BIDADARI YANG KU SAKITI

BIDADARI YANG KU SAKITI
B.Y.K.S Part 114


__ADS_3

Selamat membaca 🌹


Maaf banyak typo. 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌹🌹


"Apa gak sebaiknya papa temui saja orang orang itu? Mereka gak kayak polisi atau semacamnya kok. Lagipula mau sampai kapan sih papa lari dari kenyataan tentang yang sudah pernah papa lakukan pada keluarga om Ray? Minta maaflah pa,,," saran gadis itu.


"Diam kamu,,,!! Iya kalau benar mereka bukan sedang mencari untuk menangkapku. Kalau ternyata begitu bagaimana? Kamu suka papamu ini masuk penjara?? Mau hidup sama siapa kamu kalau nantinya papa di penjara? Mamamu sudah meninggal." ketus Adi.


Gadis itu terisak mengingat mendiang mamanya yang meninggal akibat terkena stroke. Dan kalau boleh dan yang bisa disalahkan,,, papanya sendirilah yang menyebabkan mamanya meninggal.


Ulah papanya yang sudah keterlaluan membuat mamanya sering sakit sakitan hingga meninggal karena terlalu sakit pikiran.


"Astaghfirullah,,, Mana boleh aku menyalahkan takdir mama begini. Semua ini sudah diatur olehMU. Ampuni hambaMU ini ya Rabb." gadis itu mengelus dada.


"Sudah tutup telponnya. Kamu amati saja mereka masih ada di sana atau sudah pergi. Kalau sudah pergi baru papa pulang." Adi menutup telponnya.


Gadis itu menghela napas.


"Papa masih saja tidak terbiasa mengucap salam." lirihnya.


Dibukanya sedikit tirai jendelanya,,,Sekali lagi gadis itu menghela nafas kasar karena mobil Darren masih di sana. Bisa dilihatnya kedua orang di dalam mobil tengah menikmati sepotong burger di tangan masing masing.


"Sepertinya mereka tidak akan segera pergi. Bahkan mereka rela makan siang di mobil." gumamnya sambil menutup kembali tirainya.


Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga rumah itu. Matanya menangkap gambar diri mamanya di bingkai foto berukuran cukup besar. Dalam foto itu mamanya terlihat tersenyum dan sangat cantik. Mata yang sama dengan dirinya, hidung bahkan bentuk bibir yang juga sama persis dengan dirinya.


"Miss you mama." lirih gadis itu.

__ADS_1


Rasa rindu yang membuncah pada sang mama mau tidak mau membuat memori gadis itu kembali melayang pada kejadian bertahun tahun silam saat dirinya masih kecil. Tapi kejadian yang merupakan pertengkaran antara mama dan papanya itu cukup membekas dalam otak kecilnya.


Gadis itu bahkan sangat ingat kalimat demi kalimat yang terlontar dari papa dan mamanya.


"Apa?? Kenapa papa senekad itu?? Kalau polisi curiga bagaimana?? Lagipula papa apa sih tujuannya mencelakai Ray??"


"Papa tidak tau kalau ternyata mereka pergi semua. Papa kira cuma Ray yang datang. Ya siapa suruh dia ajak anak istri dan mamanya juga???"


"Ya tapi kan papa bisa membatalkan niat papa itu saat papa tau mereka semua ikut!! Papa bisa batalkan memberikan minuman berisi obat tidur itu saat kita bertemu dia di rest area. Pa,,,Bukan nyawa Ray saja yang melayang akibat ulah papa, tapi tante juga. Meski mama tidak begitu kenal dengan anak istrinya,, tapi mama juga merasa bersalah sama mereka."


"Malah bagus kalau mereka juga lenyap. Siapa suruh Ray itu main menikahi janda beranak dua begitu. Mana anaknya yang satu gak jelas asal usulnya begitu. Untuk apa coba wanita itu mengangkat anak mantan suaminya? Coba mama pikir baik baik,,, Kelihatan sekali kan wanita itu hanya mengincar harta Ray!! Kalau Ray meninggal,,, otomatis anak laki lakinya itu yang akan dapat hartanya. Bukan Rayya!!"


