
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Ratna menyambut kedatangan Dion dengan wajah berseri seri ala ala dirinya tiap harinya. Sebisa mungkin dia ingin membuat Dion hanya mencintainya saja.
Dengan wajah tak kalah berseri Dion pun merentangkan tangannya agar terbuka lebar untuk memeluk istri siri yang sebentar lagi akan di sahkannya itu.
"Apa kabar istri dan calon anakku,,,???" sapa Dion sambil mengelus perut Ratna.
"Sedang tidak baik,,," jawab Ratna membuat wajah cemberut.
"Loh,,, Kenapa memangnya sayang?? Kamu sakit??" tanya Dion langsung menyentuh dahi Ratna.
Ratna menepis tangan Dion dan melepaskan dirinya dari pelukan Dion. Ratna membelakangi Dion.
"Ada apa?? Ayo katakan,,,Jangan membuatku bingung dan cemas begini. Aku kan baru datang dari kantor dan gak tau apa apa ini,,," bujuk Dion.
"Aku kesal. Tetangga semua membicarakanku. Aku malu Dion karena mereka terus menuduhku madunya Hana. Padahal kan aku justru istri pertamamu."sungut Ratna.
Dion tersenyum dan meraih bahu Ratna agar menghadap dirinya. Diraihnya dagu Ratna.
"Tidak usah di dengarkan. Ingat kamu lagi hamil jadi jangan terlalu stress sayang. Abaikan saja mereka." ucap Dion manis.
Ratna merengut.
"Mana bisa segampang itu?? Kamu harus ambil tindakan dong sayang." sungut Ratna.
"Lha ini sebentar lagi kita menikah kan sudah bagian dari tindakanku melegalkan statusmu sebagai istriku sayang." jawab Dion.
"Begitu saja tidak cukup!!!" ketus Ratna.
__ADS_1
"Kamu mau aku melakukan apa lagi? Katakan saja. Aku pasti melakukannya demi kamu dan anak kita. Ayo sayang,,, Katakan apa maumu??"tanya Dion.
Bola mata Ratna berkilat dan wajahnya menyunggingkan senyum mendengar kalimat itu.
"Benar?? Mau melakukan apa pun??" Ratna memastikan.
"Apa pun."Dion mengatakannya dan mengangguk pasti.
"Terima kasih sayang. Aku mau kamu ceraikan sajalah Hana. Juga kamu sudah tak menginginkannya bukan?? Kamu juga sudah tidak butuh anak dari dia. Terbukti dia mandul kan?? Jadi ceraikan saja. Biar aku ini tidak terus dianggap madunya. Aku gak mau anak kita lahir nanti terus dia tumbuh besar dengan gunjingan tetangga." ucap Ratna.
Dion diam sejenak.
"Tuh kan,,,Katanya mau melakukan apa saja demi aku dan anak kita. Tapi baru gitu saja sudah diam gak bisa ambil keputusan."sindir Ratna.
"Bukan begitu sayang. Aku tidak keberatan sama sekali jika kamu ingin aku menceraikan Hana. Sama sekali aku tidak keberatan. Aku juga sudah muak dengan tingkahnya yang ngambek lalu pergi dariku tanpa pamit. Istri macam apa seperti itu?? Tidak bisa menerima masa lalu suaminya. Jadi aku memang sudah tak menginginkannya lagi." jawab Dion.
"Lalu kenapa diam saja??" selidik Ratna yang dalam hatinya senang mengetahui bahwa dirinya telah berhasil membuat Dion membenci Ratna.
Tidak percuma selama ini usahanya membuat Dion semakin membenci Hana. Tidak percuma juga dia menghasut Hana agar meninggalkan Dion dulunya.
"Kenapa harus pindah sih,,, Aku suka rumah ini." protes Ratna.
"Karena rumah ini sudah aku atasnamakan pada Hana. Rumah ini adalah rumah hadiah pernikahan kami dariku untuknya. Jadi kalau aku menceraikannya ya kita harus pindah dari sini sayang." jelas Dion.
"Gak mau!!! Pokoknya aku mau rumah ini!!! Aku dan anak kita mau rumah ini jadi milikku. Beri saja Hana yang lebih kecil atau lebih tidak usah beri apa apa sekalian. Istri gak guna gitu buat apa coba?? Gak berhak juga wanita seperti dia dapat harta gono gini. Anak gak ngasi,,, Malah minggat. Sudah abaikan saja dia. Lebih baik kamu ganti saja atas namaku karena aku dan anak kita menginginkannya." pungkas Ratna.
