
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo🙏
🌹🌹
"Ay,,, Ada yang ingin abang bicarakan." tutur Bimo sore itu.
"Ada apa bang? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati abang??" Rayya begitu santun dan justru membuat hati Bimo tidak karuan.
"Ay,,, Kejadian kemarin di restoran. Karin,,,," Bimo bingung menyusun kata.
"Ayya tau. Itu Karin yang sama dengan yang pernah abang ceritakan kan?? Karin yang menyukai abang dan abang tolak. Ayya bersyukur karena sepupu Karin itu menunjukkan perubahan besar dengan memutuskan berhijab. Bukannya dulu abang bilang dia selalu tampil seksi??"
"Tapi Ay bukan itu yang abang ingin bahas sama kamu sayang. Abang takut kamu,,,"
"Ayya tidak apa apa. Ayya menerima sepupu Ayya itu hadir di antara kita. Itu sudah berlalu bang. Yang penting kan hati abang milik Ayya. Kita sudah mau menikah bang."
Rayya menghela napasnya dan menghembuskannya dengan penuh kelegaan. Berbeda dengan Bimo yang masih berpikir keras kenapa Rayya sama sekali tak membahas tentang perkataan omnya kemarin bahwa Karin tak mau menikah karena Bimo.
🌹🌹🌹
"Papa tau kamu masih menginginkannya kan Rin??" tanya Adi pada Karin.
"Bohong kalau aku bilang tidak lagi menginginkannya papa. Dia pemuda pertama yang mengunci hati dan cintaku. Tapi,,," Karin bimbang.
"Tidak ada tapi tapi,,, Kali ini pemuda itu akan jadi milikmu. Itu janji papa padamu."
"Apa maksud papa??" Karin membulatkan matanya.
"Kamu lihat saja nanti. Kamu ikuti saja perintah papa. Ini saatnya kamu berjuang kembali untuk kebahagiaanmu Rin. Dan papa juga akan berjuang untuk apa yang seharusnya jadi milik papa." Adi senyum licik.
"Tapi pa,,,"
"Cukup Rin!! Kamu masih cinta kan sama Bimo?? Jawab jujur."
"Lebih dari apa pun pa. Karin berubah menjadi seperti ini juga karena dia,, karena jauh dalam hati Karin masih berharap akan bertemu dengannya suatu saat nanti dia akan menoleh pada Karin karena Karin sudah beriman."
__ADS_1
Karin bermaksud menyampaikan bahwa niatannya berhijab bukan karena semata mata kesadaran akan kewajibannya sebagai muslimah,, tapi juga karena perubahannya itu akan selalu mengingatkannya pada Bimo yang masih sangat dicintainya.
🌹🌹🌹
Pertemuan kedua kalinya antara Darren dan Adi kembali dilakukan sesuai permintaan Adi. Adi yang menentukan kapan dan di mananya pertemuan itu.
Kali ini Adi rupanya mengundang Darren ke rumahnya saja. Tapi Adi meminta Darren membawa semua anak anaknya turut serta. Bagi Darren itu tidak masalah karena dia juga ingin anak anaknya bisa menyikapi pamannya itu ke depannya jika dia tidak ada.
Darren tak pernah menyinggung sedikit pun tentang kecurigaannya kepada anak anaknya.
"Biar mereka melihat dan merasakannya sendiri. Bagaimana pun aku tidak ingin menjadi racun dalam pikiran anak anakku sendiri. Terutama Rayya,,, aku tak ingin menghancurkan hatinya dengan pemikiran burukku pada omnya itu. Dia begitu senang bisa bertemu dengan saudara dari abinya. Aku tidak tega merusak kebahagiaannya itu."
Darren berkata demikian pada Dion. Meski Dion kurang setuju tapi dia paham bahwa Darren berada di posisi serba salah.
Ingin melindungi Rayya tapi belum dapat bukti kuat tentang apa keburukan Adi,,, Ingin membiarkan Rayya menerima orang itu dengan lapang dada tapi Darren takut orang itu akan menyakitinya.
Dan hari itu Adi menyambut mereka dengan senyuman ala dirinya yang tak pernah tulus. Selalu menyiratkan kebohongan. Darren datang mengajak Rayya, Levi dan Bimo. Hanya Tiara dan Birru yang tidak ikut karena Birru agak demam.
