
beberapa bulan kemudian,,,,
"Kenapa bisa dia menghilang seperti ditelan bumi begini???" Aku heran kenapa hingga kini kami belum juga menemukan jejak Chaira.
Seorang seperti Chaira rasanya tak bisa pergi jauh. Aku dan sahabatku sudah banyak mengerahkan orang orang kami mencarinya namun tak ada satu titik terang pun.
Tak hanya Chaira,, Rosa dan suaminya pun bak ditelan bumi. Berkali kali kami mengunjungi butik lama Chaira berharap kami bisa bertemu dengan salah satu dari mereka. Mungkin saja mereka ingin mengurus kerjasama mereka.
Tapi lagi lagi nihil. Pihak pengelola butik mengatakan bahwa mereka tak lagi ada urusan kerja dengan Chaira karena dia telah menjual semuanya pada mereka termasuk sisa sisa gaun yang dijualnya dulu.
Saking fokusnya mencari Chaira aku sampai tak mengurus diriku. Rambutku memanjang,,, bahkan daguku mulai ditumbuhi jenggot. Tubuhku kehilangan cukup banyak berat badanku.
Kedua sahabatku sering ku repotkan karena mereka harus sering mengantarku atau mengurusku saat aku mabuk berat. Yaaa,,, aku setres karena tak bisa menemukan Chaira.
Ku lampiaskan semua itu pada minuman. Aku hanya ingin bisa sejenak saja melupakan masalahku. Namun nyatanya aku akan kembali tersadar dan meratapi semua yang terjadi.
"Bodoh kamu Darren,, Bodoh!!!!!! Kini kau kehilangan harta paling berharga yang pernah kau miliki!!!! semua ini karena ulahmu!!! ulahmu sendiri!!!!" setiap hari aku memaki diriku sendiri.
Namun aku masih beruntung memiliki sahabat yang banyak membantu urusan bisnisku. Jadi walau aku pemiliknya sedang tak bisa diandalkan perusahaanku masih tetap berkembang pesat.
Kami masih tetap menjalin kerjasama dengan perusahaan perusahaan besar lainnya. Bahkan yang terbaru kami juga mendapat kontrak kerja dengan PT D** yang kabarnya dikelola pengusaha muda yang sukses membuka banyak anak cabang perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri.
"Dare,,, sebaiknya lu temui klien baru kita. Seperti biasa setelahnya lu bisa serahkan semua ke gue dan Angga." tukas Dion pagi ini di telpon.
"Arrgghhh,,, apa gak bisa kalau lu aja yang urus?" jawabku malas.
Kepalaku masih pusing akibat aku terlalu mabuk semalam.
"Gak bisa Dare,,, lu harus tau siapa saja klien kita. Lu harus ketemu dengan mereka." kata Dion
"Hmmm baiklah gue akan segera datang" sahutku malas
"be on time yaaa,,, ini proyek besar jadi jangan kacaukan semuanya!!!" Dion mengingatkan
"iyaaaa bawelllll,,,,,!!!!" sungutku langsung mematikan telpon dan beranjak mandi.
"Halo Darren,,, Halo Dion,,, apa kabar??"
Dion yang menemaniku menemui klienku itu heran saat klienku terlihat mengenalku secara pribadi. Aku sendiri masih belum terlalu ingat dan kenal siapa dirinya.
" Maaf sebelumnya,, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku yang masih belum mengenalinya.
Klienku itu tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja kau tak mengenal pria miskin dan tak setampan kalian dulu di kampus kita. Tapi aku tak menyalahkan karena kita memang beda fakultas." jawabnya
Mendengar dia menyebut bahwa dirinya dulu teman sekampus kami aku kembali berusaha mengingat ingat. Ku pandangi dirinya lekat lekat.
Yaa aku ingat,,,!!!
"Rayhan,,, sahabat Chaira!!! Halooo,,, aku ingat sekarang. Wahh kamu terlihat berbeda sekali sekarang. Apa kabarmu Ray?" aku yang sudah ingat langsung mengakrabkan diriku.
"Lu lupa bro??? Rayhan yang dulu sering kita buli kalau dia dekat dekat Chaira terus!!!" Aku berusaha mengingatkan Dion.
"Hahahhaha,,, kau masih saja ingat hal itu Dare,,, " Ray tertawa ingat dulu kami memang sering mengancamnya untuk menjauhi Chaira.
Aku dulu sangat takut jika Chaira didekati pria lain. Aku dulu sangat tidak ingin kehilangan Chaira. Walau nyatanya saat ini ketakutanku itu terjadi. Aku sudah kehilangan dirinya.
