
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
"Apa nak?? Cucu??" tanya Darren dengan wajah tidak percaya.
"Iya ayah,,, Cucu." jawab Levi dengan senyum tertahan melihat ekspresi Darren.
"Ara hamil ayah,,, Baru dua minggu tapi sudah kami pastikan. Kemarin kami sudah ke dokter. Rencananya kami akan menyampaikannya pada ayah besok pagi saja setelah ayah selesai bernostalgia tentang Rayya. Tapi karena sudah ketauan ya sudah hahahha,,," ucap Levi tak bisa menahan tawanya lagi.
"Alhamdulillah,,, Terima kasih ya Rabb telah begitu percaya pada anak hamba untuk mengandung." ucap Darren penuh syukur.
"Jadi ayah akan jadi grandpa ini??" tanyanya lagi pada Levi seolah tak percaya dengan berita bahagia itu.
"Iya ayah,,, Grandpa,,," Sahut Levi meyakinkan.
"Alhamdulillah,,, Ayah senang sekali nak. Ingat tugasmu makin besar ya,,, Jangan makin santai dan berbuat semaumu. Ada dua nyawa yang sudah dipercayakan Rabbmu padamu sekarang dan kamu harus benar benar menjaganya." Darren serius.
"Siap ayah,,," sahut Levi mantap.
Baru dua bulan menikah Tiara sudah hamil dua minggu dan itu sangat membuat pasangan muda itu bahagia. Keduanya memang tak menunda nunda meski masih terbelit dengan kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai.
Karenany saat tau dirinya hamil,,,Tiara tak ragu ragu mengajak Levi ke dokter untuk memeriksakan dirinya karena yakin suaminya itu tak akan menolak jika benar hasil tesnya positif.
Levi malah semakin semangat untuk bekerja demi menyiapkan segala sesuatu yang terbaik bagi istri dan calon anaknya kelak.
"Karena Ara sudah hamil,,, Apa tidak sebaiknya kamu segera mengambil posisi yang ayah pernah tawarkan sebelumnya padamu nak?" tanya Darren menyinggung soal perusahaan yang memang akan diserahkannya pada Levi.
"Tidak dulu ayah. Levi merasa belum pantas untuk posisi itu. Levi tetap akan menunggu beberapa bulan lagi sambil menyelesaikan kuliah Levi." jawab Levi.
__ADS_1
"Tapi kebutuhan dan biaya hidupmu kan makin banyak nak. Ayah tidak mengerti kenapa kamu malah memilih posisi biasa dan dengan gaji yang biasa juga seperti ini. Kamu bahkan tak mau kalau rekan rekan kerjamu tau siapa kamu sebenarnya." ucap Darren mencemaskan keputusan Levi.
Levi tersenyum dan menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah jangan khawatir. Gaji Levi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari hari." jawabnya.
"Nak,,, bukan hanya kebutuhan sehari hari. Tapi sekarang kamu juga harus perhatikan kebutuhan Tiara. Dia sedang hamil dan butuh segala sesuatu yang terbaik untuk menunjang kehamilannya. Periksa kandungan berkala,,susu kehamilan,,vitamin dan lain lainnya yang ayah yakin itu tidak sedikit biayanya nak."Darren kembali ingin menyadarkan Levi.
"Iya ayah Levi paham. Tapi lagi lagi ayah tidak perlu cemas. Ayah tau kan Levi ini bukan anak yang boros?? Uang saku yang ayah berikan selama ini untuk Levi kan tidak sedikit. Dan dari jumlah yang banyak itu Levi hanya gunakan seperlunya saja selama ini. Selebihnya sudaj Levi tabung ayah. Dan jumlah tabungan Levi sekarang sudah lebih dari cukup untuk semua itu." Levi meyakinkan.
"Benarkah??" tanya Darren.
"Benar ayah,,, Ayah tau kan Levi anti dan gak bisa bohong sama ayah??" Levi tersenyum pada Darren yang langsung mengangguk mengiyakan.
