
Kriiiinnggggg,,,,
Umi bergegas mengangkat telpon rumah yang terus berbunyi.
"hallo assalamualaikum"
"selamat siang. kami dari kepolisian ingin bertanya apakah benar ini kediaman bapak Darren Narendra?"
"be,, benar. Tapi dia sedang tidak ada dirumah. Saya mertuanya. Ada apa pak? "
"begini bu,, kami ingin menginformasikan bahwa bapak Darren mengalami kecelakaan mobil. Sekarang beliau sudah dibawa kerumah sakit ****.Kami berharap pihak keluarga segera datang dan mengkonfirmasi bahwa itu bapak Darren. Untuk sementara kami hanya bisa melihat tanda pengenal yang ada bersamanya karena yang bersangkutan belum sadarkan diri."
Umi gemetar dan menjatuhkan gagang telpon yang dipegangnya. Umi tidak lagi mendengarkan polisi yang masih berbicara di telpon.
"ada apa umi?" Rosa bertanya dan mengembalikan gagang telpon ke tempatnya
Umi yang masih berusaha menenangkan diri dibimbing oleh Rosa untuk duduk di sofa. Rosa kemudian mengambilkan segelas air untuk umi. Umi segera meminumnya.
"Darren kecelakaan Ros" umi mulai bicara saat sudah sedikit tenang
"Apa umi? Dimana? kapan????" Rosa yang terkejut segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suaranya tak terlalu terdengar karena umi memberi isyarat untuk memelankan suaranya
"sekarang dia dirumah sakit masih tak sadarkan diri. Kamu bisa tolong umi nak?" umi meminta pertolongan Rosa
"pergilah ke rumah sakit dan memastikan apa benar itu Darren. Kebetulan juga dia tidak pulang malam ini. Umi tidak bisa langsung memberitahu Chaira tentang hal ini. Itu akan sangat membuatnya terkejut dan umi takut mengganggu kandungannya. Jika kamu yang pergi umi bisa bilang bahwa kamu sedang berbelanja kalau Chaira bertanya. Tolong ya nak,,, " umi kembali memohon
"iya umi,, Rosa berangkat sekarang sekarang ya. Nanti Rosa kabari umi" Rosa segera berpamitan dan pergi memesan taksi.
Umi mengetuk pintu kamar Chaira. Dia berusaha menahan diri melihat putrinya itu sedang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya berusaha menghubungi seseorang.
"sedang apa nak?" umi bertanya lembut pura pura tak tahu apa apa
"Chai sedang coba menelpon Darren umi,,, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi" suara Chaira terdengar resah
"apa nak Darren belum pulang dari semalam nak?" tanya umi
Chaira menggeleng pelan.
"tidak seperti biasanya dia seperti ini umi. Semoga saja tidak terjadi apa apa padanya. Chaira khawatir umi." Chaira kembali bersuara
"Sabar nak,,, berdoa pada tuhan. Siapa tau nak Darren memang masih sibuk dan belum sempat menghubungimu" Umi berusaha menenangkan Chaira dengan menggenggam erat jemarinya
"maafkan umi nak terpaksa menyembunyikan kebenarannya. Umi masih menunggu kabar Rosa dulu baru umi bisa menyampaikannya padamu" batin umi
\=\=\=\=\=
"Pasien atas nama Darren Narendra masih berada di ruang ICU. Luka di kepalanya cukup parah. Ibu bisa menemuinya tapi silahkan memakai pakaian khusus terlebih dahulu" staff bagian informasi menginformasikan hal itu pada Rosa
Rosa mengiyakan dan segera memakai baju khusus saat menjenguk pasien di ruang ICU. Setelah masuk dia berusaha mengenali pria yang terbaring dengan penuh peralatan medis terpasang di tubuhnya. Dia memastikan pria itu memang Darren. Suster yang mengantarnya masuk mengatakan bahwa luka di kepala Darren cukup parah. Tim dokter masih menunggu Darren sadar dulu untuk bisa mengetahui apa cidera di kepalanya itu berdampak pada Darren. Rosa segera keluar meninggalkan ruangan dan memutuskan untuk menelpon seseorang tapi dia urungkan. Dia menelpon orang lain terlebih dahulu.
"apa?? Darren kecelakaan? parah? " Bu Wati sedikit terkejut saat menjawab telpon Rosa
"ya bu,, sekarang aku harus bagaimana? umi menunggu kabar dariku karena dia tak ingin memberitahu Chaira sebelum aku memastikan bahwa ini benar Darren. Mama papanya juga belum tahu soal ini bu" kata Rosa
"tetaplah disana menemani Darren. Pastikan kamu adalah orang pertama yang dilihatnya saat dia siuman. Biar ibu yang kerumah Chaira mengabarkan hal ini" kata Bu Wati
Rosa mengiyakan dan menutup telponnya. Dia kembali masuk ke ruangan Darren. Dia duduk di sebelah ranjangnya menatap wajah Darren yang terdapat beberapa luka. Dielusnya perlahan tangan Darren.
