BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 68


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Ayah,,," Panggil Levi lirih.


Darren yang tertidur dengan posisi duduk dan menelungkup di tepi tempat tidur Levi langsung tergagap dan bangun mendengarnya.


"Alhamdulillah,,, Jagoan ayah sudah sadar. Bagaimana perasaanmu nak? Apa masih ada yang sakit???" tanya Darren.


"Masih pusing sedikit ayah. Bimo mana ayah?? Apa dia baik baik saja??" tanyanya masih dengan suara lemah.


"Bimo pulang dulu nak. Dia baik baik saja alhamdulillah. Sama sekali tidak terluka. Bahkan dia yang mengurus segala sesuatunya sebelum ayah sampai di sini." tukas Darren.


"Iya ayah. Levi akan ucapkan terima kasih padanya kalau bertemu." ucap Levi sambil tersenyum.


"Ayah panggilkan dokter dulu untukmu ya nak biar kondisi kamu diperiksa lagi." kata Darren.


"Iya ayah." jawab Levi.


Darren bangkit dari kursinya dan hendak menuju ke telpon khusus memanggil perawat atau dokter yang ada di ruangan itu saat tangan Levi tiba tiba menahannya.


"Ada apa Levi??" Darren menoleh.


"Terima kasih ayah sudah menjaga Levi sampai ayah tidak tidur di tempat yang seharusnya." kata Levi.


Darren tersenyum mendengarnya.


"Itu sudah tugas ayah nak. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih pada ayah. Yang kamu harus lakukan adalah berusaha cepat sembuh dan pulih agar ayah tak harus melihatmu terus terbaring lemah begini. Hati ayah sakit nak,,, Ayah tidak sanggup melihatmu begini. Semua ini mengingatkan ayah pada bundamu." Darren terbawa suasana.


"Iya ayah,,,Levi akan segera sembuh karena Levi tidak mau buat ayah sedih." Levi menarik tangan Darren dan mencium punggung tangan pria yang sudah mati matian membesarkannya dan Rayya adiknya seorang diri tanpa didampingi wanita mana pun.


"Iya nak. Ayah panggil dokter dulu ya." Darren kembali mengucapkan kalimat itu dan kali ini Levi tak menahannya lagi.


Dokter dan perawat tiba sesaat kemudian lalu memeriksa kondisi Levi. Usai memeriksa dan yakin dengan hasilnya dokter pun mengatakan bahwa Levi akan segera pulih kembali. Hanya saja tetap dibutuhkan beberapa kali scan kepala agar bisa dipastikan apa pembekuan darahnya masih ada atau tidak.

__ADS_1


Hal itu tentu membuat Darren lega.


🌹🌹🌹


Di tempat lain,,,


"Kok murung saja sayang. Yang seneng dong,, Happy happy sama kita kita nih." Bobi menghampiri Tiara yang duduk di sudut kursi.


"Antar aku pulang Bobi. Aku tidak suka tempat ini." pinta Tiara.


"Hei ini kan tempat yang cocok untuk anak muda. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau di sini. Berjoget,,, alkohol,,, rokok,,, atau kamu mau coba yang lebih asyik dari itu???" Bobi coba mempengaruhi Tiara.


Tiara tak menjawab dan hanya menoleh dengan pandangan jijik terutama saat Bobi ditarik oleh dua wanita berpakaian minim dan kemudian menari nari erotis di sekeliling tubuh Bobi.


Bobi terlihat menikmati diperlakukan begitu bahkan tangannya tak berhenti menggerayangi tubuh wanita wanita itu.


Yaa,,,


Bukannya membawa Tiara ke tempat makan karena tadi Bobi bilang dia lapar namun Bobi malah membawa Tiara ke sebuah tempat hiburan langganan Bobi.


Milik Bobi tepatnya.


Tiara yang memang bukan tipe gadis yang suka dugem atau tempat tempat seperti ini tentu risih dibuatnya. Dentuman dentuman musik yang keras dan ritmenya cepat juga tak bisa dinikmatinya.


Akhirnya dia hanya bisa duduk di pojokan sofa sudut itu karena dia tak bisa melewati pintu yang dijaga oleh anak buah Bobi.


Namun karena rasa pusing yang makin bertambah dan disertai mual karena bau minuman minuman keras di sekitar mejanya,,, Tiara pun memberanikan diri berdiri dan menghampiri Bobi yang masih asyik bermain dengan kemolekan wanita wanita penghibur itu.


"Bobiii,,," panggilnya.