"Waahhh yang bener ini lu Ray???" Dion yang baru ingat langsung menepuk pundaknya
"Yaa beginilah adanya aku sekarang" Ray merendah terus.
"Ayo ayo duduk,, kita mau kangen kangenan dulu atau mau langsung ke pekerjaan kita?" tanyaku
"Langsung saja Dare,, aku minta maaf karena hari ini sangat padat jadwalku" jawab Ray
Aku tersenyum dan mengerti. Aku tidak heran pengusaha muda seperti dirinya tentulah tidak banyak punya waktu senggang. Untuk itu aku segera saja memulai pembahasan kami.
"Kamu yakin mau langsung pergi Ray?" tanyaku saat dia mulai terlihat berkemas.
"Ya Dare,, aku harus ke luar kota sore ini. Ada pekerjaan penting disana" jawab Ray berbohong.
Sebenarnya dia agak terkejut tadinya saat bertemu aku. Dia tak menyangka bahwa akulah pemilik perusahaan ini. Aku adalah orang yang sebenarnya ingin dijauhinya ternyata malah jadi rekan bisnisnya sekarang.
Ray yang sangat profesional urusan kerja berhasil menutupi rasa terkejut dan ketidakinginannya bertemu denganku. Namun dia tak ingin berlama lama denganku.
"Sampaikan saja salamku pada Chaira. Tentunya saat ini kau sudah tak cemburu kan? Kau sudah resmi memilikinya" ucap Ray pura pura tak mengetahui masalahku.
"Akan kusampaikan" lirihku.
Aku tersenyum kecut. Ray bisa melihat itu namun dia tak ingin menanyakan kenapa senyumku seperti itu. Baginya lebih baik tak terlalu bicara banyak.
"Baiklah Dare,, sampai jumpa di lain waktu. Aku pamit" kata Ray sembari menjabat tanganku dan Dion juga.
"Senang bekerjasama denganmu" ucapku
Ray tersenyum. Dia segera meninggalkan kami.
__ADS_1
"Siapkan jet untukku. aku ingin ke Bali sore ini" titah Ray pada asistennya.
"Baik pak" asisten langsung mengurus semuanya.
"Chaira harus tau,,, Pertemuan ini sangat tidak ku harapkan apalagi ku rencanakan. Aku akan meminta pendapatnya. Haruskah aku melanjutkan kerjasamaku atau memutusnya saja. Aku tak ingin Chaira was was jika aku sering bersama Darren" pikir Ray
\=\=\=≠\=\=\=
"Assalamualaikum anak Abi,,, " Ray yang baru datang langsung meminta Levi yang digendong Chaira
"Waalaikumsalam bi,,, kok sudah kesini lagi Ray? Apa kamu sedang tak banyak pekerjaan? Minggu ini kamu sudah 3 kali mengunjungi kami" kata Chaira
"Kan aku sudah bilang,,, untuk kalian aku tak takut walau harus bangkrut" canda Ray
"Kamu itu ya,,, Ayo kamu mandi dulu. Kasihan Levi kalau abi bau acem" Chaira juga mencandainya
"Hahahahha,,, memangnya bunda sudah mandi ya nak? Abi baru datang sudah bau acem dari tadi. Pasti bunda yang acem ya nak???" Ray bicara pada Levi yang sudah bisa merespon walau dengan tawa tawa kecilnya.
"Kebiasaan!!!!" Chaira langsung merebut Levi dari gendongan Ray.
"Sana mandi duluuuuu" titah Chaira
Ray tertawa dan segera menuju kamar mandi.
"Baiklah nyonyaaaaa,,, hambamu ini menurut sajaaaa!!!!!" ucapnya sembari berlarian
Chaira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ray yang kekanakan itu. Selama ini Ray telah begitu menjaganya. Menghiburnya.
Tak lama menunggu di meja makan Ray datang dengan baju casual yang sering dipakainya saat dirumah saja.
"Ayo makan dulu" Chaira yang sudah lebih dulu disana menyiapkan nasi dan lauk pauk untuknya.
"Wahhh masakan bunda memang bikin lapar ya nak" ucapnya pada Levi yang duduk di kursi kecil
Levi meraih raih ingin digendong.
"Biar abi makan dulu ya sayang" kata Chaira sambil mencium Levi.
Ray dan Chaira menyantap makan malam buatan Chaira dengan lahapnya. Ray sangat menyukai masakan Chaira.
"Aku akan menyampaikan berita pertemuanku dengan Darren besok pagi saja" batin Ray yang tak ingin mengganggu nikmat makan malam mereka
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