BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
Lembaran baru


__ADS_3

Aku membawa Chaira kembali ke rumah kami. Akan ku jadikan dirinya kembali menjadi permaisuriku satu satunya.


"kenapa sayang" tanyaku heran saat Chaira menghentikan langkahnya memasuki rumah kami


Chaira diam dan matanya berkeliling menatap bangunan rumah dan halamannya. Aku tak mengerti. Ku lihat dia tampak menarik napas dalam dalam lalu menghembuskannya. Seperti ada beban berat yang ingin dilepaskannya. Sejenak aku berusaha menebak apa yang dipikirkannya.


"Mungkinkah ada rasa trauma dalam dirinya? Rumah ini telah menorehkan banyak luka di hatinya,,, dan itu semua karena aku" batinku


"sayang,, " ku sentuh bahunya.


"Ayo sayang kita masuk" ajaknya


Aku mengangguk dan membuka pintu untuknya. Chaira melangkahkan kakinya mantap setelah mengucap salam dan ku jawab saat masuk. Ku bimbing dirinya menaiki tangga dan masuk kembali ke kamar kami. Sekali lagi ku lihat dia menghela napas panjang. Aku sungguh merasa tak nyaman dengan hal itu.


"Sayang,,, jika bagimu berat untuk kita tinggal disini karena terlalu banyak kenangan pahit yang ku goreskan,,, aku tidak akan keberatan jika kamu ingin kita pindah saja" ucapku


Aku sungguh tak ingin memaksa dirinya. Chaira yang sedang membuka cadarnya menoleh padaku. Sekali lagi aku mengagumi wajah ayunya itu.


"apa benar boleh sayang?" tanyanya


Aku segera mengangguk mengiyakan


"Tapi mama???" Chaira merasa tidak enak pada mama mengingat rumah ini hadiah dari mama papa


"Tidak apa sayang,,, kita bisa minta ijin baik baik pada mereka" ucapku


Chaira ku tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih padaku yang sangat memahami perasaannya.


"maafkan aku sayang telah membuatmu begitu trauma" ucapku


"Tidak sayang,,, jangan bicara seperti itu. Aku sudah lama memaafkanmu. Lagipula aku tau itu semua kamu lakukan tanpa sengaja. Aku hanya butuh beberapa waktu lagi untuk terbiasa" sahutnya memastikan


Aku diam tak menyahut. Dalam hati sungguh aku ingin kembali mengulang waktu. Waktu dimana hanya ada aku dan Chaira. Malam itu kami menghabiskan malam bagai dua insan yang tak saling mengenal. Kami tidur beradu punggung. Kami sama sama sibuk meredam perasaan kami masing masing. Ada rindu membara namun ada juga keraguan disana.


\=\=\=\=\=\=


Mama mengizinkan kami membeli sebuah rumah baru. Tidak besar namun Chaira sangat menyukainya. Mama cukup mengerti alasan kami memutuskan pindah saja. Hari ini kami pindah ke rumah baru yang sudah dipilih Chaira. Rumah itu tak terlalu jauh dari kantorku. Chaira mempertimbangkan aku yang sebentar lagi akan kembali ke kantor dan traumaku menyetir mobil. Maka dari itu dia memilih rumah yang bisa ku jangkau dengan mudah. Papa sempat menawarkan sopir untukku tapi aku menolaknya. Aku lebih memilih untuk naik taksi saja sementara waktu.

__ADS_1


ku perhatikan Chaira yang dengan semangat menata beberapa perabotan yang kami bawa dari rumah lama. Aku bahagia melihat dia tersenyum saat aku melewatinya.


"jangan capek capek sayang" pesanku melihat dia yang sibuk.


"iya sayang" sahutnya sembari tersenyum


Hampir seharian penuh kami menata ulang dekorasi rumah. Selesai berbenah rumah kami berdua sama sama kelelahan. Lagi lagi tak ada asisten rumah tangga disini. Chaira tetap seperti Chairaku yang dulu. Yang tetap ingin melayani suaminya sendiri tanpa bantuan asisten.


Aku berjalan menghampirinya yang sedang membuka hijabnya. Tampaknya dia merasa gerah setelah sekian lama beraktifitas. Ku peluk dirinya dari belakang dan ku cium tengkuknya. Aku sangat merindukannya. Chaira diam sejenak membiarkan aku melakukannya.


"aku izin mandi dulu ya" pamitnya


Aku melepas pelukanku dan mengangguk. Chaira segera berlalu meninggalkan aku dan masuk ke kamar mandi. Aku menatapnya hampa.


