
Chaira duduk di kursi kamarnya sembari menyusui Levi dan Putri bergantian. Saat ini Levi yang lebih dulu telah selesai telah ditidurkannya.
Chaira ganti menggendong Putri dan mulai menyusuinya. Chaira memiliki cukup banyak asi hingga bisa diberikannya pada Putri juga.
Dipandanginya wajah polos Putri.
"Jangan pernah takut sayang. Kamu tidak sendirian. Ada bunda disini menemanimu. Bunda tidak peduli jika nantinya ayahmu sendiri menolakmu. Bunda akan tetap melindungimu" ujarnya pada Putri yang masih menyusu.
Putri adalah anak dari Febby. Di saat terakhirnya Febby sudah menceritakan pada Chaira bahwa Darren tak percaya bahwa itu anaknya.
Febby berpesan agar Chaira membantunya menyampaikan pada Darren bahwa Putri adalah putri kandungnya. Chaira yang saat itu telah berjanji akan menjaga Putri menyanggupi permintaan terakhir Febby padanya.
Melihat Putri kecil yang tak berdosa itu timbul rasa iba dalam dirinya jika harus memberi Putri susu formula. Mengingat asinya melimpah maka dia putuskan memberikannya untuk Putri juga.
"Biarlah asi ini juga mengalir dalam tubuhmu nak,,, menjadi kekuatan untukmu. Tak peduli dari rahim manakah kamu dilahirkan dan benih dari siapa,,, Bunda akan tetap menyayangimu karena bunda yakin kamu adalah titipan tuhan Walau mungkin cara tuhan menitipkan dan mempercayakan anugerahNYA adalah seperti ini. Bunda menganggap kamu adalah pengganti dari bayi pertama bunda nak" ujarnya sembari menciumi Putri.
Rosa yang memang sudah paham dengan sifat Chaira tak heran jika kakaknya itu pasti akan menerima Putri dengan tangan terbuka. Menerima anak dari madunya bukanlah hal pertama yang dilakukan Chaira.
Dia ingat saat Chaira juga menerima putranya yang waktu itu diakuinya sebagai putra Darren walau ternyata itu putra Toni. Apalagi sekarang Putri memang anak Darren walaupun Darren belum mengakuinya.
Ray yang awalnya agak terkejut mendengar keputusan Chaira mengadopsi Putri akhirnya bisa mengerti. Sahabatnya itu memang seperti itu. Hatinya entah terbuat dari apa. Kekagumannya makin bertambah seiring cintanya yang makin merekah untuk Chaira.
Chaira melihat Putri sudah tertidur lalu dibaringkannya di sebelah Levi. Chaira duduk memandangi taman hijau di luar kamarnya. Pikirannya mulai jauh menerawang.
Dia ingat betul bagaimana dulu suaminya sangat mencintainya. Bertahun tahun mengarungi bahtera rumah tangga tak lantas menbuatnya lupa juga bagaimana pria itu juga menyakitinya.
Namun sedalam apa pun luka yang ditorehkan suaminya,,, dia sudah memaafkannya.
Pikirannya melayang pada Ray.
Sahabatnya itu telah begitu banyak memberi warna baru dalam hidupnya. Hatinya yang rapuh dan terluka lambat laun terobati dengan segala keceriaan yang dibawa Ray.
Kejahilan Ray,, canda tawanya,, semua mampu mengalihkan dan mengurangi kesedihannya.
"Terima kasih Ray" lirihnya saat mengingat semua itu.
Namun dia kembali sadar bahwa dia tidak bisa terus seperti ini. Tinggal di vila milik Ray dan segala sesuatunya bergantung pada Ray. Dia sadar semua itu akan bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Walau Ray tidak pernah berlaku tidak sopan padanya,,, Ray juga tidur bukan di dalam kamar vila yang ditempatinya,,, Ray memilih tidur di kamar yang berada di gedung yang terpisah dari vila utama,,, namun pandangan orang yang tak tau persis bagaimana keadaannya pasti akan berbeda.
Orang hanya akan melihat mobil Ray yang masuk dan menginap disana. Walau di tempatnya tinggal ini orang sekitar tak terlalu peduli pada urusan orang namun Chaira juga tak ingin ada segelintir orang yang terganggu melihat kedekatan mereka.
"Aku harus tegas. Aku tidak boleh larut dalam semua ini. Aku harus mulai posisikan diriku ditempat yang seharusnya" batin Chaira
__ADS_1
Darren harus tau siapa Levi,,, dan Putri juga.
Chaira benar benar sudah siap jika sewaktu waktu Darren datang menemuinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Chai,,, aku akan sangat sibuk pekan ini. Mungkin aku tak akan bisa menjenguk kalian di sana." Ujar Ray dengan nada berat hati.
"Tidak apa apa Dare,,, selesaikan pekerjaanmu" jawab Chaira di seberang.
"Baiklah,, jaga diri kalian untukku" pesannya.
Seperti biasa Ray akan mengucapkan salam sebelum menutup telponnya.
"Maafkan aku Chai,, aku terpaksa berbohong padamu. Sebenarnya aku tidak sedang sibuk. Namun aku ingin mberimu waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan yang tepat." lirihnya
Ray sengaja menjauh karena tak ingin keberadaannya membuat sahabatnya itu malah merasa tidak enak hati jika mungkin akan mengambil keputusan yang mungkin melukai hatinya.