"Pa itu urusan rumah tangga Ray. Papa tidak perlu ikut campur."


"Mana bisa begitu?? Daripada harta Ray dikuasai anak tirinya, lebih baik aku yang mengambil alih semua sendiri."


Saat itu gadis kecil itu tak terlalu paham dengan urusan harta,,, Namun saat dia sudah dewasa, saat papa dan mamanya kembali bertengkar,,,dia paham.


"Papa!!! Sekali lagi papa mencelakai orang. Papa tobat pa!!!"


"Ya mana bisa begitu kalau isi wasiat Ray tidak menyebut nama papa."


"Tapi kan setidaknya pengacara itu tau kalau masih ada papa dalam keluarga Ray. Kan dulu waktu Ray meninggal papa sudah pernah menemuinya,,, Mengatakan bahwa papa satu satunya keluarga yang dipunyai Ray. Papa sanggup melanjutkan semua yang sudah dirintis Ray selama Rayya masih kecil. Tapi pengacara sombong itu sok menjaga wasiat dan kepercayaan Ray."


"Karena papa tidak mau merawat Rayya!!! Papa hanya mau harta Ray tapi tidak mau mengurus anak Ray!! Papa serakah!! Sejak awal papa memang tidak mau berbagi harta peninggalan kakek dengan Ray. Papa juga mau kuasai semua harta Ray. Papa gelap mata!!!"


Selanjutnya yang terdengar adalah suara tamparan dan gebukan yang berakhir seperti suara tubuh orang terbentur ke dinding.


"Mamaaaa!!!!" pekik gadis itu melihat mamanya sudah terkapar dengan darah segar meleleh dari telinga dan hidungnya.


"Jangan bilang siapa siapa. Bersihkan saja darah itu dan katakan pada semua orang kalau mama meninggal karena stroke dan jatuh sendiri di kamar mandi!!! Jangan buka mulut biar papamu ini tidak dipenjara. Mau hidup sama siapa kamu kalau gak sama papa?? Kamu manja dan bergantung pada papa,, Ingat itu!!!" Ancam Adi.

__ADS_1


Lalu yang terjadi setelah meninggalnya mamanya adalah papanya membawanya pindah ke sini untuk menghilangkan jejak. Tapi siapa sangka hari ini ada yang datang dan membuka kenangan lama itu.


"Maafin aku pa. Aku tidak bisa selamanya melindungi papa dari kejahatan papa begini. Aku lebih takut kalau Rabbku murka pa." lirih gadis itu.


Dihapusnya airmata di pipinya lalu beranjak menuju ke tirai jendela dan membukanya lagi. Dia melihat kedua pria di mobil itu tampaknya bersiap siap meninggalkan tempat itu. Gadis itu segera membuka pintu rumahnya dan berlarian ke pagar.


"Udah cabut aja dulu. Besok balik lagi. Gue gak bisa batalin meeting gue." ucap Dion.


"Ok,,, balik hotel saja dulu." jawab Darren.


"Tungguuuu!!!"


Keduanya menoleh ke sumber suara yang ternyata pemilik suaranya adalah gadis berhijab tadi dan kini dia sudah berdiri di depan pagarnya.


Dion dan Darren berpandangan. Lalu setelah menguasai kembali dirinya, Darren memutuskan menghampiri gadis itu.


"Ada apa nona??" tanyanya.


"Saya tau mendiang om Ray. Saya anak dari tuan Adi Saswita. Silahkan masuk dulu. Kita bicara di dalam saja." ucap gadis itu.


"Baik nona." jawab Darren.


"Gue batalin meeting gue. Gue penasaran sama nih keluarga." seru Dion membuat Darren tersenyum geli.


"Ada perlu apa anda mencari papa saya?" tanya gadis itu.


"Untuk saya mintai tolong suatu saat nanti bersedia menjadi wali nikah untuk Rayya, putri dari mendiang Ray." jawab Darren.


"A,,,A,,Apa anda mantan suami dari tante Chaira?? Yang sudah merawat Rayya selama ini??" tanya gadis itu dengan wajah terkejutnya.


"Benar." Darren singkat menjawab.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas vote, like dan komennya 🌹


__ADS_2