
Aku mengajak Levi berjalan jalan di sebuah mall di pusat kota. Aku mengenakan kaos berwarna navy yang cukup ketat di badanku.
Aku memesan kaos itu di sebuah toko baju langgananku. Aku sengaja memesan satu kaos yang sama namun untuk Levi. Aku senang memakai pakaian yang sama dengannya saat kami berjalan jalan.
Levi yang mewarisi ketampananku sangat keren saat dirinya yang sudah ku biasakan memakai kacamata mengenakan kacamata hitam yang ku belikan untuknya tempo hari.
Aku memang merasa sudah tak muda lagi,,, namun aku puas melihat pantulan wajahku sendiri di cermin. Setahun terakhir ini sengaja ku biarkan bulu bulu tumbuh di sekitar wajahku sehingga aku tampak brewok tipis. Itu justru menambah kesan keren padaku.
Sebenarnya aku membiarkan wajahku sedikit brewok bukan sengaja ingin tampil keren atau mengikuti fashion namun aku hanya berusaha menjalankan sunnah nabi.
Aku banyak belajar agama dari ayah Hana. Aku masih sering bertemu dengannya hingga saat terakhirnya. Beliau wafat karena penyakit yang dideritanya.
Aku juga senang karena sahabatku Dion yang telah menikahi Hana juga sudah banyak berubah. Semakin tua kami semakin berbenah diri.
Aku sadar kesalahanku masih menggunung dan apa yang ku capai hingga kini belum mampu menghapus dosa masa laluku.
"Hot daddy,,,, "
"Single daddy,,, "
Itu kata kata yang sering ku dengar dari bibir wanita wanita yang ku temui tiap kali aku mengajak Levi bersamaku.
Mungkin dengan Levi yang ku gandeng erat mereka bisa menyimpulkan bahwa aku adalah ayahnya. Aku tak peduli jika mereka berspekulasi buruk tentang perkawinanku.
Kenyataannya memang hal buruk telah terjadi,,,
Sejujurnya aku sudah terbiasa dengan tatapan menggoda dari para wanita wanita itu. Bahkan sejak sebelum aku mengenal Chaira para wanita memang selalu mengidolakanku.
Namun walau para wanita masih saja suka menggodaku hatiku tetap dengan kuat mencengkeram nama Chaira.
Aku tak pernah bergeming walau mereka memasang segala aksinya untuk menarik perhatianku. Aku malah hanya beristighfar dalam hati agar aku bisa menjaga hatiku hanya untuk Chaira.
Aku bahagia walau aku hanya menjadi single daddy,,, Aku bahkan bangga karena hingga detik ini aku masih bisa bertahan dalam kesendirianku.
Aku bangga pada hatiku yang rapuh ini karena masih begitu kuat menahan kesetiaanku pada Chaira.
Aku sanggup bertahan selama ini tanpa dirinya mendampingiku,,,, Aku sanggup mengusir hawa nafsuku yang kadang merayuku saat aku melewati malam malam sepiku..
Aku selalu bisa mengusirnya dengan segera mengambil wudhu lalu menenggelamkan diriku dalam ayat ayat suci yang ku baca,,,
Aku kuat sayang,,,,
Cintaku padamu dan padaNYA makin hari makin besar,,,
Hanya saja hati rapuhku yang masih penuh dengan ribuan penyesalan ini kembali harus merasa dipatahkan tiap kali Levi merajuk karena dia menginginkan kehadiran Chaira juga bersama kami.
Seperti saat sore itu sayang,,,,
"Bunda kenapa sih bunda gak pernah mau ikut sama Levi menginap di rumah ayah?" Rengek Levi sore ini ketika ku jemput.
Kami saling berpandangan. Ray yang berada disana hanya diam seakan memberi kesempatan pada salah satu diantara kami untuk menjelaskan.
Dia bukan tak ingin ikut campur namun lebih menyerahkan kepada kami sebagai orang tua aslinya memilih kalimat yang benar untuk kami sampaikan pada Levi yang pasti belum bisa mengerti.
__ADS_1
"Levi,,, bunda kan harus jaga adik Putri sama adik Rayya nak,,, kalau bunda ikut Levi kerumah ayah nanti siapa yang temani adik adik?" Chaira memecah kebisuan kami dan coba memberi alasan.
"Kan ada abi dirumah" jawab Levi
Ray yang mendengar namanya disebut langsung berjongkok di depan Levi.
"Sayang,,, abi tidak bisa kalau jaga adik Rayya tanpa bunda. Kan adik Rayya minum susunya sama bunda. Kasihan dong kalau bunda ikut sama Levi,, nanti adik Rayya haus gimana dong sayang?" Ray mencoba untuk mengikuti alur yang dibuat Chaira.
Aku merasa hatiku kembali disayat sayat mendengar dan menyaksikan itu semua.
Akulah penyebab semua menjadi kacau seperti ini,,, Dan sekarang aku membuat Chaira harus memutar otak untuk menyampaikan apa alasan dibalik ketidakbisaannya ikut bersama Levi.
Maafkan aku bidadariku,,,
Maafkan Ayah Levi,,,
"Levi,,," aku membuka suara.
Aku ganti berjongkok menghadap pangeran kecilku itu. Aku melihat ketidakpuasan dalam matanya dengan penjelasan Chaira dan Ray tadi.
