
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Plaaaakkkk,,,
Tiara menampar keras wajah Bobi begitu pria muda itu melepaskan ciumannya.
"Jangan kurang ajar kamu!!!" ketus Tiara.
"Kamu yang jangan kurang ajar sama aku!!! Berani kamu sekali lagi menamparku begini,,,ku pastikan pacarmu itu mati di tangan anak buahku!!!" ancam Bobi.
"Pacar??" tanya Tiara bingung.
"Alah jangan sok bingung gitu. Laki laki muda yang barusan di sini,,, Itu pacarmu kan?? Kalian saling mencintai tapi kalah dengan ayahmu yang matre itu bukan??? Kamu cinta dia?? Kalau kamu cinta maka keselamatannya ada padamu." jelas Bobi.
Tiara terdiam.
"Sekarang tergantung pada sikapmu padaku. Kalau kamu buat aku senang maka pacarmu itu akan baik baik saja. Tapi kalau kamu berani membuatku kesal,,, Sedikiiit saja. Ku pastikan anak buahku yang sudah mengikutinya saat ini akan melakukan semua yang ku perintahkan,,," Bobi menunjuk ke ponselnya dan jarinya siap kapan saja menelpon.
Tiara kesal bukan main di ancam seperti itu. Tiara merasa dirinya lemah jika keselamatan Levi jadi taruhannya.
"Jadi bagaimana Tiara??? Mau menurutiku gak??" tanya Bobi lagi.
Bobi mengulurkan tangannya pada Tiara. Dengan berat hati Tiara pun menerima uluran tangan Bobi itu dan membiarkan Bobi menggandeng tangannya masuk ke rumahnya sendiri.
Tiara hanya berjalan tertunduk.
"Wah rupanya kalian lumayan cepat akrab dan dekatnya ya. Ayah senang Ara,,, Ayo nak Bobi,,,Kita makan di sini ya. Tante sudah masak banyak." pak Herman menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Bobi duduk.
"Iya dong om. Memangnya gadis mana yang bisa menolak pesonaku. Tidak terkecuali Tiara juga. Dia hanya butuh waktu untuk membuka hatinya bagiku." Bobi merangkul Tiara.
Tiara bergerak hendak menolak namun mata Bobi menyiratkan sebuah ancaman kembali dan tiara hanya bisa menurut pada akhirnya.
"Ara malu malu kucing gitu jadinya ya nak,,," ucap pak Herman tidak paham.
Bobi hanya senyum tipis lalu duduk di kursi yang disiapkan pak Herman dan Tiara mengikuti di sebelahnya masih dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Bu Mila datang dengan piring piring lauk yang dimasaknya untuk menjamu tamunya. Mata Bobi melihat satu persatu makanan itu dan wajahnya berubah masam karena tak satu pun makanan itu yang membuatnya berselera.
"Tante yakin mau kasih aku makanan seperti ini???" tamyanya kemudian saat bu Mila datang membawa piring terakhir.
"Ini enak lho nak. Ayo coba dulu. Ara ambilkan piring nak Bobi." pinta bu Mila siap mengambilkan nasi dan lauk bagi Bobi.
"Tidak perlu!! Aku mual melihat makanan makanan ini.Tidak bermutu sama sekali. Hanya ada sayur,,, tahu,,, ayam,,,Apaan ini?? Tante mau menghinaku?? Ini bahkan tak lebih enak dari makanan pembantu pembantuku di rumah." cibir Bobi.
Bu Mila tampak merah padam dibuatnya. Malu dan kesal turut dirasakannya seperti halnya Tiara yang merasa begitu juga.
"Seharusnya kamu itu belajar menghormati niat ibuku memasak buatmu." tegur Tiara memberanikan diri.
"Oh wow,,,Tiara tersinggung rupanya. Maaf sayangku,,, tapi aku sungguh tidak bisa makan makanan murahan seperti ini. Begini saja,,, Tante belikan saja aku pasta atau makanan italia kesukaanku ya." titah Bobi pada bu Mila.
Bu Mila menoleh cemberut pada pak Herman yang jadi kikuk karena ulah Bobi. Bagaimana tidak cemberut,,,?? Belum apa apa Bobi sudah memperlakukan bu Mila seperti pembantunya.
"Bobi,,,Ini ibuku. Mana bisa kamu menyuruh nyuruh beliau seperti itu??!!!" protes Tiara.
