
"Lu gak ingin cari dia bro? Lu gak ingin tau kebenaran tentang siapa bayi itu?" tanya Dion padaku yang masih termenung.
"Seandainya benar bayi itu anak Febby, terus gue harus gimana lagi? Gue bahkan gak yakin tuh anak beneran anak gue" aku masih begitu gengsi.
Memang bukan tanpa alasan jika aku meragukan bayi itu karena pengalaman burukku tertipu oleh Febby dulu. Aku hanya tak ingin kembali tertipu.
"Kita bisa lakukan tes DNA lagi bro,,, kalau lu gak percaya dengan hasilnya lagi kita cari dokter yang memang bisa kita percaya. Dulu lu tertipu karena lu menyerahkan segala urusan pada Febby" kata Dion
"Lu sih kebiasa manja banget apa apa nyuruh orang,,, kan jadi lu sendiri yang ketipu. Lu harus belajar dari kesalahan besar lu itu!!! " Dion mulai kesal.
Selama ini memang hampir semua urusan dan masalahku dialah yang mengurus dan menyelesaikannya. Namun dirinya yang sekarang sudah tak punya banyak waktu untuk mengurusku.
"Ya ya ya,,, gue akan pertimbangkan ide lu" sahutku malas.
"Apaaaa??? Pertimbangkan??? Woyyyy Darren Narendra!!!! Wake up bro,,,!!!" Dion membentak
Aku agak terkejut melihat ekspresi wajahnya yang terlihat emosi itu. Aku bahkan tak mengerti kenapa dia tiba tiba membentakku.
"Lu bisa bayangin gak sih,,, kalau lu masih terus menunda untuk mencari kebenarannya dan ternyata suatu saat terbukti bahwa bayi itu memang darah daging lu,,, Lu udah terlambat banget untuk menyesalinya" Dion berapi api
"Apa yang harus gue sesali? Karena gue menelantarkan anak gue sendiri maksud lu?" tanyaku polos
Dion tampak sangat marah mendengar pertanyaan bodohku itu.
"Ini nih kalau anak manja,,, lu sekolah tinggi tinggi buat apa?? Otak lu sama sekali gak berfungsi. Bahkan hati lu juga sudah buta!!!" Dion terus memakiku
"Kenapa sih lu berbelit belit sekali. Kalau lu tau gue gak paham maksud lu,,, lu cukup jelasin ke gue!!! Gak usah maki maki gue,,, Lu pikir siapa lu bisa maki maki gue seenak jidat lu!!!!" emosiku tersulut.
Dion yang sudah lebih dulu emosi langsung berdiri dari duduknya.
"Gue bukan siapa siapa,,, Gue disini bicara didepan lu untuk mencari keadilan bagi wanita yang sudah lu sakiti. Gue disini bicara agar mata hati lu terbuka dan bisa melihat kenyataan bahwa wanita yang udah lu ceraikan,,, lu tuduh selingkuh,,, justru dia lah yang merawat dan membesarkan anak lu!!!!!" Dion langsung beranjak menuju pintu.
Aku menatap punggungnya yang terus berjalan menjauhiku. Aku berusaha mencerna kata katanya. Aku melihat dia berhenti di pintu dan membalikkan badannya.
"Semestinya lu malu,,, saat lu masih bertahan dengan gengsi lu mengakui dan menerima bayi itu,,, Wanita itu menerima bayi yang lahir dari madunya dengan tangan terbuka tanpa mempermasalahkan darah siapa yang mengalir di tubuh bayi itu" lirihnya dan langsung keluar.
Aku terduduk lemas di kursiku.
Setiap kalimat Dion terasa sangat menusuk jantungku. Terutama kalimat terakhir yang diucapkannya di pintu tadi.
Airmataku menetes.
Terlambat!!! Sangat terlambat!!!
Seandainya waktu itu aku bisa menahan emosi,,, Seandainya waktu itu aku tak gelap mata,,, Seandainya waktu itu aku menuruti perintah Chaira untuk duduk,,, Seandainya waktu itu aku mau mendengarkan sepatah dua patah kata yang akan diucapkannya,,,,
Seandainya,,,
__ADS_1
Seandainya,,,,
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Airmata yang terus membanjiri wajahku seperti tak ada habis habisnya mengalir seperti penyesalanku yang terus datang bertubi tubi mengoyak hatiku.
"Chaira sayangku,,, maafkan aku sayang. Maafkan aku" aku memukul mukul dadaku sendiri yang terasa sesak.
Aku tak bisa terus terusan seperti ini. Aku harus menemuinya. Aku harus meminta maaf padanya. Bila perlu aku akan bersujud di kakinya agar dia mau memaafkanku dan menerimaku kembali.
Kali ini aku benar benar tak ingin kehilangan dirinya lagi. Kali ini akan ku buang jauh gengsi yang selama ini merajaiku. Kali ini aku tak peduli darah siapa yang ada di dalam tubuh bayi itu.
