
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
"Leviiiiii,,,," suara akrab itu terdengar di telinga Rayya yang langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Sosok yang masuk dan langsung menghampiri Levi juga sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang bahkan beberapa saat terakhir ini cenderung dihindarinya.
Ya,,, Bimo masuk langsung merangkul tubuh Levi dan terkadang memukul lengan sahabatnya itu tanpa memperhatikan ada siapa saja dalam ruangan itu.
"Udah jadi bapak lo sekarang ya,,, Selamat ya bro. Lo juga Tiara. Selamat jadi emak emak ya. Sini ponakan gue,, Biar gue yang gendong." Bimo terus saja nyerocos sambil mengambil Birru dari sebelah Tiara.
"Emang lo bisa gendong bayi??" tanya Levi tak percaya.
"Kecil itu mah,," sahut Bimo yakin.
"Yakin lo Bim? Ntar anak gue jatoh lagi lo buat. Sakit tau ngelahirinnya." sungut Tiara juga tak percaya.
"Yaelah lo pada ya,,,Kebangetan banget deh ma gue. Gini gini gue jago tau ngasuh anak. Gue kan calon bapak idaman." sombong Bimo sambil menggendong Birru yang hanya menggeliat geliat pelan lalu kembali tenang dalam gendongannya.
"Eh bener lho. Birru nyaman digendong sama lo." puji Levi.
"Apa gue bilang?? Gue ni calon suami dan bapak idaman. Lo garis bawahi itu ya,," sekali lagi Bimo menyombong.
"Emang ada yang mau ma lo??" ledek Tiara.
"Baah ni orang ya ngeremehin banget deh. Siapa bilang gak ada yang mau sama gue?? Ada kok,,," sombongnya lagi.
"Siapa??" tanya Levi dengan nada menantang.
"Ada deh,,," jawab Bimo merahasiakan siapa wanita perebut hatinya itu.
"Diihh boong banget deh lo kalau kayak gitu jawabnya. Udah lo nyerocos aja dari tadi. Sono kasih salam sama semuanya dulu. Gak sopan banget dari tadi gak kasih salam sama yang udah duluan di sini." sungut Levi.
"Eh iya,,,Ampun gue lupa." tetap dengan menggendong Birru,Bimo berbalik.
"Eits,,, banyak orang ternyata." batinnya melihat satu persatu orang di ruangan itu.
Ada Darren dan mertua Levi yang sudah dikenalnya dan seorang wanita bercadar yang membuatnya memicingkan mata berusaha mengenali perempuan itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum semuanya. Maap maap ya kalau saya main nyerocos aja dari tadi. By the way siapa nih ukhti?" Bimo mencoba mengakrabkan dirinya dengan menyapa perempuan bercadar itu.
Tangannya terulur untuk mengajak bersalaman namun hanya dibalas dengan sepuluh jari tertangkup di dada oleh perempuan itu.
"Eh iya maaf ya ukhti,,," Bimo baru menyadari tindakannya itu tidak bisa diterima perempuan itu.
Bimo langsung kembali ke dekat Levi dan meletakkan Birru di ranjang Tiara karena bayi itu mulai merasa tidak nyaman di gendongannya.
Bersamaan dengan itu Rayya pun pamit pada Darren untuk keluar membeli sesuatu di kantin.
"Siapa itu bro? Lo gak pernah cerita punya teman atau sodara bercadar?" bisiknya pada Levi saat Rayya keluar.
"Masak lo gak kenal? Yakin lo?" tanya Levi.
Bimo menggeleng dengan muka bingung dan bodohnya membuat Levi tak bisa menahan tawanya. Tiara yang melihatnya pun turut tertawa.
"Lo pada ngetawain apa sih? Emang gue salah jawab gue gak kenal? Orang emang gue gak kenal kok." sungut Bimo.
"Ya salah besarlah kalau lo bilang gak kenal ma doi. Doi tuh Ayya bro,,,Adik gue. Lo kenal kan ma adik gue??" cetus Levi menegaskan.
"Whaaaatt?? Ayya???" mata Bimo membesar dengan cepat disertai mulut menganga.
"Dih bau tau tuh mulut. Makan apaan sih lo tadi,,,??" Levi kesal.
"Serius lo itu Ayya?? Mimpi apaan dia jadi begit?" tanya Bimo.
