
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Bagaimana Herman?? Apa kamu menerima tawaran damaiku?? Menerima Permintaan maafku??" tanya Darren.
Pak Herman yang masih diam tertegun itu pun sadar dari diamnya. Perlahan kepalanya pun mengangguk tanda mengiyakan.
"Bahkan sebenarnya kalau kamu bilang bahwa aku ini pernah dekat dengannya juga tidak. Karena aku bahkan tak pernah bicara dengannya dulu. Aku terlalu malu dan takut mengungkapkan perasaanku sampai akhirnya kamu hadir dan lebih berani menyatakan cintamu padanya." lirih pak Herman.
"Sudahlah,,, Yang penting sekarang mau seberapa besarnya cintamu padanya,,,Kamu harus ingat itu sudah berlalu dan Kamu tetap tak boleh mengabaikan perasaan istrimu. Wanita yang sudah mendampingimu selama ini. Dia bisa terluka mengetahui bahwa suaminya masih memendam cinta untuk wanita lain." kata Darren mengingatkan.
"Lebih tepatnya kurasa bukan cinta,,, tapi ambisi. Karena yang ku cintai saat ini hanya istriku Mila. Bukan Chaira. Chaira adalah ambisiku yang tak tersampaikan. Benar,,, Aku dulu mencintainya tapi aku baru sadar sekarang bahwa cintaku tidak sempurna untuknya." lirih pak Herman lagi.
Darren menepuk bahunya dan mengguncangnya perlahan seakan tengah mengalirkan energi positif ke dalam jiwa pak Herman.
"Terima kasih Darren,,, sudah menyadarkanku." ucap Pak Herman kemudian.
"Sama sama,,, Oh ya mana putrimu? Boleh aku mengenalnya??" tanya Darren.
"Maaf Dare,,, Kalau kamu mengira setelah berbaikan denganku trus bisa meminta lebih dariku dan putriku,,, Aku akan menghalangi niatmu itu. Aku tidak bisa mengiyakan putriku menjalin hubungan dengan putramu." kata pak Herman.
"Pemuda yang tidak kau sukai itu juga putra Chaira Herman,,, Bukan putra istri keduaku. Aku memang punya seorang anak dari pernikahan keduaku tapi perempuan dan sudah meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan Chaira." kata Darren.
"Apa salah putraku Herman?? Jika kemarin kamu membencinya karenaku,,, bukankah hari ini kamu telah membuka hatimu untuk menerimaku?? Lalu kenapa tidak dengan putraku?? Putra Chaira,,," ucap Darren.
"Jadi Levi itu putra Chaira??" tanya pak Herman dengan mata membulat.
__ADS_1
"Iya. Putra pertama kami." jawab Darren.
Pak Herman lemas dan merasakan penyesalan teramat sangat dalam hatinya karena telah secara sengaja menolak kehadiran putra Chaira.
"Aku tidak tau Dare,,," lirihnya.
"Kamu boleh meremehkan hasil didikan istri keduaku jika seandainya Levi memang putranya,,, tapi jangan pernah kamu remehkan didikan Chaira. Putra kami tumbuh dengan segala kebaikan dari bundanya. Kamu pasti tau sebaik apa bundanya dulu bukan??" tanya Darren lagi.
"Aku tidak memaksamu menerima Levi sebagai menantumu,,, tapi aku hanya ingin memintamu merubah sikapmu padanya. Dia tidak seharusnya merasakan kebencianmu padaku." tambahnya.
"Pak Darren benar ayah,,," bu Mila rupanya sudah sadar dan bersuara.
Sebenarnya beliau sudah sedari tadi sadar tapi memilih tetap memejamkan matanya dan mendengar percakapan kedua pria dewasa itu. Bu Mila sangat senang mengetahui keduanya telah sama sama saling menerima dan meluruskan permasalahan.
"Ibu,,, Ibu sudah siuman. Ada yang sakit bu?? Ayah minta maaf ya karena ayah menendang ibu." ucap pak Herman.
"Tidak apa apa ayah ibu tau ayah tidak sengaja. Ibu sudah dengar semua percakapan kalian dan ibu senang." kata bu Mila masih lemah.
"Ibu dengar semua???" tanya pak Herman cemas istrinya itu merasa sakit hati karena sedari tadi mereka berdua hanya membahas soal Chaira. Pak Herman tak pernah sekali pun mengungkit soal Chaira selama ini di depan bu Mila.