"Kalau untuk masalah posisi yang ayah tawarkan,,, Levi memilih posisi biasa dan menyembunyikan jati diri Levi sendiri karena Levi ingin tau,,, Di bawah bawah sana ada gak yang curang? Ada gak yang tidak kompeten kerjanya,,, Ada gak yang tindakannya malah merugikan perusahaan. Semua itu tidak akan bisa Levi ketahui kalau Levi langsung memperkenalkan siapa Levi. Mereka yang curang akan langsung bersikap baik dan menutupi ayah." jelas Levi.
Darren tersenyum karena merasa lega. Dirinya juga senang anaknya ini ternyata telah begitu merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Kini Darren paham apa alasan putra sulungnya itu menolak tawaran posisi penting di perusahaannya.
"Jadi ini apa alasanmu selama ini kamu menolak ayah suruh ke kantor??" tanya Darren tertawa kecil teringat sejak masuk sekolah SMP Levi memang tidak pernah mau kalau diajak ke kantor atau acara acara kantor yang mengundang keluarga para karyawan. Selalu hanya Rayya yang ikut selama ini.
Darren menepuk bahu Levi dan menepuk dahinya sendiri saat mendengar suara Tiara yang sepertinya masih mual mual.
"Keasyikan ngobrol sama kamu sampai lupa anak perempuan ayah." Darren langsung saja beranjak dan meninggalkan Levi yang masih duduk.
Darren segera menghampiri Tiara. Levi hanya tersenyum memandangi ayahnya yang begitu semangat menemui istrinya. Levi juga selalu bersyukur karena Darren selalu menyebut Tiara sebagai anak perempuannya sendiri tanpa pernah menyebutnya sebagai menantu ayah.
"Terima kasih ayah,,," lirih Levi kemudian menyusul langkah Darren.
"Kamu tidak apa apa nak??" tanya Darren begitu Tiara muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah pucatnya.
"Tidak apa apa ayah. Ara hanya,,," Tiara belum selesai bicara.
"Ayah tau nak. Levi sudah mengatakannya pada ayah." jawab Darren.
__ADS_1
Tiara terkejut namun kemudian mengangguk tanda mengerti. Dia tak menyalahkan Levi yang lebih dulu memberitahu Darren tentang kehamilannya meski tak sesuai rencana keduanya untuk memberitahukan hal itu besok pagi.
"Pasti ada alasannya." gumamnya dalam hati dan memandang penuh kepercayaan pada suaminya yang sudah berdiri merangkulnya.
"Ayah mau kamu jaga baik baik calon cucu pertama ayah ini ya nak." pinta Darren.
"Iya ayah pasti Tiara akan menjaganya. Seperti ayah menjaga kami semua." ucap Tiara.
"Apa orang tuamu sudah dikabari juga nak??" tanya Darren.
"Belum ayah. Rencananya besok kami akan mengunjungi mereka." jawab Tiara.
"Iya nak. Beritahukan pada mereka secepatnya agar mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang ayah rasakan. Ya Rabb,,, Ternyata hamba sudah tua,,, Sudah mau punya cucu. Sudah mau dipanggil Grandpa,,," gumam Darren berkaca kaca sambil mengelus perut Tiara yang masih datar.
"Meski tua kan tetap kece,,, Single daddy dan tapi bukan single grandpa hahaha,,,," goda Levi.
"Ah kamu itu bisa saja,,," Darren malu malu.
"Benar lho ayah,,, Masih banyak kok karyawan karyawan wanita ayah yang mengidolakan ayah. Berharap ada kesempatan dan yang ayah terima." goda Levi lagi.
"Hmmm dan kamu sudah tau kan apa jawaban ayah??" jawab Darren.
"Hahahha tentu saja tak ada satu pun yang akan bisa lagi menggantikan pesona bunda,,," jawab Levi.
"Anak pinteeeerrrr,,,," Darren memujinya.
Hahahhaha,,,
Gelak tawa dari mereka bertiga terdengar terus bersahutan dan berkelanjutan sampai beberapa saat. Rona kebahagiaan terpancar di wajah masing masing menyambut kehadiran calon anggota baru keluarga mereka.
Hari sudah menjelang malam dan Levi mengajak Tiara pulang Ke rumah mereka. Sepulang dari bandara tadi memang mereka memutuskan diam di rumah Darren dulu karena yakin ayahnya itu pasti kesepian ditinggal Rayya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