__ADS_1
"aku tak akan mengusikmu jika saja kamu bukan suami Chaira mas" batin Rosa
\=\=\=\=\=\=
Bu Wati masuk dengan tergopoh gopoh ke kamar Chaira. Umi yang terkejut tak bisa menahannya saat dia langsung menyampaikan berita tentang Darren.
"Chai bagaimana bisa kamu tetap disini?? Suamimu kecelakaan parah dan tak sadarkan diri di rumah sakit!!!" cerocos bu Wati
Umi berusaha menahannya tapi tidak berhasil.
"apa bu??? bagaimana ibu bisa tahu?? " Chaira mulai panik dan menangis
"Sabar nak sabar tenangkan dirimu" umi berusaha menenangkannya
"Rosa tadi mengajak ibu kerumah sakit. katanya umimu ini yang menyuruhnya ke rumah sakit memastikan apa yang dikatakan polisi lewat telpon tadi benar atau tidak. Rosa tak berani sendiri kesana jadi dia mengajakku. Sekarang dia masih disana menunggui suamimu. " tukas bu Wati
"jadi umi sudah tau?" Chaira memandang umi
Umi hanya mengangguk pelan kemudian menitikkan airmata.
"maafkan umi nak,, umi tidak ingin membuatmu mendengar hal yang belum umi pastikan kebenarannya" suara umi lirih
"Ayo umi kita harus segera kerumah sakit" Chaira segera bergegas bangkit dan berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia dengan cepat mengganti bajunya dan mengambil tasnya. Umi memandangnya dengan perasaan khawatir.
"aaauuuwwww" Chaira memegangi perutnya yang tiba tiba terasa sangat sakit ketika mereka sampai di teras depan.
Umi yang sedang mengunci pintu tergopoh gopoh menghampirinya
"kamu baik baik saja nak?" tanya umi cemas
"Perut Chai sakit sekali umi" ucap Chaira sambil melihat kebawah dan sedikit menyingkap gaun panjangnya. Dia melihat lelehan darah di kakinya.
"ayo nak kita segera kerumah sakit" Umi segera membawa Chaira menaiki taksi yang sudah datang.
Bu Wati tersenyum senang melihat semua itu. Memang itu yang diharapkannya. Dengan datang membawa kabar buruk untuk Chaira dia yakin kandungan Chaira yang lemah itu akan kembali bermasalah dan bahkan berharap Chaira kehilangan bayinya. Chaira yang baik itu pasti akan sangat terpukul dan merasa bersalah karena tak bisa menjaga kandungannya.
"maaf bu,,, kandungan ibu tidak bisa diselamatkan" ucap dokter yang mengambil tindakan pada Chaira
Chaira meneteskan airmatanya. Umi pun tak sanggup menahan tangisnya sendiri.
"cobaan apakah ini tuhan,, aku kehilangan bayiku dan suamiku masih tak sadarkan diri. Kuatkan hamba ya Rabb" lirih Chaira
"yang sabar ya nak,,, umi yakin ada hal baik lain yang sudah disiapkan tuhan untukmu kelak" kata umi sembari memeluk Chaira
Chaira menghapus airmatanya lalu menatap dokter yang masih berada disana.
"apa saya masih bisa hamil lagi dok?" tanya Chaira
"dengan riwayat kandungan ibu yang lemah dan keguguran ini, kemungkinan bisa lagi tipis bu,, tapi kalaupun ibu ingin program hamil lagi mungkin tidak bisa dalam waktu cepat" kata kata dokter kembali membuat Chaira meneteskan airmatanya
"Jika tidak ada hal lain lagi saya pamit untuk memeriksa pasien lain bu" pamit dokter yang segera meninggalkan mereka yang masih saling berpelukan dan menangis
\=\=\=\=
Di ruangan lain,,,
Rosa terbangun dari tidurnya saat merasakan tangan Darren bergerak gerak mengelus kepalanya. Dia tidak sadar dirinya tertidur di sebelah ranjang Darren. Melihat Darren yang mulai sadar dia segera memanggil dokter agar memeriksa Darren. Sementara itu dia menunggu diluar. Bu Wati yang datang langsung menanyainya tentang kondisi Darren.