"Bu,,,Ayah,,," pak Herman bingung harus bicara apa.
"Tidak apa apa. Bukankah semua sudah berlalu. Ayah berhak atas masa lalu ayah sebelum ibu hadir. Lagipula cinta ayah itu juga sudah tidak mungkin dilanjutkan di masa sekarang bukan?? Jadi ibu tidak akan marah kalau pun ibu tau dalam hati ayah yang terdalam ada nama wanita lain. Wanita yang sudah tak bersama kalian di dunia ini. Untuk apa ibu membenci wanita yang sudah bahagia di sisiNYA?? Benar begitu kan pak Darren??" bu Mila menoleh pada Darren.
"Terima kasih bu atas pengertian ibu. Saya mohon maaf karena kedatangan saya membuat ibu seperti ini. Apa ibu mau saya bawa ke rumah sakit untuk memeriksakan bagian dalam siapa tau ada yang terluka??" tanya Darren.
"Tidak perlu pak saya tadi hanya kaget saja kok. Terima kasih sebelumnya." sahut bu Mila.
"Ayah,,, ibu mohon,,, Batalkan saja pertunangan Tiara dan Bobi. Ibu sungguh tidak suka dengan pemuda itu." pinta bu Mila.
"Bu,,, Ada Darren masak membahas itu sih??" tegur pak Herman.
__ADS_1
"Tidak apa apa. Aku sudah tau kok dari Levi. Tapi mungkin kamu perlu memikirkan perkataan istrimu ini Herman. sejujurnya saat ini polisi tengah menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Levi sepulangnya dari rumahmu ini." kata Darren.
"Levi kecelakaan??" tanya pak Herman.
"Iya,,, lebih tepatnya bukan kecelakaan biasa karena dia dengan sengaja ditabrak oleh mobil yang mengikutinya. Polisi masih menyelidiki apa penabraknya punya keterkaitan dengan pemuda yang bernama Bobi ini atau tidak karena sempat terjadi ketegangan antara Levi dan Bobi. Hhhmmm,, Aku makin tak mengerti dengan ulah anak muda jaman sekarang." kata Darren.
Pak Herman dan bu Mila berpandangan. Mereka tau persis bahwa Bobi ada di rumah mereka setelah Levi pulang tapi bisa jadi anak buahnya yang tiba tiba menghilang itulah yang mengikuti mobil Levi.
"Aaahhh,,," pak Herman memegang kepalanya.
"Ada apa Herman?? Apa kamu sakit??" tanya Darren.
"Tidak Dare,,,aku hanya bingung. Aku sudah menerima banyak bantuan dari ayahnya Bobi,,,Dan dari Bobi sendiri juga sudah cukup banyak uang ku terima. Aku tidak tau harus bagaimana. Tidak enak untuk membatalkan perjodohan mereka tapi juga menyesal memilihkan Bobi untuk Tiara kalau benar yang menimpa Levi adalah ulahnya." kata pak Herman.
"Aku hanya heran kenapa bisa pak Agung yang sebaik itu memiliki putra seorang mafia begitu,,," gumamnya kemudian.
"Tunggu dulu Herman,,, Ini kan masih asumsi polisi. Belum terbukti kebenarannya. Jadi jangan cepat menyimpulkan hal buruk." kata Darren.
"Ini kan menyangkut keselamatan anakmu juga Dare,, Bagaimana bisa kamu sesabar itu menghadapi??" tanya pak Herman.
"Karena aku tak mau jatuhnya jadi fitnah Herman. Lebih baik aku bersabar menunggu polisi melakukan tugasnya dan setelah tau siapa pelakunya,,, biarkan diproses menurut hukum yang berlaku. Aku tidak mau jadi pendendam karena jadi pemaaf jauh lebih menyenangkan " jawab Darren.
"Apakah Levi juga punya sifat sepertimu ini Dare,,,??" tanya pak Herman lirih.
Dalam hatinya terselip ganjalan rasa bersalah dan menyesal telah begitu meremehkan Levi. Diam diam beliau juga menyesal telah begitu gegabah menjodohkan Tiara dan Bobi yang belum karuan baiknya.
Praaangggg,,,,,
suara gaduh terdengar dari kamar Tiara.
"Tiara,,,,!!!!" pak Herman langsung berlarian menuju ke pintu kamar Tiara.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya yaa 🌹