
Selamat membaca πΈ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΈπΈ
"Selamat pagi pak,,,"
Hampir setiap langkahnya Levi menganggukkan kepalanya menyapa kembali para karyawan yang begitu menghormatinya. Tak hanya menghormatinya karena dia adalah bos barunya,,, Tapi mereka pun segan dan menyayangi Levi seperti Levi menyayangi mereka.
Levi senang karena sikapnya tempo hari pada mereka yang sudah berbuat tidak baik membawa perubahan besar bagi mereka.
Kesadaran diri mereka muncul dan otomatis mempengaruhi kinerja kerja mereka. Bagi para karyawan memiliki Bos muda seperti Levi adalah hal yang sangat menyenangkan karena Levi selalu berusaha menjadikan dirinya tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah para karyawan. Hal ini tentu membuat mereka makin semangat bekerja.
Levi bahkan mengingatkan para pemimpin divisi untuk tidak kebiasaan langsung marah marah jika ada yang salah dengan anak buahnya.
"Tanya dulu,,, Cari tau apa permasalahannya,,, Sebagai contoh,,, Kalau salah satu anak buah kalian sering terlambat,,, Panggil dia,,, Tanya apa alasannya terlambat?? Jangan main skors atau potong gaji dulu,,, Siapa tau mereka terlambat karena tidak punya kendaraan pribadi jadi harus menunggu kendaraan umum yang keseringan sudah penuh,,, Siapa tau ada anggota keluarga yang sakit hingga mereka harus mengurusnya dulu." ucapnya waktu itu saat meeting direksi.
"Posisikan anak buah kalian sebagai keluarga kalian,,, Cari tau,,, Bantu,,, Beri solusi,,, Bukan menghukum mereka kalau memang alasan mereka manusiawi,,, Bahkan walau mereka sedang membual saja atau mengada ada,,, Tetap hadapi dengan sabar. Ingat,,, Kekerasan atau kebencian hanya akan memperburuk keadaan." pesannya.
Inilah yang Levi inginkan,,, Manajemen baru yang dipimpinnya mampu menciptakan sekumpulan pekerja dengan jiwa yang solid. Saling menyayangi satu sama lain,,,saling merangkul dan bukan saling menjatuhkan.
Levi yakin jika semua karyawannya memiliki jiwa seperti itu pelan tapi pasti perusahaan pasti akan makin berkembang pesat.
Hampir dua bulan Levi menduduki posisinya sebagai direktur utama,,, Darren tersenyum puas melihat laporan bagian keuangan yang menunjukkan bahwa ada peningkatan pendapatan yang signifikan pada perusahaan.
Absensi karyawan yang juga membaik dengan berkurang banyaknya tingkat keterlambatan juga membuat Darren merasa kalah banyak dengan putranya.
Ditatapnya Levi yang datang ke kantornya hari itu.
"Lihat dia sayang,,, Putra kita Levi jauh lebih baik cara memimpinnya daripada aku bidadariku,,, Aku yakin perusahaan akan makin berkembang pesat di bawah kepemimpinannya." ucap Darren sambil melihat foto Chaira di meja kerjanya.
"Ah ayah bisa saja,,, Itu tidak benar bunda. Ayah masih tetap yang terhebat." ucap Levi seakan ikut bicara pada foto bundanya.
Tok tok tok,,,
Darren dan Levi menoleh ke arah pintu ruangannya yang diketuk.
__ADS_1
"Silahkan masuk,,," ucapnya.
"Permisi pak,,,Ada pengacara Malik ingin menemui bapak. Apa bapak mengijinkan?" tanya sekretarisnya.
Darren tampak mengingat ingat nama yang baru disebut sekretarisnya itu. Meski tidak ingat namun dia mengijinkan tamunya itu menemuinya.
Seorang pria yang sudah cukup berumur itu masuk lantas memperkenalkan dirinya sebagai pengacara keluarga mendiang Ray.
"Apa bapak sudah lupa siapa saya?" tanya pak Malik.
"Mmm,,, Maaf saya benar benar tidak bisa mengingat anda." jawab Darren.
"Ah tentu saja bapak tidak ingat karena waktu itu bapak belum bisa saya temui dan bapak meminta pak Dion yang mewakili." lanjut pak Malik membuat Darren mulai ingat.
"Oh ya ya,,, Saya baru ingat. Anda meminta bertemu dengan saya setelah kecelakaan itu. Wah saya minta maaf pak Malik,,,Waktu itu saya benar benar kacau.Kecelakaan itu begitu memukul saya." kenang Darren dengan wajah sendu.