Ku belai kepalanya dan ku cium keningnya. Chaira dan Ray memandangku dan ingin mendengar apa yang hendak ku katakan pada Levi.
" Maafkan ayah nak,,, Ayah janji,, kelak kalau Levi sudah besar,, sudah bisa mengerti,, Ayah akan jelaskan semuanya. Makanya Levi harus banyak makan,,, minum susu,,, biar cepat gede. Nanti ayah ajak Levi cerita tentang ayah dan bunda,,, Ya sayang" ucapku.
"Berarti Levi harus mau makan sayur sama buah juga ya ayah?" tanyanya berbinar
"Iya doooonggg,,,, " seruku tak kalah semangat.
"Bundaaaa,,, nanti buatin Levi makanan yang enak enak ya biar Levi banyak makannya. Biar Levi cepat gedeeee,,, cepat tinggi juga kayak Ayah sama abi" Levi menarik narik manja tangan Chaira.
Aku tau sayang,,,
Kamu menyimpan duka mendalam saat mengatakannya,,,
Kamu pasti merasakan apa yang dirasakan mendiang umi saat harus berbohong demi membuatmu berhenti merengek meminta kehadiran mendiang abimu,,,
Maafkan aku bidadariku,,,
Hatiku sakit melihat bulir bening dimatanya yang mulai menetes namun segera diusapnya agar Levi tak melihatnya.
Aku kembali membuatnya terluka tuhan,,, Ampuni aku,,,,
"Ayo Levi,,, Ayah sudah nunggu tuh. Nanti jangan nakal di tempat ayah ya" Ray berusaha membuat Levi melepaskan tangan Chaira karena dia tau Chaira tak sanggup menahan airmatanya terus.
Dan benar saja,, begitu Levi melepaskan tangannya dia segera masuk ke dalam.
Aku tau kamu pasti menangis sayang,,, Ingin rasanya aku masuk dan kembali bersimpuh di kakimu agar kamu mau sekali lagi memaafkanku.
Ingin rasanya aku masuk dan memberimu kekuatan serta meyakinkanmu bahwa aku akan bertanggung jawab untuk mengakui semuanya pada Levi saat dia besar nanti,,,
Aku ingin mengejarmu kedalam dan memohon agar kau bisa membesarkan hatimu untuk sementara hingga tiba saatnya nanti Levi mengerti.,,,
Maafkan aku bidadariku atas luka yang tak kunjung habis ku berikan,,,,
__ADS_1
Sungguh semua ini adalah salahku,,,
"Terima kasih Ray sudah membantuku menjelaskan pada Levi" ucapku pada Ray saat Levi sudah masuk ke mobil.
"Aku mohon kau sampaikan permohonan maafku pada Chaira,,, Aku juga ingin meminta maaf padamu karena kau juga harus berpikir bagaimana menjelaskan pada Levi" aku dengan gentle meminta maaf pada Ray.
Ray hanya menepuk bahuku. Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya dan segera pamit.
"Tunggu Dare" cegahnya.
Dia masuk dan mengambil sesuatu.
"Milikmu" dia menyerahkan sesuatu padaku.
Aku melihat apa yang diberikannya.
Diaryku,,, bagaimana bisa ada di tangan Ray? Pantas saja beberapa hari ini aku tak bisa menemukannya.
"Ray, ini,, bagaimana bisa ada padamu? "tanyaku keheranan.
"Aku menemukannya dalam tas Levi. Mungkin dia tak sengaja memasukkannya saat berkemas" ucap Ray datar.
Aku menepuk jidatku sendiri saat ingat terakhir kali Levi menginap aku tak memeriksa lagi apakah sudah semua barang dibawanya pulang.
"Maaf Ray ini salahku,,, aku tak memeriksa tasnya terlebih dulu" kataku.
Ray hanya tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih untuk cintamu yang begitu besar pada istriku. Namun sebagai sesama pria dewasa aku ingin kau tetap bisa berbesar hati menerima kenyataan bahwa saat ini dia adalah milikku Dare" Ray mengatakan kalimat yang membuatku terkejut.
Aku terdiam.
"Maaf aku tak sengaja membaca diarymu" lirih Ray.
"Ray,,, aku,,, " aku tak sanggup melanjutkan perkataanku.
Ada segelintir rasa bersalah dihatiku kepadanya. Namun aku tak tau harus bagaimana. Aku memang masih sangat mencintai Chaira hingga detik ini.
"Ayaaaahhhh ayooooo" suara Levi menyadarkanku.
"Aku pamit Ray,,Assalamualaikum" pamitku singkat.
Aku segera berlari menuju mobil tanpa menunggu jawaban Ray. Aku mulai membawa mobilku keluar meninggalkan rumah itu.
Chaira menghapus airmatanya saat melihat kami yang telah pergi dari balik jendela kamarnya.
"Maafkan bunda nak,,, Sungguh bunda tak kuasa jika harus menerima ayahmu kembali dulu. Maafkan bunda jika kelemahan bunda itu membuatmu harus merasakan apa yang bunda rasakan dulu sayang" lirihnya.
Ray yang baru masuk ke kamar memeluk dirinya dari belakang dan menenangkannya. Chaira memutar tubuhnya menghadap Ray. Dibenamkannya wajahnya di dada bidang suaminya.
Dia menangis disana. Dia mencurahkan dukanya disana.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaaa
__ADS_1
Terima kasih 😍