Seperti apa pun Ray mengatakan agar Chaira tak terbebani dengan segala yang sudah dilakukannya untuk mereka,,,, Ray tau sahabatnya itu pasti merasa berhutang budi banyak.
Jujur Chaira adalah wanita yang sangat diinginkannya,,, namun Ray tetap tak ingin Chaira menerimanya karena merasa berhutang budi padanya.
Ray tau saat ini pasti sahabatnya itu sedang berpikir dan memilih salah satu diantara mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku memandangi beberapa foto itu lagi.
"Haruskah aku menemuinya langsung atau mencari tau siapa pria itu terlebih dahulu?" pikirku
"Tapi siapa pun pria itu sebenarnya aku tak perlu sungkan untuk menemui Chaira,,, dia masih istriku. Aku tak pernah menceraikannya" pikirku lagi
Aku bingung harus bagaimana. Satu sisi aku sangat ingin segera menemuinya dan meminta maaf atas semua kesalahanku lalu memintanya menerimaku kembali dan menjalin rumah tangga yang bahagia seperti dulu lagi.
Kami akan mulai memprogram kehamilan. Bila perlu kami akan melakukan segala metode agar kami bisa segera punya anak. Anak yang nantinya akan mempererat hubungan kami.
Wajahku kembali muram saat mengingat di sisi lain hatiku aku merasa malu menemuinya. Dulu aku yang memintanya untuk tidak menemuiku karena aku ingin dia introspeksi diri akan kesalahannya yang memintaku menikah lagi tanpa memikirkan perasaanku.
Lalu sekarang keadaan terbalik karena justru aku lah yang harus mencarinya karena ternyata kesalahan semua ada di pihakku.
"Kenapa sayang,, kenapa kamu tidak segera mencariku? Kenapa kamu malah mengikuti perintahku? Apa kau marah padaku?" Aku mulai menyesal lagi
Tapi saat mataku tertumpu pada sosok pria berpenampilan jauh dari kata menarik namun terlihat sangat dekat dengan Chaira itu aku mulai berpikir aneh aneh.
__ADS_1
"Atau jangan jangan kau menurutiku karena pria itu?"Pikiranku mulai goyah
Walau hati kecilku tau Chaira tidak segampang itu ditaklukkan,,, Tapi kedekatan mereka sangat mengusikku. Belum lagi bayi yang bergantian mereka gendong.
" Bayi siapa itu?" aku semakin tak mengerti.
"Sinta,,, siapkan penerbangan ke Bali untukku besok pagi. Batalkan semua jadwal meetingku besok." titahku pada Sinta yang masih berdiri dan menungguku menandatangani beberapa berkas.
"Tapi pak,,, Maaf,,, besok jadwal anda dengan pak Rayhan juga. Apa bapak yakin akan membatalkannya?" Tanya Sinta
Aku termangu sejenak. Ucapan Sinta benar. Ray adalah rekan bisnis penting yang saat ini memegang tender terbesar di perusahaan kami saat ini.
"Baiklah aku akan menghubunginya sendiri langsung dan menanyakan padanya apakah bisa diundur dulu" tukasku pada Sinta
"Baik pak" Sinta segera menyahut dan keluar ruangan.
"Hai Ray,, ini aku. Darren" ucapku
"Hai Dare,,, ada apa kau menelponku langsung? Apa soal Chaira?" Ray langsung menebak karena merasa aneh saat aku menelpon langsung menggunakan ponsel pribadiku.
"Oh tidak,,, aku tak akan melibatkanmu lagi dalam masalah itu hahhaha,,, " aku berusaha sedikit akrab dan bercanda dengannya
"Oh,, lalu ada apa Dare?" Ray heran lagi
"Aku hanya ingin bertanya padamu,,, apa kau keberatan jika aku undur jadwal pertemuan kita besok? Aku hanya ada keperluan di luar kota besok." kataku
"Hhhmmm,,, sebenarnya aku keberatan karena aku tak suka jadwal kerjaku dirubah. Tapi sebagai teman lama aku bisa membuat pengecualian asalkan alasanmu menunda meeting kita cukup kuat" tukas Ray
"Sebenarnya ini masalah Chaira Ray,,, aku telah menemukan jejak keberadaannya dan aku berniat menemuinya disana" kataku
Ray yang tidak sedang berhadapan langsung tak perlu mengubah ekspresi wajahnya saat mendengar itu. Dia hanya mengatur napasnya agar terdengar tenang.
"Syukurlah kalau begitu. Sebenarnya aku tidak tau masalah ala yang terjadi di antara kalian tapi aku turut senang akhirnya kau bisa menemukannya. Pergilah Dare,,, temui dia. Bawa dia kembali kepadamu jika memang kamu masih menginginkannya" ujar Ray dengan menahan degupan jantungnya yang makin cepat.
"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal itu kepadamu Dare" batinnya
"Pasti Ray,,, aku akan membawanya kembali padaku. Aku masih sangat mencintainya" tukasku semangat.
"Baiklah Ray,,, terima kasih atas pengertianmu. Kita bisa mengatur ulang jadwal kita minggu depan?" tanyaku
"Aku akan menghubungimu begitu ada waktu tepat" tukas Ray cepat dan segera menutup telponnya.
Jantung Ray semakin berdebar.
__ADS_1
"Inikah saatnya Chai?? Saat aku harus kembali merelakanmu bersama Darren????" Ray sendu