BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 125


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf typo bertebaran πŸ˜€πŸ™


🌸🌸


"Mau apa kamu kesini?? Mau mentertawakan aku?? Mau balas dendam???"


Adi menggebrak meja membuat Rayya yang mengunjunginya di penjara sedikit gemetar.


"Rayya sama sekali tidak punya niatan seperti itu om. Rayya kesini karena Rayya kangen sama om." jawab Rayya.


"Bohong!!! Kamu pasti senang kan aku ada di sini?? Apalagi ayahmu itu,,,dia pasti puas karena aku mendekam di penjara. Ayahmu kan yang menyiapkan orang yang datang membawa polisi itu???" Adi makin berang.


"Rayya dan ayah tidak tau apa apa om. Kami tidak pernah tau ada dalang di balik kecelakaan itu selama ini. Ayah juga sudah tidak mempermasalahkannya dan lebih menganggap itu takdir dari bunda yang harus jadi korban dalam kecelakaan itu. Sudah hampir dua puluh tahun om,,, kami berhasil mengikhlaskannya. Jadi rasanya akan sia sia saja kalau tiba tiba kami mengungkitnya lagi."


Adi terdiam dengan jawaban keponakannya itu. Sama sekali tak pernah terlintas di benaknya anak itu akan menjawab demikian.


"Kalau pun om mendekam di sini,,itu karena laporan dari asisten pengacara yang kecelakaannya juga om rekayasa. Bukan Rayya atau ayah yang melaporkan." tegas Rayya.


"Aaahh sudah,,,Sama saja mau asisten pengacara atau kalian yang melapor. Intinya aku tetap di penjara!!! Sekarang sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah datang lagi. Kedatanganmu hanya membuatku ingat pada Ray dan aku semakin membencinya!!! Aku benci Ray yang sudah menghancurkan hidupku!!! Aku benci Ray yang lebih dipercaya oleh kakek untuk mengelola harta keluarga daripada aku!!!"


Adi berteriak teriak mengeluarkan semua uneg unegnya tentang Ray.


"Om,,," Rayya mendekat namun langsung di dorong Adi sampai terbentur di tembok.

__ADS_1


"Jangan dekat dekat!! Kamu anak Ray dan aku juga membencimu!!!" ketus Adi.


"Om,,, Rayya hanya ingin peluk om. Melihat om,,, Rayya jadi ingat abi. Om mirip sekali dengan abi. Rayya rindu sama abi selama ini,,, dan kehadiran om membuat Rayya merasa abi hidup kembali."


Tanpa pedulikan Adi yang memberontak,,, Rayya tetap memeluk om Adinya sampai akhirnya om Adinya itu lelah dan membiarkan saja tubuhnya dipeluk Rayya dari belakang.


"Jangan benci Rayya dan abi ya om. Kalau karena harta om jadi begitu,,, Rayya rela menyerahkan apa yang jadi hak om selama ini. Rayya sudah pernah kehilangan abi,,, Sekarang Rayya tidak mau kehilangan om juga. Rayya ingin kita jadi keluarga yang bahagia layaknya keluarga lain." Rayya mengatakannya dengan lembut sambil tetap menempelkan wajahnya di punggung Adi.


Tubuh Adi bergetar dan Rayya bisa merasakannya. Rayya mengerti Adi tengah menangis namun tidak paham apa yang ditangisinya.


"Menangislah om kalau itu membuat om lebih lega. Rayya tidak akan kemana mana. Rayya akan menemani om sampai waktu besuk habis. Dan Rayya akan datang lagi besok. Kalau om mau,,, Rayya akan bawakan makanan kesukaan om. Om tinggal bilang saja sama Rayya om mau makan apa. Rayya juga akan ajak Karin kesini besok."


"Kamu tidak benci om?? Tidak benci Karin??" tanya Adi dengan lirih.


Adi memutar badannya dan kini berhadapan dengan keponakannya itu.


"Boleh kulihat wajahmu??" tanya Adi.


Rayya mengangguk dan setelah memastikan hanya mereka berdua di ruangan itu,,, Rayya pun membuka cadarnya. Adi terperangah melihatnya. Wajah yang mengingatkan dirinya pada wajah Ray itu membuat hatinya tiba tiba merasa bersalah.


Setelah sekian tahun baru kali ini ada rasa bersalah terselip di hatinya atas apa yang sudah dilakukannya pada Ray. Sepupu satu satunya yang dia miliki,,, yang sebenarnya sangat menyayanginya juga,,, tapi hanya berhasil merebut kepercayaan kakeknya daripada dia yang memang tak lebih pandai berbisnis.


"Bukan salah Ray kalau dia yang dipilih kakek. Itu salahmu sendiri Adi. Kamu yang terlalu santai dalam hidupmu dan kamu yang tak pandai berbisnislah yang menyebabkan Ray mendapatkan kepercayaan kakekmu!! Tidak seharusnya kamu mencelakainya dulu karena kamu lihat kan sekarang,,, gadis di depanmu ini akhirnya tidak pernah merasakan bahagianya tumbuh dalam pengawasan orang tua yang lengkap."


Hati Adi tiba tiba menyalahkan dirinya sendiri. Tangan Adi tergerak untuk mengelus pipi Rayya.

__ADS_1


"Kamu gadis yang baik. Seperti Ray yang juga selalu baik sama om." lirih Adi sambil menundukkan wajahnya.


"Om,,," Rayya mengusap punggung tangan Adi lalu mencium punggung tangan itu dengan penuh hormat.


"Kalau abi masih hidup,,,tangan abi mungkin sama persia juga dengan tangan om ini." ucap Rayya.


Adi menarik tangannya dengan kasar. Matanya menjadi tajam lagi dan penuh dengan amarah lagi.


"Pergi kamu!!! Pergiii!!!!"


"Om???"


"Pergiiiii!!!! Guards,,,take this girl out from here!!! I don't want to see her again and make sure she never come back." Adi meneriaki seorang petugas agar segera membawa Rayya keluar.


"Om,, Rayya gak akan nyerah. Rayya sayang sama om tulus dari hati Rayya." Rayya juga menegaskan kalimat itu dengan berteriak karena petugas penjara sudah menariknya keluar.


Adi terduduk lemas setelah Rayya keluar. Airmatanya pun kembali membasahi wajahnya.


"Melihatmu hanya akan mengingatkanku pada Ray. Membuat aku menyesal dengan semua yang sudah terjadi. Dan kamu,,,kamu terlalu baik untuk jadi keponakan seorang pembunuh sepertiku. Hatimu terlalu putih untuk menerima dan memaafkan pembunuh yang sudah membuatmu terpisah dari orang tuamu."


Adi sungguh merasa sangat bersalah pada Rayya. Kehalusan dan ketulusan Rayya menyadarkannya namun itu juga membuatnya malu jika harus bertemu Rayya lagi.


🌸🌸🌸


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌸

__ADS_1


__ADS_2