiap malam sama abi." airmatanya makin deras.


"Meski sedikit sekali kenangan yang Rayya punya tentang abi,,, Meski tak banyak yang bisa Rayya ingat tentang abi,,, Tetap saja Rayya selalu merindukan abi. Terima kasih karena abi telah dengan tidak sengaja menitipkan Rayya pada ayah yang tak kalah sayangnya pada Rayya. Semoga abi di sana juga tenang ya. Tunggu Rayya di JannahNYA dan kita semua akan berkumpul bersama lagi." Rayya menghapus airmatanya.


Rayya sadar banyak penumpang lain yang mulai memenuhi pesawat dan dia tak ingin mereka melihatnya menangis meski itu bukan urusan mereka.


Dipandanginya foto Ray dan Chaira yang juga tersimpan di galeri ponselnya.


Rayya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi VIP itu dan kembali memejamkan matanya. Mengingat semua perkataan Darren di bandara tadi dan berusaha memahaminya kata per katanya dengan baik.


"Terima kasih ayah."


Lagi lagi hanya kalimat itu yang sepertinya tak kunjung habis dan bosan untuk diucapkannya tiap kali mengingat sosok Darren.


Senyumnya mengembang kala mengingat satu sosok lainnya. Sosok yang belum lama hadir dalam hidupnya namun mampu memberikan warna di hatinya.


"Kalau jodoh pasti tak kemana." ucapnya sendiri dengan senyumannya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Darren memandangi wajah Rayya yang tersenyum memeluk dirinya dan Levi di foto yang terpajang di kamar Rayya. Dielusnya foto itu dengan mata berkaca kaca.


Sekembalinya dari bandara tadi Darren langsung masuk ke kamar Rayya dan menghabiskan waktunya di situ mengingat semua tentang Rayya.


"Bidadariku,,,Putri kecil kita telah beranjak dewasa dan dia pergi jauh sekarang demi cita citanya. Apa tindakanku melepas dirinya ini benar?? Apa aku tidak membahayakannya dengan membiarkannya sendirian di luar sana??" Darren bimbang.


"Tidak ayah,,, Ayah tidak melakukan kesalahan apa pun. Kalau bunda dan abi masih ada,,, Mereka juga akan melakukan hal yang sama. Kebimbangan dan kekhawatiran ayah ini hanya karena kecintaan ayah yang begitu besar pada Ayya." Levi yang masuk dan mendengarnya menjawab.


Darren menoleh pada Levi yang duduk di sampingnya dan ikut memandangi foto mereka.


"Percayalah,,, Rayya kita pasti baik baik saja di sana. Ada penjaga terbaik kita yang selalu menjaganya ayah." ucap Levi sambil menunjuk ke atas.


Darren tersenyum mendengarnya. Hatinya lega. Dipandanginya lagi foto yang masih dipegangnya itu.


"Lihat senyumnya,,, Manis sekali. Ayah bersyukur sekali diberi kesempatan untuk menjadi ayahnya. Melihat tumbuh kembangnya hingga dia menjelma jadi gadis secantik ini. Bunda dan abi telah begitu baik mempercayakan putrinya pada ayah." ucapnya sendu.


"Iya ayah,,, Dan ayah juga telah begitu baik menjaga Rayya. Abi dan bunda juga pasti sangat senang dan Levi di sini mewakili abi dan bunda ingin berterima kasih pada ayah. Terima kasih telah begitu kuat dan sabar menghadapi kami,,," ucap Levi.


"Iya nak sama sama. Kamu ingat kan kamu masih tugasmu sebagai anak ayah belum selesai sampai di sini. Kamu masih berhutang pada ayah untuk menjadi sosok suami dan ayah yang terbaik untuk istri dan calon anakmu kelak." Darren mengingatkan.


Levi hendak menjawab namun suaranya tercekat saat terdengar suara Tiara.


"Howwweeekkk hoooweeeekkkk,,,,"


Darren memandang Levi heran karena bukannya panik mendengar istrinya muntah muntah tapi malah tersenyum saja.


"Ayah baru mengingatkanmu untuk menjadi suami terbaik tapi apa yang kamu lakukan di sini?? Sana bantu istrimu nak,,, Sepertinya dia sakit." kata Darren cemas.


"Ara tidak apa apa ayah,,,Itu hal wajar buat seorang menantu yang akan menghadiahi ayah seorang cucu." ucap Levi dengan senyumnya.


Darren tertegun.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹


__ADS_2