"Mungkinkah dia sengaja menghindariku? Mungkinkah dia tak rela aku yang kotor ini menyentuhnya lagi??? Masih pantaskah aku menjamahnya??,,, " banyak pertanyaan dalam hatiku


\=\=\=\=\=\=


Di kamar mandi


"Maafkan aku ya Rabb,,, kenapa begitu berat dan susah bagiku menerimanya kembali tanpa teringat akan semua luka yang ada,,, Aku tak ingin jadi istri durhaka,,, aku pun tak ingin Engkau murka padaku,,, namun aku sungguh tak berdaya menahan luka hatiku. Ya Rabb,,, berilah hambaMU ini kekuatan agar bisa kembali menerimanya dengan ikhlas" lirihnya


Beberapa bulir airmata kembali membasahi wajahnya yang memang sudah basah.


"Kuatkan aku ya Rabb, singkirkanlah semua luka dan kecewa hamba." Chaira menutup doanya.


Chaira memulai mandinya. dibasahinya rambut dan tubuhnya. Dan setelah menyelesaikan mandinya segera dibalutnya tubuh dan kepalanya dengan handuk.Lalu keluar.


\=\=\=\=\=\=


Melihat istriku keluar hanya dengan balutan handuk,,hasrat kelelakianku berontak. Aku mendekati dia yang sedang duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. Ku pandang wajahnya dari pantulan cermin. Chaira yang tersadar dan menangkap pandangan mataku tersenyum.


"ada apa sayang? kenapa berdiri mematung begitu?" tanya Chaira menghentikan bunyi dari pengering rambutnya.


"kamu cantik sayang" ucapku


"Terima kasih untuk pujianmu. Tapi aku sudah lupa entah sudah berapa ribu kali kamu mengatakannya" Chaira mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Aku tersenyum kecut.


"Tapi aku tak pernah lupa berapa kali aku sudah menyakitimu" batinku


Chaira kembali menyisir rambut panjangnya yang setengah kering. Aku melangkah mendekatinya. Ku sentuh kedua bahunya. Ku beranikan diri menyingkirkan rambut yang menutupi bagian belakang tubuhnya dan kembali mencium tengkuknya. Chaira menggeliat menahan geli.


Entah kenapa Aku merasa ragu melanjutkannya. Ku lepaskan tanganku dan berjalan mendekati jendela. Aku sungguh merasa tidak pantas dan tidak berhak menyentuhnya lagi. Aku sungguh tidak bisa.


Ku rasakan jemari Chaira dibahuku. Dibalikkannya tubuhku perlahan hingga berhadapan dengannya.


"kenapa sayang?" tanyanya lembut


"Maafkan aku sayang,,, aku tidak bisa. Aku merasa hina didepanmu" lirihku sembari menunduk.


Chaira memelukku hangat.


"aku masih istri sahmu sayang. Lakukanlah apa yang memang menjadi kewajibanmu. Buang keraguanmu." bisiknya


Ku lepaskan pelukannya dan ku tatap mata teduhnya itu. Sudah lama dirinya tak merasakan kehangatan dariku. Sudah lama aku tak memberinya nafkah batin.


Ku pandang Chaira yang mulai memejamkan matanya seolah pasrah menyerahkan dirinya kepadaku. Ku kecup keningnya lembut. Ku kecup kedua kelopak matanya.


"aku mencintaimu sayang" bisikku


"aku pun mencintaimu sayang" balasnya


Ku tarik handuk yang membalut tubuhnya dan ku lemparkan sembarangan. Tak ada lagi perasaan ragu di hatiku. Aku tak ingin lagi menambah kesalahan dengan tidak memberikan apa yang menjadi haknya. Ku tuntaskan kewajibanku malam itu. Ku hempaskan semua perasaan rinduku padanya. Ku tanamkan benih benih cintaku di rahimnya dan berharap kelak tuhan segera meniupkan nyawa ke dalam rahim istriku.


Chaira memberikan layanan terbaiknya. Dia membiarkan aku mengisi ruang kosong dalam tubuhnya. Menghangatkan dirinya kembali.


"Bagaimana pun juga dia adalah imamku. Aku berkewajiban melayaninya. Dia hanya tersesat dan aku wajib menuntunnya kembali." batin Chaira


Kami menutup malam itu dengan kecupan mesra. Ku bawa Chaira dalam pelukanku dan tak ku lepaskan hingga pagi menjelang. Kan kubawa dirinya membuka lembaran baru bersamaku.


Jangan lupa vote, like dan komen yaaa


Terima kasih 😍

__ADS_1


__ADS_2