
Rosa gelisah menungguku yang tak kunjung datang. Dia masih menunggu dirumah bu Wati. Umi, mama dan papa juga berada disana.
"hujan deras begini,,,kemana sebenarnya pria itu,,,huhhhh,,," dia mulai merasa lelah.
Perutnya yang semakin membesar membuat dia sering merasa sesak napas dan cepat lelah. Dia sudah berkali kali menelponku namun tak satu pun ku jawab. Karena kelelahan dia ketiduran di sofa. Beberapa saat tertidur di sofa Rosa membuka matanya saat mendengar suaraku.
"Akhirnya datang juga dia" batin Rosa
Dia segera bangun dengan susah payah. Kemudian berjalan ke arah pintu untuk menyambutku. Matanya terbelalak dan penuh dengan tatapan heran saat melihatku datang datang bersamaan dengan Chaira. Matanya tajam menatap tanganku yang menggandeng erat tangan Chaira. Wajahnya mulai menunjukkan kemarahan.
Mama dan papa menyusul keluar. Melihat kami datang mama segera memanggil umi keluar. Bu Wati yang mendengar itu juga turut keluar. Semua memandang kami. 2 pasang mata penuh kebencian dan 3 pasang mata penuh kebahagiaan,,, bahkan tampak airmata yang menggenang disana.
"apa apaan ini,, lepaskan tanganmu mas!!!! " Rosa maju dan mencoba memisahkan tangan kami
"Maaassss!!!!" bentaknya saat aku malah semakin mempererat genggamanku
Aku menatapnya dengan mata penuh kebencian. Wanita itu telah begitu jahat memanfaatkan kelemahanku. Wanita itu juga dengan sengaja menyakiti hati istriku. Untuk saat ini Aku memang hanya bisa diam. Aku pastikan wanita itu menerima hukumannya jika tak mengingat bayi dalam kandungannya.
"Cukup Rosa,,, cukup sudah semua sandiwaramu. Cukup sudah kau memanfaatkanku,,, cukup sudah kau melukai hati istriku Chaira!!! bentakku
Rosa yang terkejut beringsut mundur dan hampir jatuh. Bu Wati dengan sigap menangkap tubuhnya.
" Apa maksudmu mas??" tanya Rosa pura pura tak mengerti
"Cukup!!!! Aku sudah ingat semuanya. Aku ingat siapa kalian semua dan aku pun juga ingat betapa jahatnya kalian berdua padaku dan istriku!!!!" aku menunjuk wajah bu Wati dan Rosa bergantian
"Mulai sekarang jangan pernah lagi berani mengganggu Chaira apalagi menyakitinya. Dia istriku. Ayo pa,, ma,, umi, kita pergi. Berlama lama disini membuatku muak!!!" ajakku pada orang tua kami yang penuh wajah syukur dan bahagia karena aku telah mengingat semuanya.
Kami segera bergegas meninggalkan wanita wanita jahat itu. Papa segera menghidupkan mobil dan bergerak perlahan keluar dari halaman rumah itu.
"Maaasss buka pintunya massss,,, aku hamil anakmu maaasssss" Rosa berlarian mengejar mobil papa dan mengetuk ngetuk kaca mobil.
__ADS_1
Aku sama sekali tak mempedulikannya bahkan saat wanita itu terjatuh karena langkahnya tak bisa mengimbangi tubuh dan perutnya. Wanita itu sudah keterlaluan.
"Papa tolong berhenti." papa menuruti kemauan Chaira yang melihat kejadian itu
"jangan seperti ini sayang,, bagaimana pun juga dia mengandung anakmu sayang" Bujuk Chaira
"Tapi sayang,,, dia sudah terlalu menyakitimu dan aku tidak bisa terima itu. Jika dia hanya memanfaatkanku namun tak melukaimu aku masih bisa saja memaafkannya" ucaku
"Tapi dia membutuhkan kita saat ini sayang,, aku khawatir terjadi apa apa pada bayinya. Cukup aku saja yang sudah kehilangan bayi kita,, Jangan sampai Rosa juga kehilangan bayinya,,,,Ayolah sayang ku mohon" Chaira terus memohon
Aku hanya menatap Chaira dan berusaha mencerna kalimat yang diucapkannya.