Aku akan menerimanya seperti aku menerima Mike dulu. Aku akan berusaha menjadi ayah terbaik bagi anak itu. Dan aku juga akan berusaha menjadi imam terbaik bagi Chaira.
Aku akan mengajaknya rujuk. Aku tau Chaira wanita baik. Dia pasti tau tuhannya membenci perceraian,, Aku yakin dia akan sangat setuju jika aku memintanya rujuk denganku.
Aku yakin,,
Segera ku hapus airmataku dan berkemas. Sinta yang ku suruh memesan tiket pesawat langsung melaksanakan perintahku.
"Aku datang sayang."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bisakah kita bertemu Ray?" Chaira menelpon Ray
"Tunggu biar aku lihat jadwalku hari ini" jawab Ray yang memang selalu sibuk.
"Baiklah,, aku bisa menemui setelah dua jam. Aku ada meeting penting. Apa kau keberatan Chai?" tanya Ray
"Jangan terlalu merindukanku" goda Ray dengan nada jahilnya seperti biasa.
"Rayyyyy,,, kamu mulai. Baiklah,, datanglah ke alamat yang akan ku kirimkan padamu sesaat lagi. Assalamualikum Ray" tutup Chaira
Ray menjawab salam dan menutup telpon. Sesaat kemudian Chaira mengirimkan sebuah alamat yang dia tau dimana itu. Itu adalah sebuah taman yang dulu sering mereka datangi saat mereka jenuh belajar dan membaca di perpustakaan kampus.
Ray segera berkemas dan menuju tempat meetingnya.
Dipimpinnya meeting itu dengan semangat membara. Dia ingin cepat menyelesaikan meeting itu karena tak sabar ingin menemui Chaira.
Ray tak sabar mendengar apa yang akan dikatakan Chaira.
Sejam setengah berlalu,,, Meeting telah selesai.
Ray melirik jam tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk bertemu Chaira. Ray segera berkemas.
Dijalan dia berhenti di sebuah toko bunga. Dibelinya rangkaian bunga cantik untuk Chaira.
Ray kembali membelah jalanan menuju alamat yang dituju.
__ADS_1
Tiba di taman Ray tersenyum melihat Chaira yang sudah duduk menunggunya. Dihampirinya wanita yang belum mengetahui kehadirannya karena Ray datang dari arah berlawanan dengan kursi yang diduduki Chaira.
"Assalamualaikum" ucap Ray sembari menyodorkan rangkaian bunga yang dibawanya.
Chaira menoleh ke belakang.
"Waalaikumsalam Ray" diterimanya bunga itu.
"Jangan bilang aku sudah terlambat. Tapi walau aku terlambat itu juga salahmu" ucap Ray
"kenapa salahku?" tanya Chaira tak mengerti.
"Karena kau membuatku begitu bahagia mendapat undangan pertemuan darimu sehingga aku ingin membelikanmu bunga" jawaban Ray yang asal itu mampu membuat Chaira setengah kesal.
"Mana ada seperti itu!! Duduklah dulu,, aku ingin bicara" titah Chaira
Ray duduk di sebelahnya. Kursi taman yang panjang cukup memberi jarak bagi mereka.
"Ray,,, aku sudah memikirkan semuanya" Chaira memulai.
Ray diam dan bersabar menunggu hingga Chaira menyelesaikan perkataannya.
"Sebenarnya aku berat mengatakannya" lirih Chaira.
"Aku minta maaf Ray,,, "
Ray yang mulai bisa menebak arah kalimat Chaira menarik napas dalam dalam. Dia menyiapkan hati dan dirinya untuk menerima kenyataan bahwa Chaira akan menolaknya sekali lagi.
Ray sudah bisa menyimpulkan akhir kalimat itu karena Chaira telah mengatakan bahwa dirinya sangat berat mengatakan bahkan telah meminta maaf.
Ray pasrah dengan apa pun keputusan Chaira.
"Apa pun keputusanmu tak akan pernah mengubah perasaanku padamu. Jika kau kembali menolakku kali ini maka aku akan kembali melamarmu suatu hari nanti. Aku akan tetap mencintaimu dan menunggumu bahkan tetap mengejarmu hingga kau lelah sendiri dengan pengejaranku Chai" batinnya.
Chaira yang menghentikan bicaranya menatap wajah Ray yang sudah mulai berubah auranya. Ray yang tadi datang dengan wajah berbinar sekarang tampak sendu. Dia bahkan terlihat melamun.
Chaira memahami dan mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
"Ray,,," panggilnya sekali lagi agar Ray kembali fokus dan tersadar dari lamunannya.
Ray tersadar.
"Oh maaf,,, lanjutkan perkataanmu" ucapnya
"Aku siap mendengarkan" lanjutnya
Chaira menarik napas dalam.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
Terima kasih 😍