Bobi tak menghiraukannya dan hanya menariknya lalu memaksanya ikut menari nari bersamanya.


"Lepaskan Bobiiii,,,,"Tiara berontak dan Bobi melepaskannya dengan tertawa tawa mabuk.


"Bobiii,,,," Tiara menarik lengannya.


"Aku mau pulang!!!" lanjutnya.


"Tanggung masih asyik." sahut Bobi.

__ADS_1


"Aku bisa pulang sendiri kalau kamu tidak mau mengantarku." jawab Tiara.


Bobi langsung menyambar dagu Tiara dan mencengkeramnya hingga membuat Tiara terkejut dan mulutnya hanya menganga karena rahangnya ditekan Bobi.


"Dengar ya,,, Bukan kamu yang memutuskan tapi aku!!! Kamu diam di sini sampai aku selesai. Kamu juga tidak perlu pulang malam ini. Mengerti??!!!!" Bobi melepaskan cengkeramannya dan mendorong Tiara.


Beruntung salah satu wanita penghibur itu tengah berdiri di belakangnya jadi bisa menyangga tubuh Tiara agar tak sampai terjatuh.


"Mana bisa begitu??? Orang rumah akan mencariku. Bobi tolong biarkan aku pulang. Aku pusing di sini.Aku juga mual bau minuman ini." kata Tiara.


"Siapa yang akan mencarimu hah? Ayahmu yang matre itu?? Tua bangka itu bahkan mengijinkanku membawamu kemana saja setelah ku transfer sejumlah uang untuknya." tukas Bobi menyeringai.


"Apa?? Tidak mungkin ayah begitu. Kamu bohong!!!" ketus Tiara.


"Baca ini,,,,!!!" Bobi menunjukkan layar ponsel yang berisi percakapannya dengan pak Herman.


Tiara bisa membaca dengan jelas bahwa ayahnya memang sudah mengijinkan Bobi membawanya kemana pun setelah Bobi mengirim sebuah screenshoot bukti transfer uang sejumlah sepuluh juta ke rekening pak Herman.


"Ayah,,,,???!!" Tiara tak bisa berkata kata.


Kecewa dalam hatinya akan sikap pak Herman tiba tiba menggunung. Tiara tidak menyangka ayahnya lebih mementingkan uang daripada keselamatan putri semata wayangnya.


"Sudah lihat kan?? Jadi Tiara,,, Kamu sudah aku sewa untuk malam ini. Berbaurlah dengan gadis gadis yang juga sudah ku sewa ini,,,Kamu tak kalah seksi dan sensual kok,,, Ayolah,,, Tunjukkan sisi nakalmu. Tidak usah pura pura lugu dan suci." cibir Bobi.


"Jangan sembarangan kamu bicara. Meski ayahku sudah menerima uangmu tapi bukan berarti aku menerima perintahmu!!!!" ketus Tiara langsung pergi dan duduk kembali di kursi sudut itu.


Tiara menangis tersedu sedu di tengah keramaian dam orang orang yang sudah mabuk itu. Tiara meratapi dirinya yang bisa dibilang dijual oleh ayahnya sendiei.


Mungkin pak Herman berpikir tidak menjual anak gadisnya namun hanya sekedar menerima tanda terima kasih dari Bobi karena telah diperbolehkan mengajak Tiara keluar.


Tapi bagi Bobi,,,Sekali uangnya diterima itu artinya dia bebas melakukan apa saja pada Tiara.


"Levi,,, Aku butuh kamu. Kamu di mana sekarang?? Apa kamu baik baik saja?? Maafkan aku yang sudah membuatmu celaka. Aku lemah Levi,,,Aku tidak punya pilihan. Aku tak bisa membuatmu dalam bahaya tapi aku sendiri tak bisa menyelamatkan diriku sendiri,,,," Tiara menyebut nama Levi dalam keadaan sedihnya.


Mengingat nama Levi makin memperburuk suasana hati Tiara. Tiara cemas setelah melihat sendiri bahwa mobil Levi mengalami kecelakaan akibat ulahnya membuat Bobi kesal.


Bobi hanya tersenyum sinis melihat Tiara yang bermandikan airmata di sudut sofa. Di matanya,,,Tiara tak lebih hanya seperti gadis gadis yang biasa dimainkannya dengan sesuka hatinya.


Perjodohan ini memang diterimanya karena ini adalah syarat mutlak dari ayahnya jika ingin mendapatkan warisan.

__ADS_1


\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹


__ADS_2