__ADS_1
" Apakah anda keluarga pasien? "tanya dokter yang baru keluar
" iya dok"sahut bu Wati
"pak Darren sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Kami sedang mengatur agar beliau bisa dipindahkan ke ruangan biasa" kata dokter
"terima kasih dok" sahut Rosa
Rosa masuk kedalam kamar inap Darren. Dia merasa sedikit aneh melihat Darren tersenyum manis kepadanya.
"kemarilah sayang" ucap Darren yang membuat Rosa terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya
Dia menoleh kanan kiri memastikan bahwa hanya ada dirinya dan Darren diruangan itu. Ya,,, dan memang hanya mereka disana.
"lalu siapa yang dipanggilnya sayang?" batinnya
Rosa terus mendekat dan duduk ditepi ranjang. Darren segera mengambil tangannya dan menggenggamnya. Rosa yang masih bingung tambah bingung. Bu Wati yang baru masuk pun bingung melihat Darren sedang menggenggam tangan putrinya.
"terima kasih sudah begitu setia menemaniku istriku. Suster bilang kamu terus menjagaku" kata Darren
Bu Wati dan Rosa melongo mendengar itu. Sejenak mereka saling berpandangan dengan tatapan saling bertanya tanya.
"istri????" batin bu Wati dan Rosa
"ah sebaiknya aku ke apotik dulu ya mas. Ada obat yang harus ku tebus untukmu" Rosa dengan begitu cerdas mengalihkan pembicaraan. Dia memberi tanda pada bu Wati untuk keluar bersamanya.
Mereka menemui dokter dan mengatakan yang barusan terjadi. Dokter mengerti dan segera ke kamar Darren untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah hampir sejam dokter keluar bersama suster tepat saat Chaira dan umi menghampiri mereka.
"Dokter saya istri pasien. seperti apa kondisi suami saya dok?" tanya Chaira
"pak Darren mengalami benturan cukup keras di kepala dan mengakibatkan cedera. Cedera tersebut ternyata menyebabkan dia kehilangan beberapa ingatannya. Dia hanya mampu mengingat beberapa hal saja. Dia kemungkinan hanya mengenali beberapa orang yang terakhir dan pertama kali dilihatnya setelah kecelakaannya." kata dokter
Chaira lemas. Tubuhnya tersandar di tembok.
"apakah menantu saya bisa disembuhkan dok? apa ingatannya bisa kembali pulih seperti sedia kala?" tanya umi yang berusaha menahan tubuh Chaira agar tidak jatuh.
"Kemungkinan bisa bu tapi butuh waktu. untuk sementara tolong jangan membebani pasien dengan memaksakan pasien mengingat semua hal. Biarkan saja dulu pasien dengan ingatannya saat ini. Apa pun yang terjadi tolong tetap mendampingi pasien. kehadiran orang orang terdekat yang masih diingatnya akan sangat membantu pasien bisa kembali pada ingatannya."tutup dokter yang segera berlalu
Umi membimbing Chaira memasuki ruangan Darren. Darren yang melihat ke arah pintu yang terbuka hanya diam seperti tak mengenali mereka. Lalu Rosa dan bu Wati menyusul masuk.
"Rosa sayang,,, siapa mereka ini? " tanya Darren kebingungan melihat banyak orang datang.
Chaira yang berusaha menghimpun kekuatannya berjalan menghampiri suaminya itu.
"aku istrimu sayang" ucapnya sembari menangis
Darren yang kebingungan memandang Rosa dan Chaira bergantian. Dipandangnya Chaira yang menagis dan Rosa yang hanya diam menatapnya. Darren kembali memandang Chaira.
"kenapa wanita itu begitu bersedih melihatku?Siapa dia???" Darren berusaha mengingatnya. Kepalanya mendadak sakit. Dipeganginya kepalanya itu.
"Rosa sayang suruh semua pergi!!!!!" teriak Darren
Rosa segera membawa kami semua keluar dan menemui dokter kembali untuk mendapat penjelasan lagi. Dan penjelasan dokter cukup membuat Chaira sangat bersedih.
"iya bu,, untuk saat ini pak Darren hanya mengingat bu Rosa lah istrinya. Beliau bisa mengingat tanggal pernikahan kalian dan betapa sangat cintanya istrinya padanya. Dan oleh karena pertama kali yang dilihatnya adalah bu Rosa jadi beliau beranggapan itulah istrinya. Saya sarankan ibu bersabar dan sementara waktu mengalah agar pak Darren tidak kesakitan lagi bu. Memaksakan beliau mengingat semuanya akan sangat membuat beliau kesakitan. Ibu bisa minta tolong bu Rosa untuk mencoba pelan pelan menyampaikan tentang ibu. Ingat,,, jangan terlalu dipaksa" pungkas dokter
Jangan lupa vote, like dan komennya yaaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