"Kita kehilangan bayi kita sayang???" tanyaku memastikan
"Iya sayang,,, maafkan aku" Chaira tertunduk
Aku menatapnya sejenak dan segera bergegas menolong Rosa yang mengalami pendarahan. Kami ssgera membawanya ke rumah sakit menggunakan mobil papa. Umi, mama dan bu Wati menyusul dengan taksi.
"Ibu dan bayinya selamat. Kami terpaksa mengeluarkan bayinya walau belum cukup usia kandungannya." ucap dokter
"akhirnya tuhan memberi kita anak dengan caraNYA sayang" ucapnya
Aku hanya diam mendengarnya.
" Bagaimana bisa kamu tak terluka dengan semua ini sayang?? Bagaimana bisa kamu mengucap syukur atas lahirnya bayi itu?? Bayi itu hasil perbuatanku dengan adik tirimu,,, bagaimana bisa kamu sebegitu bahagia menyambut kelahirannya??? Terbuat dari apa sebenarnya hatimu itu???" beribu pertanyaan menyerangku
Aku bahkan masih tak beringsut saat melihat Chaira yang begitu menyayangi bayi itu. Dia dengan wajah bahagianya menggendong bayi itu dan berkali kali menciumnya. Pandangan heran sepertiku juga ku lihat dimata mama papa. Umi dan bu Wati lebih fokus pada Rosa yang masih terbaring lemas.
"ayo mas,,, kamu harus segera mengadzaninya" Chaira menyerahkan bayi itu padaku.
Aku diam tak menerima bayi itu.
__ADS_1
"aku tidak bisa sayang" ujarku dan langsung meninggalkan ruangan itu
Chaira meletakkan bayi itu di ranjang bayi lalu menyusulku. Aku duduk di kursi taman rumah sakit itu. Pikiranku berkecamuk. Perasaan bersalah pada Chaira berkali kali menghujamku. Melihatnya begitu bahagia menggendong bayi itu seakan cambuk bagiku. Aku yang begitu kotor ini telah menodai pernikahan kami berkali kali. Bayangan wajah Febby dan Rosa bergantian menyeruak. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Sungguh aku telah begitu menyakitimu bidadariku" batinku terus menerus menyalahkan diriku sendiri
Chaira duduk menghampiriku yang masih tertunduk dan menutup wajahku. Ditariknya perlahan tanganku dan diciuminya. Aku hanya menoleh padanya dan diam. Senyum Chaira yang begitu manis kembali menyayat perasaan bersalahku.
"kenapa sayang?" tanyanya lembut
"Aku,,, a,,, aku tak bisa menerima bayi itu sayang. Aku tak bisa,,, melihat bayi itu membuatku semakin bersalah padamu" aku kembali menutup wajahku
"takut dan merasa bersalahlah hanya pada tuhan sayang. Jangan padaku. Jika kamu menganggap dan merasa telah melukaiku artinya kamu juga telah menyakiti ciptaanNYA ini,,, maka dari itu jangan menambah dosa dan kesalahan baru lagi dengan tak menerima ciptaanNYA yang lain. Bayi itu tidak bersalah sayang. Dia tidak sepatutnya diperlakukan seperti ini. Bagaimana pun juga,,, dia pun tak menginginkan dilahirkan dalam kondisi dan situasi seperti ini. Jangan luapkan semua kekesalanmu pada dirimu sendiri pada mahkluk mungil tak berdosa itu" ucap Chaira dengan sangat lembut namun jelas dan cukup menghujam jantungku
"Ya tuhan apa yang telah ku lakukan???" batinku
Semua perkataan Chaira itu terasa meremukkan tulang tulangku. Aku merasa lemas. Istriku Chaira telah begitu keras menamparku dengan kata kata lembutnya. Tamparan keras bagi seorang pendosa sepertiku.
Aku memeluknya. Betapa aku sangat bersyukur tuhan telah menganugerahkan bidadari ini untukku.
"antarkan aku padanya sayang agar aku bisa segera kumandangkan adzan untuknya" ajakku
Chaira segera mengangguk dan membimbingku menuju ruangan Rosa lagi. Diangkatnya bayi itu dan diserahkannya padaku. Dengan gemetar ku gendong bayi hasil hubunganku dengan Rosa.
Ku pandang wajah bayi prematur yang sudah berada di gendonganku ini. Aku mengatur napas hendak memulai adzanku.
"stoooppppp!!!! biarkan aku saja"
Kami semua terkejut menoleh ke arah suara itu.
"Toni????" Rosa terkejut
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
Terima kasih 😍