"Kenapa?? Aku tamu kan di sini?? Tamu itu raja sayang. Oh aku lupa,,meskipun ibumu mau membelikanku,, tapi dia sedang menunggu uang dariku untuk membelinya. Kalian mana punya uang untuk beli itu. Hmmm menyedihkan sekali." cibir Bobi.
"Bobi cukup!!!" ketus Tiara.
"Ara!!! Yang sopan ngomong sama Bobi!!!" bentak pak Herman.
"Sudah cukup!! Aku sudah tidak selera makan di sini!! Sikap kalian buat aku muak. Ayo Tiara temani aku makan di luar!!!." ajak Bobi menarik tangan Tiara agar bangkit dari kursinya.
"Tidak. Aku tidak mau!!" tolak Tiara menarik kembali tangannya.
Bobi tersenyum lalu meraih kepala Tiara dan mengelus rambutnya. Tiara berusaha menepisnya tapi tangan Bobi menarik kepalanya hingga dekat dengan bibirnya.
"Kau tau kan cara mainnya,,,??" bisiknya.
Tiara yang tadinya berontak jadi diam dan membiarkan saja Bobi melakukan apa saja sesukanya. Dia bahkan menyatakan mau mengantar Bobi makan di luar.
"Bagus. Memang begitu seharusnya. Ayo sayang,,,Aku sudah sangat lapar." kata Bobi.
Tanpa berpamitan pun Bobi langsung saja membawa Tiara keluar rumah dan masuk ke mobilnya. Meninggalkan komplek perumahan yang sedari tadi jadi perbincangan emak emak komplek.
"Lihat itu,,,!! Calon menantu pilihan ayah. Bahkan pergi bawa anak gadis orang pun tidak ada sopan sopannya." sungut bu Mila.
"Tidak pamit apanya?? Kan dia sudah bilang mau bawa Ara makan di luar tadi bu,,," elak pak Herman.
__ADS_1
"Ya tapi kan,,,," sela bu Mila belum selesai.
"Sudah,,,Yang penting Ara sudah mau menerimanya. Beres sudah. Gak usah debat lagi kita.Ayah lapar mau makan." Pak Herman tak mau disela lagi.
Bu Mila merengut kesal karena suaminya mengakhiri perdebatan dengan seenaknya sendiri.Tapi sebagai istri bu Mila tetap melayani pak Herman dan menemaninya makan.
🌹🌹
Di jalan,,, dalam mobil Bobi.
Bobi menelpon anak buahnya yang sudah ditugaskan oleh si kekar tadi untuk mengikuti mobil Levi.
"Arahkan kameranya ke depan. Sorot mobil itu." titah Bobi.
Sejurus kemudian mobil Levi pun terlihat jelas di depan mobil anak buah Bobi.
"Lihat itu!! Kenal kan sama mobil pacarmu ini. Lihat apa yang akan ku lakukan!!!" Bobi menarik wajah Tiara yang sedari tadi tak menoleh padanya.
Tiara bisa melihat jelas bahwa yang ada di layar ponsel itu memang mobil Levi.
"Mau apa kamu??" tanyanya cemas.
"Tabrak mobil itu!!!" titah Bobi pada anak buahnya.
Bruaaaakkkkk,,,,
Suara benturan mobil yang cukup keras pun terdengar jelas di speaker ponsel itu. Setelah berhasil menabrak dan mendorong mobil Levi hingga menabrak pohon di jalanan yang lumayan sepi,,,, Mobil anak buah Bobi langsung mundur dan meninggalkan lokasi.
"Bobiii kamu apa apaan sih??!!!" Tiara tambah cemas tau Levi kecelakaan.
"Itu upah karena kamu sudah berani membantahku di depan orang tuamu tadi. Dan itu baru peringatan saja. Aku bisa melakukan yang lebih buruk lagi kalau kamu mengulangi hal buruk lagi." ucap Bobi.
Tiara kesal bukan main dibuatnya tapi tak bisa berbuat apa apa selain meremas remas tangannya sendiri.
"Ngerti kan cara mainnya??" tanya Bobi lagi sambil menyentuh dagu dan pipi Tiara.
Tiara hendak menepis lagi tapi keduluan Bobi siap menelpon lagi. Akhirnya Tiara hanya menurut saja dan membiarkan Bobi menciumi pipinya dan rambutnya dengan sangat terpaksa demi keselamatan Levi.
"Semoga kamu gak apa apa Levi." batin Tiara.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya 🌹