"Bukan mimpi tapi alhamdulillah Rayya sudah dapat hidayah Bim." Darren menyahut dari tempatnya duduk.
"Eh iya om,,,Maksudnya saya kaget aja gitu hehehe,,," Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari meringis.
"Alhamdulillah ya,,," ucap Darren lagi sambil tersenyum.
"Tiara juga inshaallah mau nyusul Rayya ayah. Begitu dinyatakan sudah pulih kondisi Ara,,, Ara mau berhijab juga meski mungkin belum sampai di tahap niqob." ucap Tiara setelahnya.
"Oh ya?? Mashaallah ayah senang sekali nak. Bukan begitu oma dan kakek??" tanya Darren pada kedua orang tua Tiara.
"Meski ayah gak pernah banyak mengajarkan pondasi agama padamu Ra,, Tapi ayah dan ibu mendukung seratus persen kalau kamu memutuskan berhijab juga." jawab pak Herman dengan penuh senyuman menatap ke arah Tiara.
Obrolan itu tak menarik bagi Bimo yang konsentrasinya justru jauh mengikuti bayangan Rayya. Banyak pertanyaan dalam dirinya mengenai perubahan Rayya. Tak lagi mengindahkan apa saja obrolan di dalam kamar itu,,, Bimo memutuskan keluar mencari Rayya.
Tadi dia sempat mendengar bahwa Rayya bilang mau ke kantin jadi dia langsung saja menuju kantin. Matanya menoleh kesana kemari mencari keberadaan Rayya dan pandangannya pun tertumbuk pada wanita bercadar yang duduk di sudut kantin dengan memainkan pipet du gelasnya.
"Ayya,,," panggilnya lirih.
__ADS_1
Rayya berhenti memainkan gelasnya. Pandangannya tertunduk sambil bibirnya mengucapkan salam.
"Assalamualaikum bang Bim." ucap Rayya.
"Wa,, Wa,,, Waalaikumsa,,, sa,,, salam." sahut Bimo gagap.
Rayya masih menundukkan pandangannya.
"A,,,Abang bo,,,boleh duduk??" tanya Bimo masih sedikit gagap dan salah tingkah.
"Silahkan bang. Ini kan tempat umum. Siapa saja boleh duduk." sahut Rayya.
"I,,Iya ya,,," Bimo memposisikan dirinya tepat di depan Rayya.
Dicuri curi pandangnya wajah bercadar itu berharap bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaannya selama ini. Tapi si pemilik wajah memilih untuk tetap menghindari kontak mata dengan sibuk kembali memainkan gelasnya.
"Ayya,,, Abang boleh tanya?" tanya Bimo kemudian setelah gagal terus kontak mata dengan Rayya.
"Boleh...Mau tanya apa bang?" akhirnya mata Rayya bertemu dengan matanya.
Deg,,,
Jantung Bimo mendadak berhenti berdetak. Otaknya juga seakan tak bisa berpikir dan mengingat apa pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Mata itu mencekat dirinya. Mata itu membuat dirinya sangat terpesona.
"Bang,,," Rayya menyadarkannya.
"Eh maaf maaf,,,"Bimo mengedip ngedipkan matanya berulang ulang.
"Mau tanya apa?" tanya Rayya lagi.
"Kenapa Ayya menghindari abang selama ini? Ayya gak pernah lagi balas chat abang. Ayya juga gak pernah terima telpon abang. Apa abang ada salah sama Ayya?" tanya Bimo dengan hati dan jantung yang kembali berdetak normal.
"Ayya hanya ingin abang memikirkan semua yang pernah abang katakan pada Ayya sebelumnya. Apalagi dengan perubahan Ayya sekarang,,, Ayya tidak ingin membuat abang menyesal sudah terlalu dini menyatakan perasaan abang pada Ayya." sahut Rayya lembut.
"Ayya,,, Abang tuh cinta sama Ayya bukan karena penampilan Ayya. Mau diapain juga Ayya,,, Asalkan bukan kecantikan hati Ayya yang berubah,,, Abang tetap cinta sama Ayya." jawab Bimo yakin.
"Abang yakin?" tanya Rayya.
"Seratus persen." Bimo mengangguk pasti.
\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya πΈ
__ADS_1