"Selamat datang keponakanku sayang. Ayo masuk dan lihat lihatlah rumah om mu yang kecil ini. Sana ikutlah dengan Karin ke dalam.Karin,,,ajak sepupumu ini." Adi mulai menjalankan rencananya.
"Iya om,,," sahut Rayya senang tanpa curiga sedikit pun.
"Sudah kamu di sini saja sama kita. Biar para sepupu makin akrab. Biasalah kalau perempuan ketemu perempuan pasti akan banyak yang diceritakan.Apalagi keduanya sama sama sudah tidak punya ibu." Adi tak membiarkan Bimo mengganggu rencananya.
"Apa yang terjadi dengan istri anda pak Adi??" tanya Darren.
"Oh itu,,, Meninggal karena sakit. Dia terkena stroke."
"Maafkan saya. Saya turut berduka cita." Darren tak bermaksud mengungkit kesedihan Adi yang juga kehilangan istrinya karena dia tau persis seperti apa rasanya.
"Tidak apa apa. Sebagai keluarga kita boleh saling tau apa yang terjadi dalam keluarga masing masing. Oh ya ini siapa ya?? Apa ini Levi,,, putra sulung Ray??" Adi menunjuk Levi.
"Halo om,, iya saya Levi." Levi mengulurkan tangannya.
"Kamu ingat om Levi??" tanya Adi.
"Ingat sih om tapi samar." jawab Levi jujur karena memang dirinya dulu juga belum terlalu besar untuk mengingat semuanya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Om bisa mengerti kok. Oh ya om mau bilang terima kasih karena kamu dan papamu ini sudah begitu baik menjaga Rayya. Tidak bisa om bayangkan kalau tidak ada kalian. Apa jadinya Rayya? Om sendiri soalnya juga kehilangan jejak kalian setelah kecelakaan itu." ucap Adi basa basi.
Sebenarnya Darren menangkap sesuatu yang ganjil dalam kalimat yang disusun Adi itu tapi Darren masih memendamnya dalam hati.
Basa basi antara Levi dan Adi masih berlanjut meski dalam hatinya Adi kesal luar biasa pada Levi.
"Kamu anak janda culas itu. Kamu batu sandungan terbesarku saat ini. Kamu pikir aku tidak tau kalau bisnis Ray sekarang ada dalam genggamanmu?? Dasar Rayya goblok tidak bisa diandalkan!! Bisa bisanya malah menyerahkan itu kepadamu." Adi sesekali memandang tajam ke arah Levi namun berusaha tetap tersenyum.
"Pak Adi,,,Bisa kita mulai saja pembahasan kita hari ini??" tanya Darren.
"Oh tentu saja. Tapi tidak usah buru buru lah. Sebentar ya,,,Saya ke dalam dulu. Mau suruh anak anak gadis kita buat minuman." ucap Adi langsung beranjak dari duduknya.
Bimo makin tidak nyaman berdiam diri di sofa itu sementara pikirannya kemana mana.
"Ada apa Bim?? Kamu sepertinya gelisah." tegur Darren yang memperhatikannya.
"Ayah,,, Bimo takut Karin bicara macam macam ke Rayya."
Darren mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
"Lah,,, apa ini Karin yang sama bro??" Levi menyela karena tiba tiba teringat sesuatu.
Bimo mengangguk.
"Wah bahaya nih,,, Lo susul ke dalam deh." titah Levi.
"Ini ada apa sebenarnya??" Darren jadi bingung.
Levi setengah berbisik menjelaskan dengan singkat dan padat siapa Karin dan apa hubungannya dengan Bimo dan Rayya kepada Darren. Darren yang mendengarkan dengan seksama pun bisa mengerti kecemasan Bimo saat ini.
"Bimo susul ke dalam saja ya ayah." ijin Bimo.
"Eh mau kemana??" Adi muncul dari dalam dan menahan Bimo.
"Mau menyusul Rayya om." sahut Bimo jujur.
"Rayya sama Karin lagi pergi belanja ke mini market. Ternyata gula dan kopi sudah pada habis. Sudah kamu duduk saja lagi. Kita tunggu sambil ngobrol ngobrol dulu." Adi mendorong Bimo agar kembali ke tempat duduknya semula.
__ADS_1
\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