Dion menghela napasnya. Dia bimbang jika menuruti permintaan Ratna untuk tidak memberikan harta gono gini pada Hana karena Dion khawatir reputasinya buruk jika berlaku demikian.
"Jangan diam lagi dong!! Keberatan???" ketus Ratna.
"Sayang,,, Aku pikir sebaiknya Hana tetap diberikam apa yang jadi haknya saja ya. Maksudku kamu bisa tetap menempati rumah ini namun aku akan membelikan Hana rumah lainnya. Aku takut nama baikku akan tercemar jika tak melakukan hal yang adil. Bisa saja kan Hana koar koar di luar??" kata Dion meminta pertimbangan Ratna.
"Tidak usah. Secara kan dia yang ninggalin kamu sayang. Jadi itu artinya dia sudah tak menginginkan apa pun darimu. Kamu tidak akan disalahkan jika begini keadaannya. Pokoknya sebagai istri sahmu yang akan mengelola keuangan rumah tangga kita,, Ku tegaskan mulai sekarang kalau aku tidak rela kamu membagi hartamu dengan si sinting itu!!! Ngerti kamu sayang??!!!" tegas Ratna.
"Baiklah,,,Aku setuju. Aku akan segera urus surat ceraiku. Perkara Hana tidak menerima pemberitahuan bahwa aku sudah menceraikannya karena aku tak tau do mana dirinya saat ini,,, Itu bukan urusanku lagi. Salah sendiri dia pergi." kata Dion.
__ADS_1
"Gitu dong sayang,,,Itu baru suamiku. Tapi ingat satu hal juga dong,,," rayu Ratna.
"Apa sayang??" tanya Dion dengan alis mengkerut.
"Balik nama rumah ini atas namaku dong." ucap Ratna.
"Tenang saja sayang. Itu urusan gampang. Semua ada di jariku. Aku hanya tinggal menelpon orang orangku saja. Kita terima beres." sahut Dion menyombong.
Dion pun mengirim sebuah pesan perintah kepada orang suruhannya untuk mengurus semuanya.
"Tidak sia sia kan aku sudah merencanakan semua ini. Semuanya mulus sesuai keinginanku. Bayi ini juga makin mempermulus semuanya. Bayi ini adalah senjata ampuhku menguasai semua milik Dion." batin Ratna yang terus tersenyum saat Dion mendekati perutnya dan berbicara dengan calon bayinya.
"Oh ya mana ponselku sayang?? Aku lupa tadi bawa ponsel dan aku malas balik lagi untuk mengambilnya."kata Dion.
"Itu di meja sayang. Oh ya aku sudah hapus semua foto foto Hana. Kamu tidak keberatan kan??" tanya Ratna.
Dion menggeleng dan mengambil ponselnya lalu membuka buka galeri foto yang benar benar sudah tidak tersisa satu pun foto Hana.
"Justru terima kasih karena kamu sudah repot repot menghapusnya. Hana itu sudah sepantasnya kita lupakan saja. Biar gak besar kepalanya. Dulu mungkin aku yang mengejarnya tapi kali ini biar dia yang menyesal sudah meninggalkanku." sahut Dion dengan nada penuh kekesalan.
"Benar sekali sayang,,," Ratna menimpali.
"Aku mandi dulu ya sayang." pamit Dion yang langsung diiyakan oleh Ratna.
Dion berdiri di bawah pancuran airnya dan merenungi semuanya. Dalam hatinya ada sedikit rasa nyeri merindukan Hana dan kali ini benar benar akan kehilangan dirinya. Namun kalimat demi kalimat yang Ratna masukkan ke dalam otaknya membuat nyeri itu perlahan berubah menjadi emosi.
"Kamu akan menyesal Hana." gumam Dion.
Diselesaikannya mandinya dan kemudian memastikan bahwa orang suruhannya sudah mengiyakan tugas yang diberikannya tadi dan sudah mulai bergerak. Dion tersenyum membaca balasan dari orangnya.
"Beres bos. Besok sore sudah kelar."tulis orang itu.
\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹🌹
__ADS_1