"Tidak apa apa pak,,, Saya bisa mengerti. Siapa pun pasti sangat terpukul mendapat musibah seperti itu. Tapi ya kembali lagi,,, Umur itu rahasia besar tuhan. Siapa yang sangka di usia seperti itu mereka semua harus menghadap pada Sang Pencipta." kata pak Malik.
"Itu benar pak,,, Ah ngomong ngomong apa yang bisa saya bantu hari ini?" tanya Darren mengalihkan pembicaraan agar dirinya tak makin sedih mengingat kejadian itu.
"Oh ya kembali ke pokok utama. Apa benar itu tuan muda Pahlevi??" tanya pak Malik melihat ke arah Levi.
"Selamat siang pak Malik. Apa kabar?" sapa Levi.
"Baik tuan muda. Wah anda kelihatan sudah jadi orang hebat sekarang. Dulu saya bertemu anda sewaktu anda masih lari larian." ucap pak Malik.
Levi hanya tertawa kecil mengingat masa itu.
"Sebenarnya saya harus bertemu dengan nona Rayya juga." ucap pak Malik lagi.
"Oh adik saya sedang ada di Paris. Dia sedang sekolah kuliner di sana. Apa ada yang penting sekali pak Malik?" tanya Levi.
"Iya,,, Ini mengenai wasiat dari mendiang tuan Ray. Apa nona Rayya bisa dihubungi agar bisa mendengar apa yang saya katakan nantinya??" tanya pak Malik.
Levi dan Darren berpandangan. Sebenarnya mereka ragu apakah Rayya mau diajak video call saat ini karena selama ini Rayya selalu menghindar jika diajak video call. Entah apa alasannya tapi Rayya meminta begitu dan mereka menghargai privacynya.
"Saya coba dulu." ucap Levi.
levi menekan ponselnya dan menunggu Rayya menjawab video callnya. Namun lagi lagi Panggilannya tidak dijawab oleh Rayya. Sedetik kemudian sebuah pesan teks masuk ke ponsel Levi.
__ADS_1
"Kak,, Kan Ayya sudah bilang jangan video call. Telpon biasa saja ya." tulis Rayya.
"Ada pengacara abi datang dan beliau ingin bicara denganmu Ayya. Sekali saja ya,,, Demi abi."pinta Levi.
"Pengacara?? Mau ketemu Ayya?? Buat apa kak??" tanya Rayya heran.
"Kakak juga gak tau. Makanya sebaiknya kita video call saja ya." pinta Levi lagi.
Rayya tak menjawab pesan itu untuk beberapa saat lamanya.
"Bagaimana?" tanya Darren pada Levi yang gelisah.
"Seperti biasa ayah." sahutnya dan Darren mengerti apa maksudnya.
Darren sendiri juga sebenarnya tak mengerti kenapa Rayya tidak pernah mau diajak video call. Sempat terbersit dalam benaknya sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya itu namun segera ditepisnya pikiran seperti itu.
Darren percaya putrinya punya alasan tersendiri dan dia percaya putrinya tidak akan bertindak diluar aturan.
"Maaf pak Malik,,, Sepertinya Rayya tidak bisa diajak video call,," keluh Levi.
"Oh begitu ya,,, Mungkin nona sedang sibuk. Ini salah saya juga datang tanpa buat janji dulu." ucap pak Malik.
Levi merasa tidak enak pada pak Malik namun untungnya ponsel Levi dan Rayya sendirilah yang menelpon. Segera digesernya tombol jawab di ponselnya.
"Assalamualaikum kak,,,"
Levi ternganga sekian lama melihat apa yang dilihatnya di layar ponselnya. Dia bahkan tak menjawab salam Rayya.
"Nak,,, Adiknya ucap salam kok gak dijawab. Ada apa??" tegur Darren ikut melihat ke arah layar ponsel.
"Assalamualaikum ayah,,," ucap Rayya begitu melihat wajah Darren.
"Wa,,,Wa,,,Waalaikumsalam Rayya,,, Anak ayah,,, Subhanallah,,, Alhamdulillah,,, Terima kasih ya Rabb,,,," ucap Darren diiringi lelehan airmatanya.
Levi mengusap punggung Darren.
"Putri ayah,,,Bidadari ayah,,," Darren tidak sanggup berkata kata melihat layar ponsel itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya πΈ